“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

SALAFIY PALSU

BILA MENGAMALKAN AS-SUNNAH SELALU MALU

imamahPertanyaan:

Seorang pulang dari Dammaj dia malu pakai sorban, karena di Indonesia tidak ada seperti itu, jadi dia cuma memakai topi atau peci, bagaimana hukumnya?

Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم، وبه نستعين، وبعد:

Tidak sepantasnya bagi seorang muslim malu dalam melaksanakan kebaikan atau melaksanakan sunnah-sunnah Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

Seseorang teranggap kokoh keimanannya bila dia benar-benar mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله“.

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah aku (Rosululloh), niscaya Alloh akan mencintai kalian”.

Lebih mengherankan kalau ada yang dari Dammaj malu mengamalkan sunnah itu, hendaklah orang yang pemalu itu bertaqwa kepada Alloh, bagaimana bisa dia malu? para wanita Salafiyyah saja mayoritas mereka belum pernah ke Dammaj atau ke majelis ulama’ namun mereka sudah berani memakai jubah wanita muslimah yang berwarna hitam, bahkan plus cadar, maka tidakkah malu para pemalu itu kepada para wanita yang pada asalnya mereka adalah lemah?.

Sebagian orang yang mengaku sebagai salafiyyun terkadang menganggap sorban hanyalah sebagai pakaian khusus ulama atau mereka menganggap itu adalah pakaian laskar jihad, mereka lebih senang hanya dengan memakai peci.

Memakai peci jika tujuannya untuk menutupi kepala sebagai bentuk pengamalan terhadap sunnah maka dia ternilai sebagai pengamalan sunnah, adapun kalau dia memakai peci dengan tujuan untuk menjauhi imamah (sorban) atau bertujuan untuk menyelisihi atau melenyapkan sunnahnya memakai imamah dengan alasan karena di negrinya tidak ada yang memakainya maka sungguh dia telah membuat penentangan yang nyata:

فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم“.

“Maka hendaknya orang-orang yang menyelisihi terhadap perkaranya takut ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih”.

Wallohu A’lam wa Ahkam.

Di Jawab Oleh Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory

Tulisan Ilmiyyah Lainnya :

Iklan

Comments on: "Salafy Palsu Bila Mengamalkan As-Sunnah Selalu Malu" (11)

  1. Abu Sholeh Muslih Al Madiuny said:

    Bismillah. Tidak selayaknya bagi seorang muslim apalagi mengaku sebagai salafi untuk malu mengenakan ‘imamah dalam kehidupan sehari-harinya, karena itu termasuk pakaian muslim yang dahulu dikenakan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan para salafus sholeh. Siapa yang mencintai beliau mesti senang dan ingin meniru gaya hidup beliau yang sebagai uswatun hasanah (teladan yg baik) di semua sisi kehidupan termasuk di dalamnya cara berpakaian. Memang, ‘imamah atau sorban bukanlah syarat sah seseorang itu dikatakan salafi atau bukan, bukan juga wajib hukumnya, juga bukan sunnah menurut zatnya (sunnah mutthoridah), akan tetapi termasuk adat istiadat (sunnah jibilliyah) yg seorang muslim jika meniatkan dirinya ketika memakai ‘imamah utk meniru Rasulullah, maka ia akan mendapatkan pahala lantaran niatnya tsb. Jadi janganlah kita malu untuk memakainya, apalagi membencinya dan suka memakai topi-topi model kuffar yg banyak ditemui di pasaran. Maka dikhawatirkan dgn itu kita akan terjatuh ke dalam dosa lantaran penyerupaan kita terhadap kaum kafir itu. Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda‏ ‏dalam sebuah hadits yang dihasankan para ahli hadits,
    ‎من تشبه بقوم فهو منهم
    “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” Ini mengandung larangan utk menyerupai kaum kafir, baik berkaitan dengan masalah agama maupun adat-istiadat. Semoga Allah ta’ala memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kaum muslimin untuk meniti jalan yang dicintai dan diridhoi olehNya dan menjauhkan dari jalan-jalan yang dibenci dan dimurkai olehNya…

    Suka

  2. Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan, bainal ifrath wa tafrith. Apa yang tidak ada keharusan dalam syariat tidak perlu kemudian mengharuskan umat dengannya, apalagi menjadikannya sebagai tanda keimanan seseorang, yang bila tidak diamalkan menunjukkan lemahnya iman. Asy Syaikh Al Utsaimin dalam sebagian fatawanya justeru mencela orang yang memakai imamah didaerah yang orang-orang sekitarnya tidak terbiasa dengannya dan menjadi sebab ghibah orang-orang tersebut terhadap pelakunya dan beliau memasukkannya kedalam jenis pakaian kemasyhuran. Bukan berarti memakai imamah itu dicela secara mutlak. Semuanya tetap melihat kepada mashlahat dan mafsadat. Jangan sampai hanya dengan mempertahankan imamah menyebabkan umat menjauh dari da’wah karena kejahilan mereka dan kuatnya syubhat ahlul bathil didalam menghalangi umat dari agama yang haq ini. Wallahu a’lam bish showab.

    Suka

  3. Abu Sholeh Muslih Al Madiuny said:

    Bismillah. Hadits larangan memakai pakaian kemasyhuran diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya dari Ibnu Umar dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam,
    ‎من لبس ثوب شهرة من الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة -وفي رواية بزيادة- ثم ألهب فيه نارا ‏‎
    “Siapa memakai pakaian kemasyhuran dari dunia, maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada hari kiamat -dalam riwayat terdapat tambahan- lalu menyalakan padanya api neraka.” Menurut Sheikhuna Yahya Hafidhohulloh bahwa hadits ini yang shohih adalah mauquf (dari perkataan Ibnu Umar) sebagaimana dalam ‘Ilal Ibnu Abi Hatim no. 1471. Adapun Sheikh Al Albani Rahimahullah menghasankannya sebagaimana dalam Taroju’at beliau. Makna pakaian kemasyhuran di sini adalah sebagaimana diterangkan para ulama (diantaranya Asy Syaukani, Al Albani, Syaikh Yahya dan lain-lain) yaitu setiap pakaian yang dimaksudkan oleh si pemakainya untuk kemasyhuran di tengah-tengah manusia, baik pakaian itu bagus untuk membanggakan dirinya atau jelek untuk menampakkan diri bahwa dia itu zuhud, baik pakaian syar’i atau tidak, sehingga menjadi pusat perhatian sesuai keinginan pemakainya. Jadi hal ini kembali kepada tujuan dan niat dari sang pemakai, bukan dilihat dari pakaiannya yang berbeda dengan orang-orang disekitarnya. Lihat ‘Jilbab’ karya Sheikh Al Albany Rahimahullah. Dengan demikian, maka memakai pakaian syar’i seperti gamis, imamah, sarung, kopyah dan sebagainya di tengah-tengah masyarakat yang kebanyakan mereka pakaiannya menyerupai orang kafir dan tidak syar’i bukan termasuk dalam hadits ini menurut pendapat yang kuat. Memang, sebagai da’i harus pandai-pandai dalam membimbing umat. Jika sekiranya umat belum bisa menerima gamis dan imamah misalnya, maka bisa memakai kopyah atau songkok, sarung dan sebagainya yang itu juga pakaian muslim yang banyak dikenal & dipakai masyarakat sambil dibimbing kepada yang lainnya. Jadi, sebagaimana yang dikatakan yaitu tidak ifroth dan tafrith dalam masalah ini. Tidak mengatakan bahwa hal itu wajib, juga tidak mengatakan bahwa hal itu ada celanya dan ditinggalkan. Wallohu ta’ala a’lam.

    Suka

  4. Jangankan memakai imamah…memelihara jenggot saja sudah di ghibahi habis-habisan…demikian halnya dengan kain di atas mata kaki, di cela kaya orang kebanjiran…
    lantas apakah kita cukur jenggot kita?
    …kita julurkan pakaian kita?
    …tidak bukan?
    …yang kita berlomba-lomba padanya adalah ‘al khoyr’
    …bukan ‘urf masyarakat setempat…

    Suka

    • Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Jawy memberikan penjelasannya kepada kami : Al Imam Ibnul Qoyyim Rahimahulloh menukilkan dari seorang ulama yang bernama Abul Qosim Rahimahulloh yg berkata: “Sesungguhnya ‘imamah adalah makota orang-orang Arab dan kemuliaan mereka di atas seluruh umat yang lain. Dan ‘imamah itu dipakai oleh Rasululloh Shallallohu’alaihiwasallam dan para Shahabat sepeninggal beliau.
      Tentang memakai ’imamah atau sorban, maka ana dengan mohon Taufiq pada Allah menganjurkan untuk memakainya. Meniru Rasululloh Shallallohu’alaihiwasalam dan para Salaf lebih kita sukai daripada meniru adat yang lain.
      Maka ‘imamah adalah pakaian Arab yg terdahulu, dan itu pakaian Rosululloh shollallohu’alaihiwasallam dan Shohabat, maka ‘imamah adalah pakaian Islam.” (“Ahkam Ahlidz Dzimmah”/hal. 240).

      Suka

  5. Setuju dengan kutipan Abu Jasmine…bagaimana kabar antum bu?…sehat-sehat saja kah….baarokallohu fiik…

    Suka

  6. Abu Mush'ab Ahmad Makassar. said:

    Bismillaah sebagian orang salah paham mereka mengatakan kenapa di samakan antara hukum jubah dan cadar(pakaian yang menutup aurat wanita) dengan memakai imamah bagi lelaki,bukankah jubah dan cadar wajib sedangkan imamah hanya sunnah jibiliyah?
    Sebagian Lagi mereka yang salah faham mengatakan kalau tidak memakai imamah berarti salafy palsu ini ghuluw (berlebihan).
    ~ Maka kami jelaskan sesuai yang kami pahami berdasarkan pembahasan sebelum yakni “Hukum Penutup Kepala” bahwa syahid dari pembahasan Abu Ahmad Muhammad Limboro Hafidzhohulloh,bahwa beliau tidak menyamakan hukum imamah dengan cadar,tetapi penyebutan wanita muslimah yang mereka adalah lemah(setengah akal dan agamanya) namun tidak malu memakai cadar,ini adalah motivasi kepada kaum lelaki agar tidak menepatkan malu bukan pada tempatnya apalagi lelaki di sifatkan Ar Rijal Qowwamuna Alannisa semestinya seorang lelaki lebih bersemangat mengamalkan sunnah Rasulululloh dalam kehidupan sehari-hari baik yang mencakup adat kebiasaan beliau,terlebih lagi dalam lingkup ibadah.
    ~ Adapun perkataan ghuluw jika mengatakan bahwa tidak memakai imamah ini juga pemahaman yang tidak tepat,karena syahid pembahasan diatas di titik beratkan kepada niat dan tujuan,perhatikan (secara makna) “jika ia pakai peci karna ia tidak mau memakai imamah dengan alasan di tempatnya tidak ada yang mengamalkannya atau ia memakai peci untuk/menghilangkan atau melenyapkan sunnah(jibiliyyah)imamah,maka inilah yang beliau maksudkan,berdasarkan dalil “faman roghiba an sunnati falaisa minniy”.
    ~ Saudaraku ingatlah kabar gembira dengan pahala yang besar bagi mereka yang menghidupkan sunnah Rasululloh di tengah umat islam yang telah meninggalkannya/melupakannya.
    ~Kabar gembira dengan pahala yang terus menerus bagi mereka yang memberikan teladan yang baik lalu orang lain mengikutinya,berdasarkan Hadits man sannah sunnatan hasanah ila akhr hadits.
    ~adapun sunnah jibiliyah seperti pakaian sarung ,peci,burnus,imamah,rida dan lain-lainnya hukum asalanya boleh, namun bernilai pahala jika di niatkan untuj/meneladani Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam berdasarkan (QS : ali imran 31), Wallohu a’lam.

    ~ Pertanyaan buat Abu Ahmad Muhammad Hafidzhohulloh apakah pemahamaman ana diatas benar? jika salah tolong di luruskan?

    Jazaakallohu khoiron wa baarokallohu fiikum..

    Suka

  7. Bismillah…jabaran nya bagus tuh ya abu…

    Suka

  8. yang membenci orang2 yang memakai imamah ada 2 golongan, satu orang awam, satu lagi orang yang benci dengan sunnah.. orang2 salafi palsu bisa jadi masuk golongan kedua.

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: