“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

ali

PERTANYAAN:

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

Apakah benar kamu berfatwa bahwa “Perselisihan antara Ali dan Mu’awiyyah adalah permasalahan pribadi”?.

Jawaban:

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. أمّا بعدُ:

Sebelum kamu menanyakan permasalahan ini, memang sudah ada orang-orang yang menyebarkannya, dengan tujuan untuk menjatuhkan kami, mereka mendatangi pihak-pihak tertentu dengan maksud untuk menekan kami.

Ketahuilah –semoga Alloh menyelamatkanmu dari para penipu dan pendusta- bahwa beginilah cara-cara ahlul fitan (tukang fitnah), tidaklah Arofat dan sebangsanya dari kalangan hizbiyyin mendekati para ulama melainkan dengan tujuan seperti ini, mereka mengutip entah dengan dusta, menambah atau mengurangi atau karena dengan pemahaman dangkal mereka kemudian disampaikan kepada para ulama’, ulama yang tidak tabayyun pun menjadi korban atas kejahatan mereka. 

Bukan termasuk dari aqidah kami perkataan “Perselisihan antara Ali dan Mu’awiyyah adalah permasalahan pribadi”, kami berpendapat bahwa “Perselisihan antara Ali dan Mu’awiyyah adalah karena sebab ijtihad di antara mereka”, Mu’awiyyah menginginkan sebelum adanya pembai’atan untuk terlebih dahulu ditumpas para pembunuh Utsman, dan Ali bin Abi Tholib menginkan pembaiatan terlebih dahulu, Wallohu A’lam.

Adapun jika mereka maksudkan fatwa kami menyebutkan bahwa “Perselisihan antara Ali dan Mu’awiyyah adalah permasalahan pribadi” maka ini tidak benar, berikut ini hasil jawaban kami atas pertanyaan:

 

Abu Ahmad Muhammad bin Salim menjawab:

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. أمّا بعدُ:

Wahai anak saudaraku ketahuilah semoga Alloh menjaga kami dan menjagamu bahwa setiap orang yang berupaya untuk menjadi manusia yang baik maka pasti akan ada yang memusuhinya, lebih-lebih kalau orang tersebut benar-benar mengikuti Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) maka pasti akan dimusuhi, Alloh (تعالى) berkata:

{وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ} [الأنعام: 112]

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, (dari kalangan) syaithon-syaithonnya manusia dan jin, sebagian mereka membisikan kepada sebagian yang lain”. (Al-An’am: 112).

Tidaklah ada dari seseorang memiliki rasa dengki, hasad dan dendam kepada orang lain melainkan karena dia terjangkiti penyakit ghuluw (melampui batas).

Tidaklah seseorang menaruh kebencian yang sangat kepada kami melainkan karena dia memiliki sifat ghuluw, baik dia ghuluw terhadap apa yang ada pada dirinya yaitu dia ingin supaya kami menyanjungnya dan mengangkatnya setinggi langit atau dia ghuluw terhadap orang yang dia senangi, dia ingin meninggikan orang tersebut akan tetapi karena melihat kami mungkin sebagai penghambatnya maka jalan satu-satunya dia pun berupaya untuk mencelakakan kami dengan berbagai cara, namun Insya Alloh tidak akan memudhoratkan kami, Alloh (تعالى) berkata:

{لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى} [آل عمران: 111]

“Tidak akan memudhoratkan kalian melainkan hanya gangguan (saja)”. (Ali Imron: 111).

Tidakkah kamu wahai anak saudaraku melihat kepada khowarij terdahulu, mereka sangat ghuluw terhadap Ali bin Abi Tholib semoga Alloh meridhoinya, semua perkara harus lewat ke Ali, perkara kecil atau pun perkara besar harus lewat Ali, masalah kholifah harus Ali, adapun Abu Bakr, Umar dan Ustman tidak berhak, karena ghuluw kepada Ali maka selain Ali bagaimana pun baiknya, bagaimana pun mulianya, tidak teranggap di sisi mereka.

Ketika Ustman semoga Alloh meridhoinya berhasil mereka bantai maka bergegaslah mereka mendukung Ali, beliau dibai’at dan mereka sangat bersemangat dalam berperang menghadapi Mu’awiyyah, ketika Ali menyelesihi kemauan mereka untuk terus berperang menghadapi Mu’awiyyah dan Ali menginginkan perdamaian dengan Mu’awiyyah mereka pun marah, mereka berontak dan keluar dari ketaatan kepada Ali, yang tadinya mereka ghuluw terhadap Ali kemudian setelah itu mulai mereka mencacati Ali, mereka mengatakan bahwa Ali khianat, Ali tidak berhukum dengan hukum Alloh, Ali berperang dengan Mu’awiyyah akan tetapi tidak boleh mengambil harta rampasan perangnya, Ali tidak mau menulis gelarnya sebagai Amirul Mu’minin, Ali berhukum dengan hukum manusia yang dijadikan sebagai penengah, Ali….dan Ali…, yang ujung-ujungnya mereka menghalalkan kehormatan Ali bahkan sampai Ali semoga Alloh meridhoinya terbunuh di atas tangan salah satu dari tokoh mereka.

Dan kami pun khawatir terhadap orang-orang yang ghuluw tersebut kalau nantinya akan kecewa terhadap orang yang mereka tinggi-tinggikan itu, yang pada akhirnya mereka akan mencacatinya pula, kami khawatir nantinya mereka akan membongkar aib-aibnya atau menuduhnya dengan tuduhan sebagaimana mereka menuduhkan kepada kami.

أَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ

Sekali lagi kami katakan bahwa ghuluw adalah sumber dari sumber-sumber segala penyakit, baik itu penyakit jasmani atau pun penyakit rohani, bila seseorang memiliki sifat ghuluw ketika memakan suatu makanan maka tentu makanan tersebut akan memudhoratkannya, mungkin perutnya akan pecah atau minimalnya akan termuntahkan, begitu pula seseorang yang ghuluw terhadap orang lain maka tentu akan memudharotkannya, mungkin orang tersebut akan berlepas diri darinya ketika di dunia ini atau di akhirat kelak, Alloh (تعالى) berkata:

{قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ بَلْ كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ} [سبأ: 32].

“Dan pembesar-pembesar mereka berkata kepada pengikut-pengikut mereka: Apakah kami yang menghalangi kalian dari petunjuk setelah dia datang kepada kalian?! Bahkan kalian itu adalah orang-orang yang pembuat dosa”. (Saba’: 32).

  

Demikianlah kutipan dari jawaban kami yang berjudul “IKAN ADALAH MAKANAN KESEHATAN YANG TERBAIK UNTUK PARA PENUNTUT ILMU”.

Dari penjelasan tersebut sangat jelas bahwa kami tidak berpendapat “Perselisihan antara Ali dan Mu’awiyyah adalah permasalahan pribadi”.

Barang siapa memaksa-maksakan perkataan tersebut dan memahaminya dengan pemahaman “Perselisihan antara Ali dan Mu’awiyyah adalah permasalahan pribadi” maka semoga Alloh merusak pemahaman dan hafalannya.

Kalau pun seandainya benar kami pernah mengatakan atau pernah tertulis perkataan seperti itu maka itu bukan unsur bersengaja kami lalukan:

{رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا} [البقرة: 286]

Wahai Robb kami, janganlah Engkau siksa kami jika kami lupa atau kami tersalah”. (Al-Baqoroh: 286).

Dan perkataan kami yang ini sebagai penghapusnya, inilah perkataan yang yang sah dari kami, dan kami menganggap bahwa perkataan “Perselisihan antara Ali dan Mu’awiyyah adalah permasalahan pribadi” adalah perkataan yang salah dan keliru.

Bila seperti ini pengakuan kami, namun kemudian terus ada yang mencoba-coba membicarakan masalah ini dan terus mengatakan bahwa kami berpendapat bahwa “Perselisihan antara Ali dan Mu’awiyyah adalah permasalahan pribadi” maka tidak diragukan lagi bahwa dia persis dengan para hizbiyyun yang menyerang Syaikh kami dengan tuduhan mengaku sebagai “Imam Tsaqolain”.

اللهُم إِنّي أَدْعُوكَ اللهَ، وَأَدْعُوكَ الرحْمَنَ، وَأَدْعُوكَ الْبَر الرحِيمَ، وَأَدْعُوكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى كُلهَا، مَا عَلِمْتُ مِنْهَا، وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، أَن تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَني، اللهم مَن أرادَ بنَا أو بِدَعوتِنَا سُوءا أو مَكرا فَاجْعَل كَيده فِي نحرهِ ومزقه كلّ ممزّق.

 

PERTANYAAN:

Ada seseorang dari mantan LJ, dia salah satu pengikut Luqman Ba’abduh, dia sangat marah sama ustadz dan ingin sekali untuk menyembelih ustadz, apa benar kalau orang seperti itu kalau sudah di depan ustadz dan siap menghunuskan pedangnya maka ustadz tinggal diam dan tidak bela diri?

 

Jawaban:

Katanya mereka sudah taubat?!, kalau seperti itu mana bukti tubatnya mereka?!, kalau pun masih ada dari mereka mau coba-coba mengulangi kejahatannya dengan upaya untuk menyembelih atau menculik kami atau mau mencelakkan kami maka siapa takut?!, Nabi kami Muhammad (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) telah menghibur kami sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Huroiroh, beliau berkata:

“جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي؟ قَالَ: «فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي؟ قَالَ: «قَاتِلْهُ» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي؟ قَالَ: «فَأَنْتَ شَهِيدٌ»، قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ؟ قَالَ: «هُوَ فِي النَّارِ»”.

“Datang seseorang kepada Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) lalu berkata: “Wahai Rosululloh, apa pendapatmu jika datang seseorang merampas hartaku?, beliau berkata: “Jangan kamu berikan hartamu!”, dia berkata lagi: “Apa pendapatmu kalau dia mau membunuhku (karena aku tidak memberikan hartaku kepadanya)?, beliau berkata: “Kamu bunuh dia!”, apa pendapatmu dia (berhasil membunuhku?, beliau berkata: “Kamu syahid!“, dia berkata: “Apa pendapatmu kalau aku yang membunuhnya? Beliau berkata: “Dia di dalam neraka”.

Ini yang berkaitan dengan membela harta, lalu bagaimana kiranya dengan membela diri, yang dia (diri tersebut) lebih berharga dari pada harta? maka tentu lebih utama untuk dibela.

اللهم إني أسألك بأني أشهد أنك أنت الله لا إله إلا أنت الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد، اللهم مَن أرادَ بنَا أو بِدَعوتِنَا سُوءا أو مَكرا فَاجْعَل كَيده فِي نحرهِ ومزقه كلّ ممزّق.

PERTANYAAN:

Apa hukumnya main bola kaki? Karena kami dengar ada orang dari Dammaj mengharomkannya.

Jawaban:

Yang perlu kami nasehatkan kepada penanya dan yang memiliki anggapan sama dengan si penanya untuk melihat kepada hujjah dan argumen dalam menghadapi permasalahan fiqhi seperti ini, terkadang orang yang mengharomkan permasalahan ini dengan menggunakan dalil umum kemudian dipaksa-paksakan untuk diterapkan kepada pengharoman tentang permasalahan ini, namun sebagai insan terpelajar atau insan yang memiliki pandangan untuk mencermati sisi pendalilan, kalau tidak ada dalilnya atau perkaranya itu hanya urusan ke duniaan maka kembali ke hukum asal tentang kebolehannya, para ulama’ berkata:

“الأصل في مثل هذا الإباحة إلا ما حرمه الشرع المطهر”.

“Asal pada yang semisal ini adalah mubah (boleh), kecuali apa-apa yang telah diharomkan oleh syari’at yang suci”.

Dari awal munculnya permainan bola kaki yang bersumber dari negara Eropa sampai saat ini belum kami dapati ada ulama mengharomkannya secara terang-terangan, hal demikian itu karena tidak adanya dalil yang jelas menunjukan keharoman atau ketidak bolehannya.

Sebagian orang mengharomkannya karena berbagai macam alasan namun alasan-alasan tersebut sangatlah lemah, sekadar contoh alasannya tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir maka ini pun alasan yang sangat global, karena tidak semua keserupaan dengan orang kafir itu mangharuskan harom atau tidak boleh, kita katakan bahwa penyerupaan yang terlarang itu bila ada dalil yang menunjukan tentang terlarangnya dan contohnya sangat banyak.

Begipula alasan mereka karena menerlantarkan sholat, atau melalaikan kewajiban atau yang semisalnya dari perkara syari’at maka ini juga alasan yang lemah, karena yang menjadi patokan adalah melihat zat permasalahan tersebut, sekedar contoh orang yang tidur sampai melampui waktu sholat, karena banyaknya tidur maka membuatnya terlalaikan dari sholat, maka apakah kemudian dikatakan zatnya tidur itu adalah harom? Tentu jawabannya bahwa tidur tidak harom, hanya saja orang yang tidur tersebut berdosa karena menerlantarkan kewajibannya dengan sebab banyak tidur. Dan semua tentu memahami permasalahan ini:

{وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ} [العنكبوت: 43]

“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia; dan tidaklah ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. (Al-‘Ankabut: 43).

Wallohu A’lam.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: