“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

TANYA-JAWAB
(BULAN: JUMADIL-ULA 1435 H)
images (3)
Alhamdulillah Kita kumpulkan tulisan Tanya-Jawab bersama Akhuna Abu Fairuz Abdururrahman bin Soekojo dan Akhuna Abu Ahmad Muhammad bin Salim, Semoga bermanfa’at.
 
PERTANYAAN:
Pertanyaan dari Indonesia: Abu Fairuz, ada yang sholat hanya hari jum’at dan hari raya kalau meninggal apakah kita menyolatinya, ada juga yang tidak pernah sholat sama sekali waktu dia wafat manusia menyolatinya apakah ini benar ?

Abu Fairuz Abdurrahman Al-Qudsiy menjawab:
Syaikh Yahya berfatwa bahwa dia jangan kita sholati karena dia kafir. 
Secara umum orang yang meninggalkan sholat maka dia kafir. Buroidah رضي الله عنه yang berkata: Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر».
“Perjanjian yang ada antara kita dan mereka adalah sholat. Maka barangsiapa meninggalkan sholat, maka sungguh dia telah kafir.” (HR. Al Imam Ahmad (22987)). Hadits ini dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain” no. (908)) dengan memberikan judul: “Kufurnya orang yang meninggalkan sholat.” Dan dari Ummu Salamah istri Nabi صلى الله عليه وسلم :
عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: «إنه يستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتنكرون. فمن كره فقد برئ، ومن أنكر فقد سلم، ولكن من رضى وتابع» قالوا: يا رسول الله ألا نقاتلهم؟ قال: «لا ما صلوا».
Dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya akan dipekerjakan terhadap kalian para penguasa, kalian mengenalinya dan mengingkarinya. Maka barangsiapa membenci, berarti dia telah berlepas diri. Dan barangsiapa mengingkari, sungguh dia telah selamat. Akan tetapi orang yang ridho dan mengikuti mereka (itulah yang celaka).” Mereka bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?” beliau menjawab: “Jangan, selama mereka masih sholat.” (HR. Muslim (1854)).
Dalil-dalil ini menunjukkan Kufurnya orang yang meninggalkan sholat. Dan selama seorang muslim itu sholat, darah dan hartanya itu harom kecuali jika dia melakukan perkara yang menyebabkan bolehnya darahnya ditumpahkan atau hartanya diambil secara syar’iy. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله ditanya tentang orang yang umroh selama tujuh puluh tahun, dan dia tinggal di negrinya selama tiga tahun, tapi tiada seorangpun yang melihatnya sholat dan zakat. Maka beliau رحمه الله menjawab: “Orang ini wajib untuk diminta tobat, untuk menegakkan sholat dan membayar zakat. Jika dia tak mau sholat dia harus dibunuh menurut pendapat kebanyakan ulama. Dan apakah dia dibunuh karena berbuat kufur ataukah kefasiqan? Ada dua pendapat.
Jika dia tak mau membayar zakat, maka zakat itu diambil darinya secara paksa. Jika dia menyembunyikan hartanya dan menolak membayarnya, dia dibunuh juga menurut salah satu pendapat ulama. Menurut pendapat yang lain: dia harus dipukuli terus sampai hartanya itu nampak lalu diambil darinya zakat. Dan barangsiapa mengetahui kedaan orang ini, dia harus menjauhi orang ini, tidak menyalaminya, tidak bergaul dengannya, tapi mencercanya dan berkata kasar dengannya sampai dia menegakkan sholat dan membayar zakat.
Umar ibnul Khoththob –رضي الله عنه– berkata:
لا حظّ في الإسلام لمن ترك الصلاة.
“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat.” () Ibnu Mas’ud رضي الله عنه– berkata:
ما تارك الزكاة بمسلم.
“Bukanlah orang yan meninggalkan zakat itu muslim.” Dan Alloh ta’ala telah berfirman:
﴿فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ﴾.
“Maka jika mereka bertobat, menegakkan sholat dan membayar zakat, maka bebaskanlah jalan mereka.” Dan dalam ayat lain:
﴿فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴾ [التوبة/11].
“Maka jika mereka bertobat, menegakkan sholat dan membayar zakat, maka mereka adalah saudara kalian dalam agama ini.” Dan dalam “Shohihain” dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda:
«أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة فإذا فعلوا عصموا منى دماءهم وأموالهم إلا بحقها وحسابهم على الله».
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat. Maka apabila mereka mengerjakan itu mereka melindungi dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya. Dan perhitungan mereka adalah jadi tanggungan Alloh.”
Dan Alloh telah menjelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya bahwasanya hanyalah mereka itu tidak diperangi, dan hanyalah mereka itu menjadi saudara seagama jika mereka itu bersamaan dengan tobat mereka dari kekufuran, mereka itu menegakkan sholat dan membayar zakat. Maka barangsiapa tidak menegakkan sholat dan tidak membayar zakat, maka dia itu bukanlah dari mereka (orang yang menjadi saudara kita seagama dan tak boleh diperangi). Maka dia harus dihukum atas perbuatannya dari berdasarkan kesepakatan Muslimin, sekalipun terjadi perbedaan pendapat tentang sifat hukumannya.” (“Jami’ul Masail Li Ibni Taimiyyah”/4/hal. 114).
Atsar Umar yang disebutkan Syaikhul Islam رحمه الله diriwayatkan oleh Al Marwaziy dalam “Ta’zhim Qodrish Sholah” (923) dan Ibnu A’robiy dalam “Al Mu’jam” (1893) dengan sanad yang shohih. Untuk atsar Ibnu Mas’ud yang disebutkan Syaikhul Islam رحمه الله saya tidak mendapatkannya kecuali apa yang disebutkan oleh Al Imam Ibnu Qudamah  dalam “Al Mughni” (5/hal. 88). Untuk shohihain yang disebutkan Syaikhul Islam رحمه الله, maka itu di Al Bukhoriy (25) dan Muslim (138).
 
PERTANYAAN:
Pertanyaan dari Malaysia: Bagaimana jika saudara kita yg sering enggak solat subuh Dan dia solat subuhnya apabila sudah hampir,jam 9 pagi Dan dia sering enggak solat jamaah di masjid Dgn alasan dia sakit,Tetapi apabila dia punya urusan diluar rumah Otomatis dia sehat dan bisa keluar rumah, Apakah hukumnya? Jazakallahukhoir
 
Abu Fairuz Abdurrahman Al-Qudsiy menjawab:
Dipastikan dulu apakah saat tiba waktu sholat dia punya udzur ataukah tidak. Dan Alloh tahu isi hati dan niat para hamba.
Jelas jika dia tdk sholat sbgmn sholatnya  muslimin timbullah buruk sangka. Tinggal dipastikan apa yg terjadi dan dipastikan kejujurannya.
Ibnu Hajar rohimahulloh berkata: “Yang terlarang itu adalahburuk sangka pada muslim yang selamat agamanya dan kehormatannya. Ibnu Umar berkata: “Sungguh dulu kami jika kehilangan seseorang di sholat isya terakhir, kami berburuk sangka dengannya.” Maknanya adalah: tidaklah dia itu tidak hadir sholat kecuali karena perkara yang buruk, bisa jadi di badannya, bisa jadi di agamanya.” (“Fathul Bari”/17/hal. 236). 
PERTANYAAN:
Ya akhi Abu Fairuz, Ada pertanyaan dari Malaysia Seorang isteri Yang menyaksikan suaminya punya masalah solat seperti tadi, Bagaimana dia harus menanggapi suaminya, Dihatinya dan dimatanya menyaksikan suaminya sering tidak solat subuh, Kemudian meninggalkan solat jamaah. Dia tahu bahawa suaminya sehat Dan kuat, Anak-anaknya juga tahu ayah mereka sehat dan kuat. Bagaimana mereka harus berbuat dengan ketua keluarga seperti itu.
 
Abu Fairuz Abdurrahman Al-Qudsiy menjawab:
Coba ditanya baik-baik dari hati ke hati apa yang sedang dia alami? Jika tahu sumber penyakitnya baru didatangkan obatnya dengan nasehat, hiburan dn dorongan. Coba suruh baca risalah-risalah yang menyemangati untuk sholat. Bisa juga menjadikan risalah “Nasihat yang Disegerakan Bagi Orang yang Puasa Romadhon Tapi Meninggalkan Sholat yang Diwajibkan”sebagai salah satu sumber bacaan. 
PERTANYAAN:
Ada soal dari Tanah Air: Jika kondisi qiblat masjid melenceng dari qiblat yg sebenarnya sejauh 27 derajat, bagaimana kami harus berbuat?
Abu Fairuz Abdurrahman Al-Qudsiy menjawab:
Ana sudah tanya ke Syaikh AbdulWahhab tentang itu maka beliau bilang jika ketahuan dengan jelas bahwa melencengnya dari qiblah itu banyak mereka wajib menyesuaikan diri. Jika tdk mungkin menyesuaikan shof dengan qiblah yg benar, maka mereka harus pindah.
Adapun hadits: antara barat dan timur itu qiblah, itu khusus untuk wilayah tertentu, dan yang belum jelas bagi mereka arah yang tepat. Ini jawab beliau.
Oya, yang rojih, hadits tadi mauquf, ucapan Shohabiy, bukan sabda Nabi shollallohu’alaihiwasallam. Wallohua’lam.
Akh Abdul Qodir Udainiy di hadapan Syaikh AbdulWahhab berkata bhw di maajid Dammaj terjadi kemiringan 25 derajat dari arah qiblat, itu syaikh Yahya mewajibkan utk menyesuaikan ke arah yangg benar disini telah diketahui. Maka bagaimana jika kemiringannya adalah 27 derajat? Ini besar sekali. Selesai ucapan beliau .
 
PERTANYAAN:
Pertanyaan dari Palembang: Assalamu’alaykum…, ana dan keluarga sering memakai obat kumur  mulut seperti listerin dan sebagainya…, tapi beberapa waktu yang lalu ana tidak sengaja membaca botol listerin bahwa mengandung alkohol. Apa hukumnya memakai obat kumur yang mengandung alkohol…?. Bila haram, apakah ibadah saya dan keluarga selama ini diterima oleh Allah karena ketidaktahuan kami tersebut.
Abu Ahmad Muhammad Al-Limbory menjawab:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.
Memakai obat kumur yang mengandung alkohol tidak boleh, dengan keumuman perkataan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:
كل مسكر حرام“.
“Setiap yang memabukan adalah harom”.
Dengan hadits ini dan hadits yang sema’na dengannya, para ulama berdalil tentang tidak bolehnya menggunakan setiap yang memabukan semisal alkohol dan yang sejenisnya, sama saja menggunakan sedikit atau banyak, tetap tidak dibolehkan.
Adapun ibadahmu maka dia sah dan diterima, karena kamu melakukannya dalam keadaan belum sampai ilmunya (ya’ni belum tahu hukumnya), dan kekeliruan itu dima’afkan:
فمن جاؤه موعظة من ربه فانتهى فله ما سلف وأمره إلى الله“.
“Barangsiapa telah sampai kepadanya hujjah dari Robbnya lalu dia berhenti maka baginya apa-apa yang telah lewat, dan perkaranya kepada Alloh”. Alloh Ta’ala berkata:
عفا الله عما سلف“.
“Semoga Alloh mema’afkan terhadap apa yang telah lalu”.
PERTANYAAN:
Pertanyaan dari Makassar:  Bismillaah. Bagaimana derajat haditsnya kisah dibawah ini,lihat: Nurul Abshar fi Manaqib Ali Bait an-Nabi al Akhyar, Asy Syablanji al Mishri. Lihat juga: Hasyiyah al Bujairimi untuk Al Minhaj):
حُكِيَ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إلَى عُمَرَ يَشْكُو إلَيْهِ خُلُقَ زَوْجَتِهِ فَوَقَفَ بِبَابِهِ يَنْتَظِرُهُ فَسَمِعَامْرَأَتَهُ تَسْتَطِيلُ عَلَيْهِ بِلِسَانِهَا وَهُوَ سَاكِتٌ لَا يَرُدُّ عَلَيْهَا فَانْصَرَفَ الرَّجُلُ قَائِلًا إذَا كَانَ هَذَا حَالَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَكَيْفَ حَالِي فَخَرَجَ عُمَرُ فَرَآهُ مُوَلِّيًا فَنَادَاهُ مَا حَاجَتُك يَا أَخِي فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَشْكُو إلَيْك خُلُقَ زَوْجَتِي وَاسْتِطَالَتَهَا عَلَيَّ فَسَمِعْتُ زَوْجَتَكَ كَذَلِكَ فَرَجَعْت وَقُلْت إذَا كَانَ هَذَا حَالَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ مَعَ زَوْجَتِهِ فَكَيْفَ حَالِي فَقَالَ لَهُ عُمَرُ إنَّمَا تَحَمَّلْتُهَا لِحُقُوقٍ لَهَا عَلَيَّ إنَّهَا طَبَّاخَةٌ لِطَعَامِي خَبَّازَةٌ لِخُبْزِي غَسَّالَةٌ لِثِيَابِي رَضَّاعَةٌ لِوَلَدِي وَلَيْسَ ذَلِكَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهَا وَيَسْكُنُ قَلْبِي بِهَا عَنْ الْحَرَامِ فَأَنَا أَتَحَمَّلُهَا لِذَلِكَ فَقَالَ الرَّجُلُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ وَكَذَلِكَ زَوْجَتِي قَالَ فَتَحَمَّلْهَا يَا أَخِي فَإِنَّمَا هِيَ مُدَّةٌ يَسِيرَةٌ
Dikisahkan bahwa seseorang datang kepada Umar bin Khattab radhiallahu anhu ingin mengadukan akhlak istrinya. Orang itu berhenti di depan pintu rumah Umar menunggunya. Dia mendengar istri Umar juga sedang mengeluarkan kalimat-kalimat keras kepada Umar dan Umar diam saja tidak menjawab.
Orang itu segera pergi sambil bergumam: jika demikian keadaan amirul mukminin Umar bin Khattab, maka siapalah aku? Umar keluar, dia melihat orang itu pergi. Umar pun memanggilnya: Apa keperluanmu, wahai saudaraku?
Orang itu berkata: Wahai Amirul Mukminin, aku ingin mengadukan kepadamu akhlak istriku dan beraninya dia kepadaku. Ternyata aku mendengar istrimu pun melakukan hal yang sama. Maka aku pun pulang dan berkata: jika keadaan amirul mukminin saja begini, maka siapalah aku.
Umar berkata kepada orang itu: Sesungguhnya aku sabar terhadap istriku karena ia mempunyai hak terhadapku. Karena ia pemasak makananku, pemanggang rotiku, penyuci pakaianku, penyusu anakku. Padahal hal itu bukanlah kewajibannya. Dan hatiku tenang karenanya, tidak tergoda oleh yang haram. Karenanya aku sabar menghadapinya.
Orang itu berkata: Wahai Amirul Mukminin, begitu pula istriku
Umar menasehatinya: Sabarlah menghadapinya wahai saudaraku, karena itu hanya sebentar saja
 
Abu Fairuz Abdurrahman Al-Qudsiy menjawab:
Sudah ana usahakan untuk ana temukan, tapi ana tidak dapatkan atsar itu di berbagai sumber yang Alloh mudahkan untuk dicari. Justru kewajiban sang penulis untuk menyebutkan sanad kisah itu agar ketahuan kebenarannya.
Kemudian perlu diketahui bahwasanya kitab Nurul Abshor Karya Asy Syiblinjiy Al Mishriy ini kitab yang mengandung aqidah yg merusak. Beberapa fatawa Al Azhar berkali-kali menukilkan dari kitab itu, tapi ternyata isinya buruk sekali, memuliakan para tokoh shufiyyah yang penuh zandaqoh serta khurofat semacam Abul Hasan Ali asy-syadziliy, Ibrohim bin Abil Majd, dan Ahmad al Badawiy.
Al Imam Al Hafizh As Salafiy Muhammad bin Ibrohim ibnul Wazir rohimahulloh berkata tentang nurul abshor (cahaya mata kepala) dan nurul bashoir (cahaya mata hati): “Dan tiada perselisihan di antara orang-orang yang berakal semuanya -jangan tanya tentang kaum muslimin- bahwasanya nurul bashoir itulah yang paling mulia, paling utama dan paling bagus serta paling indah. Ini telah diketahui dari kepastian akal dan agama. Oleh karena itulah Alloh ta’ala berfirman dalam menjelaskan pengagungan dan pemuliaan nurul bashoir:
Ketahuilah bahwasanya kitab ini judulnya indah “Nurul Abshor” (cahaya mata). Tapi apa gunanya matanya bercahaya jika hatinya buta? Semoga Alloh menajamkan mata hati kaum muslimin dan menjadikannya bercahaya agar tidak ditipu oleh shufiyyah dan ahli bida’ yang lain.
فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التي في الصدور.
“Maka sesungguhnya tidaklah mata kepala mereka yang buta akan tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.”
Yaitu: butanya mata kepala itu bukanlah kebutaan yang hakiki. Akan tetapi kebutaan yang yang tercela dan kita berlindung darinya, yang membinasakan orang yang terjatuh ke dalamnya adalah kebutaan besar yang membahayakan hati yang mana hati itu adalah tempat bersemayamnya cahaya bashiroh.” (“Itsarul Haqq ‘Alal Kholq”/1/hal.116).
Beliau juga berkata di halaman 167: “Cahaya mata kepala itu diberikan pada orang kafir dan orang muslim. Bahkan juga ditebarkan di antara makhluk hidup, dari kalangan manusia dan hewan.”
PERTANYAAN:
Ada dalil yang melarang jual beli kitab yang menyesatkan?
Abu Fairuz Abdurrahman Al-Qudsiy menjawab:
Ada beberapa dalil yang insyaAlloh para ikhwah ketahui bersama. Di antaranya adalah firman Alloh ta’ala:
فويل للذين يكتبون الكتاب بأيديهم ثم يقولون هذا من عند الله ليشترون به ثمنا قليلا. الآية.
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangan-tangan mereka kemudian mereka berkata: “Ini datang dari sisi Alloh” agar dengan itu mereka membeli harga yang murah.” (QS. Al Baqoroh: 79).
Al Imam Muhammad bin Ali Al Qoshshob Rahimahulloh berkata: “Dan di dalamnya ada dalukbahwasanya kitab-kitab yang mengandung kebatilan kekufuran, sihir, dan setiap perkara yang menyelisihi kebenaran, maka tidak boleh diperdagangkan.” (“Nukatul Qur’an”/1/hal. 123/cet. Dar Ibnil Qoyyim).

Comments on: "Tanya-Jawab: (Edisi Jumadil-Ula 1435 H)" (9)

  1. Amirullah said:

    bismillah

    tentang alkohol, sepengetahuan saya alkohol banyak jenisnya (dalam ilmu kimia, alkohol memiliki rumus struktur R-OH, R adalah alkil), sedangkan famili dari alkohol yang memabukkan hanya etanol (CH3CH2OH).

    minuman seperti arak yang sudah terfermentasi mengandung alkohol (etanol) yang sifatnya memabukkan kalau diminum.

    sebelum membahas masalah alkohol dalam kandungan bahan, harus dipastikan apakah alkohol yang dimaksud adalah etanol atau bukan.

    untuk keluarga lain dari alkohol, saya belum bisa memastikan apakah harom atau tidak.

    salah satu famili yang paling sederhana dari alkohol adalah metanol (CH3OH), sifatnya beracun, sebagai bahan baku pembuatan etanol dalam dunia industri. (apakah harom karena termasuk golongan alkohol atau karena sifatnya yang beracun !?)

    contoh lain, mentol (C10H19OH), apakah ini harom??? zat ini merupakan famili dari alkohol, biasanya digunakan sebagai bahan dalam memberikan sensasi dingin pada suatu minuman, makanan atau materi lain

    masyarakat yang awam tentang ilmu kimia, alkohol diartikan sebagai zat yang memabukkan

    Suka

  2. Ammatullah said:

    Bismillah kalau listerin itu tidak memabukkan seperti alkohol khomer, apakah itu tetap masuk dalam hadits :
    “كل مسكر حرام“.
    Baarakallahufiik

    Suka

    • Amirullah said:

      Bismillah

      Beberapa kandungan dari listerin yang ana ketahui di antaranya adalah timol, eukaliptol, mentol, alkohol, dll.

      Alkohol yang dimaksud di sini adalah etanol (zat yang diharomkan).

      Dari beberapa penelitian, obat kumur yang mengandung alkohol sangat berisiko terhadap radang gusi, kanker mulut, dsb.

      Suka

  3. abu iffah said:

    jazaakallohu khoiron

    Suka

  4. abu iffah said:

    Bismillah. saya nitip lg beberapa pertanyaan;
    1. bolehkah memasang gigi palsu? ada sebagian kaum muslim bila ada gigi mereka tanggal 1 atau lebih maka diganti dgn gigi palsu yg terbuat dari tulang dan semisalnya.
    2. bolehkah menumbuhkan rambut yg rontok (atau kepala botak) dengan bahan2 kimia, atau bolehkah menumbuhkan jenggot/kumis dengan obat tertentu baik dari bahan alami atau kimia?

    Baarokallohu fiikum

    Suka

  5. abu iffah said:

    jazaakumullohu khoiron

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: