“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

kee

BAB 1
PENDAHULUAN
 

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

أمّا بعدُ:

Ketika kaum Rofidhoh –semoga Alloh membinasakan mereka- merencanakan makar terhadap Darul Hadits Dammaj dan berupaya untuk menguasainya, bersamaan dengan itu kaum hizbiyyun yang dipelopori oleh Abdurrahman bin Mar’i Al-Adnidan jaringannya dintara mereka adalah Luqman bin Muhammad Ba’abduh dan jaringannya bergerak pula dengan menjalankan makar terhadap Darul Hadits Dammaj.

Kalau kaum Rofidhoh –semoga Alloh menutunkan azab kepada mereka- melakukan makar berupa gerakan persenjataan dan embargo, sedangkan kaum hizbiyyun melakukan makar berupa politik adu domba.

Kedua kelompok tersebut memiliki kesamaan visi dan misi dalam menjalankan makar terhadap Darul Hadits Dammaj yaitu supaya para penuntut ilmu keluar dari Darul Hadits Dammaj, disamping itu mereka terus mencegah agar orang-orang tidak menuntut ilmu di Darul Hadits Dammaj.

Disaat kaum Rofidhoh –semoga Alloh menurunkan malapetaka kepada mereka- semakin terlihat memiliki ambisi besar untuk menguasai Darul Hadits Dammaj maka para hizbiyyin yang masih tersisa di Darul Hadits Dammaj satu persatu mulai meninggalkan Dammaj[1], begitu pula para pengkhianat da’wah ketika menyaksikan bahwa kaum Rofidhoh sangat berambisi untuk menguasai Dammaj mulailah para pengkhianat tersebut menyusun rencana untuk kabur dari Darul Hadits Dammaj, padahal sebelumnya mereka berkata: “Kami akan lama di Dammaj, kami mau membeli rumah di Dammaj! kami mau benar-benar menuntut ilmu di Dammaj! kami….dan kami….”.

Sebelum kabur dari Dammaj mereka ditanya: Katanya mau lama di Dammaj? Mereka menjawab: “Kami akan balik ke Dammaj, kami mau safar karena begini dan begitu… kami mau balik ke Dammaj segera… kami dan kami….”.

Ketika kaum Rofidhoh –semoga Alloh membinasakan mereka- telah mengepung Darul Hadits Dammaj dan telah menguasai jalan masuk ke Darul Hadits Dammaj dan Ahlussunnah yang ada di Darul Hadits Dammaj semakin terjepit dan terkepung maka para hizbiyyun dan para pengkhianat tersebut bersyukur dan bergembira karena mereka sudah keluar dari Dammaj sehingga tidak merasakan apa yang telah dirasakan oleh Ahlussunnah di Dammaj, maka kami katakan sebagaimana Robb kami berkata:

{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ} [آل عمران: 185].

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian”(Al-Baqoroh: 185).

Ketahuilah bahwasanya kematian adalah suatu kepastian yang tidak bisa dimajukan dan dimundurkan dengan cara bagaimanapun dan kami menyadari pula bahwa kematian akan terus mendekat kepada kami, kepada para hizbiyyin dan kepada para pengkhianat serta kepada siapa saja yang masih bernyawa, oleh karena itu maka kami katakan: “KEMATIAN SEMAKIN DEKAT, KEMANAPUN KAMU PERGI PASTI AKAN DIJEMPUT“.

وَصَلّى الله عَلَى نَبِيِّنا مُحَمّدٍ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسلَّم

والحمدُ لله رَبِّ العالَمِيْنَ.

Ditulis oleh Hamba yang Faqir atas Ampunan Robbnya Abu  Ahmad Muhammad bin Salim –semoga Alloh mengampuni dosa-dosanya- pada malam Kamis di Maktabah Darul Hadits Dammaj-Sho’dah-Yaman, 15 Dzulhijjah 1432 Hijriyyah.

 


BAB 2
KABAR GEMBIRA BAGI YANG MATI KARENA DIBUNUH
OLEH ORANG-ORANG ZHOLIM

 

Suatu kebahagian tersendiri bagi para orang tua bila mereka memiliki buah hati mati karena dibunuh oleh orang-orang zholim, baik mereka yang zholim itu adalah khowarij atau para perusak dan pengacau.

Al-Imam Ahmad –semoga Alloh merohmatinya- berkata: Telah menceritakan kepadaku Waki’, beliau berkata: Telah menceritakan kepadaku Hammad bin Salamah dari Abu Gholib dari Abu Umamah bahwasanya beliau melihat kepala-kepala yang terpajang di atas tangga-tangga masjid Dimasyqi, lalu beliau berkata:

»كِلَابُ النَّارِ كِلَابُ النَّارِ«، ثَلَاثًا: »شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوهُ«، ثُمَّ قَرَأَ: {يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ}.

“Anjing-anjingnya neraka, anjing-anjingnya neraka”, beliau mengatakannya tiga kali “Sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit (adalah mereka) dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang-orang yang dibunuh oleh mereka”. Kemudian Abu Umamah membaca ayat: “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram“. Maka Abu Ghalib bertanya kepada Abu Umamah: Apakah engkau mendengarkannya dari Rosululloh –Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam-? Abu Umamah menjawab: “Kalaulah aku tidak mendengarnya dari Rosululloh –Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam- dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali atau tujuh kali maka aku tidak akan menceritakannya kepada kalian. (Hadits ini diriwayatkan pula oleh At-Tirmidziy dan beliau berkata: Hadits ini adalah hasan).

Bila seseorang dibunuh oleh para pelaku kezholiman dikarenakan dia membela dirinya, hartanya dan kehormatannya maka dia terhitung mati syahid, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ»

“Barangsiapa yang dibunuh (karena mempertahankan) hartanya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh (karena membela) agamanya maka dia adalah syahid, barangsiapa yang dibunuh (karena membela) darahnya maka dia adalah syahid, dan barangsiapa yang dibunuh (karena membela) keluarganya maka dia adalah syahid”. Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dan An-Nasa’iy dari hadits Sa’id bin Zaid.

Al-Imam Muslim meriwayatkan di dalam “Shohih“nya dari hadits Abu Huroiroh, beliau berkata:

“جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي؟ قَالَ: «فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي؟ قَالَ: «قَاتِلْهُ» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي؟ قَالَ: «فَأَنْتَ شَهِيدٌ»، قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ؟ قَالَ: «هُوَ فِي النَّارِ»”.

“Datang seseorang kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam lalu berkata: “Wahai Rosululloh, apa pendapatmu jika datang seseorang merampas hartaku?, beliau berkata: “Jangan kamu berikan hartamu!”, dia berkata lagi: “Apa pendapatmu kalau dia mau membunuhku (karena aku tidak memberikan hartaku kepadanya)?, beliau berkata: “Kamu bunuh dia!”, apa pendapatmu kalau dia (berhasil membunuhku?, beliau berkata: “Kamu syahid!“, dia berkata: “Apa pendapatmu kalau aku yang membunuhnya? Beliau berkata: “Dia di dalam neraka”.

Dan ini diperjelas lagi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy di dalam “Shohih“nya dari hadits Abdulloh bin ‘Amr, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ»

“Barangsiapa yang dibunuh (karena mempertahankan) hartanya maka dia syahid”. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ashhabussunan.

Adapun yang membunuhnya maka balasannya adalah neraka, Alloh Ta’ala mengisahkan perkataan anak Adam yang pertama:

{إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ} [المائدة: 29]

“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (karena membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zholim”. (Al-Maidah: 29).

Dan Alloh Ta’ala juga berkata:

{وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا} [النساء: 93].

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya adalah Jahannam, dia kekal di dalamnya dan Alloh murka kepadanya, dan Dia mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (An-Nisa’: 93).

Dari dalil-dalil tersebut maka kami memberikan sedikit hiburan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada yang pernah mereka menjadi korban berupa kezholiman, pembantaian atau penganiayaan, perampasan harta benda dan penghalalan kehormatan dan yang semisalnya yang digencarkan oleh para pembuat kezholiman baik mereka dari para teroris, LJ ataupun penjahat da’wah dan yang semisal mereka.

Bila dalil-dalil tersebut dibawa kepada pemahaman mantan wakil LJ yang bernama Luqman bin Muhammad Ba’abduh (penulis buku “Mereka Adalah Teroris“) maka tentu sangat menguntungkan bagi siapa saja yang menjadi korban kejahatan mereka, karena mantan wakil panglima ketika membedah bukunya tersebut ditanya: Apakah orang yang mereka bunuh walaupun pelaku syirik akan masuk dalam hadits tersebut (sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang-orang yang dibunuh oleh mereka”)? Maka mantan wakil LJ Luqman bin Muhammad Ba’abduh menjawab: “Tergantung kehendaknya Alloh, bila Dia azab maka diazab”.

Dari jawaban tersebut tampak kebodohannya terhadap aqidah dan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, di dalam Al-Qur’an sangat jelas perkataan Alloh Ta’ala:

{إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا} [النساء: 48].

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar”. (An-Nisa’: 48).

Dan Alloh Ta’ala berkata pula:

{إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء: 116].

“Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sesungguhnya dia telah tersesat sejauh-jauhnya”.(An-Nisa’: 116).

Kalau seseorang berpemahaman seperti yang telah dipahami oleh mantan wakil panglima LJ tersebut maka sungguh beruntung orang-orang musyrik (yang menyekutukan Alloh) yang ada di Bali ketika dibom oleh para teroris, atau sangat beruntung pula para anggota RMS (Republik Maluku Sarani) yang dibunuh oleh teroris yang menamakan diri mereka dengan LJ (laskar jihad)?!! Apa demikian pemahaman yang benar???!!!.

Tentu jawabannya tidak demikian, karena Alloh Ta’ala telah berkata tentang orang-orang yang menyekutukan-Nya:

﴿وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا [الفرقان: 23].

“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. (Al-Furqon: 23).

 

 


BAB 3
KABAR GEMBIRA BAGI YANG MATI DI ATAS JALAN MENUNTUT ILMU

 

Tidaklah membuat kami dan saudara-saudara kami datang ke Darul Hadits Dammaj hanya untuk berkunjung semata, akan tetapi –Alhamdulillah- kami datang ke Darul Hadits Dammaj dengan niat untuk menuntut ilmu supaya akan terangkat dari kami kebodohan, dengan itu pula kami berharap untuk tidak seperti para hizbiyyin dan para pengkhianat, mereka datang ke Darul Hadits Dammaj dengan penuh dosa dan kebodohan ketika mereka pulangpun masih membawa dosa dan kebodohan tersebut, bahkan ketika mereka sudah sampai ke kediaman mereka masih terus terpupuk dosa dan kebodohan sehingga terus tumbuh subur –kami memohon kepada Alloh supaya tidak menjadikan kami seperti mereka–.

Bergembiralah wahai para penuntut ilmu yang masih berada di Darul Hadits Dammaj dengan berita yang disampaikan oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

»مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيه عِلْمًا سَهَّل الله له بِه طرِيقًا إلى الجَنَّةِ. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ. حَتَّى الحِيتانُ في الماءِ. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِرْهَمًا وَلَا دِيْنَارًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ«.

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Alloh mudahkan baginya jalan menuju Jannah (surga). Sesungguhnya malaikat meletakan sayap-sayapnya ridho kepada penuntut ilmu, dan sesungguhnya penuntut ilmu dimintakan ampun oleh siapa saja yang di langit dan di bumi, sampai-sampai ikan-ikan di dalam air (ikut memintakan ampun kepadanya). Dan bahwasanya keutamaan atas orang yang berilmu terhadap orang yang beribadah seperti keutamaan bulan dengan seluruh bintang-bintang, sesungguhnya para ulama adalah pewarisnya para nabi, para nabi tidaklah mereka mewariskan dinar dan dirham hanyalah yang mereka wariskan adalah ilmu maka barangsiapa mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil dengan pengambilan yang banyak”. (Hadits ini adalah shohih, diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dari Abud Darda’semoga Alloh meridhoinya).

 

 

BAB 4
KABAR GEMBIRA BAGI YANG SABAR DI ATAS UJIAN
DAN COBAAN KETIKA MENUNTUT ILMU

 

Tidak ada sesuatu yang terindah bagi seseorang ketika menghadapi ujian daripada kesabaran, betapa indahnya apa yang dikatakan oleh Abu Yusuf ‘Alaihis Salam ketika beliau diuji dengan dipisahkannya antara beliau dengan putra kesayangannya Yusuf ‘Alaihimas Salam:

{فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ} [يوسف: 18].

“Maka kesabaran yang indah itulah (kesabaranku), dan kepada Alloh tempat meminta pertolongan”.(Yusuf: 18).

Sudah merupakan ketetapan dari Alloh Ta’ala bahwa orang yang beriman pasti akan diuji dan diberi cobaan, ujian dan cobaan bagi setiap orang yang beriman itu akan datang dengan bergantian dan berbagai macam model, terkadang ujian dan cobaan yang datang itu berupa penderitaan, kesengsaraan, kesedihan, penyakit dan rasa kekhowatiran lebih-lebih ketika peperangan, terkadang orang-orang yang berjuang di dalam pertempuran atau ketika jaga di perbatasan-perbatasan merasa khowatir apalagi kalau melihat musuh memiliki kekuatan dan perlengkapan dari kemeliteran, lebih-lebih kalau musuh sudah mengepung, tapi bagi orang-orang yang beriman tentu akan selalu bersabar karena dia menyadari bahwa Alloh Ta’ala telah menentukan dan mengatur segala apa yang di langit dan di bumi beserta segala isinya, Alloh Ta’ala berkata:

{أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ} [البقرة: 214].

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk Jannah (surga), padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kalian? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah seorang Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapan akan datang pertolongannya Alloh?”. Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Alloh itu sangat dekat”. (Al-Baqoroh: 214).

Dan Alloh Ta’ala juga berkata:

{أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ (142) وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (143)} [آل عمران : 142-144].

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk Jannah, padahal belum Alloh nyatakan orang-orang yang berjihad diantara kalian dan belum dinyatakan orang-orang yang bersabar. Sesungguhnya kalian mengharapkan mati (syahid) sebelum kalian menghadapinya; (sekarang) sungguh kalian telah melihatnya dan kalian menyaksikannya”. (Ali Imron: 142-144).

Para penuntut ilmu seringkali diuji dengan penderitaan berupa kekurangan, kelaparan dan penyakit, tidak ketinggalan pula ujian berupa gangguan berupa kezholiman dari orang lain, pemukulan, pencekikan, pendorongan dan bahkan ancaman-ancaman sadis berupa penyembelihan, penculikan dan penganiayaan serta ancaman yang berkaitan dengan kematian.

Ketika seseorang mendengar, melihat atau menyaksikan langsung ujian yang saat ini terjadi di Darul Hadits Dammaj maka mereka akan menyimpulkan bahwa itu merupakan salah satu dari ujian yang sangat berat, namun bagi seseorang yang beriman tentu akan menyadari bahwa di balik ujian tersebut terdapat hikmah yang sangat indah dan menggembirakan, Al-Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Mahdi, beliau berkata: Telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Mughirah dari Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Shuhaib, beliau berkata: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

»عَجِبْتُ مِنْ قَضَاءِ اللهِ لِلْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَ الْمُؤْمِنِ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ فَشَكَرَ كَانَ خَيْراً لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ فَصَبَرَ كَانَ خَيْراً لَهُ«

“Sangat mengagumkanku tentang keputusan Alloh kepada orang yang beriman; sesungguhnya perkaranya orang yang beriman semuanya adalah baik dan tidaklah yang demikian itu ada melainkan hanya kepada orang yang beriman; jika ditimpakan kepadanya perkara yang menyenangkan lalu dia bersyukur maka itu adalah suatu kebaikan baginya, dan jika ditimpakan kepadanya perkara yang menyedihkan lalu dia bersabar maka itu adalah suatu kebaikan baginya”.

 

 


BAB 5
KABAR GEMBIRA BAGI YANG SENANG DENGAN
PERJUMPAAN KEPADA ROBBNYA

 

Ketika seseorang yang beriman merasa ridho dan merasa puas dengan apa yang Alloh Ta’ala tetapkan baginya maka dia akan selalu siap, kapanpun kematian akan menjemputnya maka dia selalu di atas keadaan senang dan ridho, Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan tentang sifat-sifat orang yang seperti ini sebagaimana perkataan-Nya:

»مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ«

“Barangsiapa yang senang dengan perjumpaan kepada Alloh maka Alloh-pun senang berjumpa dengannya dan barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Alloh maka Allohpun membenci berjumpa dengannya’. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim dari Ubadah bin Shamit, Abu Musa Al-Asy’ariy dan Aisyah).

 


BAB 6
PARA PENGECUT, PENGKHIANAT DAN SIAPA SAJA YANG LARI DARI PEPERANGAN PASTI JUGA AKAN MATI

 

Alloh Ta’ala berkata:

{أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ} [النساء: 78].

“Di mana saja kalian berada, kematian akan menjemput kalian, walaupun  kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (An-Nisa‘: 78).

Sifat pengecut dan takut mati adalah salah satu dari sifat-sifat yang tercela, bahkan dia termasuk dari sifat-sifat kaum munafiq, oleh karena itu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berlindung kepada Alloh dari sifat tersebut:

»اللَّهمَّ إني أَعوذ بك من الجُبْنِ، وأعُوذُ بك من البُخْلِ، وأَعوذُ بك أنْ أُرَدَّ إِلى أرذَلِ العُمر، وأعوذُ بك من فِتْنَةِ الدَّجال، وأعوذُ بك من عَذَابِ القَبْرِ«

“Ya Alloh sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berjiwa penakut dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat bakhil (pelit), dan aku berlindung kepada-Mu pendeknya umur, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan At-Tirmidziy, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shohih).

 


BAB 7
KEMATIAN ADALAH UJIAN BAGI ORANG-ORANG YANG BAIK
DAN ORANG-ORANG YANG JELEK

 

Alloh Ta’ala berkata:

{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ} [الأنبياء: 35].

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian. Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan”. (Al-Anbiya’: 35).

Orang-orang yang beriman apabila diberikan ujian dan cobaan maka mereka bersabar, mereka menyadari bahwa apa yang mereka miliki berupa kebaikan dan apa yang mereka rasakan dari sebab kejelekan semuanya adalah ujian pula.

Bila mereka ditimpa musibah maka ucapan mereka:

{إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156].

“Sesungguhnya Kami adalah milik Alloh dan kepada-Nyalah kami kembali”. (Al-Baqoroh: 156), karena mereka bersabar dengan musibah yang mereka hadapi maka mereka mendapatkan jaminan rohmat dan keselamatan dari Robb mereka dan mereka selalu diberi petunjuk, Alloh Ta’ala berkata:

{أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ} [البقرة: 157].

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rohmat dari Robb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al-Baqoroh: 156).

Bila seseorang bersabar dan siap menerima apa saja yang Alloh Ta’ala tetapkan maka dia adalah termasuk dari orang-orang yang beriman dan Alloh Ta’ala telah menjanjikan kepada mereka berupa Jannah (surga), Alloh Ta’ala berkata:

{جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه} [البينة: 8].

“Balasan mereka di sisi Robb mereka adalah Jannah ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Alloh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada-Nya’. (Al-Bayyinah: 8).

 

BAB 8
MENGHARAPKAN MATI SYAHID

 

Mati syahid merupakan salah satu ni’mat dari ni’mat-ni’mat Alloh Ta’ala yang Dia berikan kepada siapa yang Dia anggap berhak meraihnya.

Orang-orang yang beriman tentu sangat mendamba-dambakan untuk memperoleh ni’mat yang paling besar tersebut, karena keutamaan dan agungnnya maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

»وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ وَدِدْتُ أَنِّي أُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَأُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ«

“Demi Yang Menggenggam jiwaku dengan Tangan-Nya; sesungguhnya aku senang terbunuh di jalan Alloh, aku terbunuh kemudian aku hidup kemudian aku terbunuh kemudian aku hidup kemudian aku terbunuh’. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dari Abu Huroiroh).

Ketika seseorang telah mengetahui betapa ni’mat dan mulianya mati syahid maka tentu dia akan berharap untuk meraihnya, teringat dengan apa yang pernah terjadi di Darul Hadits Dammaj ketika kaum Rofidhoh melakukan pergerakan dengan menjadikan Darul Hadits Dammaj sebagai sasaran mereka dalam pembantaian maka bangkitlah guru kami Abu Abdirrozzaq Riyadh Al-Udainiy –semoga Alloh merohmatinya– melakukan pembelaan terhadap da’wah Ahlissunnah yang ada di Darul Hadits Dammaj, beliau sangat gigih dan pemberani, ketika terdengar bunyi tembakan maka beliau selalu menuju ke tempat-tempat penjagaan di perbatasan-perbatasan, beliau selalu mendatangi dan mengawasi saudara-saudaranya yang berasal dari Indonesia yang sedang berjaga-jaga di Wadi’, di tengah-tengah kesibukan, beliau tidak luput dari berdoa dan meminta kepada Alloh Ta’ala untuk menjadikannya sebagai para syuhada’, bila beliau pulang ke rumahnya di Mazra’ah ketika bertemu dengan putri kecilnya maka beliau langsung berdo kepada Alloh Ta’ala untuk menjadikannya sebagai seorang yang mati syahid maka putri kecilnya mengaminkan doanya, dalam waktu tidak lama kemudian beliau terbunuh di perbatasan antara Darul Hadits Dammaj dengan Wathon pemukiman Rafidhoh –semoga Alloh merohmati dan mengumpulkannya bersama para syuhada’-.

 


BAB 9
MENCARI MATI SYAHID DENGAN CARA-CARA YANG KELIRU

 

Setiap orang yang beriman tentunya ketika sudah mengetahui keutamaan dan mulianya mati syahid maka tentu akan berupaya untuk meraihnya, sampai-sampai terkadang didapati banyak dari manusia melakukan cara-cara yang keliru untuk meraihnya, namun Ath-Thoyyib (Alloh Yang Maha Baik) telah membuat ketentuan tersendiri sebagaimana perkataan Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

»أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا«

“Wahai manusia sesungguhnya Alloh adalah Ath-Thoyyib (Maha Baik), Dia tidak menerima kecuali yang baik”. (Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Huroiroh).

Dan Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam juga berkata:

»مَن أَحْدَث فِي أمْرِنا هذا ما لَيْسَ مِنْه فَهَوَ رَدّ«

“Barangsiapa mengada-adakan (sesuatu perkara) dalam urusan Kami ini yang dia bukan bagian darinya maka dia tertolak”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim dari Aisyah dan di dalam riwayat Muslim Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

»مَنْ عَمِلَ عَملا لَيْسَ عَلَيْه أمْرِنا فهو رَدّ«

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang amalan tersebut bukan dari urusan Kami maka dia tertolak’.

Diantara cara-cara yang keliru tersebut adalah bunuh diri dalam peperangan, kebanyakan pergerakan saat ini seringkali para pelakunya menggunakan cara bunuh diri untuk melumpuhkan kekuatan lawan sebagaimana yang telah dilakukan oleh jaringan teroris-khowarij semisal Al-Qaidah, pengikut Juhaiman, pengikut Usamah bin Ladin, Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir atau yang memiliki prinsip sama dengan mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan bunuh diri adalah merupakan perbuatan tercela dan termasuk dosa dari dosa-dosa besar, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

»مَنَ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِى يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِى بَطْنِهِ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا«

“Barangsiapa membunuh dirinya dengan besi maka besi yang ada di tangannya akan terhunus pada perutnya di neraka jahannam, dia kekal di dalam neraka jahannam selama-lamanya”. (Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Huroiroh).

Demikian tulisan singkat ini kami tulis, semoga member manfaat, baik untuk kami, kedua orang tua kami dan siapa saja yang berbuat kebaikan kepada kami.

وصَلَّى اللَّهُ على مُحَمَّد وَآلِهِ وَصَحْبِه وَسَلِّم

 


[1] Sungguh merupakan keanehan ketika terjadi jihad yang tercampur dengan kejahatan mereka berbondong-bondong terjun dan mereka menghiasi diri-diri mereka dengan nama “LJ (Laskar Jihad)” dengan tanpa memperdulikan atauran-aturan Islam namun ketika terjadi jihad yang sebenarnya seperti yang terjadi sekarang ini di Dammaj yaitu melawan anjing-anjing neraka (musuh kaum muslimin dan musuh para shohabat Nabi yang mulia) mereka kabur, bahkan Maling Kandang alias Dzul Akmal ikut tampil memiliki visi dan misi dengan para laskarnya berupaya untuk menjauhkan manusia dari Darul Hadits Dammaj, maka kami sangat khowatir kalau pendalilan Maling Kandang (Dzul Akmal)  dalam rekaman “Oleh-oleh dari Umrohnya” akan menghujati dirinya:

»يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ«

“Mereka membunuh orang-orang yang beragama Islam dan mereka membiarkan para penyembah berhala”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudriy).

Telah diketahui bersama bahwa kaum Rofidhoh lebih biadad dan lebih najis daripada kaum musyrikin Arab terdahulu, karena kaum musyirikin Arab dahulu ketika masuk bulan harom mereka menghentikan peperangan dan mereka membuka jalan sehingga para shohabat bebas keluar masuk kota Madinah, adapun kaum Rofidhoh maka mereka tidak perduli dengan bulan-bulan harom, mereka tetap membunuh dan melakukan embargo, adapun kesamaan mereka dalam menyekutukan Alloh Ta’ala adalah diantaranya: Kaum musrikin Arab menganggap berhala-berhala mereka sebagai sesembahan selain Alloh sedangkan kaum Rofidhoh menganggap Ali bin Abi Tholib sebagai sesembahan selain Alloh.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: