“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Sepucuk Surat dari Syarif Hidayat

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته . والصلاة والسلام على من اتبع الهدى

بسم الله الرحمن الرحيم

Saudara kami Abu Ukasyah Syarif Hidayat bin Nashirun Al-Maosy Al-Cilacapy memberikan sepucuk surat kepada kami yang berisikan pertanyaan seputar Maulid Nabi yang tertulis sebagai berikut :

Adakah hadits atau dalil yang bilang maulid itu bid’ah?.

Orang yang merayakan maulid menganggap bahwa Rosululloh juga merayakan hari kelahirannya dengan berdalil. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim: Ketika ditanya sahabat mengapa engkau berpuasa hari senin ? Beliau menjawab : “itu adalah hari kelahiranku”. Bagaimanakah pemahaman yang benar tentang hadits diatas.

Al-Ahdzab 56 :  “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian untuknya dan  ucapkanlah salam sejahtera kepadanya“.

Mana dalil yang utuh yang bilang maulid itu bid’ah.

Kalam maulid itu di anggap talbis mencampur Al-Haqq dengan yang Bathil, Sekarang mana yang hak mana yang bathil?.

Beliau meminta tolong kepada kami agar meneruskan sepucuk surat ini kepada Saudaraku Abu Ahmad Saliim Al-Limbory. Dia menulis surat ini dikarenakan dia habis menjelaskan kepada temannya tentang maulid, dan temannya mengatakan : “kalau kamu benar saya akan ikut kamu”.

Sholawat dan Salam bagi siapa yang pengikut kebenaran.

ولله الحمد والشكر

والصلاة والسلام على أصرف الأنبيآء والمرسلين

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

JAWABAN

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله، أحمده، وأستعينه، وأستغفره

أما بعد: 

Adapun permasalahan yang diajukan kepada kami maka kami akan rinci satu persatu sebagaimana berikut ini:

Permasalahan:

Adakah hadits atau dalil yang bilang maulid itu bid’ah?.

Jawaban:

Ada, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memerintahkan untuk diadakan acar maulid, juga Al-Khulafa’ur Rosyidun Al-Mahdiyyun (Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali) tidak pernah melakukannya dan tidak pula memerintahkan umat Islam untuk melakukannya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ».

“Maka wajib bagi kalian (untuk berpegang) terhadap apa-apa yang kalian ketahui dari sunnahku dan sunnah Al-Khulafa’ir Rosyidin Al-Mahdiyyin (Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali), gigitlah kuat-kuat sunnah tersebut dengan gigi geraham”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Al-Irbadh bin Sariyyah.

Karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan para shohabatnya tidak pernah melakukan amalan itu maka tentu dia adalah amalan baru yang bid’ah dan tertolak, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدِثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ شَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».

“Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam agama), karena sesungguhnya paling jeleknya perkara-perkara adalah yang diada-adakannya, dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, An-Nasa’iy dan yang selain keduanya.

Dan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam juga berkata:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ»

“Barang siapa mengadakan (suatu amalan) dalam perkara (agama) kami ini, yang dia bukan darinya maka dia tertolak”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim dari ‘Aisyah Rodhiyyallohu ‘anha.

 

Permasalahan:

  Orang yang merayakan maulid menganggap bahwa Rosululloh juga merayakan hari kelahirannya dengan berdalil hadits yang diriwayatkan oleh Muslim: Ketika ditanya sahabat mengapa engkau berpuasa hari senin? Beliau menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku”. Bagaimanakah pemahaman yang benar tentang hadits diatas?.

Jawaban:

Hadits tersebut bukan dalil tentang bolehnya merayakan maulid, bahkan dalil itu jelas bertentangan dengan acara maulid, hal ini dilihat dari beberapa sisi, diantaranya:

Pertama: Hari kamis telah ditetapkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sebagai hari untuk berpuasa sunnah, barang siapa yang berpuasa sunnah pada hari itu maka sungguh dia telah melaksanakan sunnah Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

Kedua: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa setiap hari kamis adapun orang-orang yang merayakan maulid setiap tahun sekali, dalam sekali perayaanpun mereka lakukan bukan pada hari kamis.

Ketiga:Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengisi hari kamis dengan ibadah berupa puasa sunnah adapun orang-orang yang merayakan maulid maka mereka mengisinya dengan acara bid’ah dan ma’siat serta kesyirikan, hal ini sebagaimana yang kami saksikan sendiri pada kaum Syi’ah khususnya, semalam sebelum keluarnya kami dari bumi Dammaj, ketika itu kami sedang jaga di Alu Manna’ Dammaj, tiba-tiba kaum Syi’ah menyanyi-nyayikan semboyan mereka:

“الموت لأمريكا، الموت لإسرائيل، اللعنة على اليهود، النصر للإسلام”.

“Kematian untuk Amerika, kematian untuk Isroil, la’nat atas Yahudi, pertolongan untuk Islam”.

Mereka menyanyi-nyayikan semboyan itu sambil membakar api di atas benteng mereka, dan mereka berlari-lari kecil mengelilingi api itu, dan mereka melakukan itu dengan berkali-kali putaran, hingga kami mengira bahwa mereka akan memasuki benteng kami. Dan mereka juga menyanyi-nyanyi dengan mengangkat suara:

“لبيك يا محمد، لبيك يا رسول الله”.

“Kami penuhi panggilanmu wahai Muhammad, kami penuhi panggilanmu wahai Rosululloh”.

Mereka melakukan perbuatan-perbuatan itu sebagai acara perayaan mauled Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

Belum lagi bagi mereka yang di kota-kota merayakan acara ini, banyak kemungkaran dilakukan, baik berupa ikhtilat, pacaran dan memainkan musik-musikan serta berbagai penyelisihan syari’at lainnya.

Permasalahan:

Al-Ahdzab 56 :  “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian untuknya dan  ucapkanlah salam sejahtera kepadanya“.

Jawaban:

Orang yang mempelajari dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam paling banyak bersholawat kepada beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, ketika mereka membaca hadits:

“قال رسول الله”.

“Berkata Rosululloh”, maka mereka ikutkan dengan sholawat:

“صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “.

Atau dengan lafazh lain:

“صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم”.

Atau juga dengan lafazh selain itu yang telah diajarkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

Bersholawat kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tidak melihat waktu, barang siapa bersholawat kepada beliau hanya setahun sekali yaitu pada waktu acara maulid maka sungguh dia telah mengurangi hak Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} [الأحزاب: 56].

“Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kalian untuknya dan  ucapkanlah salam sejahtera kepadanya“. (Al-Ahzab: 56).

Permasalahan:

Mana dalil yang utuh yang bilang maulid itu bid’ah.

Jawaban:

Dalil yang utuh telah kita sebutkan pada jawaban yang pertama, sebagai tambahan dalil adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim dari Umar Ibnul Khoththob Rodhiyallohu ‘Anhu bahwa seseorang dari kalangan Yahudi berkata kepada beliau:

“يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا، لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ اليَهُودِ نَزَلَتْ، لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ اليَوْمَ عِيدًا. قَالَ: أَيُّ آيَةٍ؟ قَالَ: {اليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا} [المائدة: 3] قَالَ عُمَرُ: «قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ اليَوْمَ، وَالمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ».

“Wahai Amirul Mu’minin, ini adalah satu ayat di dalam kitab kalian, yang kalian membacanya, kalaulah dia turun kepada kami orang-orang Yahudi maka sungguh kami akan jadikan hari demikian itu sebagai hari raya (perayaan). Umar berkata: “Ayat yang mana?”, dia berkata: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan ni’mat-Ku atas kalian dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama kalian”. (Al-Maidah: 3). Umar berkata: “Sungguh kami telah tahu hari itu, dan tempat yang dia turun padanya atas Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, dan beliau berdiri di Arofah pada hari Jum’at”.

Karena Islam sudah sempurna maka Umar Rodhiyallohu ‘anhu merasa cukup dengan itu, beliau tidak mengikuti syubhat orang Yahudi itu, bahkan beliau bantah bahwa ayat itu telah turun pada hari ‘ied Islam yaitu hari Jum’at dan turun di Arofah. Beliau Rodhiyallohu ‘anhu tidak menambah hari raya Jum’at dengan acara bid’ah semisal acara maulid atau semisal acara perayaan Isro Mi’roj dan acara-acara yang semisalnya, namun beliau cukupkan hari Jum’at dengan khutbah dan sholat Jum’at dua roka’at, dan beginilah petunjuk Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

«وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».

“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (di dalam agama), dan setiap bid’ah adalah sesat”.

Permasalahan:

Kalam maulid itu di anggap talbis, mencampur al-haqq dengan yang bathil, sekarang mana yang haq mana yang bathil?.

Jawaban:

Yang haq adalah yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, Alloh Ta’ala berkata:

{وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ (2) ذَلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَأَنَّ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ} [محمد: 2، 3].

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal sholih serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Robb mereka, Alloh menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang yang kufur mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang haq dari Robb mereka. Demikianlah Alloh membuat untuk manusia permisalan-permisalan bagi mereka”.

Yang batil adalah yang mengikuti bid’ah dan melakukan penyelisihan terhadap sunnah Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, yang melakukan acara maulid maka dia di atas kebatilan.

Dan barang siapa yang mengingkari perayaan maulid dan tidak melakukan acara tersebut maka sungguh dia berada di atas al-haq karena mengikuti bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan mencontoh generasi pertama yaitu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan para shohabatnya yang mereka adalah umat yang satu, mereka berada di satu kesatuan dengan tidak pernah melakukan kebatilan berupa merayakan acara maulid:

{كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ} [البقرة: 213].

“Dahulu manusia adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan) maka Alloh mengutus para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang haq (benar), untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri, maka Alloh memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Alloh selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”. (Al-Baqoroh: 213). Wallohu Ta’ala A’lam wa Ahkam.

Comments on: "“Kalau Kamu Benar Saya Akan Ikut Kamu”. (Hukum Merayakan Maulid Nabi)" (4)

  1. amirullah said:

    Bismillah

    PERKATAAN: “kalau kamu benar saya akan ikut kamu”.

    apabila Ada orang yang mengatakan kepada kita tentang perkataan seperti itu, maka JAUHILAH MEREKA, jangan berdebat dengan mereka, karena mereka penuh dengan syubhat.

    * Adakah hadits atau dalil yang bilang maulid itu bid’ah?.

    Tidak ada satupun hadits yang mengatakan bahwa maulid itu bid’ah.

    karena semua perbuatan sebelum Rasululloh meninggal, tidak ada yang bi’dah. apabila ada perbuatan yang bertentangan, pasti Rasululloh menghukumi perbuatan tersebut.
    Beliau mengatakan ini salah, itu benar, yang ini salah… setelah beliau mendapat petunjuk

    Setelah Rasululloh meninggal (agama ini sudah sempurna), semua perbuatan yang tidak sesuai dengan syari’at dikatakan bid’ah (sesuai dengan syarat-syarat perbuatan dikatakan bi’dah)

    MAULID ada setelah Rasululloh meninggal. Orang yang mencetuskan ide ini adalah Abu Sa’id Al-Kaukabury [Dia adalah orang yang pertama kali merayakan maulid di negeri Maushil]

    Jadi, kalau Ada yang bertanya dengan pertanyaan seperti di atas, pasti jawabannya TIDAK ADA SATUPUN HADITS SHOHIH YANG mengatakan bahwa MAULID ADALAH BID’AH, tetapi BANYAK DALIL baik DARI AL QURAN MAUPUN AL HADITS yang menjelaskan perbuatan tentang bi’dah.

    ▶Orang yang merayakan maulid menganggap bahwa Rosululloh juga merayakan hari kelahirannya dengan berdalil. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim: Ketika ditanya sahabat mengapa engkau berpuasa hari senin ? Beliau menjawab : “itu adalah hari kelahiranku”. Bagaimanakah pemahaman yang benar tentang hadits diatas.

    Mengqiaskan (menganologikan) bid’ah maulid dengan puasa hari Senin adalah suatu bentuk takalluf (pemaksaan) yang nyata dan tertolak karena ibadah landasannya adalah syari‟at, bukan berdasarkan pendapat ataupun anggapan baik.

    Sesungguhnya puasa hari Senin adalah perkara yang telah diamalkan oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, bahkan beliau memberi motivasi untuk mengamalkannya. Berbeda halnya dengan perayaan maulid dan menjadikannya sebagai hari raya, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidak pernah mengerjakannya dan juga tidak pernah memotivasi untuk mengerjakannya.

    Kalaupun sebab berpuasa hari Senin karena itu adalah hari kelahiran Beliau, maka kita dapat mengamalkannya karena ada dalil tentang itu. MAULID …. apakah Beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- menjelaskan (dengan perbuatan ataupun lisan) ke umatnya??????

    ▶Al-Ahdzab 56 : ”Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya“.

    Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- telah memotivasi untuk memperbanyak bersholawat kepada beliau di waktu-waktu tertentu, seperti pada hari Jum‟at, setelah adzan, ketika nama beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- disebut, dan waktu-waktu lainnya. Sekalipun demikian, Beliau TIDAK PERNAH memerintahkan atau memotivasi untuk bersholawat kepada beliau pada malam MAULID Beliau. Jadi, seyogyanya diamalkan sesuatu yang diperintahkan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan ditolak segala sesuatu yang beliau tidak perintahkan”.

    mohon komentar saya diteruskan kepada para Saudara-saudaraku (para Ahlussunah) yang menuntut ilmu di Yaman (terkhusus penulis jawaban di atas) untuk dikoreksi kalau Ada yang salah

    Suka

  2. abu hanif said:

    bismillah. afwan, ana jadi bingun mana yang benar, apa yang dikomentari atau yang mengomentari? tolong diluruskan secepatnya karena yang membaca materi ini banyak, bukan cuma satu atau dua orang.
    barakallahu fikum

    Suka

    • amirullah said:

      bismillah

      maksud komentar saya di atas adalah sama tulisan yang ana komentari.

      maulid yang diada-adakan sekarang itu termasuk perbuatan bid’ah.

      kalau kita mencari kata “MAULID” seperti perbuatan sekarang dalam hadits shohih, pasti tidak ada kata tersebut. karena perbuatan ini ada setelah Rasululloh -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- meninggal.

      Jadi perbuatan ini (bukan saja maulid, semua yang tidak sesuai syari’at) dihukumi berdasarkan dalil tentang bid’ah seperti penulis gunakan.

      contoh (dari tulisan ini)

      “Maka wajib bagi kalian (untuk berpegang) terhadap apa-apa yang kalian ketahui dari sunnahku dan sunnah Al-Khulafa’ir Rosyidin Al-Mahdiyyin (Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali), gigitlah kuat-kuat sunnah tersebut dengan gigi geraham”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Al-Irbadh bin Sariyyah.

      Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam agama), karena sesungguhnya paling jeleknya perkara-perkara adalah yang diada-adakannya, dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, An-Nasa’iy dan yang selain keduanya.”

      TIDAK ADA KATA “MAULID”, tetapi harus dijadikan hukum untuk semua perbuatan yang bertentangan dengan syari’at.

      MAULID ====>>> perkara baru

      “”==ana hanya hamba Alloh yang berusaha mencari ilmu sesuai aturan dalam islam yang sebenarnya== dan mencoba menuangkan pemikiran ana dalam komentar ini””

      kalaupun komentar saya salah ditafsirkan, ana mohon maaf

      Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: