“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

SECUIL PERTANYAAN  DARI ORANG BINGUNG

Kepada Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al- Limboriy

images (3)
Pertanyaan:
Ada seseorang kebingungan dalam mengurusi anak-anak prempuannya, kemudian ada diantara anak-anaknya dia menyerahkannya ke pondok pesatren putri, hingga tinggal di asrama pondok tersebut, dengan alasan karena dia sibuk, apakah dibenarkan perbuatannya itu?, dan bila diberitahu untuk dia nikahkan saja putrinya tersebut dia beralasan masih perlu balajar, apa nasehatmu terhadap orang tersebut?.
 
Jawaban:
Permasalahn ini sudah sangat sering kami jelaskan, dan kami nasehatkan untuk seluruh kaum muslimin untuk jangan membiasakan putri-putri mereka menginap di rumah selain rumah-rumah mereka, dan janganlah mereka tertipu dengan nama pondok pesantren putri atau embel-embel as-salafiyyah atau yang semisalnya, mereka berjauhan dengan putri-putri mereka dan mereka tidak tahu apa yang dilakukan oleh putri-putri mereka, mereka mengira putri-putri mereka di asrama namun ternyata berkeliaran di jalan-jalan, mereka mengira putri mereka sedang belajar di pondok pesatren putri namun ternyata di bawa lari oleh seseorang (kawin lari), mereka mengira putri-putri mereka di pondok pesantren sedang beribadah namun ternyata berbuat dosa dan ma’siat.
Sudah turun temurun dari generasi ke generasi, bahwasanya para wanita dipingit di dalam rumah-rumah mereka, Alloh berkata:
{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى} [الأحزاب: 33]
“Dan hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (Al-Ahzab: 33).
Bahkan ketika di zaman Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) para gadis-gadis kecil sering datang di rumah Aisyah, namun ketika sudah masuk malam maka mereka semua kembali ke rumah mereka masing-masing, ada juga dari mereka (para wanita) menghadiri muhadhorohnya Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) di masjid dan di musholla’ (lapangan sholat ‘Ied), namun setelah mendengarkan muhadhoroh mereka langsung kembali ke rumah-rumah mereka masing-masing.
Tidak ada cerita di dalam Islam kalau mereka para wanita membuat suatu perkumpulan lalu menginap di sebuah asrama atau menginap di masjid, tidak kita dapati melainkan hanya di agama Kristen yaitu adanya para biarawati yang mereka tinggal di asrama dan di gereja-gereja mereka.
Siapa yang melakukan ini, ya’ni tetap mengadakan bid’ah biarawati ini maka dia di atas kebutaan, Wallohi tidaklah mereka memiliki hujjah dan tidak pula memiliki salafush sholih dalam masalah ini, melainkan hanya dengan usaha mendatangi atau menghubungi si Fulan dan si Fulan lalu dihasut dan dibujuk supaya mencegah dan melarang kami dari menjelaskan permasalahan ini.
Hendaklah mereka takut dengan berbuat seperti ini, karena ini adalah pekerjaan para hizbiyyun, kalau mereka tidak bisa membantah dengan hujjah maka mereka mendatangi para ulama baik beralasan “dengan sebab itu terjadi perpecahan” atau bahkan mereka memperalat polisi atau aparat negara supaya menghalangi da’wah al-haq semisal itu, sekali lagi ini bukan carasalafush sholih, bahkan ini adalah bentuk penyelisihan yang nyata dan jelas:
{فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [النور: 63]
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perkara-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (An-Nuur: 63).
Dalam masalah ini Insya Alloh kami di atas al-haq, dan siapa yang menyelisihi alhaq tersebut maka bisa jadi dia karena di perbudak oleh hawa nafsu atau karena mengandalkan perasaan, yaitu rasa kasihan:
{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا} [الأحزاب: 36]
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguhlah Dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata”. (Al-Ahzab: 36).
Di zaman Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dan para shohabatnya mereka lebih menderita dari pada kita di zaman ini, mereka hijroh dari Makkah ke Madinah, para wanita ada dari mereka sangat membutuhkan tempat tinggal namun bersamaan dengan itu Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) tidak menampung mereka dalam suatu penampungan.
Dan mereka ya’ni Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dan para shohabatnya lebih memiliki rasa kasihan terhadap nasib para wanita, namun bersamaan dengan itu pula mereka tidak mengadakan bid’ah biarawati ini, karena di zaman Nabi tidak ada bid’ah seperti ini, dan para shohabatnya juga tidak mengadakannya, begitu pula para ulama yang mengikuti jejak mereka, maka sangat dikhowatirkan orang yang mengadakan bid’ah biarawati ini akan terus terseret ke dalam penyimpangan (cepat atau lambat)Abu Bakr Ash-Shiddiq Rodhiyallohu berkata:
“فَإِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ”.
“Sesungguhnya aku khowatir jika aku meninggalkan sesuatu dari perkaranya (Rosululloh) aku akan menyimpang”.
Kami nasehatkan kepada para orang tua untuk benar-benar memperhatikan putri-putri mereka, janganlah putri-putri mereka dibiasakan dengan bermalam di rumah orang lain atau di suatu asrama atau di tempat kos-kosan, kewajiban bagi para orang tua untuk menggemleng mereka dengan bimbingan Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ} [التحريم: 6]
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim: 6).
Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) memiliki para putri namun beliau tidak menitipkan putri-putrinya ke tempat-tempat seperti itu, bahkan para shohabat memiliki banyak putri namun mereka tidak menitipkannya ke teras masjid Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dan tidak pula mereka menitipkannya bermalam dan menginap di rumah Aisyah, bila seperti ini keadaannya maka tidak diragukan lagi kalau perbuatan seperti para biarawati itu adalah bid’ah yang sesat:
«أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْأُمُورِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Kemudian daripada itu, maka sesungguhnya sebaik-baik perkara adalah Kitabulloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), dan sejelek-jeleknya perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) adalah sesat”.Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan yang selainnya dari hadits Jabir bin Abdillah dari Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).
Dan anehnya, dengan adanya keterangan seperti ini bukannya diterima atau ditanggapi dengan baik atau dibantah dengan metode yang terbaik tapi malah justru ditanggapi dengan cara yang diluar kewajaran, ada yang sampai mela’nat kami, mencela kami, membuat makar kepada kami supaya mendiamkan permasalahan ini, atau bahkan melemparkan tuduhan keji, dan upaya-upaya untuk mempersempit ruang lingkup kami, walapun seperti itu makar mereka namun Insya Alloh kami tetap bersabar:
{وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ} [آل عمران: 186]
“Dan kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelummu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang menyakitkanmu. Jika kalian bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (Ali Imron: 186).
 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Diambil dari tulisan Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbori hafidzohullah...

Menikahi anak kecil Mungkinkah dia hamil

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: