“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

حكم مناظرة أهل البدع

Hukum Mendebati Ahli Bid’ah

بسم الله الرحمن الرحيم

Pada kesempatan ini kami akan menyebutkan suatu perkara yang telah berjalan di atasnya para salaf dari zaman dahulu hingga sekarang.

اعلم رحمك الله! قد نهى الشرع عن الجدال في الدين و مناظرة أهل البدع وكذلك ذكر السلف الصالح في كتب العقائد ما يدل على تحريم الجدال في الدين ومناظرة أهل البدع

Ketahuilah semoga Alloh merahmatimu! Syari’at telah melarang dari jidal dalam agama dan berdepat dengan ahli bid’ah, dan demikianlah para salaf sholih telah menyebutkan hal ini dalam kitab-kitab aqidah tentang perkara yang menunjukan akan haramnya jidal dan munazharoh dalam agama dengan ahli bid’ah.

Terlalu banyak atsar para salaf dalam hal ini hingga kami tidak dapat menukilkan semuanya kepada pembaca, namun cukuplah diantaranya atsar-atsar berikut ini :

  1. Al-Imam Ibnu Batho’ di dalam “Al-Ibanah Al-Kubro” (1/114) berkata :

    باب النهي عن المراء في القرآن

    “Bab Larangan al-mira’ (debat tanpa dalil) tentang Al-Qur’an”.

  2. Al-Imam Isma’il Ashbahaniy berkata:

    فصل في النهي عن مناظرة أهل البدع و جدالهم الاستماع إلى أقوالهم

    “Bagian pembahasan tentang larangan dari perdebatan dengan ahli bid’ah dan jidal serta mendengar perkataan-perkataan mereka”. (Al-Hujjah fii Bayani Al-Mahajjah: 1/311).

  3. Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr berkata:

    باب ما يكره فيه المناظرة والجدال

    “Bab perkara yang dibenci padanya munazharoh/perdebatan dan jidal/berbantah-bantahan”. (Jami’ul Bayan Al-‘Ilmi wa Fadhlih: hal 411).

Ketahuilah di bawah bab-bab ini dan yang sema’na dengannya para ulama menyebutkan ratusan atsar dari para salaf tentang tercelanya jidal, al-mira’ dan al-khushumah di dalam agama, terlebih lagi pada perkara yang tidak pantas baginya untuk diperdebatkan atau yang semisal.

Bagi yang hendak menambah pengetahuan dalam hal ini hendaklah merujuk pada kitab :

  • Asy-Syari’ah karya Al-Imam Al-Ajjuriy.
  • Ushul I’tiqadi Ahli Sunnah wal Jama’ah karya Al-Imam Al-Lalika’iy.
  • Ibanatul Kubro karya Al-Imam Ibnu Batho’.
  • Syarhu Sunnah Karya Al-Imam Al-Barbahariy.
  • Ushul Sunnah karya Al-Imam Humaidiy.
  • Ushul Sunnah karya Al-Imam Ahmad.
  • Syarhu Sunnah karya Al-Imam Al-Muzaniy.

Dan seterusnya dari kitab-kitab para ulama dalam masalah ini.

Dengan demikian kita dapat memahami bahwa ini adalah termasuk masalah yang begitu penting dan serius sehingga para ulama selalu memabahasnya, namun yang lebih penting dari itu adalah kenapa atau apa hikmahnya syari’at melarang dari perkara tersebut?.

Maka untuk pertanyaan yang sederhana ini kita katakan bahwa terdapat hikmah yang begitu besar demi keselamatan agama seorang hamba. Diantara jawaban yang ringkas dan sederhana adalah sebagai berikut :

1. Hati manusia begitu lemah dan condong pada penyimpangan sehingga jika dia dihadapkan dengan syubhat berturut-turut maka sangat dikhawatirkan hatinya akan menerima syubhat dan kebenaran diganti dengan kebatilan sebab kebathilan telah hinggap dan bersemayam pada hatinya. Sebab itu sebagian salaf berkata :

أن الشبه خطافة وأن القلوب ضعيفة، فرأوا أن عدم السماع من أهل البدع أسلم

“Bahwa syubhat sangat cepat menyambar dan sesungguhnya hati adalah sangat lemah, maka mereka(para salaf) memandang bahwa tidak mendengar pembicaraan ahli bid’ah adalah lebih selamat”. Lihat kitab “Tambih ulil Albab ‘ala Tahrim Ad-Dirosah Ahlil Bida’ wal Irtiyab karya Abu Gholib Abdullah bin Muhammad Ash-Shuwmaaliy taqdim Asy-Syaekh Yahya Al-Hajuriy (hal. 74).

2. Berkata Al-Imam Al-Ajuriy:

فإن قال فلم لا أناظره و أجادله وأرد عليه قوله؟ فقيل له : لا يؤمن عليك أن تناظره وتسمع منه كلاما يفسد عليك قلبك ويخدعك بباطله الذي زين له الشيطان فتهلك أنت …….. إلى أن قال : والذي ذكرت لك فقول من تقدم من أئمة المسلمين وموافق لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Jika ia bertanya kenapa aku tidak mendebatnya, menjidalnya dan membatahnya? Maka katakan kepadanya; tidak aman bagimu untuk berbantahan dengannya dan mendengar ucapannya karena akan merusak hatimu serta menipumu dengan kebathilannya yang diperindah oleh syaithon sehingga membinasakanmu …. (sampai pada ucapan beliau) .. yang aku sampaikan kepadamu ini adalah ucapan para imam kaum muslimin yang terdahulu dan sesuai dengan sunnah Rosulullah Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam”. Lihat “Asy-syari’ah” (3/574).

Keterangan Singkat :

†Dengan demikian maka itulah alasan yang paling mendasar kenapa syari’at melarang kita dari duduk dan bermajelis bersama ahli bid’ah walau hanya sekedar untuk berdebat dengan mereka.

†Jika dalam berdebat saja dilarang oleh syari’at maka bagaimanakah jika duduk bercengkerama dengan mereka apalagi sampai belajar alias menimbah ilmu dari mereka, tentunya yang demikian ini lebih keras larangannya.

 

†Jika dikatakan bahwa kami bersama mereka hanya untuk mengambil kebaikannya saja dan membuang kejelekannya, maka kami katakan :

  1. Ini adalah kalimat yang benar namun diletakkan pada tempat yang salah karena marhalah/tingkatanmu adalah tingkatan seorang penuntut ilmu maka dari mana engkau akan mengetahui ini benar dan ini salah sedangkan engkau hanyalah penuntut ilmu pemula?. Dan seandainya engkau sudah mengetahui ini salah dan itu salah kenapa engkau tidak langsung mengajar saja, kenapa harus belajar lagi, bukankah tingkatanmu sudah sama dari orang yang engkau mengambil ilmu darinya?.
  2. Hati ini lemah dan tidak ada yang dapat menjaminnya dari derasnya syubhat, sehingga menjauh dari syubhat adalah lebih utama dan lebih selamat berdasarkan kaidah yang telah ma’ruf :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menolak mafsadah lebih diutamakan dari pada mendatangkan maslahat”

Artinya jika memang di suatu tempat atau majelis itu ada kemaslahatannya namun jika engkau ketempat tersebut namun ternyata kemudhoratan juga akan menimpah engkau maka dalam keadaan demikian selamatkanlah dirimu dengan menghindari tempat tersebut meski ada padanya kemaslahatan berdasarkan qaidah ini.

†Menghindari ahli bid’ah atau yang sejenisnya dari para pelaku penyimpangan adalah bukan karena kebencian semata kepada mereka namun lebih dari itu adalah karena untuk menyelamatkan diri dan agama kita dari penyimpangan, sebab itu terdapat atsar yang shohih dari sahabat Ibnu Mas’ud:

القصد في السنة خير من الإجتهاد في البدعة

“Sederhana dalam sunnah lebih baik dari pada bersungguh-sungguh dalam bid’ah” Lihat “Al-I’tishom” karya Al-Imam Asy-Syathibiy (Jilid 1 hal 126), cetakan pertama tahun 1431 H / 2010 M, Dar Ibni ‘Affan tahqiq Asy-Salim bin ‘Id Al-Hilaliy).

Telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud secara marfu’:

عمل قليل في سنة خير من عمل كثير في بدعة

“Amalan yang sedikit dalam sunnah (mencocoki sunnah) lebih baik dari pada beramal banyak dalam kebid’ahan”. (Dishohihkan oleh Asy-Syaekh Salim bin ‘Id Al-Hilaliy dalam tahqiq beliau terhadap Al-I’tishom).

†Hendaklah takut kepada Alloh orang-orang yang membantu para pelaku penyimpangan dan bahkan menghidupkan majelis-majelis mereka, baik dengan cara mendatanginya yang berkonsekuensi memperbanyak jumlah mereka atau memberikan fasilitas-fasilitas dakwah kepada mereka, termasuk menyebarkan undangan dan pamplet mereka. Rasulullah berkata:

لعن الله من آوى محدثا

“Allah mela’nat orang yang melindungi pelaku bid’ah”. (Diriwatkan oleh Muslim :5096). Alloh Ta’ala berkata:

فلا تقعد بعد الذكرى مع القوم الظالمين

“Dan janganlah kamu duduk bersama orang-orang zholim itu sesudah teringat (akan larangan Alloh)” (Al-An’am: 68).

†Hendaklah memilih majelis-majelis ahlus sunnah dan bersamalah dengan mereka sebagai suatu bentuk harapan agar dikumpulkan dengan mereka ya’ni para salaf. Ketika ditanyakan kepada Rosulullah tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun dia tidak dapat bersama dengan mereka, maka beliau menjawab:

المرء مع من أحب

“Seseorang itu bersama dengan siapa yang dia cintai”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 4833).

Demikianlah kajian kita pada kesempatan ini.

Wabillahittaufiq.

Ditulis oleh: Abu Zubair Junayd bin Ibrahim Al-Amboniy (Hafidzahullah)

Dimuroja’ah oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy (Hafidzahullah)

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: