“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

TANYA-JAWAB

images (3)

AMALAN YANG PALING UTAMA

Ustadz, saya pernah dengar di pengajian di masjid, disebutkan bahwa walaupun kita memberi sedekah yang banyak tetap pahalanya tidak menyamai sedekah para shahabat Nabi walau mereka sedekah dengan sebiji korma, apa sebab terbedakannya antara kita dengan mereka?, terima kasih.

Jawab: Sebabnya, karena ketika itu kaum muslimin sangat membutuhkan bantuan, mereka di Makkah dihishor (diblokade dan diboikot) ketika hijroh merekapun menderita dan hidup apa adanya, terkadang Rosululloh dan para shohabatnya kelaparan sampai mengikat perut-perut mereka dengan batu.

Dengan keadaan seperti itu bila ada yang memberi sedekah atau hadiah maka tentu pahalanya lebih besar, tidakkah kamu melihat atau mendengar kisah wanita pelacur di zaman Bani Isroil ketika melihat anjing menjerit kelaparan, sudah mau mati, maka wanita itu mengambilkan air di sumur dengan menggunakan sepatunya kemudian diberikan ke anjing maka anjingnya pun bisa hidup dengan meminum air yang diberikan, Alloh pun mensyukuri perbuatan wanita itu hingga diampuni dosa-dosanya.

Wanita itu melakukan perbuatan ringan semisal itu karena dibangun di atas keikhlasan semata-mata karena Alloh dan dia tidak memikirkan perbuatan anjing yang sering mengganggu manusia, baik dengan menggonggong, memangsa hewan peliharaan manusia dan kejekan yang lainnya, namun wanita itu melihat keadaannya yang di atas bahaya kematian karena lapar yang sangat, wanita itupun kasihan sehingga merahmatinya dan meminumkannya dengan air, Alloh pun mensyukuri wanita itu dengan diampuni dosa-dosanya.

Jadi yang namanya suatu amalan yang memiliki pahala yang sangat besar adalah dilakukan pada saat paling dibutuhkan seperti itu, meminumkan anjing saja, yang seperti itu keadaannya sudah menjadi sebab mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dari Alloh, padahal anjing kita tidak butuhkan, lalu bagaimana dengan memberi sedekah dan bantuan kepada para pembawa da’wah Islam seperti Nabi dan para shohabatnya serta para pengikut setia mereka, yang banyak dari umat manusia membutuhkan mereka maka tentu pahalanya lebih berlipat ganda, Alloh Ta’ala berkata:

فمنيعملمثقالذرةخيرايره

“Maka barang siapa yang melakukan perbuatan kebaikan semisal biji atom maka dia akan melihat balasannya”.

Dan para shohabat dahulu lebih bersemangat memberikan sedekah kepada yang benar-benar membutuhkan, ketika ada seorang wanita bersama anaknya datang kepada Ummul Mu’minin Aisyah Rodhiyallohu ‘anha dalam keadaan membutuhkan makanan, dan Aisyah tidak memiliki sesuatu apapun dari makanan melainkan sebiji korma, maka dia berikan sebiji itu dengan dibela dua, setengahnya diberikan untuk wanita itu dan setengahnya lagi untuk anaknya, dengan amalan kecil ini membuahkan pahala yang besar dan termasuk dari sebab tercegah dari azab neraka, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

اتقواالنارولوبشقتمرة

“Takutlah kalian kepada azab neraka walau hanya dengan separoh biji korma”.

 

HUKUM JUALAN DI TEMPAT WISATA

Bagaimana  hukum berjualan ditempat wisata?.

Jawab:

Dilihat keadaan wisatanya, kalau wisatanya adalah tempat ma’siat seperti di pantai Kuta-Bali, maka tidak boleh, karena orang yang berjualan di sana tentu akan melihat dan berhadapan dengan orang-orang fasiq yang benar-benar menampakan kefasiqkannya dan tidak mungkin bagi yang berjualan di sana akan bisa menundukan pandangannya, bila seperti ini keadaannya maka tidak boleh berjualan di sana, begitu pula bila tempat wisatanya adalah tempat peribadahan orang-orang musyrik seperti di candi-candi atau di kuburan-kuburan maka tidak boleh berjualan di sana, cari tempat yang tidak masuk di lokasi tersebut, sehingga kamu tidak termasuk dalam ta’awun (bekerja sama) untuk tempat-tempat itu dan tidak pula kamu termasuk meramaikan tempat itu:

ولاتعاونواعلىالإثموالعدوان

“Dan janganlah kalian berta’awun di atas dosa dan permusuhan”.

Terkadang orang yang berjualan di tempat-tempat itu dikenai iuran atau pajak, yang hasilnya untuk memperbagus dan meningkatkan pemandangan wisata itu, dan kita telah ketahui bersama tentang tidak bolehnya membangun di atas kuburan dan tidak pula boleh meninggikannya serta tidak boleh pula menghiasinya, Al-Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Jabir Rodhiyallohu ‘anhu:

نهىالنبيصلىاللهعليهوسلمأنيجصصالقبر،وأنيقعدعليه،وأنيبنىعليه

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam melarang dari mengapuri (memasang cet) pada kuburan, duduk di atasnya dan membangun di atasnya”.

Kita nasehatkan bagi yang berjualan untuk tidak ke tempat tersebut, akan tetapi hendaknya mencari tempat wisata yang keberadaannya tidak seperti wisata-wisata itu, sehingga bisa menjaga agama dan kehormatan diri dan tidak masuk dalam ta’awun kepada kejelekan dan perbuatan dosa.

 

“ALMARHUM”

Pertanyaan: Apakah boleh berkata tentang orang yang sudah mati: “Al-Marhum?”.

Jawab:

بسم الله الرحمن الرحيم،وبه نستعين،وبعد:

Sesungguhnya kami telah mendengarkan ucapan-ucapan yang terlafazhkan dari lisan-lisan saudara-saudari kita terhadap orang yang sudah meninggal dunia, mereka mengucapkan lafazh-lafazh karena sudah dianggap sebagai suatu kebiasaan, dan bahkan diantara mereka menganggapnya sebagai kebaikan, diantara lafazh-lafazh itu adalah “al-marhum”, “telah kembali ke rahmat Alloh”, “telah tenang di kuburnya”, atau lafazh-lafazh semisal itu.

Bila lafazh-lafazh itu diucapkan kepada orang yang meninggal dunia maka ini adalah bentuk dari pemastian bahwa yang meninggal itu adalah telah dirahmati, telah dan telah…, padahal kita tidak mengetahui dia sudah dirahmati ataukah tidak?, dia masuk Jannah (surga) ataukah masuk neraka?, sudah tenang ataukah menderita?.

Kita doakan untuk yang meninggal dengan doa: Rohimahulloh (semoga Alloh merohmatinya), Ghofarollohu lah (semoga Alloh mengampuninya).

Tentang keberadaan orang yang sudah mati kita tidak mengetahuinya karena dia termasuk perkara ghoib, dan Alloh semata yang mengetahui, Dia berkata:

“فلا تزكواأنفسكم هوأعلم بمن التقى“.

“Maka janganlah kalian merekomendasikan (menjamin) diri-diri kalian, Dia yang lebih mengetahui terhadap siapa yang bertaqwa”.

Orang-orang yang mengucapkan lafazh seperti itu tidaklah menambah kebaikan untuk yang meninggal dunia bahkan orang yang mengucapkan itu terjatuh ke dalam kesalahan dan pengikutan kepada orang-orang Kristen, bila ada yang mati dari umat mereka maka mereka mengatakan: “Telah kembali ke rumah bapak di Surga”, atau biasa Kristen Ambon bilang: “Telah pulang ke rumah Kakek di Surga”.

Maka tidak sepantasnya bagi setiap muslim untuk meniru dan mengikuti perbuatan mereka.

Kemudian termasuk dari kewajiban orang yang hidup untuk saudara-saudarinya kaum mu’minin adalah didoakan dan dimintakan ampun, ini yang bermanfaat baginya dengan mendapatkan pahala karena telah berdoa, dan yang meninggal juga mendapatkan bagian dari doanya, Alloh Ta’ala berkata:

“واستغفرلذنبك وللمؤمنين والمؤمنات“.

“Dan minta ampunlah kamu terhadap dosa-dosamu dan terhadap orang-orang yang beriman laki-laki dan wanita”.

Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: