“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Kunci Rezeki

asbaabur rizqi cover

KUNCI REZQI

Ditulis oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy

Semoga Alloh mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan saudara-saudarinya 

PENDAHULUAN

بسم الله الرحمن الرحيم

وبه نستعين

الحمد لله الذي خلق الجن والإنس ليعبدوه مخلصين له الدين وأرسل الرسل إليهم وأنزل الكتب عليهم لهدايتهم بنور العلم واليقين.

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيز الجبار القهار الواهب الرزاق ذو القوة المتين.

وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله الصادق الناصح الأمين، صلى الله عليه وعلى آله الأتقياء المخلصين وسلم تسليمًا كثيرًا إلى يوم الدين.

أما بعد:

Sesungguhnya manusia memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam memahami ma’na rezqi, ada dari mereka menganggap bahwa yang namanya rezqi itu adalah segala sesuatu yang menyenangkan diri dan memuaskan nafsu serta menjadikan jiwa di atas keni’matan.

Dengan ma’na ini membuat manusia kacau pikirannya dalam upaya mewujudkan impian mereka untuk mendapatkan rezqi, banyak dari mereka tidak peduli dengan batasan-batasan syari’at Islam, yang penting mereka bisa memperoleh rezqi yang mereka cita-citakan itu.

Tidak heran bila kemudian kita dapati sebagian manusia, supaya mereka memperoleh rezqi maka mereka melakukan berbagai penyimpangan dan kecurangan, sekadar contoh: Supaya ingin menjadi pegawai negri, atau menjadi aparat negara maka mereka menghalalkan segala cara, yang tidak sekolah ikut melakukan ujian bersamaan dengan anak sekolahan, dengan tujuan supaya memperoleh ijazah yang nantinya bisa digunakan untuk sekolah atau kuliah atau untuk mengikuti seleksi penerimaan PNS (Pegawai Negri Sipil).

Sebagian lagi karena hanya berpendidikan D2 (Diploma Dua), dan ingin supaya pangkatnya naik dan supaya gajinya meningkat diapun hanya dengan mendaftarkan diri di suatu universitas atau sekolah tinggi dan tidak hadir mengikuti kuliah, setelah itu, kemudian kita mendengar kalau dia sudah dilantik sebagai sarjana.

Sebagian lagi dari mereka berlomba-lomba sekolah atau kuliah dengan maksud dan tujuan utamanya supaya menjadi pegawai atau menjadi aparat, berbeda dengan masyarakat di pedesaan Riau, mereka sekolah dan kuliah bukan tujuan utama, karena mereka jadikan itu hanya sebagai mencari pengalaman, karena rata-rata dari mereka senang untuk kembali ke kampung halaman mereka, bertani di kebun kelapa sawit, yang penghasilannya lebih banyak dan lebih memuaskan dari pada menjadi pegawai atau aparat, hati dan jiwa mereka merasa tenang dan puas, karena hasil dari usaha mereka jelas kehalalannya.

Pada kajian ini kami sengaja membahas permasalahan yang berkaitan dengan rezqi, mengingat adanya usulan atau permintaan supaya kami menjelaskan permasalahan ini.  

Semoga apa yang kami tuliskan ini bermanfaat untuk kami, kedua orang tua kami, saudara-saudari kami serta siapa saja yang menginginkan kebaikan.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

 

Pengertian Rezqi

 

Rezqi adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap manusia di dalam kehidupannya di dunia, baik yang berkaitan dengan jasmani ataupun rohani.

Yang berkaitan dengan jasmani seperti kesehatan, harta dan tambahan jiwa (keturunan), sebagaimana Alloh Ta’ala sebutkan ketika Dia menguji hamba-hamba-Nya dengan dikurangi rezqi mereka:

{وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ $ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 155، 156].

“Dan sungguh Kami akan berikan ujian kepada kalian diantaranya adalah ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqoroh: 155-156).

Sedangkan rezqi yang berkaitan dengan rohani seperti iman dan ilmu agama yang kita dianjurkan untuk menuntutnya dan berdoa kepada Alloh Ta’ala supaya Dia merezqikannya untuk kita:

{وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا} [طه: 114].

“Dan berdoalah kamu: “Ya Robbku tambahkanlah ilmu kepadaku”. (Thoha: 114).

Rezqi seperti ini sangat dibutuhkan oleh setiap muslim di dalam kehidupan dunianya dan untuk kehidupan akhiratnya.

 

Pembagian Rezqi

 

Ibnu Atsir Rohimahulloh berkata:

والْأَرْزَاقُ نَوْعَانِ: ظَاهِرَةٌ للأبْدان كالأقْوات، وباطِنَة للقُلوب والنُّفوس كَالْمَعَارِفِ والعُلُوم.

“Dan rezqi ada dua bagian: Rezqi yang nampak pada badan-badan seperti kekuatan-kekuatan (kesehatan) dan rezqi yang tidak tampak pada hati-hati dan jiwa-jiwa, seperti pengetahuan-pengetahuan dan ilmu-ilmu. (An-Nihayah fii Ghoribil Hadits wal Atsar: 2/219).

Dan pembagian ini disebutkan pula oleh Muhammad bin Mukrim Al-Anshoriy di dalam “Lisanul Arob” (10/115), dan beliau memberikan tambahan dengan membawakan perkatan Alloh Ta’ala:

{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا} [هود: 6].

“Dan tidak ada suatu dabbah di bumi melainkan Alloh-lah yang memberi rezqinya”. (Hud: 6).

Dabbah dalam ayat ini ma’nanya umum, mencakup manusia, hewan dan semua binatang, sebagaimana yang Alloh Ta’ala katakan:

{وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [النور: 45].

“Dan Alloh telah menciptakan semua dabbah dari air, maka diantara dari dabbah itu ada yang berjalan di atas perutnya dan diantaranya berjalan dengan dua kaki sedang diantara (yang lainnya) berjalan dengan empat kaki. Alloh menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Alloh atas segala sesuatu adalah Al-Qodir (Maha Kuasa)”. (An-Nur: 45).

Ibnu Katsir Rohimahulloh berkata tentang perkataan-Nya:

“{وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ} كَالْإِنْسَانِ وَالطَّيْرِ”.

Dan sebagian dari dabbah itu berjalan dengan dua kaki“, seperti manusia dan burung”. (Tafsir Ibni Katsir: 6/73).

Dan semua dabbah itu, Allohlah yang memberi rezqi kepada mereka.

Rezqi bila dilihat dari hukumnya terbagi kepada dua bagian:

1.       Rezqi yang halal.

2.       Rezqi yang harom.

Rezqi yang halal adalah sesuatu yang Alloh Ta’ala berikan, yang dengannya membuat hati tentram dan jiwa tenang serta diridhoi oleh Alloh Ta’ala.

Alloh Ta’ala berkata tentang rezqi yang halal:

{وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ} [المائدة: 88].

“Dan makanlah oleh kalian makanan yang halal lagi baik dari apa yang Alloh telah rezqikan kepada kalian, dan bertaqwalah kalian kepada Alloh, yang kalian beriman kepada-Nya”. (Al-Maidah: 88).

Dan rezqi yang harom adalah sesuatu yang Alloh Ta’ala adakan, dengannya membuat hati ragu dan jiwa tidak tenang, serta Alloh Ta’ala tidak meridhoi bagi hamba-hamba-Nya untuk memanfaatkannya.  

Alloh Ta’ala menyebutkan tentang rezqi yang halal dan rezqi yang harom:

{فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ $ إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ $ وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ} [النحل: 114-116].

“Maka makanlah oleh kalian yang halal lagi yang baik dari rezqi yang telah diberikan Alloh kepada kalian; dan bersyukurlah kalian atas ni’mat Alloh, jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah. Sesungguhnya Alloh hanya mengharomkan atas kalian (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut selain nama Alloh; tetapi Barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menzholimi dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Alloh adalah Al-Ghofur (Maha Pengampun) lagi Ar-Rohim (Maha Penyayang). Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lisan kalian secara dusta “Ini halal dan ini harom”, untuk mengada-adakan kedustaan terhadap Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Alloh tidaklah mereka beruntung”. (An-Nahl: 114-116).

Pada ayat tersebut Alloh Ta’ala sebutkan rezqi yang berupa binatang (hewan), dan dari jenis hewan ada yang Dia halalkan dan ada pula yang Dia haromkan, diantara yang Dia haromkan seperti yang telah Dia sebutkan dalam ayat tersebut dan diantara yang Dia halalkan adalah:

{أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ} [المائدة: 1].

“Telah dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian, (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang ihrom (mengerjakan haji)”. (Al-Maidah: 1).

Dan Dia berkata tentang rezqi yang halal:

{وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ $ وَمِنَ الْأَنْعَامِ حَمُولَةً وَفَرْشًا كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ} [الأنعام: 141، 142].

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah oleh kalian dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah oleh kalian dari rezqi yang telah diberikan Alloh kepada kalian, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithon. Sesungguhnya syaithon itu musuh yang nyata bagi kalian”. (Al-An’am: 141-142).

Dari ayat-ayat tersebut kita diperintahkan untuk mencari dan memakan rezqi yang halal. Dan pada ayat-ayat tersebut pula kita dilarang untuk mencari dan memakan rezqi yang harom.

Dengan melihat hal tersebut maka hendaknya bagi kita berdoa kepada Alloh Ta’ala dengan doa yang diajarkan oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata kepada Ali bin Abi Tholib:

“قُلْ: اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ”.

Berdoalah: Ya Alloh, cukupkanlah aku dengan (rezqi) yang halal-Mu dari (rezqi) yang harom-Mu, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari yang selain-Mu“. Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy di dalam “Sunan“nya (no. 3563), beliau berkata: “Ini adalah hadits hasan ghorib”.

 

YANG MEMBERI REZQI HANYALAH ALLOH TA’ALA

 

Alloh Ta’ala berkata:

{وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ} [الذاريات: 22].

“Dan di langit terdapat  rezqi kalian dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan (kepada kalian)”. (Adz-Dzariyat: 22).

Karena hanya Alloh Ta’ala yang memberi rezqi, oleh karena itu Dia menamai dirinya dengan Ar-Rozzaq (Maha Pemberi Rezqi), Ibnu Atsir berkata:

“وَهُوَ الَّذِي خَلَق الْأَرْزَاقَ وأعْطَى الْخَلَائِقَ أَرْزَاقَهَا وأوْصَلها إِلَيْهِمْ”.

“Dan Dia (Alloh) yang telah menciptakan rezqi-rezqi, dan memberikan rezqi-rezqi kepada para makhluk, dan disampaikan kepada mereka”. (An-Nihayah fii Ghoribil Hadits wal Atsar: 2/219).  

Yang dijelaskan oleh Ibnu Atsir Rohimahulloh ini sama dengan yang dijelaskan oleh penulis “Lisanul Arob” namun penulis “Lisanul Arob” memberikan tambahan pendalilan dari Al-Qur’an, dia berkata:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ} [الذاريات: 57]، يَقُولُ: بَلْ أَنا رَازِقُهُمْ مَا خَلَقْتُهُمْ إِلا ليَعبدون، وَقَالَ تَعَالَى: {إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ} [الذاريات: 58]”.

“Alloh Ta’ala berkata: “Aku tidak menghendaki rezqi sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan”. (Adz-Dzariyat: 57), Dia berkata (yang ma’nanya): Bahkan Aku yang merezqikan mereka, tidaklah Aku menciptakan mereka melainkan supaya beribadah (kepada-Ku), dan Alloh Ta’ala berkata: “Sesungguhnya Alloh Dia adalah Ar-Rozzaq (Maha pemberi rezqi) Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh”. (Adz-Dzariyat: 58)”. (Lisanul Arob: 10/115).

Orang yang mengingkari ini dan menganggap bahwa rezqi yang dia peroleh adalah dari hasil usahanya sendiri atau dari warisan orang tuanya dengan tanpa disandarkan kepada Alloh Ta’ala maka dia lebih kafir dari pada orang-orang musyrik di zaman Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, karena mereka mengakui bahwasanya Alloh-lah yang memberi rezqi:

{قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ} [يونس: 31].

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezqi kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?”, maka mereka akan berkata: “Alloh”. Maka katakanlah: “Mangapa kalian tidak bertaqwa (kepada-Nya)?”. (Yunus: 31).

Jika kita sudah mengetahui bahwasanya yang memberi rezqi adalah Alloh Ta’ala dan kita hanya diperintah untuk menjalankan sebab maka termasuk dari kelancangan dan pelanggaran bila kemudian banyak dari umat manusia di zaman ini, yang mereka meminta rezqi kepada selain Alloh Ta’ala, ada dari mereka yang mengaku beragama Islam namun mereka meminta kepada roh-roh nenek moyang mereka, mereka mengadakan acara tahlilan dengan membakar kemenyan supaya roh-roh nenek moyang datang kepada mereka, lalu mereka meminta kepada roh-roh itu atau mereka menjadikan roh-roh itu sebagai perantara kepada Alloh Ta’ala supaya diberi rezqi.

Dan adapula supaya diberi rezqi diapun mempersembahkan anaknya kepada jin, atau dia memelihara tuyul, atau dia bertapa sehingga ilmu hitam menyusup kedalam tubuhnya yang kemudian dia melahirkan anak semisal buaya atau semisal kucing atau semisal hewan-hewan yang mirip siluman. Dan adapula yang memakan mayat dan melakukan perbuatan diluar kewajaran sebagai manusia, dengan tujuan supaya mendapatkan rezqi.

Oleh karena itu Alloh Ta’ala berkata:

{وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَ} [النحل: 73].

“Dan mereka menyembah selain Alloh, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezqi kepada mereka sedikitpun dari langit dan tidak pula dari bumi, dan tidaklah mereka berkuasa (sedikitpun)”. (An-Nahl: 73).

 

ANJURAN UNTUK MENCARI REZQI

 

Alloh Ta’ala berkata:

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [الجمعة: 10].

“Maka apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia Alloh dan ingatlah Alloh banyak-banyak supaya kalian beruntung”. (Al-Jumu’ah: 10).

Perintah untuk mencari rezqi di dalam ayat ini diinginkan dengannya adalah mencari rezqi yang halal, karena setelahnya diikutkan dengan perintah untuk memperbanyak berdzikir kepada Alloh Ta’ala.

Orang yang banyak mengingat Alloh Ta’ala tentu akan takut dari mencari dan mengambil rezqi yang harom, karena rezqi atau harta yang harom merupakan penyebab bagi hati gelisah dan gundah, sedangkan orang yang pandai berdzikir (suka mengingat Alloh) maka hatinya selalu tentram dan tenang, Alloh Ta’ala berkata:

{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ} [الرعد: 28].

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram”. (Ar-Ro’d: 28).

Oleh karena itu para nabi dan orang-orang sholih sangat bersemangat mencari rezqi yang halal, karena dengan itu membuat hati mereka bertambah tenang dan tentram.

Mereka tidak melihat kepada rendahnya suatu pekerjaan namun yang mereka lihat adalah halalnya pekerjaan itu, dengan sebab itu para nabi memilih untuk bekerja sebagai penggembala kambing, Jabir bin ‘Abdillah Rodhiyallohu ‘Anhu berkata:

“كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَجْنِي الكَبَاثَ، وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «عَلَيْكُمْ بِالأَسْوَدِ مِنْهُ، فَإِنَّهُ أَطْيَبُهُ» قَالُوا: أَكُنْتَ تَرْعَى الغَنَمَ؟ قَالَ: «وَهَلْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ رَعَاهَا»”.

“Kami bersama Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memetik buah dari pohon arak, dan bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Ambillah oleh kalian buah yang hitam darinya, karena dia yang paling bagusnya”, mereka (para shohabat) bertanya: “Apakah engkau dulu mengembala kambing?”, beliau menjawab: “Tidaklah dari seorang nabi melainkan sungguh telah mengembalanya”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy (no. 3406) dan Muslim (no. 2050).

Bahkan dengan sebab pekerjaan itu mereka bisa menikah, sebagaimana Nabiulloh Musa ‘Alaihis Sallam menikah dengan mahar mengembala kambing, Alloh Ta’ala berkata tentangnya:

{وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ $ فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ $ فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ $ قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ $ قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ} [القصص: 23-27].

Dan tatkala dia (Musa) sampai di sumber air negeri Madyan dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Dia berkata: “Apakah maksud kalian berdua (dengan berbuat begitu)?”, kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Robbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan rasa malu, dia berkata: “Sesungguhnya bapak kami memanggilmu agar dia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), dia berkata: “Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zholim itu”. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah dia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Berkatalah dia: “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkanmu dengan salah seorang dari kedua putriku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, maka aku tidak hendak memberatkanmu, dan kamu insya Alloh akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik“. (Al-Qoshshosh: 23-27).

Pekerjaan mengembala ini pula yang dipilih oleh saudara kami Abul ‘Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy Rohmatulloh ‘Alaih, beliau meninggalkan pekerjaan yang terdapat syubhat (ketidak jelasan antara halal dan haromya) dan beliau lebih memilih bertani dan mengembala kambing, -semoga Alloh merohmatinya dan menjaga anak-anak dan keluarganya-.

 

SEBAB-SEBAB MEMPEROLEH REZQI

 

Sebab-sebab memperoleh rezqi halal telah kami sebutkan di dalam tulisan kami yang berjudul “Asbabur Rizqi“, pada tulisan ini tidak perlu lagi bagi kami untuk mengulanginya mengingat keterbatasan waktu yang ada.

Adapun seseorang dimudahkan untuk memperoleh rezqi harom maka sebabnya sangat banyak pula, diantaranya:

1.       Memakan makanan yang harom.

2.       Bekerja di tempat yang harom.

3.       Berbuat kebid’ahan.

4.       Berbuat kesyirikan atau kekafiran.

 

Memakan Makanan yang Harom

 

Al-Imam Muslim meriwayatkan di dalam “Shohih“nya (no. 1015) dari hadits Abu Huroiroh, beliau berkata:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51]، وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172]، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟”.

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya Alloh adalah At-Thoyyib (Maha Baik), Dia tidak menerima melainkan yang baik, dan sesungguhnya Alloh telah memerintahkan orang-orang yang beriman terhadap apa yang telah Dia perintahkan kepada para rosul, Dia berkata: “Wahai para rosul makanlah oleh kalian dari yang baik-baik dan beramalah kalian dengan amalan yang sholih, sesungguhnya Aku terhadap apa yang kalian lakukan adalah Al-‘Alim (Maha Mengetahui)”. (Al-Mu’minun: 51). Dan Dia berkata: “Wahai orang-orang yang beriman makanlah oleh kalian dari yang baik-baik, yang telah Kami rezqikan kepada kalian”. (Al-Baqoroh: 172), kamudian beliau menyebutkan seorang lelaki yang melakukan perjalanan jauh, yang rambutnya sudah kusut, dia mengangkat kedua tangannya ke langit (dengan berkata): “Wahai Robbku, wahai Robbku”, sedangkan makanannya adalah harom, minumannya adalah harom, pakaiannya adalah harom dan diliputi yang harom, maka bagaimana akan dikabulkan doanya dengan demikian itu?!”.

 

Bekerja di Tempat yang Harom.

 

Bila seseorang bekerja di tempat yang harom maka tentu penghasilannya juga harom, dengan pekerjaan itu maka mengharuskan dia menerima hasil yang harom pula, misalnya seseorang bekerja di Bank, maka tidak lepas gaji dari pekerjaannya itu adalah harom, Jabir Rodhiyallohu ‘Anhu berkata:

“لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ”، وَقَالَ: «هُمْ سَوَاءٌ».

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam telah mela’nat orang yang memakan riba, dimakankannya, yang menulisnya dan yang mempersaksikannya”, beliau berkata: “Semua mereka adalah sama”. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1598).

Semuanya dikatakan sama hukumnya, karena mereka sama-sama bekerja di tempat riba yaitu diperbankan, yang mana Alloh Ta’ala telah menharomkan bekerja di dalamnya, baik bekerja sebagai pemimpinnya, bendaharanya, karyawannya serta seluruh pegawai dan satpamnya, karena terdapat riba padanya, Alloh Ta’ala berkata:

{وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا} [البقرة: 275].

“Dan Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharomkan riba”. (Al-Baqoroh: 275).

Orang yang terus menerus bekerja di tempat ini maka dia akan mendapatkan rezqi dengan sangat lancar, namun perlu diketahui bahwa rezqi yang dia peroleh adalah harom, karena diperoleh dari hasil riba.

 

Berbuat Kebid’ahan

Orang yang suka berbuat kebid’ahan maka rezqinya akan lancar, hal tersebut karena penipuannya dia terhadap umat manusia dengan dimunculkan suatu kebid’ahan di dalam agama, diantara penipuan itu adalah:

 

1.    Menda’wahkan kepada “tahlilan” untuk memakan harta manusia dan memeras harta mereka.

Orang yang suka menda’wahkan acara tahlilan; baik tahlilan itu untuk yang meninggal dunia atau untuk polele sumanga (mengundang roh-roh nenek moyang) atau nama-nama yang semisalnya, tidaklah mereka menginginkan itu melainkan supaya mendapatkan harta dan makanan manusia.

Tidak heran bila orang yang menghadiri tahlilan itu senang dan bangga karena ketika pergi ke tempat tahlilan dalam keadaan lapar, pulang dalam keadaan kenyang dan bahkan membawa uang saku dan bingkisan makanan.

Dimana rasa kasihan mereka? Orang yang meninggal dunia, keluarganya susah malah mereka menambah kesusahan, sampai keluarga orang yang meninggal harus utang kesana kemari karena tertipu dengan da’wah mereka.

Mereka menipu manusia bahwa kalau tidak diadakan tahlilan terhadap orang yang meninggal maka mereka tidak mendapatkan rezqi atau akan meninggal lagi anggota keluarga mereka, dengan penipuan itu, orang bodohpun bertambah tertipu. Tidak hanya alasan itu, namun mereka juga mengatakan bahwa makanan-makanan atau harta-harta yang digunakan untuk acara tahlilan itu untuk bekalnya orang yang meninggal, Wallohi (demi Alloh) ini adalah penipuan yang sangat jelas, karena orang yang meninggal dunia tidak lagi membawa bekal seperti itu, akan tetapi yang mereka bawa adalah amal sholih mereka, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

“إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.

Jika telah mati seseorang maka terputuslah darinya amalannya melainkan dari tiga: melainkan dari sedekah yang mengalir pahalanya, atau ilmu yang bermanfaat dengannya, atau anak yang sholih yang mendoakan untuknya“. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1631) dari hadits Abu Huroiroh.

Orang yang melakukan tahlilan tidak masuk sedikitpun dalam hadits tersebut, tahlilan bukan sedekah jariyyah (yang terus mengalir pahalanya), karena sedekah jariyyah diberikan kepada yang bermanfaat seperti pembangunan masjid atau pondok pesantren atau urusan da’wah, atau diberikan kepada orang-orang miskin.

Tahlilan juga tidak termasuk ilmu yang bermanfaat bahkan justru merugikan dan menyesatkan.

Tahlilan juga bukan dari perbuatan anak sholih yang mendoakan kedua orang tuanya akan tetapi orang-orang yang ingin harta dan ingin makanan tampil sebagai pembawa doa:

{إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا} [النساء: 10].

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zholim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala (apinya)”. (An-Nisa’: 10).

Kenyataan dari acara tahlilan adalah anak-anak yang sudah yatim yang meninggal orang tuanya malah disuruh untuk tahlilan yang kemudian dimakan harta mereka dengan cara pelaksanaan tahlilan.

Orang yang memakan harta-harta anak yatim dengan cara tahlilan ini, akan terus terlihat rezqinya berdatangan, keluar dari satu rumah, kemudian orang dari rumah yang lain akan mengundangnya lagi untuk tahlilan, dengan itu hartanyapun bertambah.

 

2.    Menjadikan diri sebagai amil zakat padahal dia bukan amil zakat.

Zakat mal atau zakat fithr diperuntukan kepada orang-orang yang Alloh Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an:

{إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [التوبة: 60].

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang faqir, orang-orang miskin, amil (pengurus-pengurus) zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya (supaya tetap di dalam agama Islam), untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Alloh dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan (yang kehabisan bekal), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan oleh Alloh, dan Alloh adalah Al-‘Alim (Maha mengetahui) lagi Al-Hakim (Maha Bijaksana)”. (At-Taubah: 60).

Kemudian datang orang-orang yang suka berbuat bid’ah ingin memperoleh zakat tersebut, diapun mengaku sebagai amil zakat, karena mereka merasa sebagai pengurus masjid maka mereka memposisikan diri-diri mereka sebagai amil zakat, padahal mereka bukan amil zakat, karena amil zakat adalah orang yang ditunjuk oleh pemerintah kaum muslimin.

Mereka para pengurus masjid baik imam, para khotib, dan para muadzdzinnya serta para pengurus masjid tidak masuk pada ayat tersebut, mereka terkadang menganggap diri bahwa mereka adalah amil zakat, maka ini juga keliru, karena amil zakat adalah orang yang ditunjuk oleh pemerintah kaum muslimin untuk mengumpulkan zakat lalu mereka bagi-bagikan kepada faqir miskin, dan mereka mendapat pula bagian sebagai upah atau balas jasa atas usaha mereka dalam mengumpulkan zakat-zakat sekaligus membagikannya kepada para faqir miskin, Al-Bukhoriy di dalam “Shohih“nya (no. 1496) meriwayatkan dan juga Muslim di dalam “Shohih“nya (no. 19) meriwayatkan dari hadits Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman:

“إنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ”.

“Sesungguhnya Alloh telah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat), kamu mengambilnya dari orang-orang kaya mereka dan kamu berikan kepada orang-orang faqir mereka“.

Pada hadits ini menjelaskan bahwa Mu’adz bin Jabal Rodhiyallohu ‘Anhu kedudukannya sebagai amil zakat, dan beliau diperintahkan supaya zakat tersebut diserahkan kepada para faqir miskin, bukan untuk disimpan untuknya atau dibagikan kepada para shohabatnya yang bukan faqir miskin.

 

3.    Mendirikan Jam’iyyah.

 Para hizbiyyun sangat bersemangat dalam mendirikan jam’iyyah atau nama lainnya muassasah (yayasan), karena dengan jam’iyyah ini mereka mampu menipu manusia dan memakan harta manusia; terkadang mereka mengaku sebagai penyalur sedekah, atau sebagai amil zakat (pengurus zakat), lalu mereka mengambil zakat-zakat kaum muslimin.

Atau kalau mereka kesulitan dalam pengakuan ini maka mereka menempuh jalan lain, yaitu mereka meminta-minta kepada kaum muslimin atas nama da’wah, mereka mengajukan proposal dan memajang kotak-kotak infaq di jalan-jalan, di depan masjid atau di depan toko-toko.

Semua itu mereka lakukan tidak lain supaya mensejahterakan pegawai jam’iyyah atau para ustadz yang berada di dalam jam’iyyah mereka. Mereka dengan tanpa merasa berdosa telah menghalalkan minta-minta dan menghalalkan memakan harta manusia dengan cara batil, supaya mereka tidak diketahui oleh umat manusia sebagai penipu maka mereka menggunakan cara penipuan, yang halal seperti bekerja di sawah, dagang atau mengembala mereka katakan perkerjaan orang hina, yang harom seperti meminta-minta mereka katakan halal, mereka menipu manusia atas nama da’wah di jalan Alloh:

{وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ $ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [النحل: 116، 117].

“Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lisan kalian secara dusta, “ini halal dan ini harom”, untuk mengada-adakan kedustaan terhadap Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Alloh tidak akan beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih”. (An-Nahl: 116-117).

Adapun para pengikut setia Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam yang selalu di atas kekurangan, maka mereka merasa cukup dengan yang halal, mereka tidak meminta-minta sampai manusia mengira mereka adalah orang-orang yang kaya:

{لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيم} [البقرة: 273].

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang faqir yang terikat (oleh jihad) di jalan Alloh; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu mengenal mereka dengan melihat sifat-sifat mereka, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kalian nafkahkan (di jalan Alloh), maka sesungguhnya Alloh terhadapnya adalah Al-‘Alim (Maha Mengatahui)”. (Al-Baqoroh: 273).

 

Berbuat Kesyirikan atau Kekafiran

Orang yang berbuat kesyirikan atau kekafiran maka Alloh Ta’ala bukakan rezqi untuk mereka, dengan dua tujuan, yaitu:

1.    Mengazab mereka dengan rezqi itu.

Alloh Ta’ala berkata:

{وَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ} [التوبة: 85].

“Dan janganlah menakjubkanmu terhadap harta-harta dan anak-anak mereka, sesungguhnya Alloh menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan semua itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan mereka kafir”. (At-Taubah: 85).

Dan Alloh Ta’ala buktikan hal ini dengan merezqikan harta yang banyak kepada Qorun, lalu Alloh Ta’ala mengazabnya dengan rezqi yang dimiliki oleh Qorun tersebut, Alloh Ta’ala berkata:

{إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِين} [القصص: 76].

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk dari kaum Musa, maka dia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu berbangga-bangga; sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. (Al-Qoshshosh: 76). Alloh Ta’ala berkata:

{فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ $ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ $ فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ $ وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ} [القصص: 79-82].

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia berkata: “Semoga kiranya kita mempunyai rezqi seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; Sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Orang-orang yang berilmu berkata: “Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang bersabar”. Maka Kami tenggelamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi, maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Alloh. Dan tidaklah dia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang mengan-angankan kedudukan Qorun berkata: “Aduhai, benarlah Alloh melapangkan rezqi bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Alloh tidak melimpahkan kebaikan-Nya bagi kita benar-benar Dia telah meneggelamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (ni’mat Alloh)”. (Al-Qoshshosh: 79-82).

 

2.    Mencukupkannya hanya di dunia dan di akhirat mereka dimasukan ke dalam neraka.

Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam berkata:

«الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ».

“Dunia adalah penjaranya seorang mu’min dan jannah (surga)nya orang kafir”. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2956) dari hadits Abu Huroiroh.

An-Nawawiy Rohimahulloh berkata:

“مَعْنَاهُ أَنَّ كُلَّ مُؤْمِنٍ مَسْجُونٌ مَمْنُوعٌ فِي الدُّنْيَا مِنَ الشَّهَوَاتِ الْمُحَرَّمَةِ وَالْمَكْرُوهَةِ مُكَلَّفٌ بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ الشَّاقَّةِ فَإِذَا مَاتَ اسْتَرَاحَ مِنْ هَذَا وَانْقَلَبَ إِلَى مَا أَعَدَّ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ مِنَ النَّعِيمِ الدَّائِمِ وَالرَّاحَةُ الْخَالِصَةُ مِنَ النُّقْصَانِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَإِنَّمَا لَهُ مِنْ ذَلِكَ مَا حَصَّلَ فِي الدُّنْيَا مَعَ قِلَّتِهِ وَتَكْدِيرِهِ بِالْمُنَغِّصَاتِ فَإِذَا مَاتَ صَارَ إِلَى الْعَذَابِ الدَّائِمِ وَشَقَاءِ الْأَبَدِ”.

“Ma’nanya: Bahwasanya setiap mu’min adalah dipenjara dan dilarang di dunia dari keinginan-keinginan yang diharomkan dan yang dimakruhkan, diberi beban dengan perintah untuk melaksanakan ketaatan-ketaatan yang memberatkan. Dan jika dia mati maka dia beristrahat dari yang ini, dan dia berbalik kepada apa yang telah Alloh janjikan untuknya dari keni’matan-keni’matan yang terus menerus dan kelengkapan yang terbebaskan dari kekurangan-kekurangan. Adapun orang yang kafir maka sungguh baginya adalah apa-apa yang dia peroleh di dunia bersama dengan sedikitnya dan kurangnya terhadap apa yang diinginkan, dan jika dia mati maka berubahlah kepada azab yang terus menerus dan kesengsaraan yang abadi”. (Al-Minhaj Syarhu Shohih Muslim bin Hajjaj: 18/93).

SESEORANG TIDAK PEDULI LAGI

 

Al-Bukhoriy Rohimahulloh berkata di dalam “Shohih“nya (no. 2083):

“حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ المَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لاَ يُبَالِي المَرْءُ بِمَا أَخَذَ المَالَ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ».

“Telah menceritakan kepada kami Adam, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa’id Al-Maqburiy, dari Abu Huroiroh, dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata: “Sungguh akan datang atas manusia suatu zaman, seseorang tidak peduli terhadap apa yang telah dia ambil dari harta, dari yang halal atau dari yang harom”.

Sekarang telah kita saksikan, yang penting bisa hidup, banyak yang menjual agamanya, walaupun sudah tahu tentang haromnya sesuatu masih tetap mengambilnya, dengan alasan mereka “mencari yang harom saja sudah susah apalagi mencari yang halal?!“.

Bahkan banyak dari umat Islam menjual agamanya lantaran ingin memperoleh secuil harta dan memperoleh kehidupan dunia yang rendah, sampai ada seorang lelaki asal Maluku yang dia adalah keturunan Arob (Yaman) supaya ingin menjadi polisi maka diapun murtad dari agama Islam dan dia memeluk agama Kristen, hingga menjadi polisi dan bertugas di Piru-Seram.

Dengan melihat keadaan seperti ini, maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا».

Bergegaslah kalian terhadap (pelaksanaan) amalan-amalan (kebaikan) di tengah-tengah fitnah (ujian) seperti potongan malam yang gelap, seseorang pada pagi hari dalam keadan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir, atau pada sore hari dia dalam keadaan beriman dan pagi harinya dia dalam keadaan kafir, dia menjual agamanya dengan secuil dari dunia“. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam “Shohih“nya (no. 118) dari hadits Abu Huroiroh.

Orang yang menginginkan kekafiran dengan cara menjual agamanya maka Alloh Ta’ala bukakan rezqinya akan tetapi sebagaimana telah kita sebutkan bahwa dia akan diseret ke dalam neraka Jahannam, Alloh Ta’ala berkata:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا} [الإسراء: 18].

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (dunia), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya Jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir”. (Al-Isro’: 18).

 

Demikian pembahasan yang singkat ini, semoga bermanfaat.

ونسأل الله عز وجل أن يوفقنا وجميع المسلمين للهداية والسداد، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

Selesai ditulis oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy

Di Masjid As-Sunnah Madinah Sakaniyyah Sa’wan Sana’a

Pada Kamis 21 Robiul Awwal 1434

 


Daftar Pustaka

 

1.          Al-Qur’anul Karim.

2.          Al-Jami’ul Musnad Ash-Shohihul Mukhtashor/Muhammad bin Isma’il/Al-Bukhoriy Al-Ju’fiy/Dar Thouqin Najah/Cetakan Pertama/1422 H.

3.          Musnad Al-Imam Ahmad/Penulis Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal/Penerbit Muassasah Ar-Risalah/Tahun 1421H-2001 M.

4.          Al-Musnadush Shohih/Muslim bin Hajjaj An-Naisaburiy/Dar Ihyatit Turots Al-‘Arobiy-Beirut.

5.          Sunan Ibni Majah/Muhammad Ibnu Majah Yazid/Dar Ihyail Kutub Al-‘Arobia.

6.          Sunan At-Tirmidziy/Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidziy/Maktabah Mushthofa Al-Babiy/Cetakan Kedua/Tahun 1395 H-1975 M.

7.          An-Nihayah fii Ghoribil Hadits wal Atsar/Abus Sa’adaat Al-Mubarok Ibnu Atsir/Penerbit Al-Maktabah Al-‘Ilmiyyah Berut/Tahun 1399 H-1979 M.

8.          Al-Minhaj Syarhu Shohihi Muslim bin Hajjaj/Yahya bin Syarf An-Nawawiy/Penerbit Dar Ihyait Turots Al-‘Arobiy Beirut/Cetakan ke 2/Tahun 1393.

9.          Lisanul Arob/Muhammad bin Mukrim Al-Anshoriy/Penerbit Darul Shodir Beirut/Cetakan ketiga/Tahun 1414.

10.      Tafsir Ibni Katsir/Abul Fida’ Isma’il bin Katsir/Penerbit Dar Thoyyibah/Cetakan kedua/Tahun 1420 H-1999 M.

Iklan

Comments on: "Kunci Rezeki" (11)

  1. Bismillaah.

    Jazakalloohu khoiron. Mudah-mudahan ilmunya diberkahi.

    Saya ingin bertanya. Di suatu artikel yang pernah saya baca, kita dilarang untuk bekerja di tempat ikhtilath, misalkan di sekolah-sekolah umum. Saat ini, kita sudah menyaksikan banyak lembaga yang menawarkan les privat di rumah. Bagaimana hukum bekerja sebagai pengajar privat dimana misalkan kita laki-laki dan murid kita laki-laki (jadi tidak ada ikhtilath di dalamnya)?

    Diketahui bahwa untuk mendirikan apotik di Indonesia biasanya memerlukan fotokopi KTP dan fotokopi ijazah yang di dalamnya ada foto kita. Pendirian seperti ini bukankah melanggar syariat, yaitu tentang suroh? Bagaimana jika telah ada apotik yang berdiri dan kita bekerja di dalamnya? Apa hukumnya?

    Suka

  2. Apakah tidak ada yang mau membantu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas? Ini urgen sekali, orang tua saya menuntut untuk bekerja, bahkan kakek sampai turun menasihati saya langsung. Saya sudah lulus S2 setahun yg lalu, tadinya mau jadi dosen, tetapi atas ilmu din yang Alloh beri, saya urungkan niat saya karena khawatir melanggar syariat seperti: tasyabuh, ikhtilath, foto dan adanya muamalah dengan bank. Jazakalloohu khoiron

    Suka

    • al murtadho said:

      BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM, mgkn admin ashhabul hadits atau ikhwah yg lain belum sempat mmbaca pertyaan antum. tpi ana coba berbagi dgn antm, ana lulusan S1 bhs inggris dan tahun 2000 menjadi guru tetap bhs inggris di LIA (lembaga Indonesia Amerika) lampung dan sekaligus dosen terbang di beberapa perguruan tinggi di lampung. sejak tahun 2007 ana mengundurkan diri menjadi guru tetap di LIA dan menolak tawaran mengajar di perguruan tinggi. pada tahun 2005 ana memiliki lembaga kursus khhusus untuk anak-anak namun pd thn 2010 lembaga ana bubarkan dgn pertmbngan syar’i. sisa modal yg ana pya ana invest kan ke obat–obatan medis yg dipakai untk pasien istri. sejak thn 2011 ana mbantu istri dalam mnjalankan praktekny yg khusus perempuan dan anak-anak hya di bawah 7 thn yg dilayani. smpi skrg ana jg lgi cri peluang usaha ya akhy. ana melihat usaha air minum isi ulang RO (reverse Osmosis) tu bgs tpi blm cukup mdl. ya skrg msh sibuk bntu istri praktek di rmh buka jam 06 – 09.30 dan 14.00 – 17.30 (tdk praktek mlm). disela-sela itu ana mengjar anak-anak dan istri. ba’da shubuh tasmi’ hafalan al quran yg baru , pagi jam 9 atau jam 10 pelajaran ad dien yg lain: figh, aqidah, do’a-doa’, bhs. arob. hadits arbain, dan jg pljrn umum, mtk & bhs. indonesia. ba’da zhuhur tasmi’ hafalan lama. utk maslah KTP, tdk mengpa kita miliki karena darurat dan diharuskn olh pmrinth tuk memilikiny. maslah bekerja di apotik insyalah tdk mgapa atau boleh, tpi lebih baik meninggalkannya. itu sj dari ana. mgkn ikhwah yg lain yg bisa jwb lebih pas.tafadhdhol.

      Suka

      • Jazakalloohu khoiron. Mudah-mudahan Alloh berkahi Antum dan keluarga. Apakah Antum pernah memakai PayPal? Apakah boleh memakai PayPal? Yg ana tau, ketika kita mau tarik uang lewat PayPal, kita harus punya rekening di bank. Sekarang ana sedang mempersiapkan diri untuk menjadi freelancer online sebagai web developer sekaligus programmer. Ini dapat menghindari ana dari: keluar rumah/ikhtilath (dimana saat ini wanita membuka aurat tumpah ruah dimana-mana), tasyabuh (memakai pantaloon) dan dari membuat foto. Tetapi umumnya transaksi pengiriman uang dilakukan dengan PayPal. Oleh karena itu ana perlu tau kebolehan memakainya. Ana mendapat jawaban tentang muamalah dengan bank dari blog ini dalam artikel topik lain, yang dijawab Abu Sholeh, berikut linknya: https://ashhabulhadits.wordpress.com/2012/02/18/masalah-bank-riba/#comment-1115

        Sekedar memastikan, apa betul ana boleh melakukan penerimaan lewat bank (itu artinya kita punya rekening di bank) asalkan setelah pengiriman ana langsung ambil uangnya sehingga kita tidak membiarkan uang kita digunakan bank untuk transaksi ribawi?

        Yg ana khawatirkan dari mempunyai rekening di bank adalah: ana punya rekening di bank, dengan mempertahankannya berarti ana akan menyimpan uang (setidaknya untuk membayar jasa kepemilikan rekening yang biasanya dipotong setiap bulan) sehingga dengan ini bank mempunyai keuntungan dan bank ribawi tetap ada. Bagaimana menurut Antum?

        Bagaimana dengan para santri yang jauh dari orang tua? Bolehkah mereka menerima uang lewat bank? Jazakalloohu khoiron..

        Suka

  3. Bismillah. Setahu ana saat mendengar muhadloroh syaikh al iryani, tdk dperkenankan membuka rekening di bank, demikian pula yg pernah ana baca pada artikel di ahlussunnah web id, ana lupa siapa yg menulis mungkin ust shiddiq atau ust irham, karena berarti telah menandatangani muamalah riba, sdg riba adalah dosa besar. Yg boleh oleh syaikh hanya mengirim uang lewat bank bila terpaksa.saat ini kebanyakan ikhwan memakai wesel pos instan dan western union untuk pengrman luar negeri.

    Suka

    • Na’am shohiih, kalau mau lebih jelas tentang permasalahan riba ini, lihat tafsir As-Sa’di rohimahullah pada surat Al-Baqarah, kuranglebih inti dari perkataan beliau agar orang-orang beriman untuk menjauhi semua perkara yang berhubungan dengan riba, karena riba ini diperangi Allah dan RasulNya.

      Suka

    • @Irma: Jazakalloohu khoiron. Alhamdulillaah ana tidk terburu-buru mengambil pendapat yang ditulis Abu Sholeh. Akan ana sampaikan kepada Abu Sholeh pendapat Sy. Al Iryani tersebut, insya Allooh.

      Diantara contoh keterpaksaan pengiriman uang lewat bank itu apa ya? Apakah santri yang jauh dari orang tua dan orang tuanya mengirim uang lewat bank adalah salah satu bentuk keterpaksaan? karena ana tau ada santri di pondok salafi di daerah Kuningan, Jawa Barat (yang diasuh Ust. Fathurrohman dan Ust. Abdul Alim), mengirim uang lewat bank.

      Mengapa WU dan wesel pos instan dibolehkan? Ana sudah mencoba mengirim uang lewat keduanya, tetapi ana urungkan karena keduanya membuat ana atau setidaknya si penerima memfotokopi KTP. Di sini kita terjatuh ke dalam membuat suroh.

      @Abu Jasmine: Jazakalloohu khoiron. Apakah Antum punya artikel/audionya beserta terjemahannya ke dalam B.Indo?

      Suka

      • al murtadho said:

        Bismillaahirrohmaanirrohiim.

        Dalam kitab kaidah fiqhiyah karya asy syaikh as sa’dy mengatakan :

        1. “APABILA BEBERAPA MASLAHAT BERBENTURAN, MAKA DAHULUKAN YANG PALING UTAMA MASLAHATNYA”
        2. “SEBALIKNYA, JIKA BEBERAPA MAFSADAH (KEJELEKAN/KERUSAKAN) BERBENTURAN, MAKA AMBILLAH YANG PALING KECIL KERUSAKANNYA”

        Coba kita bandingkan :
        Bila membuka rekening di bank (walau hanya sekedar untuk transfer / tarik uang)
        a. Menyerahkan photo copy KTP
        b. Memberikan uang buka rekening sebesar Rp.250ribu (BRI) dan Rp.500rb (MANDIRI)
        Bahkan yang ana dapatkan infonya untuk rekening yang baru dibuka di bank mandiri tidak boleh melakukan transaksi penarikan selama dua minggu pertama.
        c. Menanda tangani/memberi paraf akad kesepakatan ribawi yang tidak kita perhatikan isinya (karena sekedar paraf-paraf saja) termasuk biaya administrasi yang akan dipotong setiap bulan bila menggunakan kartu atm dan tidak menggunakan kartu.
        d. Dengan dipotong setiap bulan utk biaya admin berarti kita telah menyuburkan riba
        e. Apakah kita yakin kita selalu bisa menarik uang kiriman langsung sebelum dimanfaatkan oleh pihak bank? (banyak udzur yang bisa terjadi misal uang atm machine nya habis / rusak atau yang lainnya dan atau kita yg pya udzur dari segi waktu)

        Bila mengirim uang atau menarik uang melalui wesel atau WU
        a. Menyerahkan photo copy KTP
        b. Menyerahkan uang yang akan ditransfer/mengambil uang yg ditransfer olh org lain
        c. Bila ada udzur utk mengambil uangnya tidak ada bunga dan denda dsbnya

        Jadi, mana yang menurut antum mafsadahnya (kerusakannya) yang lebih kecil? Sedangkan masalah KTP itu kepemilikannya dinyatakan sebagai darurat oleh ulama kita. karena kita harus memilikinya kalau tidak memilikinya maka akam memberi mudhorot kpd kita sendiri. Masalah memberikan photo copy KTP adalah syarat yang diberlakukan oleh pemerinth kita. Klw tdk demikian maka tdk tercapai maslahat yg akan di ambil. Bila ada cara yang lebih baik dari dua cara di atas (mggunakan rek bank / wesel & WU), maka sangat berbahagialah kita. Namun pd knyataannya tidak ada cara lain ya akhy…
        Seperti apa yang dikatakan oleh asy syaikh as sa’dy dalam kaidah fiqhiyahnya:
        “SETIAP YANG DILARANG SAAT KEADAAN DARURAT DIPERBOLEHKAN SEKEDAR MEMENUHI KEBUTUHAN DARURATNYA SAJA”
        Seperti kita akan membuka sebuah usaha utk izinya maka syarat KTP dan atau Ijazah tidak bisa kita hindari. Namun bila kita bisa buka usaha yang tidak terkait pd kedua itu, itu lbh afdhol..misal berdagang keliling, atau berdagangyang lain yang tidak harus ada izinya. (rata-rata usaha perlu izin)
        cukup dulu dari ana mgkn ada yg lebih tepat meberikan jawaban tafadhdhol.. bila ada salah mhn dikoreksi.

        Suka

      • Kalo begitu ana sarankan untuk yang mengirim uang lewat wesel pos atau WU: ketika fotokopi KTP, tutupi bagian mata fotonya ketika memfotokopinya, jika petugas pos atau WU tidak percaya dengan hasil fotokopian tersebut, tunjukkan KTP yang asli. Bagaimana menurut ikhwan semuanya?

        Berarti saat ini pekerjaan yang insya Alloh tidak melanggar syariat adalah: jualan keliling atau mungkin bisa juga buka warung di rumah. Ana masih bertanya2 kepada diri sendiri terkait pertanyaan berikut ini:

        Misalkan kita jualan di pasar, di sana banyak pedagang wanitanya juga. Bukankah ini termasuk ikhtilath? Apalagi ditambah ibu2 yang sering belana ke pasar. Ditambah lagi tidak sedikit yang membuka aurat. Bagaimana perdagangan yang dilakukan di pasar pada jaman Nabi? Bagaimana perdagangan yang dilakukan ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Umar dan yang lainnya?

        Teman ana bertanya kepada ana ketika ane tidak mau bekerja karena takut ikhtilath dengan pertanyaan senada dengan ini: Jika kamu misalkan buka warung, lalu pembeli adalah wanita, bukankah ini ikhtilath? Ana belum bisa menjawab, lalu dia sepertinya mempertanyakan konsistensi ana.

        Lalu, misalkan kita jualan keliling (sebagaimana yang dilakukan beberapa ikhwan yang ana tau) dengan banyaknya wanita yang membuka aurat dan keluar rumah, yang tidak mengetahui atau tidak mau menjalankan syairat membeli dagangan kita, bukankah ini ikhtilath?

        Ana tunggu nasehat ikhwan semua. Akan sangat membantu ana yang sedang tertekan saat ini. Tertekan oleh orang tua, kakek, dan teman ana. Jazakalloohu khoiron

        Suka

  4. al murtadho said:

    semua hal yg antm sebubkan tdk bisa tidak kita hindari, bertemu dengan pembeli wanita meskipun berdagang keliling, belanja di pasar, buka toko di pasar, buka toko di rumah, memiliki KTP. coba antum bayangkan ya akhy klw ga pya KTP maka kita akan dituduh teroris, orang gelap, dll. juga klw kita tidak memiliki SIM, maka kita akan ditangkap pada saat razia dsbnya. dan bagaimana kita bermuamalah jika kita harus menghndari secara total bertemu dgn wanita. kita hya bisa memperkecil mudhorot nya saja dengan menjaga pandangan kita, berbicara seperlunya yg berkaitan dengan dagang kita. coba antum perhatikan kalimat-kalimat ushul fiqh dari syaikh as sa’dy yang ana kutip di comment ana sebelumnya dan renungkan kalimat-kalaimat tersebt dan coba kaitkan segala hal yang menjadi pertanyaan antum selama ini. ana sarankan antum untuk menghubungi admin ashhabul hadits utk dicarikan pembahsan tentang ikhtilat. o ya akh klw boleh tahu antum S2 nya jurusan apa? lulusan mana? usia antum berapa? sudah berkeluarga blm? sdh pya putra/putri? klw boleh ana minta alamat email antum agar dapat mengirimkan tulisan yg panjang. klw di comment ini kurang pas akh..

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: