“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

TRAGEDI JUM’AT DAN SABTU

Abu Ahmad persiapan

Ditulis oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy

Semoga Alloh mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan saudara-saudarinya

 

PENDAHULUAN

بِسمِ الله الرَّحمنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ، أَحْمَدُهُ، وَأَسْتَعِينُهُ، وَأَسْتَنْصِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد:

Sungguh benar apa yang kami katakan pada akhir tulisan kami yang berjudul “Bertempur Lagi…“: “….namun sudah merupakan kebiasan buruk kaum kafir Rofidhoh dari sejak tragedi Muharrom 1433 hingga hari kita ini, mereka selalu khianat dan membuat kecurangan serta terus menerus membuat makar akan tetapi cukuplah bagi kami apa yang telah Alloh katakan:

{وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ} [آل عمران: 54]

“Dan mereka (orang-orang kafir itu) membuat makar (tipu daya), dan Alloh membalas tipu daya mereka itu. Dan Alloh adalah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (Ali Imron: 54)”.

Setelah beberapa hari dari hari-hari diadakannya perdamaian oleh Lajnah (Tim Penengah), ternyata kaum kafir Rofidhoh menampakan kekafirannya secara nyata dengan tanpa diragukan lagi, ketika Lajnah mendatangi tempat mereka yang sudah menguasai kampung Thulul, maka mereka (kaum kafir Rofidhoh) melemparkan mushhaf Al-Qur’an di hadapan Lajnah, Lajnah hanya berdiam dengan tanpa ada pengingkaran, kalau perbuatan tersebut dilakukan di hadapan Ahlussunnah maka ada dua kemungkinan; Rofidhohnya yang mati atau Ahlussunnahnya yang mati karena kecemburuannya dalam membela Al-Qur’an.

Jika kembali kepada hukum asal terhadap siapa saja yang melakukan penghinaan terhadap Al-Qur’an maka hukumannya dibunuh, Jabir bin ‘Abdillah semoga Alloh meridhoinya berkata:

“أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ نَضْرِبَ بِهَذَا -يَعْنِي السَّيْفَ- مَنْ خَرَجَ عَنْ هَذَا. يَعْنِي الْمُصْحَفَ”.

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk kami memukulkan ini (ya’ni pedang) kepada siapa saja yang keluar dari ini (ya’ni Al-Qur’an)”.

Jangankan menghina mengatakan bahwa Al-Qur’an makhluk saja hukumannya adalah kafir, Ibnu Mahdi semoga Alloh merohmatinya berkata:

“وَلَوْ رَأَيْتُ رَجُلًا عَلَى الْجِسْرِ وَبِيَدِي سَيْفٌ يَقُولُ: الْقُرْآنُ مَخْلُوقٌ، لَضَرَبْتُ عُنُقَهُ “.

“Dan kalaulah aku melihat seseorang di atas suatu jalan dan di tanganku ada pedang, dan orang tersebut berkata: Al-Qur’an adalah makhluk maka sungguh aku akan tebas kepalanya”.

 

YANG TERJADI PADA MALAM JUM’AT

Pada tengah malam Jum’at bertepatan dengan tanggal 23 Syawwal 1434 tiga orang dari warga Dammaj berkendaraan sepeda motor berangkat dari Dammaj A’la menuju markiz Dammaj di tengah jalan mereka ditembak oleh kaum kafir Rofidhoh yang mengakibatkan jatuhnya korban, dua orang dari warga langsung mati semoga Alloh merohmati kami dan mereka.

Ketika Abu ‘Iyadh Al-Limboriy datang ke Wathon dengan membawa makanan maka para penjaga asal Soumalia pada kaget, sambil mereka berkata: “Kami mengira kalau dia (ya’ni Abu ‘Iyadh Al-Limboriy) sudah mati, bukankah tadi malam yang ditembak oleh Rofidhoh adalah yang berkendaraan sepeda motor”. Mereka menganggap seperti itu karena memang biasanya Abu ‘Iyadh Al-Limboriy kalau ke Wathon mengendarai sepeda motor, dan di matras mereka biasa yang pertama diberi makanan.  

 

YANG TERJADI PADA HARI JUM’AT

Menjelang fajar shodiq kaum muslimin Dammaj bersiap-siap untuk melaksanakan sholat shubuh, pada detik-detik itu terdengarlah bunyi-bunyi tembakan yang dilakukan oleh kaum kafir Rofidhoh terhadap kaum muslimin Dammaj, dan tembakan ini terus menerus mereka lakukan hingga kaum muslimin selesai dari menegakan sholat Jum’at di masjid Ahlissunnah Dammaj.

Setelah sholat Jum’at langsung kaum kafir Rofidhoh melepaskan tembakan mortir ke arah gunung Barroqoh, dan mortir itu berjatuhan mengenai puncak Barroqoh, tidak hanya sekali mereka melepaskan tembakan itu namun mereka lakukan berkali-kali yang mereka arahkan ke bukit Barroqoh, mereka melepaskan tembakan mortir hingga mengenai masjid Barroqoh, dan kali ini mereka belum menggunakan senjata berat berupa midfa’ (sejenis meriam), mereka masih menggunakan mortir; mulai yang berukuran kecil hingga yang berukuran besar.

Pada tragedi ini, juga yang terjadi pada pekan lalu sebelum adanya perdamaian Alhamdulillah tidak ada dari para anak-anak, para orang tua dan para wanita dari kaum muslimin yang jatuh korban.

Dengan banyaknya tembakan yang dilepaskan oleh para penembak jitu kaum kafir Rofidhoh mengakibatkan para pengantar makanan di Wathon tidak bisa menyebrangi jalan-jalan dan gang-gang rumah menuju Wathon, para penembak jitu terus mengintai dan terus pula melepaskan tembakan membabi buta ke jalan-jalan dan gang-gang rumah menuju Wathon, sungguh gila mereka, jalan-jalan yang tidak ada orangnya ditembak semua, tembok-tembok dan pagar-pagar kebun anggur mereka tembak, melihat hal demikian itu maka seorang bapak asal Indonesia berkata: “Tembak terus, terus tembak!, habiskan saja peluru-peluru kalian, tembak apa saja yang kalian lihat di depan kalian!”. Memang mereka benar-benar mabuk dan gila semoga Alloh menghancurkan mereka.

Dengan tidak adanya seorangpun bisa melewati jalan menuju Wathon maka para penjaga di Wathon tidak mendapatkan makan siang, mereka hanya bisa memakan sisa-sisa potongan roti yang diantar pada pagi harinya, namun bagi mereka ini adalah biasa, karena mereka telah merasakan waktu hishor yang lebih dahsyat dan mengerikan dari hari Jum’at ini.

Mereka kaum kafir Rofidhoh terus melepaskan tembakan hingga masuk waktu sholat ashar. Tidak berhenti di situ, namun setelah sholat ashar mereka masih saja terus menerus melakukan tembakan-tembakan yang membabi buta, menjelang maghrib mereka melepaskan tembakan mortir mengakibatkan jatuhnya korban, 2 (dua) penuntut ilmu asal Soumalia luka-luka akibat percikan mortir dan seorang warga Dammaj meninggal dunia.

 

YANG TERJADI PADA MALAM SABTU

Pada malam Sabtu kami bersama kawan-kawan ikut mengantarkan kebutuhan jaga di Wathon, tidak lama kemudian ada dua orang dari kaum kafir Rofidhoh mencoba masuk ke Wathon, ketika sudah berada di pintu masuk samping masjid Wathon berjumpalah dengan para penjaga asal Soumalia, dua orang itupun kaget setelah digertak oleh para penjaga asal Soumalia, dan diajak berkelahi tanpa menggunakan tembak,  keduanya mengangkat tangan yang menandakan kalau keduanya menyerah, keduanya dijadikan sebagai tawanan, keduanya ketakutan ketika melihat orang-orang Soumalia yang berwatak keras, sampai ada seseorang berkata: “Memang Rofidhoh itu takut sama orang Soumalia, mungkin karena mereka berkulit sangat hitam, dulu pernah ada seorang Rofidhoh datang dengan membawa senjata AK, ketika berhadapan dengan seorang Soumalia maka seorang Soumalia tadi mengancamnya dengan hanya memegang pisau, maka tiba-tiba seorang Rofidhoh tadi meletakkan senjatanya di tanah dan langsung mengangkat tangannya sebagai tanda kalau dia menyerah”.

Dan dua orang tawanan yang ditangkap oleh para penjaga asal Soumalia itu ketika diwawancarai maka keduanya mengatakan bahwa pada hari itu (ya’ni Jum’at) mereka (ya’ni Rofidhoh) sudah puluhan yang mati, rosysyasy (senjata besar berkaki tiga) mereka telah patah karena terkena tembakan dari para penuntut ilmu, ya semoga tidak hanya senjata itu yang rusak, semoga Alloh merusak senjata-senjata mereka dan membinasakan mereka sebagaimana Alloh binasakan orang-orang kafir sebelum mereka.

Syaikhuna Yahya semoga Alloh menjaganya pada kajian “Shohih Muslim” pada malam Rabu 21 Syawwal 1434 setelah beliau membaca hadits tentang kisah keluarnya Ya’juj wa Ma’juj beliau berkata: “Ya’juj dan Ma’juj perusak di muka bumi, mereka binasa dengan sebab doa Nabi ‘Isa ‘Alaihis Salam, maka berdoalah kalian atas mereka (kaum Rofidhoh), berdoalah kepada Alloh supaya membinasakan mereka!”.

Pada malam sabtu 24 Syawwal 1434 sekitar 300 (tiga ratus) orang dari kaum kafir Rofidhoh bersiap-siap untuk menyerang ke Wathon, namun pada malam itu salah satu dari mereka mencoba-coba mengintip kepada para penjaga Wathon, ketika dia mengangkat kepala dilepaskanlah tembakan oleh salah seorang penjaga di Wathon, diapun jatuh langsung mati semoga Alloh membinasakan mereka, dengan sebab itu membuat mereka ketakutan untuk meneruskan rencana jahat mereka.

 

YANG TERJADI PADA HARI SABTU

Pada siang harinya bertepatan dengan tanggal 24 Syawwal 1434 mereka kaum kafir Rofidhoh masih terus sibuk melepaskan tembakan membabi buta, namun tidak ada korban, kemudian datang Lajnah (Tim Penengah) dan mereka masuk ke arah Wathon, bersamaan dengan masuknya mereka, kaum kafir Rofidhoh melepaskan tembakan mengakibatkan jatuh korban seorang penuntut ilmu asal Soumalia.

Dan tujuan dari kedatangan Lajnah (Tim Penengah) adalah untuk menyampaikan permintaan agar diadakan perdamaian lagi, Syaikhuna Yahya dengan penuh kesabaran tetap mendengarkan permintaan mereka, padahal pada perdamaian pekan lalu mereka mengatakan bahwa kalau Khutsiyyun (ya’ni Rofidhoh) memulai melepaskan tembakan baru maka pesawat tempur pemerintah Yaman akan datang membom tempat-tempat mereka, namun ketika terjadi apa yang terjadi, berupa penembakan yang mereka lakukan bahkan dimulai dengan pembunuhan langsung, tidak terbukti apa yang dijanjikan oleh Lajnah itu, namun Syaikhuna dan para penuntut ilmu dengan penuh kesabaran tetap melayani dan mendengar apa yang disampaikan oleh para Lajnah selaku utusan penguasa, bukan hanya kali ini kaum kafir Rofidhoh berbuat khianat dan dusta namun dari sejak awal perang mereka telah berbuat khianat dan dusta, bukan hanya waktu itu bahkan dari zaman terdahulu mereka selalu khianat dan berdusta, Abul ‘Abbas Ahmad Al-Harroniy Rohimahulloh berkata:

“وَهُمْ أَكْذَبُ الطَّوَائِفِ”.

“Dan mereka adalah paling pendustanya kelompok-kelompok”.

Beliau juga berkata tentang kaum kafir Rofidhoh:

“الرَّافِضَةَ أَكْذَبُ طَوَائِفِ الْأُمَّةِ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَهُمْ أَعْظَمُ الطَّوَائِفِ الْمُدَّعِيَةِ لِلْإِسْلَامِ غُلُوًّا وَشِرْكًا”.

“Rofidhoh adalah paling pendustanya kelompok-kelompok umat secara mutlak, mereka yang paling besarnya kelompok-kelompok yang mengaku berislam melakukan sikap ghuluw dan kesyirikan”.

Beliau juga berkata:

“وَقَدِ اتَّفَقَ أَهْلُ الْعِلْمِ بِالنَّقْلِ، وَالرِّوَايَةِ، وَالْإِسْنَادِ عَلَى أَنَّ الرَّافِضَةَ أَكْذَبُ الطَّوَائِفِ”.

“Dan sungguh telah bersepakat para ahlul ‘ilmi dengan penukilan, dengan periwayatan dan dengan penyandaran atas bahwasanya Rofidhoh adalah paling pendustanya kelompok-kelompok”.

Beliau juga berkata tentang perbuatan mereka itu:

“لِأَنَّ هَذَا كَانَ مِنْ شِعَارِ الرَّافِضَةِ”.

“Karena sesungguhnya ini adalah termasuk dari semboyannya Rofidhoh”.

Beliau juga berkata:

“وَالرَّافِضَةُ أَكْذِبُ وَأَفْسَدُ دِينًا”.

“Dan Rofidhoh adalah paling pendusta dan paling perusak terhadap agama”.

Apa yang dikatakan oleh beliau adalah suatu kebenaran yang tidak bisa kita ragukan lagi, sekarang kita sudah bisa mendengarkan dan bahkan menyaksikan secara langsung sepak terjang mereka kaum kafir Rofidhoh semoga Alloh hancurkan mereka dengan sehancur-hancurnya.

 

PERMASALAHAN SEPUTAR KEJADIAN

Telah sampai kepada kami suatu pertanyaan: Apakah benar bahwa kamu menyebarkan bahwasanya yang terbunuh pada pihak Rofidhoh 200 (dua ratus) orang pada perang pekan lalu, karena dengan itu ada yang mengatakan bahwa kamu pendusta?.

Kami katakan:

Kami tidak membuat pemastian seperti itu, namun kami katakan sebagaimana dalam tulisan kami “Bertempur lagi…“: “…banyak dari kaum muslimin memberitakan bahwa yang terbunuh dari pihak Rofidhoh sekitar 200 (dua ratus) orang, ada pula yang memberitakan bahwa yang terbunuh lebih dari itu“.

Orang yang memiliki pemahaman bagus dan benar tentu akan memahami bahwa perkataan kami ini bukan suatu pemastian, apalagi kami ikutkan pada perkataan selanjutnya dalam tulisan tersebut: “yang terpenting bahwa yang terbunuh dari mereka adalah terbanyak begitupula yang luka-luka sangat banyak“.

Jadi siapa saja yang terus menyebarkan bahwa kami membuat pemastian seperti itu atau dengan berani dia mengatakan bahwa kami sebagai pendusta maka bisa jadi dia adalah orang yang rasa hasad dan kebenciannya kepada kami telah menguasai dirinya, atau bisa jadi pula dia ingin supaya dirinya menjadi rujukan dalam pemberitaan dan penginformasian, atau bisa jadi pula dia telah dilanda petaka kegilaan sehingga tidak mengontrol dirinya dalam berkata dan berbuat.

Perlu diketahui bahwa kaum kafir Rofidhoh tidaklah mengutus orang-orang mereka ke Rumah Sakit melainkan hanya orang-orang yang luka-luka dari mereka, adapun yang sudah terbunuh maka mereka sudah menyiapkan rumah-rumah khusus untuk memendamnya, dan terkadang pula mereka memotong kepala mayat-mayat mereka lalu kepala-kepala dari mayat-mayat itu mereka pisahkan dengan tubuh-tubuhnya supaya tidak diketahui siapa saja yang mati dari pihak mereka.

Kemudian yang perlu diketahui pula bahwa jika seseorang menyampaikan suatu berita maka tidak bisa langsung diingkari atau didustakan namun perlu adanya tinjaun dan pemastian berita, Alloh Ta’ala berkata:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا} [الحجرات: 6]

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang yang fasiq memberitakan suatu berita maka carilah oleh kalian kejelasannya”. (Al-Hujarot: 6).

Hal demikian karena orang-orang yang berada di tempat suatu kejadian berhadapan dengan kejadian yang beraneka macam, bahkan satu kejadianpun terkadang membuahkan perbedaan pandangan, hal ini banyak didapati pada pertempuran di zaman para shohabat, sebagaimana ada suatu pemberitaan seperti orang-orang kafir yang terbunuh dalam perang Badr jumlahnya mereka tentukan sekian, yang lain menyatakan jumlahnya lebih banyak dari yang demikian itu, atau ketika tokoh-tokoh besar kaum musyrikin dibunuh maka ada dari para shohabat mengaku bahwa dialah yang membunuhnya, adapula yang lainnya mengatakan bahwa dia yang membunuhnya, sebagaimana pula pada kisah terbunuhnya Musailamah Al-Kadzdzab; ada yang mengatakan bahwa yang membunuhnya adalah bekas budak yang berkulit hitam, ada pula yang mengatakan bahwa yang membunuhnya adalah orang selainnya, jika seperti ini keadaannya maka tidak bisa bagi seseorang kemudian lancang menafikan yang ini dan menetapkan yang itu, akan tetapi dia hendaknya melihat dengan teliti karena bisa jadi pembunuhan Musailamah Al-Kadzdzab itu dilakukan dengan bersamaan, bekas budak berkulit hitam melemparkan tombaknya mengenai Musailamah Al-Kadzdzab, bersamaan dengan itu pula ada yang menebaskan pedangnya kepada tubuh Musailamah Al-Kadzdzab, maka tidak bisa kemudian dikatakan bahwa pembunuh Musailamah Al-Kadzdzab adalah bukan bekas budak yang berkulit hitam tapi yang selainnya. Wallohul musta’an.

Demikian yang bisa kami tuliskan pada pertemuan kali ini.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: