“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

yahudi dan syiah

Ditulis Oleh :Abul ’Aliyah Rofi’i bin Djiekan Al-Jawiy Rohimahulloh.

Dikoreksi dan Diberi Catatan Oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu. 

PENGANTAR 

Abu Ahmad Muhammad Bin Salim Al-Limboriy

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

أمّا بعدُ:

Ini merupakan salah satu dari tulisan saudara kami Abul ‘Aliyah Rofi’iy bin Djiekan Al-Jawiy Rohimahulloh, pada tulisan ini beliau menjelaskan tentang kesamaan antara dua agama yaitu Syi’ah dan Yahudi, dan kami beri judul pada tulisan beliau ini dengan judul:

الْيَهُوْدُ وَالشِّيْعَةُ دِيْنَانِ بِلاَ شَرِيْعَةٍ

YAHUDI DAN SYI’AH ADALAH DUA AGAMA DENGAN TANPA SYARI’AH

Semoga apa yang beliau Rohimahulloh tulis ini sebagai sebab untuk umat manusia bisa membedakan antara umat Islam (kaum Muslimin) dengan kaum Syi’ah, antara umat Islam dengan kaum Yahudi, antara kebenaran dengan kebatilan:

{لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ} [الأنفال: 37].

“Supaya Alloh memisahkan yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam, mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Anfal: 37).

Ditulis oleh Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy di masjid As-Sunnah Sa’awan Sana’a pada Jum’at 21 Robiul Awwal 1435.

KESAMAAN PERTAMA

Sebagaimana Yahudi menganggap keyakinan paling urgen yang harus terealisir sebagai syarat sahnyapengikut Yahudi adalah adanya figur “pengemban wasiat/pewariskenabian”, misalnya: setelah wafatnya Musa ‘Alaihissalam maka wasiat kenabian untuk Yusya’ bin Nun ‘Alaihissalamdalam anggapan mereka, demikian juga dengan Syi’ah mereka meyakini sepertikita meyakini rukun iman akan adanya “wasiat sebagai penerus keimaman yang merupakan perpanjangan tangan kenabian dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam untuk Ali bin bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anh beserta seluruh Ahlulbait Nabi Shollallohu ‘Aaihi wa Sallam.

KESAMAAN KEDUA

Sebagaimana Yahudi meyakini bahwa kepemimpinan atau keimaman tidak sah kecuali harus berasal dari keturunan Nabi Dawud ‘Alaihis Salam([1]), maka begitu juga dengan Syi’ah-Rofidhoh meyakini bahkan mereka menganggap sebagai salah satu dari rukun iman bahwa keimaman atau kepemimpian tidak terakui kecuali dari garis keturunan Ali bin Abi Tholib atau Ahlulbait Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

KESAMAAN KETIGA

Sebagaimana Yahudi membatasi mitos jumlah para pemegang pimpinan tinggi Bani Israil hanya untuk 12 orang dari keturunan Nabiulloh Ya’qub bin Ishaq bin Ibrohim ‘Alaihimussalam,demikian dengan Syi’ah menyesuaikan keyakinan mereka secara persis dan bilangan yang sama tepat dengan Yahudi, mereka menganggap keyakinan ini adalah kebenaran yang sebenar-sebenarnya, bahwa keimaman akan sah atas umat Islam ini jika ada di tangan 12 orang imam keturunan Ahlulbait Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, mulai dari amirul mu’minin Ali Rodhiyallohu ‘anhu hingga pemeran fiktif, mitos tokoh pingitan (seperti Satria piningit dalam dongeng-dongeng Hindu kuno) yang terdakwa dengan nama Muhammad bin ‘Askari yang mereka yakini sebagai Al-Imam Mahdi, yang semenjak lebih dari 1200 tahun yang lalu hingga kini mendekam bersembunyi dalam sebuah terowongan di Samirro’ Iraq.

Tentu dakwaan ini berseberangan dengan perkataan Alloh Ta’ala dalam surat Al-Baqoroh ayat (124):

{قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ} (البقرة: 124).

Dia (Alloh) berkata: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya memohon juga) dari keturunanku”. Allah berkata: “Orang-orang yang zhalim tidak akan memperoleh Janji-Ku“. [Al-Baqoroh : 124].

Dan perkataan Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam yang tidak pernah menganjurkan kepada para umatnya untuk mengikuti seorang pemimpin tertentu seperti yang mereka maksud, bahkan Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallammenekankan untuk:Dengar dan patuhilah –pemimpin kalian- meskipun dia  hanya seorang Habsyi (Ethiophia) yang berambut keriting seperti anggur kering.[Diriwayatkan oleh Al-Buhkoriy (696)].

KESAMAAN KEEMPAT

Sebagaimana Yahudi meyakini bahwa kerajaan hanyalah untuk putra-putra kecintaan Alloh Ta’ala dari keturunan Dawud ‘Alaihisalam selamanya hingga tiba hari kiamat, begitu juga dengan Syi’ah menganggap “ke-imaman/al-wilayah” yang hakikatnya merupakan perpanjangan kenabian yang telah terputus  hanya untuk para Sayyid dan Ahlulbait yang beragama Syi’ah.

Maka untuk melestarikan hegemoni inilah diktator ideologi kelahiran asli Iran Ruhulloh Al-Khumainiy mencetuskan ideologi “wilayah al-faqih” dan di Indonesia mereka sebut dengan “wali faqih”.

KESAMAAN KELIMA

Sebagaimana Yahudi menganggap para imam tertinggi mereka adalah orang-orang yang ma’shum (terjaga) dari dosa, terjamin dari salah dan lupa,bahkan sekedudukan dengan Alloh Ta’ala([2]). Begitu juga dengan Syi’ah mereka meyakini bahwa para imam Ahlulbait adalah para imam yang ma’shum, bebas dosa, tidak pernah salah tidak pula lupa bahkan juga sekedudukan dengan Alloh Ta’ala, dalam kitab “Ushul Al-Kafi” (2/225) mereka mengatakan: “Sesungguhnya ucapan dari setiap salah seorang imam Ahlulbait yang suci adalah merupakan perkataan Alloh, dan tidak ada pertentangan sesama mereka antara perkataan satu dengan yang lainnya sebagimana halnya tidak ada pertentangan antara satu dengan yang lainnya dalam perkataan Alloh”.

Mereka juga mengatakan dalam “Al-Kafi” (1/40): “Maka sah-sah saja bagi siapapun yang mendengar sebuah ucapan dari Abu Abdillah Rohimahulloh untuk menyandarkan asal ucapan tersebut kepada ayah beliau (Abu Ja’far Al-Baqir Rohimahulloh) atau kepada salah satu dari kakek-kakek mereka Rohimahumulloh (ya’ni sampai kepada Ali Rodiyallohu ‘anh hingga Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam) bahkan boleh-boleh saja dia mengatakan bahwa ucapan Al-Imam tersebut adalah perkataan Alloh Ta’ala([3]).               

KESAMAAN KEENAM

Sebagaimana Yahudi mengaku-aku bahwa mereka adalah umat pilihan Alloh Ta’ala, juga meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa arwah mereka tercipta dari bagian Dzat Alloh sedangkan selain Yahudi tercipta dari arwah-arwah najis([4]). Begitu juga dengan Syi’ah mereka menyatakan dalam kitab “Ilal Tasyri’” (39/491) karya Imam besar mereka Ibnu Babawaih Al-Qummiy bahwa diri mereka tercipta dari tanah liat yang suci dan terjaga, sedangkan selain mereka tercipta dari tanah liat yang terkutuk dan lumpur yang busuk.

KESAMAAN KETUJUH

Sebagaimana Yahudi menganggap bahwa “semua umat manusia selain pemeluk agama Yahudi adalah komplotan umat yang sesat penyembah berhala (kafir) dan layak untuk mendapat pendidikan dari para pendeta tinggi”. Artinya hanya mereka sajalah para Ahlitauhid yang mengenal Alloh Ta’ala dengan sebenar-benarnya, karena mereka adalah putra-putra pilihan dan kecintaan Alloh Ta’ala.

Demikian juga dengan Syi’ah, dalam “Al-Kafiy” (1/233), Al-Kulainiy menggotong “riwayat dari Ahlulbait”: “Tidak berada di atas agama Islam selain kami dan para Syi’ah (pembela) Kami”.

Dalam kitab “Kamaluddin Tamamul Minnah” (hal: 13), Shoduq bin Babawaih Al-Qummiy menukilkan kesepakatan mereka bahwa: “Orang-orang yang mengingkari keberadaan Imam Ghoib (ya’ni Al-Imam Mahdi milik mereka yang bersembunyi di dalam Goa di Samirro’ Iraq) maka kondisi mereka lebih kafir dari pada iblis”.   

KESAMAAN KEDELAPAN

Sebagaimana Yahudi mengaku sebagai umat yang dipilih oleh Alloh Ta’ala untuk dijadikan kerabat dekat dan orang-orang khusus-Nya([5]). Begitu juga dengan Syi’ah mereka mengatakan : “….kalaulah bukan kerena mereka –para imam Ahlulbiat– maka langit dan bumi, surga dan neraka, Adam dan Hawa,para makhluk semuanya tanpa terkecuali tidak akan pernah tercipta”.(“Mu’jam al-Khu’i“: 2/77).

Dan banyak riwayat lain disebutkan oleh imam mereka, Shoduq bin Babawaih Al-Qummiy dalam “Ilal Syaro’i’” mengatakan “bahwa surga tercipta untuk Syi’ah sedangkan neraka disediakan untuk siapa saja selain mereka”, sedangkan dalam “Bihar Anwar” (57/216), Al-Majlisiy membawakan riwayat atas nama Abul Hasan Ar-Ridho yang terdakwa telah berkata: “Bahwa surga memiliki 8 pintu, dan salah satunya (khusus) untuk warga kota Qumm (sebuah kota di Iran), karena mereka adalah warga Syi’ah terbaik dari seluruh Syi’ah yang ada di semua bangsa, Alloh Ta’ala telah melindungi mereka dan menjaga tanah bahan (jiwa) mereka dari kebusukan”. Bahkan dalam (hal.228), Al-Majlisiy membawakan riwayat juga dengan nama Abul Hasan Ar-Ridho: “Surga memiliki 80 pintu gerbang dan 3 dari pintu-pintu gerbang tersebut adalah untuk warga Qumm” ([6]).        

KESAMAAN KESEMBILAN

Sebagaimana Yahudi yang merendahkan dan memberikan penghinaan kepada siapa saja selain mereka dengan mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang Ajanib –ya’ni selain pengikut Yahudi- adalah keturunan binatang”[7]. Juga “Sesungguhnya para wanita selain pengikut Yahudi tergolong dalam barisan para binatang”. Bahkan menurut mereka air mani milik orang-orang selain Yahudi sama dengan air mani -binatang- kuda([8]).

Begitu juga Syi’ah dalam Al-Kafiy” (2/242) mengatakan: “Manusia seluruhnya adalah binatang –tiga kali- kecuali sebagian kecil dari orang-orang yang beriman([9])”. Dalam Basho’ir Darojat Kubro” (290), mereka menganggap bahwa -masyarakat- selain Syi’ah adalah sekawanan monyet dan komplotan para babi”. Sedangkan dalam Ruodhoh al-Kafiy(hal. 240): “(Hanya) kamilah an-nas (manusia) sedangkan selain kami adalah nas-nas (nama binatang sejenis burung besar berkaki tunggal, tinggal di tepian pantai daerah tertentu)”. Demikiankah ajaran yang Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam perintahkan?, bukankah semua ini bertabrakan dengan larangan Alloh:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [الحجرات: 11].      

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan kaum pria merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah kalian suka mencela diri kalian sendiri dan jangan memanggil dengan gelar  yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang jelek sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zholim. [Al-Hujarot : 11].

KESAMAAN KESEPULUH

Demi memperoleh dan menghalalkan harta orang lain, kaum Yahudi berkeyakinan bahwa: “Kehidupan semua manusia selain Yahudi adalah hak dan milik bagi umat Yahudi, tentu bagaimana lagi dengan harta benda mereka?”. Kemudiandi dalam kitab Talmudz mereka berkata:Dibolehkan bagi Yahudi untuk melakukan penipuan terhadap orang-orang “Ummi” (yaitu orang-orang yang bodoh/buta huruf,maksud merekaadalah kaum Muslimin) dan menghisap harta mereka dengan cara riba yang sangat keji sekalipun, akan tetapi jika kalian berjual beli dengan saudara kalian sesama Yahudi maka janganlah kalian menipu atau mengkhianatinya”.

Maka tidak jauh berbeda dengan Syi’ah Rofidhoh, dalam Tahdzibul Ahkam” (4/122), Muhammad bin Hasan Ath-Thusiy membawakan aqidah Syi’ah yang menganjurkan: “Ambillah harta Nashibiy (yani Ahlu Sunnah[10]) dimanapun kalian dapati mereka dan serahkanlah kepada kami 1/5nya([11])”. Dalam “Tafsir Al-Ayyasyi” (2/68),  “Man La Yakhdzuruhul Faqih” (2/222) dan “Wasa’il Syi’ah” (6/514): “Adalah wajib untuk diserahkan al-khumus (1/5 dari penghasilan kalian) kepada kami”. Dalam Ushul Al-Kafiy(1/419): “Karena sesungguhnya dengan membayar (al-khumus) adalah merupakan kunci pembuka rizki bagi kalian”.

KESAMAAN KESEBELAS

Sebagaimana Yahudi melontarkan tuduhan-tuduhan keji yang sangat buruk kepada para Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam([12]), tidak jauh berbeda dengan Syi’ah yang melontarkan tuduhan zina kepada Ummul Muminin A’isyahbahkan juga kepada Abu Bakr, Umar, Utsman, Mu’awiyyah dan bahkan seluruh sahabat secara umum. (Baca dalam bab Syi’ah dan Shohabat).

KESAMAAN KEDUABELAS

Yahudi mengaku sebagaimana dalam Samau’al Awwal” (4/1-11), dan (5/5-6) bahwasanya Alloh mensyaratkan kepada Dawud ‘Alaihissalam untuk membangun Haikal khusus untuk Alloh, sehingga dengan Haikal tersebut kerajaan Dawud akan senantiasa berjaya selama-lamanya”. Kemudian dalam “Samau’al Tsaniy” (7/13) menegaskan bahwa maksud dan tujuan dari pembangunan Haikal tersebut adalah untuk tempat penyimpanan Tabut (peti) dan menjaganya sehingga senantiasa berjayalah kerajaan Yahudi” ([13]).

Maka tidak jauh berbeda dengan Syi’ah, dalam kitab “Al-Ihtijaj” (2/294), melalui nama Ja’far Shodiq Rohimahulloh mereka membuat riwayat: “Perumpaan pedang yang ada bersama kami (Ahlulbiat) seperti Tabut yang dimiliki oleh Bani Israil, dulu di manapun rumah Ahlulbiat bani Israil disinggahi oleh Tabut tersebut maka Alloh berikan kepada penghuninya kenabian, maka barang siapa di antara kami yang diberikan pedang tersebut maka dia akan dianugerahi keimamahan”.

Dalam riwayat yang lain beliau Rohimahulloh terdakwa telah berkata: “Sesungguhnya permisalan pedang yang kita miliki seperti Tabut milik Bani Israil, di manapun Tabut itu singgah maka di situlah terwujud kerajaan, maka di manapun pedang tersebut singgah maka di situlah memancar ilmu”([14]).

KESAMAAN KETIGABELAS

Merupakan keyakinan yang sangat mendasar dalam agama Yahudi bahwa semua jiwa anak Adam yang sudah mati terkubur dalam perut bumi kelak akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali (reinkarnasi) oleh Al-Imam Mahdi mereka di akhir zaman, sebelum tiba hari kiamat. Begitu juga dengan Syi’ah merupakan keyakinan wajib bagi sekte ini, dalam kitab “Awa’il Al-Maqolat” (hal. 14) karya Al-Mufid, dia menjelaskan: “Kelak sebagian besar dari berbagai golongan mayat manusia akan dibangkitkan di akhir zaman dari pekuburan masing-masing, itu sebelum tiba hari kiamat”. Kemudian pada (hal. 77-78), Mufid ini menyebutkan: “Mereka semua akan reinkarnasi kembali dengan rupa seperti sedia kala”.

Dalam “Da’irotul Ma’arif Al-Alawiyyah” (1/253) karya Jawad Taro, dia berkata: “Jasad yang akan reinkarnasi lagi itu adalah nabi yang terakhir, kemudian seluruh nabi semuanya, lalu para imam ma’shum, orang-orang yang terpilih dari kalangan orang Islam, orang-orang yang terpilih dari kalangan orang kafir yang tertindas dan tidak termasuk dalam golongan masyarakat Jahiliyyah”.

Mengenai keharusan dan wajibnya bagi seseorang untuk memiliki keparcayaan ini sebagaimana dalam kitab “Man La Yakhdhuruhul Faqih” (3/584), “Tafsir Ash-Shofiy” (1/44), “Wasa’il Syi’ah” (14/484) mereka memuat sebuah fonis bahwa: “Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak beriman dengan reinkarnasi jasad kami dan tidak menghalalkan kawin mut’ah kami”.

Dalam kitab “Biharul Anwar” (53/122), Al-Majlisiy menyebutkan: “Bahwa kepercayaan adanya reinkarnasi ini adalah perkara yang sudah di sepakati oleh seluruh Syi’ah di sepanjang zaman”.

Adapun dalil mereka dalam membangun kepercayaan ini adalah riwayat rekaan atas nama amirul mu’minin Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anhu seperti dalam “Iqodul Haj’ah Biburhan ala Roj’ah” (hal. 344-345), karya ulama mereka Muhammad bin Hasan Hur Al-Amiliy (mati tahun 1104 H), Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anhu tertuduh telah berkata: “Barang siapa yang mengingkari bahwa aku tidak bisa kembali ke muka bumi lagi, menyeru manusia lagi, dan reinkarnasi lagi dalam wujud baru namun seperti wujudku yang dahulu maka dia telah menentang kami, dan barang siapa yang menentang kami maka dia telah menentang Alloh”.

Seandainya benar amirul mu’minin Ali Bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anhu berkata seperti itu maka hal itu bertentangan dengan perkataan Alloh Ta’ala berikut ini:

{حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ $ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ} [المؤمنون: 99، 100].  

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Robbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku mengerjakan amal sholih sebagai pengganti yang telah aku tinggalkan?!, sekali-kali tidak!. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan (hari kiamat)”, [Al-Mu’minun: 99-100]. Alloh Ta’ala juga berkata:

{أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ} [يس: 31].  

Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tidaklah kembali kepada mereka”. [Yasin: 31]([15]).

KESAMAAN KEEMPATBELAS

Kemunafikan dan kedustaan adalah merupakan bagian dari agama Yahudi yang tidak bisa terlepaskan sehingga keduanya merupakan alamat dan simbol terkhusus bagi para pemeluk Yahudi, karena mereka menganggap bahwa hal itu adalah perintah dari Alloh Ta’ala. Tidak ketinggalan pula dengan Syi’ah dalam hal ini bersepakat bersama mereka, dalam kitab “Al-Kafiy” (2/219), “Ma’anil Akhbar” (126) dan “Wasa’il Syi’ah” (11/462), melalui nama nama besar Abu Abdillah tertuduh berfatwa: “Demi Alloh… tidaklah Alloh disembah dengan sebuah ritual yang paling Dia sukai melebihi al-khub’u, beliau ditanya: Apakah al-khub’u itu? Beliau menjawab: At-taqiyyah”[16].

KESAMAAN KELIMABELAS

Senantiasa mereka (Yahudi dan Syi’ah) menyalakan bara fitnah peperangan dan pertumpahan darah terhadap warga Muslim, akan tetapi Alloh Ta’ala telah katakan:

{كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ} [المائدة: 64].  

Setiap mereka menyalakan api peperangan Alloh memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”. [Al-Ma’idah: 64].

                Dan kita dapati realita bagaimana Syi’ah-Rofidhoh berperan mengobarkan peperangan semenjak mereka memiliki kekuatan, sebagaimana yang mereka kobarkan di Iraq setelah lengsernya Saddam, di Libanon, di Afganistan, bahkan mereka mengadakan persekongkolan dengan musuh-musuh Islam sebagaimana hal ini yang dinyatakan sendiri oleh Rafsanjaniy bahwa Iran telah membuka jalur perbatasannya untuk mempermudah masuknya militer Amerika ke negara tersebut, kemudian hari ini pemberontakan Milisi Al-Hutsiy di Yaman menerima suplai dana besar dari dua negara tersebut untuk pembelian senjata dan peralatan perang yang lainnya.

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu berkata: “Bahkan mereka (Syi’ah Hutsiyyun) mampu mempengaruhi negara-negara kafir semisal Amerika, Prancis dan Britonia, hingga mereka semua bersama-sama bersepakat untuk menindas dan mengeluarkan kaum Muslimin dari bumi Dammaj”.

PENUTUP

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu.

 

Apa yang penulis Rohimahulloh sebutkan ini, sudah sangat cukup sebagai salah satu bukti terkuat tentang kafirnya kaum Syi’ah-Rofidhoh, dan ini sebagai bantahan terhadap pendapat Muhammad bin Abdillah Ar-Rimiy yang menggelari dirinya dengan “Al-Imam”, dan Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Washobiy Al-Yamaniy dan seluruh jaringan mereka serta siapa saja yang membeo kepada mereka semisal Muhammad Afifuddin bin Husnunnuri As-Sidawiy Al-Andonisiy dan kawan-kawannya yang tidak mengkafirkan Al-Hutsiyyin (Rofidhoh) karena sikap mereka yang membebek dan membeo kepada syaikh mereka “Al-Imam” pengasuh pondok pesantren al-hizbiy di Ma’bar Yaman:

{لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَى مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ} [الأنفال: 42].

“Supaya orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan supaya orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)”. (Al-Anfal: 42).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وِبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ


([1]) Bersamaan dengan pengakuan yang sedemikian itu, Nabiulloh Dawud ‘Alaihissalam yang ma’shum (terjaga dari dosa) lagi suci dari perbuatan mesum, keji dan amoral, mendapat tuduhan dan penghinaan yang bertujuan untuk mempermalukan umat Islam, bahwa beliau ‘Alaihissalam menurut  mereka adalah seorang pezina, ‘penghianat syari’at Alloh Ta’ala(“Samuail Tsani: 11/26).

Dan selanjutnya perempuan yang beliau “zinai” mengandung, lalu melahirkan bayi laki-laki yang kemudian dipanggil dengan nama Sulaiman (yani Nabiulloh Sulaiman bin Dawud ‘Alaihimassalam) (“Samauil Tsani12/24).

Tidak berhenti tuduhan keji Yahudi terhadap para Nabi Alloh, selain Nabiullah Sulaiman ‘Alaihissalam adalah anak haram, beliau juga dituduh sebagai orang yang telah berubah menjadi musyrik, kafir dan murtad. (“Al-Muluk Al-Awwal: 11/1-5).

Adanya tuduhan-tuduhan keji ini menunjukkan bahwa kitab Taurot yang ada di tangan warga Yahudi hari ini adalah Taurot yang sudah terpalsukan dan kumpulan argumen yang ada sama sekali tidak berarti, bagaimana mungkin perbuatan busuk lagi tidak pantas di sandang oleh orang rendahan seperti berzina, mabuk-mabukan, minum khomr, membelot dan murtad dari syari’at Alloh Ta’ala di sandarkan kepada para Nabi ‘Alaihimus salam? sementara di sisi lain dengan jelas Alloh Ta’ala menyatakan dalam banyak rekomendasiNya bahwa para Nabi ‘Alaihimu ssalam adalah para Mahluk mulia, dan pilihan yang Ma’shum terjaga dari semua jenis perbuatan dosa. [“Ushul Diyaanah Yahudiyyah“].     

([2]) Di dalam Kanzul Marsud(ayat :53): Pada suatu hari terjadi perdebatan yang cukup hebat mengenai suatu pemasalahan antara Alloh dengan para imam atau pendeta tertinggi Yahudi, setelah perdebatan berlangsung sangat lama salah seorang anggota pendeta tertinggi berhasil membawakan sebuah titik temu penyelesaian, hingga ahirnya hal itu membuat Alloh dengan sangat terpaksa mengakui kekeliruanNya setelah salah seorang pendeta tersebut berhasil mengalahkanNya”.

Dalam kisah dusta ini terdapat rekomendasiadanya unsur dan sifat ketuhanan dalam  diri para pendeta tertinggi Yahudi mereka adalah orang-orang yang suci terjamin dari berbagai kesalahan. Mereka menyandarkan kepada Alloh Ta’ala sifat salah dan bodoh. Disebutkan dalam kitab Talmud: “Barang siapa mendebatmendebat para pendeta tinggi maka sama artinya dengan mendebat Alloh. Dan ucapan para pendeta tinggi adalah wahyu yang turun dari langit (“Kanzul Marsud: ayat 25).

Di dalam “Kanzul Marsuud (ayat 25) juga mereka katakan: “Sungguh telah terjatuh kedalam kesalahan besar bagi orang yang tidak menganggap perkataan mereka seperti perkataan Alloh, maka karena kecerobohan ini seseorang akan menjadi penghuni Jahannam yang merupakan sejelek-jelek tempat kembali. [“Ushul Diyaanah Yahudiyyah“].      

([3]) “Aqo’id Syi’ah Itsnai Asyariyyah” (hal: 65).

([4]) Mereka juga mengatakan : “Semenjak mereka para penyembah berhala itu tercipta –ya’ni kaum Muslimin dan yang lainnya selain Yahudi, mereka buat kotor muka bumi ini karena arwah-arwah mereka tercipta dari tetes benih yang najis”.[“Ushul Diyanah Yahudiyyah“].

 ([5] ) Dalam Taurot mereka, Alloh Ta’ala berkata: “Dan sekarang kalian telah mendengar suara-Ku, kalian juga telah pegang janji-Ku untuk menjadi orang-orang khusus-Ku tanpa umat manusia yang lainnya, sesungguhnya dataran bumi ini seluruhnya adalah milik-Ku maka kalianlah para raja dan penguasanya untuk-Ku, sekaligus para pendeta (Yahudi ) dan kalian adalah kaum yang suci” (“Sifr kharuj“: 19/5-6).

Mereka menganggap bahwasannya mereka tidak memiliki ikatan dengan manusia yang tidak seagama dengan mereka bahkan orang-orang yang tidak beragama Yahudi adalah komplotan para binatang (“Kanzul Marsud“: 66-74). Dalam pandangan mereka bahwa anjing-anjing lebih baik dari pada selain Yahudi, hanya saja Alloh menciptakan mereka serupa dengan manusia agar pantas untuk menjadi pelayan umat Yahudi.

Dalam kitab “Talmud” milik mereka, Alloh berkata: “Dialah yang telah menciptakan segala sesuatu, ya’ni menciptakan orang-orang Israil karena mereka adalah putra-putra Alloh yang maha agung”.

Dalam “Talmud” juga mereka mengatkan bahwa “arwah-arwah mereka adalah bagian dari Dzat Alloh”. Jika seandainya Alloh Ta’ala tidak menciptakan kaum Yahudi tentulah musnah dan sirna berkah dari dalam perut bumi dan tidak akan Dia turunkan hujan dari langit, dan tidak akan pula Dia ciptakan matahari”, “Sesungguhnya neraka tidak akan bisa mengazab orang-orang yang berdosa dari kalangan bani Israil dan tidak pula kepada para murid pendeta-pendeta Yahudi”. Kemudian “surga adalah singgasana arwah umat Yahudi dan tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi”, “Danneraka Jahannam 60 kali luas surga, karena kelak akan tinggal di sana adalah orang-orang yang tidak mensucikan badannya kecuali kedua tangan dan kedua kaki mereka seperti orang-orang Islam dan orang-orang yang tidak berkhitan/sunat seperti orang-orang Nashroni yang menggerakkan tangannya –mengisyaratkan salib- mereka semua kelak akan kekal di dalamnya”.  [“Ushul Diyanah yahudiyyah“].

([6]) “Aqo’id Itsnai Asyariyyah” (hal: 132-133).

[7]  Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu berkata: Ini persis dengan apa yang dikatakan oleh kaum Syi’ah Yaman yang mereka dikenal dengan Hustiyyun, diantara semboyan mereka adalah al-maut li Amrika al-maut li Isroil…., setiap ada orang asing maka mereka katakan sebagai Amerika Isroil dan bahkan Kerajaan Islam Saudi Arobia mereka katakan negri Wahhabiy, najis dan masyarakatnya lebih kafir dan lebih sesat dari pada anjing. Ketika kami (rombongan Muhajirin) keluar dari Dammaj maka mereka (kaum Syi’ah) di pinggir-pinggir jalan berkata kepada kami: “Kilab” (anjing-anjing).

([8]) “Ushulud-Diyanah Al-Yahudiyyah(hal. 279).

([9]) Artinya hanya mereka sajalah orang yang beriman sedangkan selain mereka adalah kerumunan para binatang dan halayak mahluk-mahluk kafir. [Ushul Diyanah Yahudiyyah].

[10] Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu berkata: “Pada asalnya istilah “nashibiy” adalah untuk siapa saja yang merendahkan dan menghina Ahlulbait (anak keturunan Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam), namun mereka (kaum Syi’ah) menggunakan istilah ini untuk Ahlussunnah wal Jama’ah, hal demikian itu dikarenakan mata hati mereka telah buta sehingga tidak bisa membedakan mana Ahlussunnah dan mana Nashibiy?, atau memang karena mereka memiliki keyakinan sebagaimana yang telah penulis sebutkan bahwa siapa saja yang selain dari mereka maka dianggap sama atau dianggap lebih hina dari binatang.

([11]) Berkomentar  Imam besar mereka Al-Khumainiy dalam “Tahrir Wasa’il” (1/352) memberikan catatan kaki pada fatwa ini: “Indikator terbesar yang menyebabkan seorang Nashibiy (Ahlu Sunnah) digolongkan ke dalam barisan orang-orang kafir yang pantas untuk diperangi adalah karena bolehnya harta mereka untuk dijadikan ghonimah (rampasan perang), dan berlakunya hukum (wajib) menyerahkan al-khumus atas mereka”.

                Terlihat dengan tampak jelas apa yang di maksudkan oleh Al-Khumainiy ini adalah bolehnya merampas harta benda milik siapa saja selain pengikut Syi’ah dan di mana saja berada, baik dengan penipuan, pencurian, bahkan penjarahan, dan hal ini berlaku di segala waktu baik dalam konflik maupun di saat damai, maka di sinilah terdapat kesamaan yang erat antara mereka dengan Yahudi dalam menghalalkan harta benda milik orang lain. 

([12]) sebagaimana celaan Yahudi kepada Nabi Nuh ‘Alaihissalam, mereka mengatakan bahwa nabi Nuh ‘Alaihissalam telah meminum khomr/arak di dalam bilik pribadi beliau sampai beliau pun mabuk dan tidak sadar diri hingga aurat beliau tersingkap dan sempat terlihat oleh Ham ayah Kan’an dan Hampun keluar mengkabarkan hal ini kepada dua saudaranya Sam dan Yafuts, lalu keduanya membentangkan selendang di pundak mereka berdua sembari melangkah mundur kebelakang hingga keduanya menutup aurat nabi Nuh ‘Alaihis salam dengan tanpa melihatnya, ketika nabi Nuh ‘Alaihissalam tersadar dan mendapati apa yang di lakukan Ham beliaupun murka dan berkata: “Terla’nat Kan’an kelak dia akan menjadi budak untuk kedua saudaranya, selanjutnya jadilah Kan’an dan keturunannya budak bagi keturunan Saam dan Yafuts”.

Adapun celaan mereka kepada Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam mereka mengatakan bahwa beliau ‘Alaihissalam adalah pria dayyuts, tidak memiliki cemburu yang telah menyewakan istrinya kepada raja Mesir hingga beliaupun bisa memiliki harta yang sangat banyak”.

Sementara celaan mereka terhadap Nabi Luth ‘Alaihis salam beliau telah mereka tuduh sebagai seorang pemabuk, di saat mabuk berat beliau ‘Alaihis salam menzinai dua orang putri beliau sendiri, sekaligus hingga keduanya (hamil dan) melahirkan anak beliau”. Dan masih banyak lagi aneka ragam fitnah dan tuduhan keji kepada para nabi yang lainnya. [“Usul Diyaanah Yahudiyyah” (hal: 77)].  

([13]) “Ushul Diyaanah Yahudiyyah” (hal. 286).

([14] ) “Ushul Diyaanh yahudiyyah” (hal. 287), penulisnya mengatakan: “Dan sekarang pedang tersebut bersama Al-Qo’im Al-Imam Mahdi yang berada di dalam terowongan Sirdab Samirro’ Iraq  yang akan muncul di akhir zaman dan mengobarkan pembantaian.

([15]) “Aqo’id Itsnai Asyariyyah” (hal. 208-209).

[16]Ushul Diyaanah al-Yuhudiyyah (hal. 263).

Iklan

Comments on: "YAHUDI dan SYI’AH Adalah Dua Agama dengan tanpa SYARI’AH" (3)

  1. Assalamualaikum , boleh ana copy untuk di post ke blog ana akhi ?

    Suka

  2. Assalamu’alaikum…
    Mohon ijin untuk diposting di FACEBOOK

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: