“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

asdf
Judul Asli:
“Hal Yushofu Thoriqullohi Bith Thowil Awil Qoshir?”
 
Judul Terjemah:
“Apakah Dikatakan Bahwa Jalan Alloh Itu Panjang Atau Pendek?”
Ditulis dan diterjemahkan Oleh Al Faqir Ilalloh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy
Al Indonesiy –semoga Alloh memaafkannya-
 بسم الله الرحمن الرحيم
 
PENDAHULUAN
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:
      Saya sedang teringat jalan yang tengah saya tempuh, jalan para pengembara yang penuh dengan ujian dan cobaan. Sudah banyak orang yang berjatuhan dari jalan itu. Tiada seorangpun yang istiqomah di atasnya kecuali orang yang Alloh kokohkan.
Kemudian pikiran saya berpindah ke Shiroth yang terbentang di atas punggung Jahannam pada hari Kiamat, yang mana Shiroth tadi lebih tajam daripada pedang dan lebih lembut daripada rambut. Di atasnya ada duri-duri besi yang melengkung dan cakar-cakar yang menyambar-nyambar orang-orang yang berjalan di atasnya sesuai dengan perintah Alloh untuk disambar. Barangsiapa tergelincir kakinya dia akan terhempas ke dalam Neraka yang Alloh ta’ala berfirman tentangnya:
﴿إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ * كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌ﴾ [المرسلات: 32، 33].
“Sesungguhnya Neraka itu melemparkan bunga-bunga api bagaikan istana, seakan-akan dia itu iringan onta-onta kuning.”
Saya tidak tahu apakah saya termasuk orang-orang yang selamat ataukah termasuk dari orang yang akan binasa? Sementara para perampok jalan itu banyak, dan juga syubuhat dan syahwat itu menyambari saya ke kanan dan ke kiri. Ya Alloh selamatkanlah saya, ya Alloh selamatkanlah saya.
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Alloh Yang Mahasuci telah memancangkan jembatan yang orang-orang melintas di atasnya menuju Jannah, dan Alloh memancangkan di kedua sisinya duri-duri melengkung yang menyambari manusia sesuai dengan amalan mereka. Maka demikianlah duri-duri kebatilan dari pengkaburan yang menyesatkan, dan syahwat yang menyesatkan menghalangi orang untuk lurus menempuh jalan kebenaran. Orang yang terjaga hanyalah orang yang dijaga oleh Alloh.” (“Ash Showa’iqul Mursalah”/2/hal. 146). 

Kemudian pikiran saya beralih ke surat yang isinya: “Apakah jalan Alloh itu digambarkan bahwasanya dia itu panjang? Berilah kami faidah, semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan.”
Maka berhubung saya memiliki ucapan sebagian ulama رحمهم الله tentang masalah ini –dan taufiq itu hanyalah dari Alloh semata-, saya mohon pertolongan pada Alloh ta’ala untuk menjawab pertanyaan tadi dalam rangka menyebarkan ilmu dan menampilkan kebenaran.
Sebelum saya menjawab inti pertanyaan, kita harus mengetahui apa itu Thoriqulloh yang Alloh namai juga dengan Shirotulloh dan Sabillulloh, sebagaimana penamaan tadi datang di dalam kitab-Nya yang mulia.
Adapun tentang Ath Thoriqul Mustaqim, Alloh ta’ala telah berfirman:
﴿قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ﴾ [الأحقاف: 30].
“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar suatu kitab yang diturunkan sepeninggal Musa dalam keadaan kitab tadi membenarkan kitab yang sebelumnya, dan memberikan petunjuk kepada kebenaran dan kepada Thoriq Mustaqim (Jalan yang lurus).”
Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “memberikan petunjuk kepada kebenaran” yaitu agama yang benar, “dan kepada Thoriq Mustaqim” yaitu agama Alloh yang lurus.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/16/hal. 217).
Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan ucapan mereka “memberikan petunjuk kepada kebenaran” yaitu: dalam masalah aqidah dan pemberitaan. “dan kepada Thoriq Mustaqim” yaitu dalam masalah amalan. Karena sesungguhnya Al Qur’an itu mencakup dua perkara: berita dan tuntutan. Maka beritanya itu jujur, dan tuntutannya itu adil, sebagaimana firman Alloh:
﴿وتمت كلمة ربك صدقا وعدلا﴾ [الأنعام: 115]،
“Dan telah sempurnalah kalimat Robbmu dalam keadaan jujur dan adil.”
Dan berfirman:
﴿هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق﴾ [التوبة: 33]،
“Dialah yang mengutus utusan-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.”
Maka petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat. Dan agama yang benar adalah amal sholih. Dan demikianlah ucapan para jin (dalam kisah tersebut): “memberikan petunjuk kepada kebenaran” dalam perkara-perkara keyakinan, “dan kepada Thoriq Mustaqim” yaitu dalam perkara-perkara yang bersifat amalan.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 303).
Adapun Ash Shirothul Mustaqim, Alloh سبحانه berfirman tentangnya:
﴿وَالله يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾ [البقرة: 213].
“Dan Alloh memberikan petunjuk untuk orang yang Dia kehendaki kepada Shiroth Mustaqim (Jalan yang lurus)”
Al Imam Abu Ja’far Ath Thobariy رحمه الله menafsirkan: “Alloh Yang tinggi penyebutan-Nya berfirman pada para hamba-Nya: “Wahai para manusia, janganlah kalian mencari dunia dan perhiasannya, karena dia akan berakhir pada kemusnahan dan kepunahan, sebagaimana kesudahan tanaman yang Alloh bikin sebagai permisalan, menuju pada kerusakan dan kebinasaan. Akan tetapi carilah Akhirat yang kekal, dan beramallah kalian untuk Akhirat. Dan apa yang ada di sisi Alloh itu carilah dengan ketaatan pada-Nya, karena sesungguhnya Alloh menyeru kalian kepada negri-Nya, yaitu Jannah-jannah-Nya yag dia siapkan untuk para wali-Nya. Di dalam Jannah kalian selamat dari kegundahan dan kesedihan, dan kalian aman dari binasanya kenikmatan-kenikmatan dan kemuliaan yang Alloh sediakan untuk orang yang masuk ke dalamnya. Dan Alloh memberikan petunjuk pada makhluk yang Dia kehendaki, memberinya taufiq untuk mendapatkan jalan yang lurus, yaitu Islam yang Alloh جل ثناؤه jadikan sebagai sebab untuk mencapai keridhoan-Nya, dan jalan untuk orang yang menempuhnya dan berjalan di atasnya menuju Jannah-jannah-Nya dan kemuliaan-Nya.” (“Jami’ul Bayan”/15/hal. 59).
Adapun Sabilloh, maka Alloh جل ذكره telah berfirman tentangnya:
﴿فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ الله وَالله عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ﴾ [آل عمران: 195].
“Maka orang-orang yang berhijroh dan dikeluarkan dari negri-negri mereka dan disakiti di jalan-Nya, dan berperang dan dibunuh pastilah Aku benar-benar akan menghapus dari mereka kejelekan-kejelekan mereka, dan Aku pasti akan memasukkan mereka ke dalam Jannah-jannah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai pahala dari sisi Alloh, dan Alloh di sisi-Nya ada pahala yang bagus.” Abul Barokat An Nasafiy رحمه الله berkata: “Dan disakiti di jalan-Ku” dengan cacian, pukulan, perampokan di jalan agama, “Dan mereka berperang dan dibunuh” dan mereka memerangi musyrikin dan mati syahid.” (“Tafsir An Nasafiy”/1/hal. 203).
Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Makna firman-Nya: “Dan disakiti di jalan-Ku” yaitu mereka disakiti dengan sebab mereka ada di jalan-Ku. Jalan di sini adalah: agama yang benar. Dan yang dimaksudkan di sini adalah: gangguan yang menimpa mereka dari arah kaum musyrikin adalah disebabkan karena mereka beriman pada Alloh dan mengamalkan apa yang Alloh syariatkan pada para hamba-Nya.” (“Fathul Qodir”/2/hal. 70).
Itu semua adalah satu kesatuan: sabilulloh, shirothulloh, dan thoriqulloh.
Dan di antara maknanya adalah: agama yang benar, Islam, amal sholih yang menyampaikan kepada Negri Keselamatan. Semuanya kembali pada perkara yang sama.
Oleh karena itulah maka Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Sesungguhnya Shiroth Mustaqim adalah perkara-perkara batiniyyah yang ada di dalam hati, yang berupa keyakinan, keinginan dan sebagainya. Dan juga perkara-perkara lahiriyyah yang berupa ucapan, perbuatan, bisa jadi berupa ibadah-ibadah, bisa jadi pula berupa adat dalam makanan, pakaian, pernikahan, tempat tinggal, perkumpulan, perpisahan, bepergian, tinggal di negrinya, naik kendaraan dan sebagainya.” (“Iqtidhoush Shirothil Mustaqim”/1/hal. 92).
Dan tidak mungkin umat ini menempuh Shiroth tadi kecuali di atas jalan para Salafush Sholih, karena mereka adalah pemimpin para Shiddiqin, Syuhada dan Sholihin yang mendapatkan nikmat dari Alloh untuk dibimbing menuju Shirothol Mustaqim. Dan dalil-dalil tentang ini telah dijabarkan dalam risalah yang lain. Maka manhaj Salafush Sholih itulah Shirothol Mustaqim.
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Oleh karena itulah maka para Salaf menafsirkan jalan yang lurus dan penempuhnya adalah dengan: Abu Bakr, Umar dan para Shohabat Rosululloh –semoga Alloh meridhoi mereka-. Dan itu memang seperti yang mereka tafsirkan, karena jalan mereka yang mereka ada di atasnya itu memang benar-benar jalan Nabi mereka itu sendiri. Dan mereka itulah yang Alloh beri nikmat kepada mereka, dan Alloh murka pada para musuh mereka, dan Alloh menghukum para musuh mereka sebagai orang-orang yang sesat.
Abul ‘Aliyah Rufai’ Ar Riyahiy dan Al Hasan Al Bashriy –dan keduanya adalah termasuk Tabi’in yang paling mulia- berkata: “Jalan yang lurus adalah Rosululloh dan kedua Shohabatnya. Abul ‘Aliyah juga berkata tentang firman Alloh ta’ala:
﴿صراط الذين أنعمت عليهم﴾
“Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.”
(beliau berkata:) “Mereka adalah keluarga Rosululloh, Abu Bakr dan Umar.  Dan inilah yang benar, karena keluarga Rosululloh, Abu Bakr dan Umar berjalan di atas jalan yang sama, tiada perselisihan di antara mereka, dan mereka satu sama lain saling loyal dan saling memuji. Dan bahwasanya mereka memerangi orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakr dan Umar, dan berdamai dengan orang yang diajak damai oleh keduanya itu telah diketahui oleh umat ini, ulamanya dan orang awamnya. Zaid bin Aslam berkata: “Orang-orang yang Alloh beri nikmat pada mereka adalah Rosululloh, Abu Bakr dan Umar.”
Dan tiada keraguan bahwasanya orang-orang yang mendapatkan nikmat adalah para pengikut beliau, dan yang mendapatkan kemurkaan adalah orang-orang yang keluar dari pengikutan pada beliau. Dan umat yang paling mengikuti beliau dan paling taat pada beliau adalah para Shohabat beliau dan keluarga beliau. Dan Shohabat yang paling mengikuti beliau secara pasti adalah Abu Bakr dan Umar.
Dan yang paling menyelisihi beliau dari umat ini adalah rofidhoh. Maka penyelisihan mereka terhadap beliau telah diketahui oleh seluruh pecahan umat ini. Oleh karena itulah mereka membenci sunnah dan Ahlussunnah, memusuhi sunnah dan memusuhi Ahlussunnah. Maka mereka adalah musuh dari sunnah beliau. Sementara keluarga beliau dan para pengikut beliau di kalangan mereka itu paling banyak mewarisi beliau, bahkan mereka itulah pewaris beliau secara hakiki.
Dan telah jelas bahwasanya jalan yang lurus adalah jalan para Shohabat beliau dan para pengikut beliau, sementara jalan orang yang dimurkai dan orang yang sesat adalah jalan rofidhoh. Dengan jalan yang lurus ini tertolaklah khowarij karena permusuhan mereka terhadap para Shohabat itu telah dikenal.”
(selesai penukilan dari “Madarijus Salikin”/1/hal. 64-65/cet. Darul hadits).
Maka Shirothulloh, atau Thoriqulloh, atau Sabilulloh itu adalah syari’at Islam ini, yang dibangun di atas Al Kitab dan As Sunnah, berdasarkan pemahaman Salafush Sholih yang dikehendaki untuk bisa sampai kepada Alloh ta’ala.
Dan Shiroth tadi pula sifat-sifat, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله: “Dan Shiroth itu adalah suatu jalan yang menggabungkan lima sifat: dia itu lurus, mudah, sudah banyak dilalui, luas, dan menyampaikan pada tujuan. Orang Arob tidak menamakan jalan yang bengkok itu sebagai shiroth. Mereka juga tidak menamakan jalan yang susah, yang bercabang, sebagai Shiroth. Mereka juga tidak menamakan jalan buntu yang tidak menyampaikan ke tujuan sebagai Shiroth. Renungkanlah ungkapan-ungkapan Shiroth di ucapan-ucapan orang Arob dan penggunaan mereka, niscaya menjadi jelaslah itu.” (“Badai’ul Fawaid”/2/hal. 254).
Jika kita telah tahu bahwasanya di antara sifat Shiroth adalah: menyampaikan kepada tujuan dengan cara yang mudah, maka cocoklah untuk Shiroth itu pendek, bukan panjang.
Ini dari sisi ilmu, yang mana pengetahuan tentang Alloh itu mudah dan dimudahkan. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ﴾ [القمر: 17].
“Dan sungguh Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk diingat. Maka adakah yang mau mengingat?”
Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Yaitu: Kami telah memudahkan lafazhnya, dan kami gampangkan maknanya bagi orang yang menginginkannya, agar manusia itu ingat.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 478).
Maka Alloh ta’ala dengan rohmat-Nya kepada para hamba-Nya telah menancapkan alamat-alamat yang banyak untuk mengetahui kebenaran.
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan sungguh Alloh ta’ala telah menancapkan di atas kebenaran itu alamat-alamat yang banyak. Dan Alloh  سبحانه وتعالى tidak menyamakan Antara perkara yang dicintai-Nya dengan perkara yang dimurkai-Nya dari segala sisi yang mana tidak bisa dibedakan Antara yang ini dengan yang itu. Dan fithroh-fithroh yang selamat itu pasti condong pada kebenaran dan lebih mengutamakannya. Dan pastilah ada sebagian alamat pemberat yang membimbing fithroh untuk mengetahui kebenaran, sekalipun mungkin berupa mimpi atau ilham. Jika ditetapkan misalkan itu semua hilang, dan seluruh tanda tidak terlihat pada suatu perkara, maka di sini gugurlah beban dalam hukum kasus tadi, dan jadilah orang tadi bagaikan orang yang belum sampai padanya dakwah, terkait dengan kasus tersebut, sekalipun dia tetap terbebani dalam kasus-kasus yang lain. Maka hukum-hukum pembebanan itu bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar kemantapan ilmu dan kemampuan. Allohu a’lam.” (“I’lamul Muwaqqi’im”/4/hal. 219).
Maka ilmu tentang kebenaran itu mudah bagi orang yang bersungguh-sungguh mencarinya.
Yazid bin Umairoh berkata:
لما حضر معاذ بن جبل الموت قيل له: يا أبا عبد الرحمن أوصنا. قال: أجلسوني. فقال: إن العلم والإيمان مكانهما من ابتغاهما وجدهما. يقول ذلك ثلاث مرات. (أخرجه الترمذي (3804)/صحيح).
“Ketika datang kematian pada Mu’adz bin Jabal, dikatakan pada beliau: “Wahai Abu Abdirrohman, berilah kami wasiat.” Maka beliau berkata: “Dudukkanlah aku.” Lalu beliau berkata: “Sungguh ilmu dan iman itu masih ada di tempatnya. Barangsiapa mencarinya, maka dia akan mendapatkannya.” Beliau mengucapkan itu tiga kali.” (riwayat At Tirmidziy (3804)/shohih).
Al Imam Ibnul Wazir رحمه الله berkata: “Aku telah mengetahui dengan pengalaman yang pasti pada diriku sendiri dan pada orang lain bahwasanya mayoritas ketidaktahuan orang terhadap hakikat-hakikat suatu perkara itu sebabnya hanyalah karena mereka tidak bersungguh-sungguh berusaha mengenal hakikat-hakikat tadi secara adil, bukan karena mereka itu tidak paham. Karena Alloh, dan hanya untuk-Nya sajalah pujian, telah menyempurnakan hujjah dengan kemampuan untuk memahami. Hanya saja kebanyakan orang mengalami kegagalan karena mereka kurang bersungguh-sungguh mempelajari.” (“Itsarul haqq ‘Alal Kholq”/hal. 28).
Maka apabila cahaya hujjah telah bersinar cerah, dan pemahaman akal itu kuat, jelaslah jalan yang lurus, lebih-lebih lagi karena di dalam fithroh itu telah tertanam untuk mengutamakan kebenaran daripada kebatilan. Maka jadi mudahlah menempuh jalan yang lurus dengan taufiq dari Alloh.
Al Imam Ibnul Wazir رحمه الله berkata: “Telah diketahui di dalam fithroh-fithroh bahwasanya kebenaran itu lebih diutamakan daripada kebatilan.” (“Itsarul Haqq ‘alal Kholq”/hal. 194).
Oleh karena itulah makanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمهما الله menyebutkan bahwasanya
Shiroth Mustaqim itu pendek, dan jalan para ahli filsafat itu panjang.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan sebagaimana gerakan seperti gerakan batu, dia itu mencari tempat menetap dengan jalan yang paling pendek, yaitu garis yang lurus. Maka bagaimana tuntutan keinginan yang ada di dalam hati para hamba itu melenceng dari Ash Shirothul Mustaqim Al Qorib (Jalan yang lurus yang dekat), menuju ke jalan yang menyimpang yang jauh? Dan Alloh ta’ala telah memfithrohkan para hamba-Nya di atas kesehatan dan kelurusan, kecuali orang yang diseret oleh para setan lalu dikeluarkan dari fithrohnya yang Alloh mencipta dirinya di atas fithroh tadi.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 569).
Sisi pendalilan di sini adalah ucapan beliau: “bagaimana tuntutan keinginan yang ada di dalam hati para hamba itu melenceng dari Ash Shirothul Mustaqim Al Qorib (Jalan yang lurus yang dekat), menuju ke jalan yang menyimpang yang jauh?”
Beliau رحمه الله juga berkata tentang metode filsafat: “Yang mereka ucapkan itu, bisa jadi adalah kebatilan, dan bisa jadi adalah berpanjang-panjang yang justru menjauhkan jalan dari orang yang mencari petunjuk. Maka hal itu tidak kosong dari kekeliruan yang justru menghalangi orang dari kebenaran, atau dia itu adalah jalan yang panjang yang membikin capek orangnya sampai baru kemudian mencapai kebenaran, padahal dia itu bisa saja mencapainya dengan jalan yang dekat. Ini bagaikan metode yang diumpamakan oleh sebagian salaf bahwa ada orang ditanya: “Di manakah telingamu?” maka dia mengangkat tangannya tinggi sekali, lalu memutarnya hingga mencapai telinga kirinya. Padahal dia bisa saja mengisyaratkan ke telinga kanan atau telinga kiri dengan Thoriq Mustaqim (jalan yang lurus). Alangkah bagusnya sifat yang Alloh berikan untuk Kitab-Nya dengan firman-Nya:
﴿إن هذا القرآن يهدي للتي هي أقوم﴾ [ الإسراء : 9 ] ،
“Sesungguhnya Qur’an ini membimbing kepada jalan yang lebih lurus.”
Maka jalan yang paling lurus menuju kepada tuntutan yang paling mulia adalah syariat yang Alloh mengutus Rosul-Nya untuk membawanya. Adapun jalan para failasuf tadi, bersamaan dengan kesesatan mereka di sebagian perkara, dan kebengkokan jalan mereka, dan panjangnya jalan mereka di perkara yang lain, jalan itu hanyalah menyampaikan mereka kepada perkara yang tidak bisa menyelamatkan mereka dari siksaan Alloh, lebih-lebih untuk bisa menyampaikan mereka pada keberuntungan, lebih-lebih lagi untuk menyampaikan pada kesempurnaan bagi jiwa manusia dengan jalan mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/9/hal. 153).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Kondisi di mana Alloh sebagai Pemberi petunjuk ke Ash Shirothul Mustaqim, yaitu mengenal kebenaran dan mengamalkannya, itu adalah Aqrobuth Thuruq (jalan yang paling dekat) yang menyampaikan kepada tujuan, karena sesungguhnya garis yang lurus itu adalah garis terdekat yang menyampaikan  antara dua titik. Dan jalan yang lurus tadi tidak diketahui kecuali dari para Rosul.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 69).
Penjelasan ini cukup terang.
Dan Abu Abdillah Ar Roziy di dalam kitabnya “Aqsamul Ladzdzat” manakala menyebutkan keledzatan aqliyyah dan bahwasanya itulah ilmu, dan bahwasanya ilmu yang paling besar adalah ilmu tentang Alloh, dia mengakui bahwasanya Aqrobuth Thoriq (Jalan yang terdekat) yang menyampaikan kepada Alloh adalah jalan Al Qur’an. Dia berkata dalam keadaan dia di puncak penyesalan atas tersia-sianya umurnya dan panjangnya jalan dia dalam mencari kebenaran:
نهاية إقدام العقول عقال … وأكثر سعي العالمين ضلال
وأرواحنا في وحشة من جسومنا … وحاصل دنيانا أذى ووبال
ولم نستفد من بحثنا طول عمرنا … سوى أن جمعنا فيه قيل وقال
“Puncak dari kemajuan akal adalah memutar balik kembali. Dan mayoritas upaya manusia adalah kesesatan belaka. Ruh-ruh kami kesepian di dalam raga-raga kami, dan hasil dari dunia kami adalah gangguan dan kecelakaan. Dan kami tidak mengambil faidah dari pencarian sepanjang umur kami kecuali kami sekedar mengumpulkan ucapan fulan dan ucapan allan.
Sungguh aku telah merenungkan jalan-jalan ilmu Kalam dan metode-metode filsafat, maka aku tidak mendapatinya menyembuhkan penyakit dan tidak pula menghilangkan dahaga. Dan aku melihat Aqrobuth Thuruq (jalan yang terdekat) adalah jalan Al Qur’an. Bacalah dalam masalah penetapan:
﴿الرحمن على العرش استوى﴾
“Ar Rohman tinggi di atas ‘Arsy.”
﴿إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه﴾.
“Kepada-Nyalah ucapan yang baik itu naik, dan amal sholih mengangkat ucapan yang baik tadi.”
Dan bacalah dalam masalah peniadaan:
﴿ليس كمثله شيء﴾
“Tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia.”
﴿ولا يحيطون به علماً﴾.
“Dan mereka tidak bisa meliputi diri-Nya dengan ilmu mereka.”
Lalu dia berkata: “Dan barangsiapa mencoba seperti percobaan yang aku lakukan, dia akan tahu seperti apa yang aku tahu.”
(dinukilkan oleh Syaikhul Islam dalam kitab beliau “Bayan Talbisil Jahmiyyah Fi Ta’sis Bida’ihimil Kalamiyyah”/1/hal. 119).
Inilah Shirothulloh dari sisi ilmu, bahwasanya dia itu dekat, pendek dan mudah, dengan taufiq dari Alloh.
Sebagian ikhwah –di antaranya adalah Asy Syaikh Abu Malik Ali Al Baitiy حفظه الله – bahwasanya Al Imam Al Albaniy رحمه الله dalam membantah para pencari kekuasaan dan kepemimpinan, beliau berkata: “Sesungguhnya jalan Alloh itu panjang, dan bisa jadi kita akan mati di tengah jalan. Alloh tidak membebani kita untuk menghasilkan kepemimpinan atau penerapan syariat di suatu negara. Kita hanya diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Dan Alloh memberikan kekuasaan kepada yang dikehendakinya.” Atau kalimat semacam itu. Semoga Alloh merohmati beliau. Itu ada di sebagian kaset beliau, yang belum saya dapatkan sampai sekarang.
Ini dari sisi amalan. Beliau menggambarkan bahwa Thoriqulloh itu panjang.
Dan kita harus ingat bahwasanya dari segi balasan, adalah Shiroth lain, Shiroth pada hari Kiamat, dialah jembatan yang terbentang di antara dua tepi Jahannam. Kalian telah mengetahu bahwasanya Jahannam itu besar dan luas. 
Dari Abdulloh bin Mas’ud رضي الله عنه yang berkata:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «يؤتى بجهنم يومئذ لها سبعون ألف زمام مع كل زمام سبعون ألف ملك يجرونها». (أخرجه مسلم (2842)).
Rosululloh رضي الله عنه bersabda: “Pada Hari Kiamat akan didatangkan Jahannam, pada hari itu dia memiliki tujuh puluh ribu tali kekang. Dan setiap satu tali kekangnya itu ada tujuh puluh ribu malaikat yang menyeretnya.” (HR. Muslim (2842)). 
Dan dari Anas bin Malik رضي الله عنه yang berkata:
عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال: «لا تزال جهنم يلقى فيها ﴿وتقول: هل من مزيد﴾، حتى يضع رب العزة فيها قدمه، فينزوي بعضها إلى بعض وتقول: قط قط بعزتك وكرمك. ولا يزال في الجنة فضل حتى ينشئ الله لها خلقا فيسكنهم فضل الجنة». (أخرجه البخاري (6661) ومسلم (2848)).
“Dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda: “Terus-menerus orang-orang dilemparkan ke dalam Jahannam dalam keadaan Jahannam berkata: “Adakah tambahan lagi?” sampai Robbul ‘Izzah meletakkan telapak kaki-Nya ke Jahannam tadi, sehingga sebagian Jahannam menyisih ke sebagian yang lain seraya berkata: “Cukup, cukup, demi keperkasaan-Mu dan kedermawanan-Mu.” Dan terus-menerus di dalam Jannah itu ada tempat tersisa sampai Alloh menciptakan suatu makhluk untukya, lalu Dia menjadikan mereka tinggal di tempat yang tersisa tadi.“ (HR. Al Bukhoriy (6661) dan Muslim (2848)).
Dan kalian telah megetahui bahwasanya Jahannam itu amat besar dan amat luas. Maka barangsiapa lambat dalam menerima kebenaran dan tidak bersegera mengamalkannya sebagaimana mestinya, bisa jadi dia akan merasakan bahwasanya Shiroth itu panjang, dan melintasinya itu menyakitkan dan banyak bencana yang dialaminya, sesuai kadar amalannya di dunia.
Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata:
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : «آخر من يدخل الجنة رجل فهو يمشي مرة ويكبو مرة وتسفعه النار مرة. فإذا ما جاوزها التفت إليها فقال: تبارك الذي نجاني منك، لقد أعطاني الله شيئاً ما أعطاه أحداً من الأولين والآخرين». الحديث. (أخرجه مسلم (178)).
“Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Orang yang terakhir masuk Jannah adalah orang yang terkadang berjalan, terkadang tersungkur, terkadang terbakar oleh api neraka (saat berjalan di atas jembatan). Maka apabila dia telah melewati Neraka tadi dia menoleh ke Neraka seraya berkata: “Maha Penuh berkah Dzat Yang menyelamatkanku darimu. Sungguh Alloh telah memberiku sesuatu yang tidak Dia berikan kepada seorangpun dari generasi terdahulu dan generasi belakangan.” Sampai akhir hadits. (HR. Muslim (178)).
Maka barangsiapa lambat, dikhawatirkan dia akan merasakan bahwasanya Shiroth itu panjang baginya, sehingga dia tidak segera meraih kemuliaan yang banyak di Jannah sebagaimana yang lainnya.
Abu Huroiroh رضي الله عنه berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«ومن بطأ به عمله لم يسرع به نسبه». (أخرجه مسلم (2690)).
“Dan barangsiapa amalannya itu memperlambat dirinya, nasabnya tidak akan mempercepatnya.” (HR. Muslim (2690)).
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Maknanya adalah: bahwasanya amalan itulah yang menyampaikan sang hamba kepada derajat-derajat di Akhirat, sebagaimana Alloh ta’ala berfirman:
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا [الأحقاف: 19]
“Dan setiap orang akan mendapatkan derajat-derajat dari apa yang mereka amalkan.”
Maka barangsiapa amalannya membikinnya lambat untuk mencapai posisi-posisi tinggi di sisi Alloh, nasabnya tidak akan mempercepatnya untuk mencapai derajat-derajat tadi, karena sungguh Alloh ta’ala telah menetapkan balasan itu sesuai dengan amalan, bukan sesuai dengan nasabnya, sebagaimana Alloh ta’ala berfirman:
﴿فإذا نفخ في الصور فلا أنساب بينهم يومئذ ولا يتساءلون﴾
“Maka apabila terompet telah ditiup, maka tiada nasab lagi di antara mereka pada hari ini, dan mereka tidak saling bertanya.”
Sungguh Alloh ta’ala telah memerintahkan untuk berlomba-lomba menuju pada ampunan-Nya dan rohmat-Nya dengan amalan-amalan.” (“Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam”/syarh hadits ketiga puluh enam).
Dan barangsiapa bersungguh-sungguh berusaha mengetahui kebenaran dan bersegera menerimanya dan mengamalkannya, dia dengan taufiq dari Alloh akan segera meraih ketinggian derajat-derajat dan banyaknya kemuliaan di Jannah, dan Shiroth yang menyampaikannya ke Alloh dan negri kemuliaan-Nya terasa pendek baginya insyaAlloh. 
Abu Huroiroh رضي الله عنه berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«من خاف أدلج ومن أدلج بلغ المنزل ألا إن سلعة الله غالية ألا إن سلعة الله الجنة». (أخرجه الترمذي (2450) وعبد بن حميد (1460)/حسن).
“Barangsiapa takut, dia akan berangkat di awal malam. Dan barangsiapa berangkat di awal malam dia akan tiba di tempat tinggal. Ketahuilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Alloh itu mahal, ketahuilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Alloh itu adalah Jannah.” (HR. At Tirmidziy (2450) dan Abd bin Humaid (1460)/hadits hasan).
Al Imam Al Mundziriy رحمه الله berkata: “Dan makna hadits adalah: barangsiapa takut, rasatakut tadi mengharuskan dirinya untuk berjalan ke Akhirat dan bersegera beramal sholih karena dia takut ada halangan dan rintangan di jalan.” (“At Targhib Wat Tarhib”/4/hal. 131).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Jika malam telah membayang, keinginan untuk tidur bertarung dengan keinginan untuk begadang. Maka rasa takut dan kerinduan ada di bagian depan pasukan kesadaran. Kemalasan dan sikap menunda-nunda ada di pasukan kelalaian. Maka apabila tekad jiwa itu melakukan serangan, dia akan menyerang sayap kanan, dan kalahlah tentara kemalasan. Maka tidaklah fajar itu menyingsing kecuali dalam keadaan hasil rampasan perang dibagi-bagi, dan pasukan yang berhak merasa senang dengan bagian yang dia dapatkan. Perjalanan di waktu malam tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang biasa sedikit makan dan memikul rasa lapar. Kuda-kuda jagoan itu ada di bagian depan, sementara kuda pemikul beban itu ada di belakang.” (“Al Fawaid”/hal. 51).
Iya, balasan itu sesuai dengan amalan.
Dari Abu Huroiroh
رضي الله عنهعن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: «وترسل الأمانة والرحم فتقومان جنبتي الصراط يميناً وشمالاً، فيمر أولكم كالبرق» قال: قلت: بأبي أنت وأمي أيّ شيء كمرّ البرق؟ قال: «ألم تروا إلى البرق كيف يمرّ ويرجع في طرفة عين؟ ثم كمرّ الريح ثم كمرّ الطير وشدّ الرجال، تجري بهم أعمالهم، ونبيكم قائم على الصراط يقول: رب سلم سلم، حتى تعجز أعمال العباد حتى يجيء الرجل فلا يستطيع السير إلا زحفاً» قال: «وفي حافتي الصراط كلاليب معلقة مأمورة بأخذ من أمرت به، فمخدوش ناج، ومكدوس في النار»، والذي نفس أبي هريرة بيده إن قعر جهنم لسبعون خريفا.
Dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda: “Akan diutuslah amanah dan rohim, lalu keduanya akan berdiri di kedua sisi Shiroth sebelah kanan dan kiri. Maka yang pertama dari kalian akan melintas seperti kilat.” Maka kukatakan: “Ayah dan ibuku sebagai jaminan Anda. Apa itu sesuatu yang seperti lintasan kilat?” beliau menjawab: “Tidakkah kalian melihat kilat bagaimana lewat dan kembali seperti kedipan mata? Lalu seperti lintasan angin, lalu seperti lintasan pria-pria yang kuat. Amalan merekalah yang memperjalankan mereka. Dan Nabi kalian berdiri di atas Shiroth dengan berkata: “Robbi selamatkanlah selamatkanlah.” Hingga melemahlah amalan para hamba, hingga datang orang yang tak sanggup berjalan kecuali merangkak.” Beliau bersabda: “Dan di kedua tepi Shorith ada cakar-cakar yang tergantung dan diperintahkan untuk mengambil orang yang diperintahkan untuk diambil. Maka ada orang yang tercakar tapi selamat, ada yang terdorong dan jatuh ke dalam neraka.” Dan demi Dzat yang jiwa Abu Huroiroh di tangan-Nya, sesungguhnya jurang Jahannam benar-benar sedalam tujuh puluh tahun.” (HR. Muslim (195)).
Perhatikanlah sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Amalan merekalah yang memperjalankan mereka.” Maka tidak ada yang selamat dari kekerasan ini kecuali orang yang kokoh di atas kebenaran dalam memerangi syubuhat dan syahawat. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka barangsiapa mendapatkan petunjuk di dunia ini ke shiroth Alloh yang lurus yang dengannya Alloh mengutus para Rosul-Nya, dan menurunkan dengannya kitab-kitab-Nya, maka dia akan mendapatkan petunjuk di sana (akhirat) ke shiroth yang lurus yang menyampaikannya ke jannah Alloh dan negeri pahala-Nya. Dan sesuai kadar kokohnya kaki sang hamba di atas shiroth yang Alloh pancangkan untuk para hamba-Nya di dunia inilah kekokohan kakinya di atas shiroth yang dipancangkan di atas punggung jahannam. Dan sesuai dengan kadar perjalanannya di atas shiroth di sinilah perjalanannya di atas shiroth di sana. Maka di antara mereka ada yang melintas seperti kilat, dan di antara mereka ada yang melintas seperti kedipan mata. Di antara mereka ada yang melintas seperti angin, di antara mereka ada yang melintas seperti tunggangan yang cepat, di antara mereka ada yang melintas dengan berlari, di antara mereka ada yang melintas dengan berlari, ada yang merangkak. Ada yang tercakar tapi diselamatkan, ada yang terjatuh ke dalam neraka. Maka hendaknya sang hamba memperhatikan perjalanannya di shiroth tersebut berdasarkan perjalanannya di atas shiroth di sini, sama persis bagaikan bulu panah yang kiri dengan yang kanan جزاء وفاقا
“Sebagai balasan yang sesuai.”
(هل تجزون إلا ما كنتم تعملون(
“Tidaklah kalian dibalasi kecuali sesuai dengan apa yang kalian kerjakan.”
Dan hendaknya dia memperhatikan syubuhat dan syahawat yang menggelincirkannya dari perjalanannya di atas shiroth ini, karena dia itu adalah cakar-cakar besi yang ada di kedua tepi shiroth tadi, menyambarnya dan menggelincirkannya dari perlintasannya. Jika syubuhat dan syahawat tadi banyak dan kuat di sini, demikian pula di sana nantinya.
(وما ربك بظلام للعبيد(.
“Dan tidaklah Robbmu menzholimi hamba-Nya.”
(“Madarijus Salikin” 1/hal. 10/cet. Darul Hadits).
Inilah jawaban yang saya miliki, berdasarkan dalil dan ucapan ulama yang sampai kepada saya. Alloh ta’ala paling tahu akan jawaban yang benar.
Shan’a, 3 Jumadats Tsaniyah 1435 H

Comments on: "Apakah Dikatakan Bahwa Jalan Allah itu Panjang atau Pendek ?" (2)

  1. Bismillah…
    Akh Abu Yasmin.. tulisan “Apakah Dikatakan Bahwa Jalan Allah itu Panjang atau Pendek ?”
    bisa gk di bikin format PDF biar bisa d download…???

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: