“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

HUKUM MEMINTA DOA KEPADA ORANG LAIN   

PENDAHULUAN

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

أمّا بعدُ:

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup dengan baik melainkan membutuhkan bantuan dan kerjasama dengan yang selainnya, namun sangat disayangkan dengan adanya hal tersebut banyak dari manusia menyalahgunakannya; ada dari mereka memberi bantuan dan bekerja sama di dalam perkara dosa dan ma’siat, ini sangat jelas menyelisihi perkataan Alloh Ta’ala:

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ} [المائدة: 2]

“Dan tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan taqwa dan janganlah kalian tolong menolong di atas dosa dan permusuhan”. (Al-Maidah: 2).

Orang yang mengetahui tentang keadaan dirinya yang penuh kekurangan dan kelemahan seringkali mengeluhkan keadaannya kepada orang yang dianggap memiliki kelebihan, sampai-sampai ketika ada yang sudah putus asa karena sudah berusaha untuk memperoleh anak namun belum juga memperoleh anak maka diapun meminta doa kepada orang yang dia anggap lebih baik darinya atau dia meminta doa kepada orang yang dia anggap doanya akan dikabulkan, diapun bergegas meminta doa kepadanya.

Telah sampai kepada kami selembar surat yang berisikan tentang permasalahan yang berkaitan dengan meminta doa kepada ahlul bid’ah, di dalam surat tersebut tertuliskan:

بسم اللە الرحمن الرحيم

ٳلی الأستاذ أبي ٲحمد محمد حفظك اللە

يوم الأحد،11شوال1434ه

  السلا م عليكم ورحمة اللە وبركاتە

العفو منكم.

Ustadz, ada seseorang yang lama belum dikaruniai momongan, kemudian suatu saat ada seorang ahlul bid’ah yang jelek perangainya hendak berangkat haji. Akhirnya dia titip doa kepada orang yang hendak berangkat haji tersebut agar jika sampai di Mekah nanti, maka minta didoakan agar cepat dapat momongan. Qoddarolloh tidak lama kemudian sang ibu hamil, dan pernah terucap dari lisan sang ibu bahwasanya bayi yang dikandungnya adalah oleh-oleh dari hajinya si fulan (ahlul bid’ah).

Pertanyaan: Bolehkah seorang ahlussunnah titip doa kepada orang yang hendak berangkat haji meskipun dari kalangan ahlul bid’ah maupun pelaku kesyirikan?

جزاكم الله خيرا

Maka kami ucapkan:

 وعليكم السلا م  ورحمة اللە وبركاتە

Dengan adanya surat tersebut membuat kami untuk menuliskan tulisan ini, dengan harapan dapat memberikan manfaat kepada yang menyampaikan surat dan selainnya dari orang-orang yang menginginkan kebaikan.

Dari isi surat tersebut ada beberapa permasalahan yang perlu kami jelaskan:

Pertama: Hukum meminta doa kepada ahlul bid’ah.

Kedua: Menitip doa kepada orang yang berangkat haji.

Ketiga: Hukum orang yang lebih rendah kedudukannya meminta doa kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya.

Keempat: Hukum orang yang lebih tinggi kedudukannya meminta doa kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.

 

BAB 1

HUKUM MEMINTA DOA KEPADA AHLUL BID’AH

Sebelum menanggapi permasalahan ini, hendaknya seseorang melihat: Apakah ahlul bid’ah-nya itu, tingkatan kebid’ahannya masuk pada kekufuran ataukah tidak? Kalau kebid’ahannya sampai kepada kekufuran maka orang seperti ini tidak boleh secara mutlak dimintai doa, dan boleh bagi kita mendoakannya kepada hidayah semasa hidupnya, Abdulloh bin Mas’ud sebagaimana di dalam “Ash-Shohihain” berkata:

“كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَحْكِي نَبِيًّا مِنَ الأَنْبِيَاءِ، ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ، وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُولُ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ»”.

“Seakan-akan aku melihat kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengisahkan seorang nabi dari para nabi, kaumnya memukulnya dan mereka melukainya, dan dia mengusap darah dari wajahnya sambil berkata: “Ya Alloh, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”.

Kalau kebid’ahannya tidak sampai kepada tingkat kekufuran, maka dia diperlakukan sebagaimana halnya kaum muslimin yang lainnya, karena dia juga dikenai kewajiban untuk mendoakan kaum muslimin lainnya, dengan keumuman perkataan Alloh Ta’ala:

{وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ} [محمد: 19]

“Dan mintalah ampun terhadap dosamu dan terhadap dosa-dosa kaum mu’minin dan mu’minat”. (Muhammad: 19).

Walaupun seperti itu, namun hendaknya seseorang yang aqidahnya bersih tidak bermudah-mudahan meminta doa kepada ahlul bid’ah walaupun kebid’ahannya tidak sampai kepada kekufuran karena kita tidak mengetahui model dia berdoa, bisa jadi dia ketika berdoa dicampur aduk doanya dengan kebid’ahan atau penyelisihan tehadap syari’at.

Sebaik-baik teladan bagi kita adalah para salafush sholih, mereka tidak meminta doa melainkan kepada orang yang mereka kenal kesholihan (kebaikan)nya. Sangat banyak di dalam riwayat-riwayat shohih yang menjelaskan bahwa para shohabat meminta doa kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, begitu pula umat-umat terdahulu mereka meminta doa kepada orang yang dikenal kesholihannya sebagaimana kisah ghulam (anak remaja) yang didatangi oleh orang-orang untuk meminta didoakan.

Dan ini sering pula kita dapati di kalangan para penuntut ilmu di Darul Hadits Dammaj, jika mereka bertemu dengan para kawan antara sesama para penuntut ilmu maka mereka selalu meminta didoakan, ada dari mereka berkata: “Doakan supaya saya meraih kemuliaan mati syahid!”, ada pula yang meminta didoakan supaya cepat menikah, ada pula minta didoakan supaya cepat memahami ilmu, ada pula yang minta didoakan supaya tidak mati di Dammaj sebelum da’wah ke Indonesia, dan berbagai macam permintaan doa sering kita dengarkan.

Adapun kalau kamu meminta doa kepada selain orang sholih semisal ahlul bid’ah atau pelaku ma’siat dan ternyata doanya untukmu dikabulkan maka jangan kamu tergesa-gesa menganggap itu adalah “oleh-oleh dari si fulan” atau ungkapan lainnya “karena doa si fulan”, karena bisa jadi itu adalah doamu sendiri yang pernah kamu berdoa langsung kepada Robbmu, namun kemudian kamu lupa dan kebetulan terwujudnya doamu ketika berpas-pasan dengan berdoanya si ahlul bid’ah tersebut, sebagai ujian bagimu, dan ini terbukti sebagai ujian bagimu ketika kamu ikutkan dengan perkataanmu: “Oleh-oleh dari hajinya si fulan”.

Perkataan seperti ini wajib bagimu untuk kamu tinggalkan, dan wajib pula bagimu untuk bertaubat, karena anak yang ada padamu itu adalah pemberian dari Alloh dan sekaligus sebagai ujian bagimu, apakah kamu bersyukur dan menganggapnya sebagai karunia dari Robbmu ataukah kamu menganggapnya sebagai “oleh-oleh dari si fulan”?:

{وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ} [النحل: 53]

Dan apa saja yang ada pada kalian dari suatu ni’mat maka itu datangnya dari Alloh“. (An-Nahl: 53).

Dan Alloh Ta’ala berkata:

{وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ} [إبراهيم: 7]

“Dan (ingatlah), tatkala Robb kalian mengumumkan; “Sesungguhnya jika kalian bersyukur maka pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrohim: 7).

BAB 2

HUKUM BAGI ORANG YANG RENDAH KEDUDUKANNYA MEMINTA DOA KEPADA ORANG YANG LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA

Alloh Ta’ala berkata tentang kisah saudara-saudara Yusuf ‘Alaihis Salam yang meminta doa kepada bapak mereka:

{قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ} [يوسف: 97]

“Mereka berkata: Wahai bapak kami mintakanlah ampun untuk kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berbuat kesalahan (dosa)”. (Yusuf: 97).

Dari ayat ini, juga hadits-hadits yang sangat banyak telah menjelaskan tentang bolehnya meminta doa kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya daripadanya.

Dan perlu diperhatikan bahwa dalil-dalil tersebut menjelaskan tentang mereka yang meminta doa adalah kepada orang-orang yang jelas kesholihannya, bukan kepada pelaku ma’siat dan bukan pula kepada pelaku bid’ah.

Pada permasalahan ini banyak kita dapati kaum muslimin mengamalkannya yaitu mereka meminta doa kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya, apa yang mereka amalkan adalah benar dan bahkan pernah dilakukan oleh para salafush sholih, diantaranya adalah pada ayat tersebut, juga apa yang pernah dikatakan oleh Umar Ibnul Khoththob kepada Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam ketika beliau memintanya:

“ادْعُ اللَّهَ فَلْيُوَسِّعْ عَلَى أُمَّتِكَ، فَإِنَّ فَارِسَ وَالرُّومَ وُسِّعَ عَلَيْهِمْ، وَأُعْطُوا الدُّنْيَا وَهُمْ لاَ يَعْبُدُونَ اللَّهَ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: «أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الخَطَّابِ أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا»، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اسْتَغْفِرْ لِي”.

“Berdoalah engkau kepada Alloh untuk meluaskan (rezqi) untuk umatmu, karena sesungguhnya Persia dan Romawi telah diluaskan atas mereka (rezqi), dan diberikan (keni’matan) dunia kepada mereka padahal mereka tidak beribadah kepada Alloh, Rosululloh adalah duduk bersandar, lalu berkata: “Apakah ada padamu keraguan wahai Ibnul Khoththob, mereka itu adalah suatu kaum yang disegerakan bagi mereka keni’matan-keni’matan di dalam kehidupan dunia”, maka aku berkata: “Wahai Rosululloh, mintakanlah ampun (kepada Alloh) untukku”. Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari hadits Abdulloh bin ‘Abbas.

Hadits ini sebagai pelajaran dan bimbingan untuk kaum muslimin, karena kebanyakan manusia pada zaman ini, bila mereka melihat orang sholih maka mereka meminta doa; baik permintaan doa itu untuk disembuhkan dari penyakit, untuk diberi rezqi, untuk dimudahkan semua urusan, dan yang selain itu dari perkara-perkara dunia, adapun meminta doa supaya diampuni dari dosa-dosa atau untuk perkara akhirat maka sangat jarang bahkan sangat sedikit kita dengarkan. Allohul musta’an.

BAB 3

HUKUM BAGI ORANG YANG LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA MEMINTA DOA KEPADA ORANG YANG LEBIH RENDAH KEDUDUKANNYA

Di dalam “Shohih Muslim” dari hadits Umar Ibnul Khoththob bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata tentang seorang tabi’in:

«فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ»

 “Barangsiapa di antara kalian menjumpainya maka mintalah kepadanya untuk memintakan ampun (kepada Alloh) untuk kalian”.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada para shohabatnya dengan perkataan tersebut, padahal sangat jelas bahwa para shohabat lebih mulia daripada generasi setelahnya:

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka”.

Dari penjelasan ini menunjukan bahwa bolehnya orang yang mulia kedudukannya meminta doa kepada orang yang lebih rendah kedudukannya, yang tentunya dia adalah orang yang sholih, dan terkadang orang yang rendah kedudukannya itu lebih dikabulkan doanya daripada yang lebih tinggi kedudukannya, dan terkadang sebaliknya.

Perlu diketahui pula bahwa Alloh Ta’ala Maha mengabulkan doa, siapa saja yang berdoa baik dia ahlul bid’ah ataupun ahlussunnah, baik dia pelaku kebaikan ataupun pelaku dosa, jika dia bertepatan dengan waktu-waktu yang mustajab maka tidak menutup kemungkinan untuk dikabulkan doanya, oleh karena itu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى خَدَمِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ»

“Janganlah kalian mendoakan (kejelekan) atas diri-diri kalian, jangan pula mendoakan (kejelekan) atas anak-anak kalian, jangan pula mendoakan (kejelekan) atas pembantu-pembantu kalian, dan jangan pula mendoakan (kejelekan) atas harta-harta kalian, tidaklah mencocoki dari Alloh Tabaroka wa Ta’ala sesaat dari yang diminta maka akan dikabulkan bagi kalian”. Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud, dan lafazh “‘ala khadamikum”  ini adalah lafazhnya Abu Dawud.

Jadi kalaulah kamu melihat ada seseorang didoakan oleh ahlul bid’ah atau didoakan oleh pelaku ma’siat dan langsung terbukti doanya maka ketahuilah bahwasanya itu bercocokan dengan waktu mustajab atau bertepatan dengan peng-amin-an dari malaikat, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ»

“Janganlah kalian berdoa atas diri-diri kalian melainkan dengan doa kebaikan, karena sesungguhnya malaikat mengaminkan atas apa yang kalian doakan”. Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Ummu Salamah.

Dari keterangan ini jelaslah, bahwa siapapun dia dan bagaimanapun keadaannya, kalau dia berdoa dan doanya mencocoki waktu mustajab atau bertepatan dengan diaminkannya oleh para malaikat maka doanya akan terkabulkan, walaupun seseorang berdoa di tempat-tempat yang dianggap berberkah seperti di Makkah atau pada waktu haji dan umroh namun kalau tidak bercocokan atau tidak bertepatan dengan waktu mustajab maka tidak akan terkabulkan, hal ini sebagaimana pernah terjadi, ada seseorang yang bernama Ali Rozihiy, ketika sedang umroh di Makkah dia bersungguh-sungguh mendoakan kejelekan atas salah seorang ulama Ahlissunnah yang bernama Sa’id bin Da’as Al-Yafi’iy Rohimahulloh, namun doanya tersebut tidak mengena, bahkan menjadikan dia sendiri (Ali Rozihiy) tersesat menjadi pentolan hizbiy yang awalnya dia adalah seorang sunniy.

Kenyataan ini sebagai bantahan bagi yang beranggapan bahwa setiap orang yang naik haji atau umroh maka doanya akan dikabulkan, namun seseorang akan dikabulkan doanya bila dia berdoa bercocokan atau bertepatan dengan waktu-waktu yang mustajab.

BAB 4

HUKUM MENDOAKAN KEJELEKAN KEPADA ORANG LAIN

Ketika kaum kafir Rofidhoh melakukan tindak kezholiman berupa pengepungan, pengusiran dan pembunuhan terhadap kaum muslimin di negri Yaman dan di beberapa negri di Timur Tengah maka banyak dari kaum muslimin meminta orang-orang sholih supaya mendokan kebaikan untuk kaum muslimin dan meminta mereka pula untuk mendoakan kejelekan atas kaum kafir Rofidhoh.

Berbicara tentang mendoakan kebaikan untuk orang lain telah kita jelaskan pada bab-bab yang telah lewat, sekarang kita beranjak kepada bab baru yaitu bolehkah mendoakan kejelekan kepada orang lain?.

Ketika Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sholat di sisi Ka’bah maka beliau dizholimi, ditertawai dan disakiti oleh kaum kafir Quroisy, dengan sebab itu beliau mendoakan kejelekan atas mereka, beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

«اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ».

“Ya Alloh (timpakanlah petaka) atas orang-orang (kafir) Quroisy”. Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari hadits ‘Abdulloh bin Mas’ud.

Hadits tersebut menunjukan bolehnya mendoakan kejelekan atas suatu kelompok. Dengan dasar hadits tersebut maka boleh bagi kita untuk mendoakan kebinasaan atas kaum kafir Rofidhoh, dengan kita mengucapkan doa:

“اللّهُمّ عَلَيْكَ بِالرّافِضَة”.

“Ya Alloh (timpakanlah petaka) atas Rofidhoh”. Atau kita mendoakan dengan doa:

“اللّهُمّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى الرّافِضَةِ”.

“Ya Alloh tolonglah orang-orang Islam atas Rofidhoh”.

Pada kelanjutan hadits ‘Abdulloh bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon terdapat pula penjelasan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan kejelekan atas setiap personil dengan menyebutkan namanya, beliau berdoa:

«اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ، وَعَلَيْكَ بِعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، وَالوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ، وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ، وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ».

Ya Alloh (timpakanlah kebinasaan) atas Abu Jahl, atas ‘Utbah bin Robi’ah, Syaibah bin Robi’ah, Al-Walid bin ‘Utbah, Umayyah bin Kholaf dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith“.

Dengan hadits ini menunjukan pula tentang bolehnya bagi kita untuk mendoakan para pembuat kerusakan, boleh kita mendoakan tokoh-tokoh atau pentolan-pentolan Rofidhoh:

“اللّهُمّ عَلَيْكَ بِأَبِي الْعَالِيَّةَ الْحُوْثِيِّ، اللّهُمّ عَلَيْكَ بِعَبْدِ الْمَالِكِ الْحُوْثِيِّ، اللّهُمّ عَلَيْهِمَا وَعَلَى مَنْ قَامَ مَعَهُمَا”.

“Ya Alloh (timpakanlah petaka) atas Abul ‘Aliyah Al-Khutsiy, Ya Alloh (timpakanlah petaka) atas ‘Abdul Malik Al-Khutsiy, Ya Alloh (timpakanlah petaka) atas siapa saja yang berdiri bersama keduanya”.

Bahkan Syaikhuna Yahya bin ‘Ali Al-Hajuriy Hafizhohulloh di dalam majelisnya sering meminta para penuntut ilmu untuk selalu mendoakan kejelekan, kehancuran dan kebinasaan atas Rofidhoh. Hal demikian itu karena mereka adalah orang-orang munafiq lagi zindiq, Abul ‘Abbas Ahmad Al-Harroniy Rohimahulloh berkata:

“إِنَّ رُؤَسَاءَهُمْ كَانُوا مُنَافِقِينَ زَنَادِقَةً. وَأَوَّلُ مَنْ ابْتَدَعَ الرَّفْضَ كَانَ مُنَافِقًا”.

“Sesungguhnya pentolan-pentolan mereka (ya’ni Rofidhoh dan Jahmiyyah) adalah orang-orang munafiq lagi zindiq. Dan yang pertama mengadakan (agama) Rofidhoh adalah seorang munafiq”.

Tidak diragukan lagi tentang kekafiran mereka, mereka lebih jahat dan lebih biadab dari pada kaum yang beragama Komunis, tidaklah seorangpun yang mereka bunuh melainkan jenazahnya dirusakin, begitulah mereka perlakukan terhadap para shohabat kami Ahlissunnah di Dammaj, pada bulan ini (pertengahan Syawwal 1434) mereka membunuh Hamzah Al-Jazairiy Rohimahulloh, kemudian jenazahnya mereka rusakin, matanya mereka tusuk dan biji matanya dicungkel, wajahnya dihitamkan dan dibusukan badannya, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap saudara-saudara kami ketika tragedi pertengahan Muharrom 1433.

Tidak hanya itu, bahkan diantara kebengisan mereka, jika mereka ingin melampiaskan kebencian mereka kepada para shohabat Nabi maka ketika anjing lewat mereka berkata: “Aisyah bintu Abi Bakr lewat, merekapun beramai-ramai menembaknya”, begitu pula jika mereka melihat binatang-binatang hina maka mereka menamainya dengan nama-nama para shohabat lalu mereka beramai-ramai menembaki binatang-binatang tersebut. Mereka lebih biadab dan lebih kurang ajar bila dibandingkan dengan para penganut agama Komunis, karena para penganut agama Komunis masih menghargai dan memuliakan para pembawa agama mereka, adapun Rofidhoh maka mereka tidak ada sedikitpun rasa hormat dan pemuliaan terhadap pembawa dan pejuang agama Islam, yang para pembawa dan pejuang itu adalah para shohabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

Demikian pembahasan yang singkat ini, semoga bermanfaat.

ونسأل الله عز وجل أن يوفقنا وجميع المسلمين للهداية والسداد، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

Selesai ditulis oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy

Di Darul Hadits Dammaj

Pada malam Senin 18 Syawwal 1434

Iklan

Comments on: "Hukum Meminta Do’a Kepada Orang Lain" (4)

  1. Terima kasih penjelasanya yang di sertai ayat ayat dengan membaca tulisan bapa saya tidak ragu lagi meminta doa kepada seseorang. Sebenarnya saya pernah minta doa kepadanya dan doanya di alirkan ke sebuah botol berisi air kemudian saya gunakan sebagaimana di perintahkan dan sesudah itu keajaiban terjadi namun tidak selamanya dan kali ini saya akan menemui beliau lagi untuk minta pertolongan doa.
    Bagai mana menurut bapak apakah bagus..? Terimakasih
    Wasalam semoga bapa selalu dalam lindungan Aaloh SWT..

    Suka

  2. As.wr.wb.
    Bpk ustadz yth, bagaimana dengan doa yg diberikan oleh org non muslim kepada kita? Misalnya semoga cepat sembuh, semoga sukses dlsb. Sedangkan kita jelas2 berbeda agama dgn mereka.
    Apakah boleh kita mendoakan teman yg non.muslim pk?
    Itulah pertanyaan sy pk Ustadz, terima kasih atas jawaban nya. Hormat saya
    Was.wr. wb.

    Suka

  3. Fredi Yuas said:

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    Yth. Ustadz, terima kasih atas penjelasannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: