“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Hukum Pemilu Ustadz Firanda
بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله، وبعد:
 
Pada kesempatan ini kita akan sedikit menunjukan kepada anda tentang rangkaian dari kata-kata pak Firanda MA.Lc., yang mana kita telah melihat betapa tinggi semangatnya dalam berda’wah, namun sangat disayangkan banyak penyelewengan padanya, dia telah menyelisihi prinsip dan pokok terpenting dalam beragama:
 
فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا“.
 
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya maka hendaknya dia beramal dengan amalan yang sholih”.
Dan kita telah melihat pendapat, perbuatan dan prilaku pak Firanda MA. Lc. yang menyelisihi amalan sholih, diantaranya:
 
Pak Firanda MA.Lc. berkata:
 
“MEMILIH SIAPA di PEMILU 2014? (Lampiran Fatwa Terbaru Asy-Syaikh DR Sa’ad Asy-Syitsri tentang bolehnya mencoblos di Pemilu 2014 Indonesia)”.
 
TANGGAPAN:
 
Dari judul terlihat kalau pak Firanda MA.Lc. seakan-akan sedang berkampanye kepada demokrasi, dan dia ingin memberikan isyarat kepada partai manakah yang pantas untuk dipilih?, dan untuk melariskan pendapat dan sikapnya diapaun melampirkan fatwa ulama, ini semakin menunjukan tentang siapa dia sebenarnya?.
 
Kemudian dia berkata:
 
“Dari diskusi dengan beberapa kawan mahasiswa pasca sarjana di Madinah, dan beristikhoroh kepada Allah, berikut ini saya sampaikan beberapa buah pemikiran seputar pemilu, yang saya harapkan bisa menjadi pertimbangan dalam menyikapi pileg yang sudah di depan mata”.
 
TANGGAPAN:
 
Jadi pak Firanda MA.Lc. pada pikiran dan prilakunya di sini telah salah, bagaimana tidak?!, dia menempatkan atau melakukan istikhoroh dalam dua perkara yang tidak perlu untuk diadakan istikhoroh padanya.
Setiap muslim berkewajiban untuk meninggalkan semua yang harom, dan tidak dibenarkan baginya untuk melakukan istikhoroh dalam rangka untuk meninggalkan yang harom semisal acara demokrasi itu, kewajibannya adalah:
 
وما ءاتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا“.
 
“Dan apa saja yang telah Ar-Rosul datangkan kepada kalian maka terimalah, dan apa saja yang dia telah larang kalian darinya maka tinggalkanlah”.
Dengan keterangan ini kita bertambah kaget dengan perbuatan pak Firanda MA.Lc. ini?!, Apakah dia akan melumpuhkan “an-nushuush” lantaran ingin mengedepankan “al-ushuul”?!.
Perkataannya:
 
“PEMILU 2014 (Pilih Siapa?)”.
 
TANGGAPAN:
 
Ini dia tidak sekedar menjelaskan, akan tetapi memang dia seakan-akan berkampanye, Allohul musta’an.
 
Perkataannya:
 
“Berdasarkan fatwa para ulama besar yang memiliki pandangan yang tajam, fikih yang tinggi, serta ketakwaan kepada Allah (seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-‘Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani Rahimahumullah) demikian juga fatwa Ulama Besar Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Hafizohullah, dan juga beberapa ulama lainnya yang sempat kami minta nasehat dari mereka, maka kami mengikuti nasehat para ulama tersebut untuk menganjurkan kaum muslimin untuk ikut mencoblos dalam pemilu
-sebagai pengamalan dari kaidah fikih (ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ) “Menempuh mudhorot yang teringan”.
 
TANGGAPAN:
 
Dia sekarang sudah mulai menarik pelan-pelan para pembaca untuk bisa tergiur, kaedah ushuuliyyah syar’iyyah diapun terapkan bukan pada tempatnya.

Sebaiknya pak Firanda MA.Lc. perlu melihat dan menjelaskan penggunaan kaedah itu.
Dahulu yang bertanya kepada Asy-Syaikh Ibnu Bazz, Ibnu Al-Utsaimin dan Al-Albaniy juga berprinsip dengan kaedah ini, dan di Al-Jazair diterapkan kaedah ini hingga beramai-ramai para penggemar fatwa itu melakukan pemilihan umum maka hasilnya apa yang terjadi?, apakah akibatnya?, apakah Al-Jazair ketika itu langsung berubah menjadi baik ataukah apa yang terjadi?.
Adapun perkataanya:
 
“Terlebih lagi mengingat kondisi tanah air yang cukup mengkhawatirkan”.
 
TANGGAPAN:
 
Dari ucapan pak Firanda MA.Lc. ini semakin tampak teorinya, apakah mungkin bisa keterpurukan dihilangkan dengan membuat kecurangan dan penyelisihan terhadap syari’at Alloh?, apakah pak Firanda MA.Lc. lupa dengan perkataan Imam Daril Hijroh?!.
 
Dan perkataannya:
 
“Setelah itu kami bermusyawarah dan mengambil keputusan untuk menganjurkan kaum muslimin melakukan hal berikut:
Pertama: Jika mengenal caleg yang terbaik dan cenderung kepada sunnah dan membela kepentingan islam maka pilihlah caleg tersebut.
Kedua: Berilah peringatan terhadap caleg nashrani, syiah maupun liberal walaupun dari partai islam.
Ketiga: Jika tidak kenal caleg, maka pilihlah Partai PKS, walaupun kami tetap menyatakan haramnya demokrasi, karena bagaimanapun PKS –dengan segala kekurangannya- masih merupakan partai yang secara umum masih diharapkan bisa memberi kontribusi kepada Islam dan Kaum Muslimin.
Namun tetaplah berhati-hati terhadap caleg syiah dan non muslim walaupun dari PKS. SERUAN kami PKS agar terus membenahi diri, dan mencari keridhoan Allah, dan tidak mencalonkan non muslim, syiah maupun liberal. Sesungguh kemenangan bukanlah pada jumlah yang banyak akan tetapi pada meraih keridoan Allah dengan  menjalankan syari’at-Nya dan menjauhi sebisa mungkin larangan-Nya.
 
TANGGAPAN:
 
Semakin tampak kengawurannya, kalaulah pak Firanda MA.Lc. ini merasa tidak tahu hukum demokrasi itu apa? maka ini masih mending, namun pengakuannya ini menjadikan dia malah “tak berhaluan”.
Dari ucapannya ini, orang yang pernah belajar dasar-dasar permulaan aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah tentu akan menilai kalau pak Firanda MA.Lc. ini lagi kacau balau sikap dan prinsipnya.
 
Dan perkataannya:
 
“Akhirnya kami mengharapkan kaum muslimin menyatukan suara mereka demi Islam, dan terus berdoa dengan tulus dan membenahi ibadah masing-masing, karena penolong hanyalah Allah semata. Semoga menjadi kemaslahatan bagi kaum muslimin. Allahul musta’an”.
 
TANGGAPAN:
 
Sebagai penutup dari muqaddimah tanggapan ini maka kami menghimbau kaum muslimin untuk bersatu di atas pedoman hidup mereka yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dan jangan tertipu dengan bahasan dan pikiran pak Firanda MA.Lc. ini, dan yakinlah bahwa setiap usaha atau perjuangan yang di atas namakan Islam dan kaum muslimin bila dibangun di atas penyelisihan terhadap syari’at Islam itu sendiri maka tidak akan membuahkan kesuksesan dan kesejahteraan bahkan berakibat kepada kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat, sebagai renungan:
Dimana hasil dari pergerakan dengan cara demokrasi itu?, di Mesir, Al-Jazair, Iraq dan negri lainnya?, apakah dengan perjuangan di bawah bendera demokrasi itu telah memiliki hasil? ataukah justru memunculkan kemudhorataan terhadap Islam dan kaum muslimin karena dampak persaingan politik yang ada?!.
Ditulis oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy.
Tulisan Ilmiyyah Terkait Lainnya:
Iklan

Comments on: "Hukum Pemilu: Syubhat Pak Firanda tentang PEMILU" (9)

  1. salafy tdk jumud said:

    Saya rasa tulisan anda ini sangat berbobot dmana anda hanya membantah dengan tidak menyertakan fatwa2 ulama kontemporer ttg pemilu.. Apa anda sudah memposisikan diri anda sebagai ulama atau anda hanya seorang salafy jumud yg tdk mengerti mengenai pertimbangan mashlahat dan mafsadat.. Saya rasa anda harus menemui langsung ust firanda untuk belajar banyak dr beliau

    Suka

    • Abu Ibrohim kalsel said:

      Bismillah..
      Afwan akhi, berikut nasehat syaikh Muqbil :

      Syaikh Muqbil al-Wadi’i Membantah Para Pembela Pemilu (dan Demokrasi)

      Dan kami katakan: bahwasanya kami melihat keharaman taqlid (membebek), tidak boleh bagi kita untuk bertaqlid kepada Syaikh Al Albani tidak pula terhadap Syaikh bin Baz dan tidak pula taqlid kepada Syaikh Al ‘Utsaimin, sebab Allah Ta’ala berfirman dalam kitabNya yang mulia:

      اتبعوا ما أنزل إليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه أولياء قليلا ما تذكرون
      “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah engkau mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya, sedikit yang mengambil pelajaran”
      (QS al-A’raf: 3)

      Dan Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:
      ولا تقف ما ليس لك به علم
      “Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak memiliki ilmu padanya”
      (QS al-Isra’: 36)
      Jadi Ahlussunnah tidak taqlid,


      Kita adalah kaum muslimin kita punya Kitabullah;
      وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله
      “Dan bahwasanya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (selainnya) sehingga kalian tercerai berai dari jalanNya.”
      (QS al-An’am: 153)

      tafadhol antum baca ke sumbernya :
      http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2014/05/syaikh-muqbil-al-wadii-membantah-para.html

      Suka

  2. Abu ibrohim kalsel said:

    Ya Abu Yunus,

    Itaqillah..

    Antum jangan asal nuduh dan buruk sangka kepada ana dengan kata tersebut. Darimana antum tahu & apa dasarnya antum berkata seperti itu ?
    Nasehat haq yang ingin antum tulis silahkan disampaikan. Biar jelas dimana posisi antum?

    Alloh ta’ala berfirman :
    58. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.( Al Ahzab)
    11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (*ialah mencela antara sesama mukmin karena orang-orang mukmin seperti satu tubuh.) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Hujurot)

    Ana kasih tahu antum Ana tidak taqlid pada ulama besar syaikh muqbil rohimahulloh.

    Misal dalam satu hal tentang Dengan Apakah Kita Disunnahkan Berbuka Puasa ?
    Hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : “Adalah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka sebelum sholat (maghrib) dengan beberapa ruthob. Bila tidak ada ruthob, maka beliau makan beberapa tamr. Bila tidak ada tamr, maka beliau minum beberapa teguk air.” (HR Imam At-Tirmidzi no. 696, dihasankan oleh As-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i Rohimahulloh Al-Jami’us Shohih Mimma Laisa fis Shohihain, 2/419-420).

    Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh berkata : “Kemudian aku melihat, Al-Imam Abu Hatim dan Abu Zur’ah rohimahumalloh mengingkari (keshohihan) hadits ini, sebagaimana dalam kitab Al-‘Ilal (1/224-225) karya Al-Imam Ibnu Abi Hatim rohimahulloh. Kedua imam tersebut berkata : “Kami tidak mengetahui yang meriwayatkan hadits ini kecuali Abdur Rozzaq, dan kami tidak mengetahui dari manakah Abdur Rozzaq mengambilnya.”

    Syaikh Muhammad bin Hizam mengatakan : “Hadits ini, jalan perputarannya ada pada Abdur Rozzaq, dari Ja’far bin Sulaiman, dari Tsabit, dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu. Al-Imam Adz-Dzahabi telah menyebutkan biografi Ja’far bin Sulaiman, dan beliau menyebutkan bahwa hadits ini termasuk yang diingkari oleh beliau (sehingga hadits ini sebenarnya dho’if, wallohu a’lam, edt.).”

    Karena hadits ini dho’if (sehingga tidak bisa dijadikan sandaran), maka berbuka ituboleh dengan apa saja yang mudah baginya, sampai-sampai meskipun berbuka dengan sekedar meminum air.
    Dikutip sebagian dari : http://www.darul-ilmi.com/2014/06/adab-adab-berpuasa-3-menyegerakan-berbuka-puasa/

    Dan ana saat ini mengikuti pendapat yang kedua dari Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh. bukan kepada syaikh Muqbil ya akhi.

    ###
    Sebenarnya permaslahan intikhobat juga sudah disampaikan dalam kajian abu Ahmad Muhammad limbory hafidzohulloh disini :
    https://ashhabulhadits.wordpress.com/2014/03/21/hukum-pemilu/

    Ini ana tambahakan faedah mengenai intikhobat :
    dari kitab Al-Mabadi’ul Mufidah fit Tauhid wal Fiqh wal Aqidah karya Syaikh Al-‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al-Hajuri hafidzhohulloh.

    Pada Soal (pertanyaan) ke-46 dari kitab tersebut, tertulis : “Apabila ditanyakan kepadamu : “Apa hakekat Demokrasi itu ?” Maka Jawablah : “Demokrasi itu adalah hukum kolektif individu-individu manusia itu sendiri, bukan (yang berasal) dari Kitabulloh (Al-Qur’an) dan bukan pula (dari) Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.”

    Soal ke-47 : “Apabila ditanyakan kepadamu : “Apa hukumnya (demokrasi tersebut) ?” Maka jawablah :

    “Demokrasi itu adalah SYIRIK AKBAR

    (yakni perbuatan Syirik (menyekutukan Alloh Ta’ala), yang sangat besar, edt.).

    Dalilnya adalah firman Alloh Ta’ala :
    إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ
    “Hukum (keputusan) itu hanyalah kepunyaan Allah….” (QS Yusuf : 40)
    Juga firman Alloh Ta’ala :
    وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (٢٦)
    “Dan Dia (Alloh) tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)”. (QS Al-kahfi : 26)

    Soal ke-48 : “Apabila ditanyakan kepadamu : “Apa hakekat Intikhobat (pemilu) itu ?” Maka jawablah : “Pemilu itu adalah bagian dari aturan-aturan Demokrasi, yang membuang atau mengesampingkan syari’at Alloh yang haq. Dan pemilu itu adalah (perbuatan) tasyabbuh (meniru-niru/menyerupai) orang-orang kafir. Padahal tasyabbuh dengan mereka itu adalah tidak boleh. Dan di dalam pemilu itu sendiri, terdapat banyak bahaya/kerusakan, tidak ada di dalamnya kemanfaatan dan faedah apapun bagi kaum muslimin. Diantara kerusakan yang paling menonjol adalah : “Persamaan antara Al-Haq (kebenaran) dan Al-Bathil (kebatilan). Juga persamaan antara orang-orang yang berada di atas jalan yang benar dengan orang-orang yang berada di atas kebatilan, sesuai dengan jumlah (suara) terbanyak. Di dalam pemilu juga terdapat penyia-nyiaan terhadap prinsip Al-Wala’ (loyalitas) dan Al-Baro’(sikap berlepas diri), merobek atau mengoyak persatuan kaum muslimin, menebar permusuhan dan kebencian, dan juga Tahazzub (bergolong-golongan/berkelompok) dan Ta’asshub (sikap fanatik pada golongan/kelompok tertentu) di antara mereka. (Di dalamnya juga terdapat) Al-Ghisy (tipu daya), Al-Khida’ (tipu muslihat), Al-Ihtiyaal (siasat licik), Az-Zuur (kedustaan), menyia-nyiakan waktu dan harta benda, dan juga menyia-nyiakan rasa malu/kehormatan para wanita, serta mengguncangkan kekokohan ilmu syari’at Islam dan para pelakunya (ulama dan para penuntut ilmu, edt.).”

    Jika niat, silahkan baca secara lengkap, yang diambil dari situs ikhwah di sini :
    http://www.darul-ilmi.com/2014/07/hakekat-demokrasi-dan-pemilu/

    ####
    Dan ana ingat perkataan Ust Abu Hazim magetan kurang lebih seperti ini :
    suara 5 lonte (PSK) dengan 4 kiayi. menang mana ? kalau demokrasi/pemilu, yang menang lonthe. selesai.

    Alloh ta’ala berfirman:
    57. “Dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Robbnya lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (Al Kahfi).

    Suka

  3. abu abdillah said:

    al jazair dan mesir jadi contoh

    Suka

    • untuk abu abdillah dan salafy tidak jumud. Imam malik berkata ” setiap perkataan seseorang bisa diterima dan bisa ditolak kecuali perkataan penghuni kubur ini(sambil menunjuk kuburan Rosulullah). Anda tentu tahu kalau yang dikatakan oleh ustad firanda ini tidak berdalil sama sekali, sedangkan mengenai haramnya demokrasi jelas dalilnya dan tak ada keraguan sama sekali. Bila anda hai abu abdillah mengatakan al jazair dan mesir jadi contoh, seharusnya anda tahu bahwa apa yang anda lihat atau anda pikirkan itu telah mendahului dalil. Saya berlepas diri dari perkataan ustad firanda, karena ia menempatkan istikhoroh ditempat yang sudah jelas haramnya.

      Suka

  4. Saya Adi cahyadi bin Warpan Apandi
    mengingkari dan berlepas diri dari pemikiran Pak (Ustadz) Firanda MA . Lc
    Bagaimana mungkin kita harus memilih seseorang yg kita tdk kenal agar mereka bisa duduk di satu majlis yg majlis itu membuat Undang undang yg bertentangan dengan Hukum Allah!

    Suka

  5. siswanto said:

    afwan ana mau tanya untuk perkataan Ust firanda yg mengenai PKS menit kebrpa dan minta tlong info Link nya?sukron

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: