“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

AWAS PERKARA KECIL

MEMBIKIN GANJIL

PERTANYAAN:

Apakah benar kalau orang masih Belajar tidak boleh ditulis gelar USTADZ di awal namanya, walaupun dia sudah ngajar dan sudah khutbah Jum’at?, saya tanyakan ini karena di tempat tinggal kami bila seorang Ustadz tidak dipanggil Ustadz atau tidak ditulis Ustadz dipermulaan namanya maka dianggap tidak Sopan.

Saya dan keluarga suka baca-baca berita perang Dammaj di situs Isnad banyak berita dari ustadz Ahmad Rifa’i tapi ia tidak ditulis dengan ustadz, pas tadi saya coba buka di google dapat pula berita perang Dammaj di situs resmi Darul Ilmi, saya dapati tertulis: dari Ustadz Nasrul (Porbolinggo) dari Ahmad Rifa’i di Dammaj.

Pertanyaan Saya:

Kenapa Ustadz Ahmad Rifa’i tidak ditulis dengan Ustadz, padahal anakku bilang itu Ustadz mereka di Ponpes sebelum ia ke Dammaj?.

NB: Maaf Ustadz pertanyaan ini sudah diajukan ke Ustadz dekat tempat tinggal kami namun kami diberitau untuk teruskan ke nomer Ustadz.

JAWABAN:

بسم الله الرحمن الرحيم.

وبه نستعين، وبعد:

Subhanalloh, semoga Alloh memperbaiki keadaan kami dan kalian sekeluarga, sesungguhnya gelar semisal Ustadz bukanlah suatu perkara yang perlu dipermasalahkan.

Seseorang yang dikenal sebagai da’i, penceramah dan pengajar tidak akan jatuh martabatnya walaupun tidak ditulis gelar di awal namanya karena:

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

“Sesungguhnya yang paling mulianya kalian di sisi Alloh adalah yang paling bertaqwanya kalian”.

Bila kita melihat umat Islam di zaman ini ketika mereka menulis nama seseorang dari ulama maka mereka menulis dengan gelar syaikh, begitu pula jika menulis nama seorang da’i maka ditulis dengan gelar ustadz, namun bila menulis nama seseorang dari shohabat Nabi maka tidak ditulis dengan gelar.

Jangan difahami orang yang ditulis dengan gelar itu lebih mulia dari pada para shohabat!, Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

“خير الناس قرني”.

Sebaik-baik manusia adalah di zamanku”. Ya’ni para shohabat.

Jadi kalau ada yang menyeru orang lain dengan tanpa menyebut gelarnya maka itu bukan berarti merendahkannya, di zaman para shohabat banyak dari kaum muslimin menyeru Rosululloh dengan seruan:

يا أبا القاسم

“Wahai Abul Qosim”.

Dan bahkan kalau kalian mengikuti pengajian seorang ustadz yang paling beradab sekalipun kalau dia membaca hadits maka kamu akan dengarkan menyebutkan nama shohabat semisal:

“عن أبي بكر، أو عن عمر، أو عن عثمان”.

“Dari Abu Bakr atau dari Umar atau dari Utsman”.

Maka tidak benar bila kemudian ada yang berkata kepada Ustadz itu dengan perkataan tidak beradab karena tidak menyebut dengan gelar amirul mu’minin.

Kami nasehatkan untuk jangan mempermasalahkan gelar seperti ini, dahulu kaum khowarij memberontak kepada Ali karena diantara sebabnya beliau tidak menulis gelar Amirul Mu’minin di dalam lembaran perdamaian antara beliau dengan Mu’awiyyah.

Kami nasehatkan agar jangan menjadikan perkara kecil semisal gelar Ustadz ini sebagai permasalahan besar, yang dengan itu akan menjadi salah satu sebab timbulnya kebencian diantara sesama.

Ya Alloh persatukanlah semua hamba-hamba-Mu yang beriman dalam melawan musuh-musuh-Mu, dan janganlah jadikan perpecahan di antara mereka.

والحمد لله رب العالمين.

Ditulis Oleh:  Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al Limbory

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: