“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

TIDAK ADA YANG LEBIH INDAH DARI PADA BERSABAR DI TENGAH MUSIBAH

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين. أما بعد :

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam paling besar ujiannya dan paling banyak mendapatkan gangguan dari kaumnya, namun gangguan itu tidak membuatnya berkecil hati dari menda’wahkan kebenaran kepada kaumnya, walaupun beliau disakiti, dilecehkan, diganggu dan bahkan ketika menyerukan kebaikan beliau dihujani dengan lemparan batu hingga meneteskan darah dari wajahnya, namun dengan itu tidak membuat beliau berhenti dari da’wahnya, beliau memiliki jiwa yang pemaaf, beliau disakiti namun beliau bersabar sambil mengharapkan kebaikan di balik perlakuan itu, beliau berdoa:

اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون“.

“Ya Alloh ampunilah terhadap kaumku, karena sesunggunya mereka tidak mengetahui”.

Dan terbukti sifat pemaaf beliau adalah menerima Abu Sufyan, padahal Abu Sufyan ini adalah tokoh besar Quroisy yang paling berandil dalam menyakiti dan mengganggu Rosululloh dan orang-orang yang beriman, ketika kaum muslimin sudah menguasai Makkah dan Abu Sufyan sudah terjepit, diapun kemudian menyatakan keislamannya, Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pun menerima keislamannya, dan beliau tidak membuka lembaran-lembaran masa lalunya.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam selalu mengingatkan tentang keadaan saudara-saudaranya para nabi, bila beliau disakiti maka beliau menganggap itu lebih ringan dari pada nabi sebelumnya, beliau berkata:

لقد أوذي موسى بأكثر من هذا فصبر“.

“Sungguh telah disakiti Musa dengan yang lebih banyak dari ini namun dia bersabar”.

Begitulah keadaan Rosul kita, walaupun beliau diusir dari negri kelahirannya yang tercintai hingga beliau hijroh ke negri lain, namun itu tidak membuat beliau putus asa mengharapkan kebaikan dengan masuknya ke dalam Islam orang-orang musyrik yang di Makkah, yang mereka itu telah menyakiti dan mengusir beliau dari Makkah.

Bila seseorang mengikuti akhlaq beliau yang mudah memaafkan ini maka sungguh hatinya akan lapang, jiwanya akan tentram dan kehidupannya akan bahagia, walaupun dia keadaannya seperti Rosululloh yang hidup bersama istrinya di rumah yang sangat kecil dengan makanan apa adanya namun karena keimanan telah tertancam kokoh di dalam hati maka kehidupan yang pas-pas itu bukanlah menjadi penghalang mencari kebaikan dengan menebarkan akhlaq yang mulia di tengah umat yang penuh dengan fitnah.

Di Tulis Oleh : Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al Limbory

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: