“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

SYI’AH!

Dari Mana Datang, Kemana Pergi …?

Bagian 2

Ditulis oleh:

Abul ’Aliyah Rofi’i bin Djiekan Al-Indunisiy Rohimahulloh.

Dikoreksi oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu.

 

Bagian Kelima:

Faktor Penguat Agama Baru Pemalsu Islam Ini Tumbuh Subur Di Persia/Iran Dan Sekitarnya?

 

Kondisi masyarakat Al-Mada’in dan sekitarnya, termasuk Iran yang waktu itu di kenal dengan nama Persia. Sebelum masuknya agama Islam ke negara itu, diaadalah negara yang basis komunitas masyarakatnya beragama Majusi penyembah api. Kemudian setelah masuknya Islam ke wilayah tersebut, keadaan mereka terbagi menjadi 3 jenis lapisan masyarakat, yang mana satu dengan lainnya tidak bisa di sama ratakan.

Keadaan yang pertama: Lapisan masyarakat yang menerima Islam dengan hati yang jujur dan sebenarnya, sehingga mereka beriman sebagaimana keimanan yang semestinya, sampai kemudian dari lapisan masyarakat yang berhati jujur inilah banyak melahirkan ulama besar yang memberikan jasa sangat banyak untuk Islam dan muslimin.

Keadaan kedua: Lapisan masyarakat lemah dan sakit hati yang pura-pura menerima Islam hanya formalitas zhohiriyyahmereka saja, sedangkan organ dalam dan batin mereka menolak, bahkan dengan gigih tetap mengedepankan unsur azazi agama Persia (Majusi) dan unsur non Arob sebagai pedoman dalam beragama. Kemudian semua itu mereka jadikan sebagai poros bertolak dan inti acuan agama paling urgenbagi mereka, dari pada Islam murni yang identik dan erat kaitannya dengan unsur Arob.

Karena memang keislaman mereka bukan untuk memeluk Islam dengan lapang dada dan sejujurnya, namun justru di balik punggung mereka, mereka mengusung makar jahat yang bertolak belakang dengan visi dan misi luhur Islam yang suci ini. Maka dari jenis masyarakat berpenyakit dalam yang seperti inilah bendera Tasyayyu’ (perjuangan ideologi agama Syi’ah) dengan kokoh, gigih, berani dan ekstrim terus berkibar.

Keadaan ketiga:Jenis lapisan masyarakat yang dengan jelas, memilih untuk tetap kafir, berada pada keyakinan agama nenek moyang mereka yang Majusi, sehingga eksistensi mereka ini adalah jauh lebih jelas sebagai orang-orang yang zhohir kekafirnnya. Sehingga hukum syariah yang diterapkan atas merekapun jalas dan zhohir pula, namun bersamaan dengan keadaan mereka yang lebih jelas seperti itu, justru dampak buruk yang mereka timbulkan lebih ringan dari pada jenis lapisan masyarakat munafik dan sakit hati yang memeluk Islam untuk merubah Islam dengan nama Islam ini sendiri [Ushul Ad-Diyaanah Al-Yahudiyyah karya Dr. Sa’d Mubaroq, Dar Al-Muntaqo, Saudi Arabiya].

Di antara faktor utama sebab berkembang pesatnya doktrin ideologi agama baru “Syi’ah” yang dipelopori oleh Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi adalah iklim dan kondisi suatu negara yang masyarakatnya tidak memiliki kemapanan dalam memahami syariat Islam ini sebagai mana mestinya.

Yang seharusnya masyarakat Islam dituntut kokoh serta mendalam dalam memahami agama ini dengan pemahaman yang benar, kokoh dan mendalam ini, hanya terdapat di daerah yang berdekatan masa dan jarak mereka dengan kenabian, yang mana kenabian adalah merupakan satu-satunya sumber murni Islam ini sendiri.

Sedangkan Al-Mada’in Iraq, Mesir dan beberapa negara lainnya yang telah diduduki oleh Abduloh bin Saba’ Al-Yahudi adalah negara-negara jauh, dan baru mengenal Islam pada masa kekholifahan Umar bin Khottob Rodhiyallohu ‘anhu, karena faktor jauhnya negara-negara tersebut dari komunitas generasi terbaik umat ini, ya’ni para Shahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallam yang berdomisili di Makkah dan Madinah, sehingga kondisi yang terpisah itu, membuat mereka terhalang untuk mengambil ilmu, pemahaman dan penerapan beragama dari para shahabat  Rodhiyallohu ‘anhum, serta membuat mereka tidak terdidiksecara langsung di bawah tangan-tangan penuh berkah para shahabat Rodhiyallohu ‘anhum. Sementara telah kita diketahui bersama, bahwa para shahabat Rodhiyallohu ‘anhum adalah orang-orang yang telah mengambil ilmu, pemahaman dan penerapan dalam beragama ini secara langsung dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Jadi, tidak mengherankan jika komunitas merekalah satu-satunya generasi yang paling mengetahui apa yang dikehedaki oleh Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam syariah ini.

Maka kondisi masyarakat yang jauh dari wilayah dan masa kenabian, serta rendahnya mereka dalam berpendidikan Islam itulah, merupakan lahan subur dan sasaran yang empuk bagi Abdulloh bin saba’ Al-Yahudi untuk menancapkan cakar agama baru Syi’ah Yahudi yang dia pelopori ini.

Inilah siasat dan politik da’wah yang sengaja ditempuh oleh si Yahudi Abdulloh bin saba’ anak perempuan bernama Sauda’. Ya’ni kondisi masyarakat jauh yang awam. Dan keadaan masyarakat yang miskin keagaamaan seperti itu, benar-benar peluang emas baginya untuk membentangkan sayap makar bawah tanah yang dia rencanakan untuk membalik Islam, maka melalui pergerakan gelap yang sangat terselubung Abdulloh bin Saba’ menjejalkan doktrinideologi Yahudi yang sangat berbisa tersebut.

Disebutkan oleh para ulama muhaqqiq Ahlussunnah bahwa Abdulloh bin saba’ Al-Yahudi tidak akan menjejalkan ideologi dan propaganda beracun yang dia perjuangkan ini kepada sembarang manusia.Akan tetapi dia pertimbangkan dengan semasak mungkin, jika masyarakat yang dia provokasi tersebut menerima dengan baik, maka Abdulloh bin Saba’Al-Yahudi pun menampilkan perannya. Jika tidak? Maka diapun harus menanggung beban penderitan yang pahit, sebagai sampah masyarakat yang harus terusir dan terbuang, seperti yang telah dia terima dari amirul mu’minin Ali bin Abi Tholib Rodiyallohu ‘anhu dan masyarakat muslim hakiki di Syam (sekarang meliputi Palestina, Suriyah ,Yordan dan Libanon) yang kokoh pemahaman mereka dalam bermadzhab sunnah ketika itu [Firoq Al-Khowaarij Wa Syi’ah].

Sebenarnya, cinta dan pengakuan adanya hak sebagai pewaris kepemimpinan untuk Ahlulbait adalah pengakuan yang manusiawi, dalam arti pengakuan murni tanpa adanya unsur ideologi, terlebih lagi sikap ekstrim dan berlebihan dalam pengakuan tersebut, ya’ni tanpa ada unsur ideologi harus merendahkan martabat mayoritas sahabat dan meninggikan minoritas yang lainnya.

Dan kecintaan para generasi awal Islam kepada Ahlubait, telah tumbuh dan bersemi hingga mengakar begitu dalam dihati mereka, semenjak mereka beriman dengan kerosulan Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, terlebih lagi ketika musibah demi musibah menimpa mereka, mulai dari terbunuhnya Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anhu, kemudian terbunuh pula Hasan lalu menyusul Husain Rodhiyallohu ‘anhuma yang dipenggal dan seterusnya… Peristiwa demi peristiwa yang begitu tragis menimpa mereka Rodhiyallohu ‘anhum, sehingga tragedi memilukan yang susul-menyusul itu membuat terenyuh, menangis sedih hati seluruh kaum muslimin.

Nah, sekarang ketahuilah oleh anda Rohimakalloh-, justru melalui celah yang lunak ini, ya’ni setelah terjadinya peristiwa demi peristiwa memilukan yang menimpa Ahlul Bait, sekelompok manusia –seperti Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi, juga orang-orang sakit hati dari Persia yang kehilangan kekuasaan mereka dan berbagai jenis lainnya- sejak awal telah menyimpan dendam kesumat dan kebencian sangat dalam terhadap Islam dan muslimin, mulai bergerak, dengan sangat lembut memanfaatkan momen kesedihan terbunuhnya Husain Rodhiyallohu ‘anhu tersebut, mereka bergerak seakan merayap-rayap halus dan berlindung di balik tirai  “cinta Ahlul Bait, memperjuangkan hak-hak Ahlul Bait” dan seterusnya, kemudian mulailah mereka menancapkan injeksi ideologi jahat mereka, dengan nama Islam namum hakikatnya adalah hendak merubah dan menghancurkan Islam.

Maka, ideologi agama baru Syi’ah yang bermuara pada ajaran Yahudi, buatan Abdulloh bin Sabaa’ Al-Yahudi ini, sejak awal munculnya, belum mendapat tempat dan suhu lingkungan yang mendukung, sampai setelah terbunuhnya yang mulia -cucu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam- Husain bin Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anhuma, mulai tersebar dan tumbuh bagaikan jamur di mana-mana.

Sehingga tidak diragukan lagi, bahwa ideologi adanya:

Al-Wilaayah: (Wajibnya kekholifahan setelah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam hanyalah untuk Ali Rodhiyallohu ‘anhu tanpa adanya pemisah).

Roj’ah: Bangkitnya mayat-mayat dari kubur untuk diadili, di dunia sebelum tiba hari kiamat, peristiwa ini setelah keluarnya Al-Imam Mahdi milik mereka).

Badaa’ : (Anggapan bahwa Alloh ‘Azza wa Jalla tidak mengetahui perkara kontemporer, kecuali setelah peristiwa tersebut terjadi, sehingga “kebodohan dan ketidak tahuan” itu bisa membuat Alloh salah dalam bertindak).

Ghoibah : (Pengasingan diri yang dilakukan oleh Muhammad bin Husain ‘Askari, tokoh fiktif yang mereka yakini sebagai Al-Imam Mahdi).

’Ishmah: (Para imam Ahlul Bait yang berjumlah 12 orang adalah jenis manusia yang ma’shum anti salah, anti lupa dan anti dosa) dan seterusnya, dari beberapa substansi urgen ini adalah merupakan ideologi baru yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam Islam, dan seluruh substansi ideologi azazi ini, bermuara dari berbagai unsur non Islam, terutama Yahudi, kemudian Majusi dan Nashroni, setelah itu falsafah Yunani dan yang lain-lainnya.

Sehingga setelah semua itu –ideologi tasyayyu’– berhasil mereka tanam, maka setiap oknum yang memendam kebencian, dendam terhadap Islam dan muslimin, serta ingin terus hidup melestarikan hegemoni ideologi jahiliyyah mereka yang telah ditumpas oleh Islam, dengan culas semuanya berlindung di balik tirai seruan “cinta Ahlul Bait” ini, ahirnya mereka bisa terus hidup sejahtera, aman dan sentausa di bawah naungan agama jahiliyyah mereka, dengan nama Islam.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah Rohimahulloh dalam “Minhaaj As-Sunnah” (4/148) berkata: “Realita yang terjadi ini, merupakan pembenaran –tanda kenabian- berita yang telah dikhabarkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa umat ini benar-benar akan mengikuti perilaku dan ideologi umat-umat sebelumnya …”. [Ushul Madzhab Syi’ah” (1/89)].

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال , قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَتَتَّبِعَنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بَاعاً بِبَاعٍ وَذِرَاعًا ِبذِرَاعٍ وشِبْراً بِشِبْرٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا فِيْ جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ فِيْهِ . قالوا: يا رسول الله اليهود والنصارى؟ قال: فَمَنْ إِذاً.

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata : “Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam  berkata: “Kalian benar-benar akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian, setapak demi setapak, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga seandainya mereka masuk kedalam sarang dhobb ([1]), maka kalian benar-benar akan memasukinya”, mereka (para shohabat) bertanya: “Wahai Rosululloh! apakah mereka adalah Yahudi dan Nashroni?Beliau menjawab: “Kalau bukan mereka, siapa lagi?!”. [Hadits ini adalah hasan shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah, tahqiq Al-Albani  (8/494)].

عن حذيفة رضي الله عنه قال: لَتَرْكَبَنَّ سُنَّةَ بَنِيِّ إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، وَالْقُذَّةَ باِلْقُذَّةِ، غَيْرَ أَنِّي لَاأَدْرِي تَعْبُدُوْنَ الْعِجْلَ أَمْ لَا؟.

Dari Hudzaifah Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata: “Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Kalian benar-benar akan menempuh jejak (agama) bani Isroil, selangkah alas kaki demi selangkah, hanya saja aku tidak tahu apakah kalian akan menyembah anak sapi ataukah tidak?!”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syiabah (15/106) dengan sanad shohih, tahqiq ‘Ashim Musa Hadi, (hal. 39 no. 54].  

 

Bagian Keenam:

Diantara Jenis dan Karakter Manusia Yang Menyambut Agama Baru Abdulloh bin Sabaa’ Al-Yahudi.

 

Pertama: Mereka adalah dari kalangan masyarakat yang awam,rendah pendidikan dan terbelakang dalam mengenal Islam, mereka itulah yang tertipu dan ahirnya menjadi korban, menyambut da’wah Yahudi yang dipelopori oleh Abdulloh bin Saba Al-Yahudi ini, kebanyakan mereka adalah masyarakat jauh yang tinggal terpisah dari komunitas para sahabat Rodhiyallohu ‘anhum.

Kedua: Jika bukan dari jenis golongan pertama ini, maka mereka adalah dari jenis atau golongan orang-orang berpenyakit dalam, yaitu orang-orang yang masuk Islam karena ingin merusak Islam. Mereka itulah kalangan masyarakat “sakit hati” yang tidak memiliki kejujuran dalam memeluk Islam ini, kecuali karena justru ingin membuat propaganda, perusakan dan makar terhadap Islam dari dalam tubuh Islam ini sendiri.Masyarakat “sakit hati” ini adalah figur manusia-manusia yang jiwanya terluka dengan kelukaan yang sangat mendalamkarena runtuhnyatahta kekuasaan kaisar dan raja-raja mereka ditangan tentara muslimin Rodhiyallohu Ta’ala ‘anhum yang dipimpinan sahabat Amr bin ‘Ash Rodhiyallohu ‘anhu utusan kholifah Al-Faruq Umar Ibnul Khoththob Rodiyallohu ‘anhu, yani dengan peperangan dan penaklukan terhadap negara-negara itu, seperti negara Persia –sekarang Iran- dan seperti itu juga masuknya Islam ke negara Mesir.

Setelah Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi melihat propaganda dan doktrinnya ditelan oleh masyarakat awam yang terbelakang lagi rendah pendidikan atau kalangan munafik yang memeluk Islam untuk tujuan menghancurkan Islam tersebut, maka tampillah Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi mengambil peran dan menggerakkan massa yang mendukungnya, dan dia pun menggelar orasi dan berfatwa:

 “Wahai manusia….. ! Sesungguhnya kemenangan kalian adalah dengan membaurnya kalian bersama mereka –ya’ni masyarakat muslimin- maka susupkanlah propaganda ini di tengah-tengah mereka dan lakukanlah…..!!”. [Fiqroh Khowarij Wa Syi’ah, menukil dari “Tarikh Al-Imam Ath-ThobariyRohimahulloh].

Demikianlah sekilas dan ringkas sejarah awal perjalanan bergulirnya gerakan ideologi agama Syi’ah yang dipelopori oleh tokoh Yahudi pertama asal Son’a Yaman ya’ni Ibnu Sauda’ Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi.

Ideologi kafir ini terus mengalami evolusi, bergulir bersama waktu dan putaran roda zaman, hingga hari ini propaganda dan makar ideologi Yahudi ini senantiasa bersarang bahkan mengakar dengan sangat kuat di dalam hati masyarakat pengikut agama Syi’ah yang mengaku sebagai agama Islam hakiki ini.

Ideologi agama Syi’ah merupakan senjata hegemoni politik terhandalbagi sekelompok politikus tertentu atau para aktivis pergerakan khusus yang memendam misi, visi dan konspirasi jahat terhadap keutuhan agama Alloh Subhanahu wa Ta’alaini. Dengancepat makar dan propaganda busuk Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi ini diterima oleh orang-orang awam, sehingga ahirnya makar tersebut membuahkan hasil dengan tebunuhnya manusia terbaik ketiga setelah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Salam ya’ni amirul mu’minin Dzu Nuroin Utsman bin Affan Rodhiyallohu ‘anhu.

Para ulama dan ahli sejarah Ahlussunnah menyimpulkan, bahwa azaz dasar terpenting ideologi Yahudi yang didemonstrasikan oleh Ibnu Sauda’ Abdullah bin Al-Yahudi adalah sebagai berikut:

Pertama: Keyakinan adanya wasiat dari RosulullohShollallohu ‘Alaihi wa ‘ala Aalihi wa Sallamkepada Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu Ta’ala anhu, bahwa Ali Rodiyallohu Ta’ala ‘anhu adalah pemimpin umat Islam ini setelah meninggalnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa ‘ala Aalihi wa Sallam secara langsung, dengan tanpa terpisah oleh siapapun. Kepemimpinan Ali Rodhiyallohu ‘anhu ini adalah keputusan baku dari Alloh ‘Azza wa Jalla dan merupakan wahyu yang telah ditetapkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala tanpa boleh diganggu gugat.

Kedua: Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi tokoh pertama yang menampakkan sikap konfrontasi kepada “musuh-musuh” Ali bin Abi Tholib Rodhiyallhu ‘anhu dan mengungkap satu demi satu siapa sebenarnya yang menentang Ali Rodhiyallohu ‘anhu, mereka itu adalah Abu Bakr, Umar, Utsman dan seluruh shahabat kecuali hanya beberapa orang saja, diantara mereka Abu Dzar, Salman dan Miqdad Rodhiyallohu ‘anhum Ajma’in.

Ketiga: Selanjutnya Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi orang pertama yang menjatuhkan vonis bahwa mayoritas shahabat Rodhiyallohu ‘anhum Ajma’in adalah orang-orang yang telah kafir, murtad, kecuali beberapa orang saja.

Keempat: Orang Yahudi ini pula yang mula-mula mencetuskan ideologi bahwa Ali bin Abi Tholib adalah Alloh (baca:Dewa) yang berperan mengatur bumi, iklim, suhu, cuaca, mencipta, memberi rizqi, menghidupkan, mematikan mahluk dan seterunya, Dan kepercayaan bahwa “Ali adalah Allohinimasih terus berlanjut hingga di zaman kita hari ini([2]).

Kelima: Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi yang mengatakan akan adanya kenabian yang muncul dari pemeluk agama ekstrim Syi’ah yang dia pelopori.

Keenam: Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi orang yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Tholib bisa reinkarnasi dan akan hidup kembali lagi ke muka bumi ini.

Ketujuh: Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi yang berkata bahwa Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam juga akan kembali hidup –reinkarnasi- lagi ke dunia ini.

Kedelapan: Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi adalah makhluk pertama yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Tholib adalah dabbatulardh([3]).

Kemudian diantara perkembangan ideologi agama Syi’ah Sabaiyyah cetusan Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi yang terus diadopsi para pengikunya secara turun-temurun sebagai berikut:

Pertama: Mereka meyakini bahwa sahabat Ali bin Abi Tholib dan Ahlul Bait keturunan beliau Rodhiyallohu ‘anhu tidak mati. Hanya saja setelah arwah mereka dicabut dari jasad-jasad mereka, arwah-arwah tersebut terbang melayang-layang di angkasa. Kemudian mereka menyebut arwah-arwah tersebut dengan julukan “Ath-Thoyyaroh” (arwah penghuni angkasa).

Kedua: Para pengikut agama Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi meyakini bahwa “Ruh Al-qudus” (Jibril) menitis ke dalam jasad para imam-imam Ahlul Bait Rohimahumulloh.

Ketiga: Mereka meyakni bahwa semua arwah yang telah mati akan menitis dan menjelma lagi ke muka bumi.

Keempat: Mereka berkeyakinan bahwa mereka telah diberi pengetahuan khusus dan memiliki wahyu, ketika semua manusia tersesat. Dan mereka pula yang diberikan keistimewaan pengetahuan (wangsit), ketika manusia semuanya bodoh tidak mengetahui”.

Kelima: Mereka juga menyakini bahwa Ali bin Abi Thoib Rodhiyallohu ‘anhu berada di angkasa, di balik mendung, guntur yang menggelegar adalah suaranya dan cahaya kilat adalah sinarnya.

Dari poin-poin kesesatan dan penyelewengan faham yang ada dalam tubuh sekte ini, seluruh ulama dan peneliti sejarah dari kalangan Ahlussunnah diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh[4], beliaumenyimpulkan bahwa sosok Ibnus Sauda’ Abdulloh bin Saba’ semula adalah Yahudi, kemudian dengan pura-pura dia memperlihatkan keislaman secara formalitas zhohiriyyah, sedangkan dalam batin dia memendam ambisi dan makar yang busuk untuk merusak atau merubah inti Islam dari dalam.

Gerakan bawah tanah seperti inilah yang dilakukan pula oleh Paulus terhadap kemurnian agama Nashroni. Sehingga akibat fatal yang merupakan target dan dambaan Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi terhadap masyarakat muslimin adalah supaya kaum muslimin berkeyakinan rusak, sebagaimana rusaknya keyakinan umat Kristiani terhadap Isa ‘Alaihis Salam, ya’ni terjerumus ke dalam sikap ekstrim dan berlebihan dengan menganggap Isa ‘Alaihis Sallam sebagai manusia biasa yang mereka jadikan “Yesus” dan “Krestus” itu sebagai tuhan.

Demikian halnya dengan Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi adalah makhluk pertama Syi’ah ini, dengan berkedok “cinta” dan slogan “menjunjung tinggi Ali Rodhiyalloh ‘anhu“, namun hakikat dari slogan politik dan makar bawah tanah ini adalah serupa dengan gerakan makar Paulus dalam merusak agama Nashroni”. [“Minhaju Sunnah” (4/651) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh, dengan sedikit penyesuaian dan ringkasan].

Penulis kitab “Fajrul Islam menyimpulkan: Sesungguhnya hakikat agama Syi’ah adalah sarana dan perlindungan bagi setiap oknum yang berniat menghancurkan Islam dari dalam. Hal ini entah karena sebatas kebencian atau memuncaknya amarah dan bahkan permusuhan yang sangat dalam terhadap Islam ini sendiri. Maka (anda akan dapati) mulai dari para aktivis Yahudi yang ingin menyusupkan doktrin zionisme mereka, atau para misionaris Paulus Kristianidengan kristenisasi mereka, bahkansampai para biksu Zardusti, para pendeta Hindu, pendeta Budhadan berbagai jenis manusia pemilik ideologi serta doktrin-doktrin beracun lainnya, dengan halus mereka injeksikan ke dalam tubuh Islam, maka mereka semua akan menyusup melalui celah ideologi agama “Syi’ah” ini. Kemudian dengan perlindungan karakter munafiq khas agama “Syi’ah” yang berwarna-warni ini, mereka semua aman menebar benih kesesatan dengan leluasa, di balik tirai perlindungan sekte sesat yang berkedok “cinta Ahlul Bait” ini”. [“Firoq Al-Khowarij Wa Asy-Syi’ah”].

Demikian realita yang terjadi ketika itu –bahkan sampai kini- setiap kelompok yang ingin kudeta dan menegakkan negara tersendiri, memisahkan diri dari kedaulatan pemerintah kaum muslimin yang sah([5]), maka mereka berlindung di balik  ideologi agama ini, dan dengan berselimut tirai “membela hak dan mencintai Ahlul Bait”, mereka meneriakkan orasi di sana-sini bahwa: “Ahlussunnah menghinakan Ali …!  Ahlussunnah menerlantarkan Ali….!, Ahlussunnah tidak memenuhi hak Ali…….!. Sedangkan kami….? kami membelanya!, kami memeperjuangkan haknya…! dst….!. Namun hakekat slogan ini hanyalah omong-kosong, karena realita sebenarnya yang termuat di balik semua ini adalah ambisius duniawi dan pemuasan nafsu hewani”. [“Al-Imamah Wa Rod ‘Ala Rofidhoh” (hal. 217) karya Al-Hafizh Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy Rohimahulloh[6]].

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللهُ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ} [البقرة: 204].

“Dan di antara manusia terdapat orang yang ucapannya dalam kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Alloh (atas kebenaran) isi hatinya itu. Sedangkan dia adalah penantang yang paling keras”. [Al-Baqoroh: 204].

Sungguh perkasa lagi bijaksana Alloh ‘Azza wa Jalla dengan lautan hikmah dan rohmah-Nya selalu dan selalu menjaga agama-Nya, melindungi dari fitrah untuk hamba-hamba-Nya, dengan terus menumbuhkan para ulama robbani, ulama sejati, ulama hakiki untuk selalu memperingatkan umat manusia dari bahayanya penipuan dan pemalsuan agama seperti yang di lakukan oleh Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi dan para pengikutnya ini:

{إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} [الحجر: 9].

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. [Al-Hijr: 9].

Di antara ulama robbani yang selalu mengingatkan kita, selaku umat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ini adalah Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy Rohimahulloh beliau lahir pada tahun 336 Hijriyyah dan wafat pada tahun 430 Hijriyyah, seakan-akan beliau hidup kembali dan menyaksikan apa yang terjadi hari ini, beliau Rohimahulloh berkata: “Mereka menamai diri-diri mereka dengan “ mu’minin” sedangkan sifat mereka adalah sifatnya orang-orang yang bukan mumin (ya’ni munafiq atau kafir), karena “taqiyyah” adalah perhiasan utama mereka, dan taqiyah adalah seseorang mengatakan perkataan dimulutnya saja, namun berbeda dengan apa yang ada di dalam hatintya, dan sifat yang seperti ini adalah sifatnya orang-orang munafik. Akan tetapi kemuliaan hanya milik Alloh ‘Azza wa Jalla, milik Rosul-Nya Shollallohu ‘Alaihi wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallam dan milik orang-orang yang beriman, demikian juga dengan an-nashr (pertolongan) dan kemenangan, hanyalahuntuk Ahlussunnah bukan milik Syi’ah”. [Al-Imamah Wa Rod ‘ala Rofidhoh (hal. 153)].

{للهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ} [الروم: 4].

“Hanya milik Alloh-lah segala urusan sebelum dan sesudah (mereka meraih kemenangan)”. [Ar-Rum: 4].

{تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [آل عمران: 26].

“Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tanganMu-lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau sangat kuasa atas segala sesuatu”. [Al-Imroon: 26].

{بَلْ لِله الْأَمْرُ جَمِيعًا} [الرعد: 31].

“Sebenarnya segala urusan itu adalah milik Alloh”. [Ar-Ro’d:31].

 

Penutup:

Selesai pembahasan tentang masalah ini, Insya Alloh akan datang penjelasan yang lain yang masih berkaitan dengan agama Syi’ah.

Semoga Alloh menjadikan tulisan ini bermanfaat.

Selesai dibaca ulang pada hari Ahad 24 Robiul Awwal 1435 Di Masjid As-Sunnah Sa’wan Madinah Sakaniyyah Sana’a Yaman.

 


([1])   Dhobb : adalah binatang berkaki empat dan berekor, hidup di gurun dan pegunungan-pegunungan Arob, dhobb adalah melata yang halal untuk dimakan, dia hampir menyerupai biawak namun postur tubuh dan ekornya jauh lebih kecil dan pendek, tubuh dan kulit halus serta lembut, tidak bergerigi kasar seperti biawak, tidak berkuku tajam sebagaimana kuku biawak. Maka dhobb bukanlah biawak, dia berlidah buntung seperti lidah binatang pemakan tumbuhan, sebagaimana dhobb adalah binatang pemakan tumbuhan, bukan pemangsa binatang atau bangkai dan lain sebagainya sebagaimana biawak –wallohu a’lam-.

([2])  Misalnya: Di lereng gunung yang terletak disebuah tempat bernama Rohban –terletak sekitar 3 Km arah utara komunitas besar pelajar Ahlussunnah distrik Darul Hadits Salafiyyyah Dammaj- So’dah, Eks Yaman Utara, anggota milisi tempur sekte garis keras ini menulis dengan tulisan sangat besar di lereng gunung tersebut bahwa “ Ali adalah Alloh”. Perlu diketahui, bahwa hingga hari ini, provinsi So’dah merupakan provinsi pusat, basis terkuat pemeluk agama Syi’ah Rofidhoh Itsnai ‘Asyariyyah Ja’fariyyah di Yaman bahkan eksistensi mereka di provinsi ini, sudah menyerupai sebuah negara di dalam negara, ditinjau dari kekuatan besar militansi bersenjata dan personil yang terlatih serta berbagai senjata berat pemusnah massal telah mereka miliki, mereka masyhur dengan julukan milisi radikal garis keras “Al-Hutsiy”.

Adapun hampir di seluruh gunung yang mengelilingi kami, Ahlusunnah distrik Darul Hadits Dammaj dari empat arah, mereka menulis : “Ali adalah Rosul”, “Ali Wali Alloh”, “Labbaika ya Ali (kami penuhi panggilanmu wahai Ali). “Labbaika ya Rosul (kami penuhi panggilanmu wahai rosul), ya’ni Ali-”  dan berbagai simbol ekstrim lainnya yang sifatnya terlalu berlebihan terhadap seorang Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anhu

{كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا} [الكهف: 5].

“Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta”. [Al-Kahfi:5].

{سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ} [النور: 16].

Maha Suci Engkau (wahai Robb kami), ini adalah dusta yang sangat besar”. [An-Nuur: 16].

([3])Daabbatul ardh adalah binatang besar yang Alloh ‘Azza wa Jalla keluarkannya dari bumi dan dabbatul ardh adalah satu dari beberapa tanda tibanya hari kiamat. (Lihat Tafsir surat An-Naml : 82, dalam Tafsir Ibni Katsir Rohimahumullohdan yang lainnya, juga hadits-hadits shohih yang diriwayatkan oleh Muslim Rohimahulloh: 2901 dan 2941).

Hanya saja pengakuan Abdulloh bin Saba’ Al-Yahudi bahwa Ali rodhiyallohu ‘anhu adalah dabbatul-‘ardh, adalah pengakuan yang tidak benar. Karena tidak ada dalil shohih yang mendukung pengakuan tokoh sesat Syi’ah yang ortodok, ektrim dan terlalu berlebihan terhadap Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu ini.

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ  [النمل: 82]

 “Dan apabila keputusan (adzab) telah jatuh atas mereka (ketika tibah hari kiamat), Kami keluarkan binatang besar (yang berakal dan berbicara) dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa : Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”[An-Naml:82].

 

 

 

 

[4] Beliau wafat pada tahun 728 Hijriyyah.

([5])Sebagai contoh kecil yang terjadi: Demonstrasi infishol/tuntutan pemisahan diri, yang sering kali terjadi di provinsi timur kerajaan Saudi Arobia, mereka berorasi: “Demi harga diri Syi’ah yang tergadai, tertindas oleh diktator raja Sa’ud –wahhabi kafir, najis, Lanat.. dan berbagai sumpah serapah kalimat kotor lainnya–, maka kami menyatakan memisahkan diri dari pemerintahan Saudi -yang kafir ini- untuk bergabung bersama Iraq, sebagaimana Pakistan –yang muslim- yang memisahkan diri dari India –yang negara Kafir”. [ Jaro’im Rofidhoh Su’udi oleh Abdulloh As-Salafi (audio)].Kemudian apakah negara penegak syari’ah Islam Saudi Arobia itu sama harga dan mutunya dengan negara kafir Hindia??. Di belahan benua manakah di muka bumi, syari’at Islam ini di tegakkan?.

Sementara di Yaman, dalam bentuk lebih frontal, karena bebasnya senjata, setiap tahun bahkan bulan, para anggota milisi garis keras, pemeluk agama “Syi’ah” yang tersohor dengan sebutan milisi radikal Al-Huutsiy, selalu mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah dan pembunuhan terhadap warga sipil muslim. Pembunuhan demi pembunuhan terhadap warga sunni yang mereka vonis sebagai orang-orang kafir itu,  mereka sucikan dengan istilah “jihad melawan Amerika”. Kriminal berkepanjangan yang sesungguhnya memperjuangkan realisir ideologi agama Syi’ah itu, berjalan semenjak 1424 Hijriyyah (2004 Masehi) hingga hari ini Syawwal 1434 Hijriyyah (Agustus 2013 Masehi). Laa haula walaa quwwata illaa Billaah.    

[6] Beliau wafat tahun 340 Hijriyyah.

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: