“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Luqman Ba’abduh Lumpuhkan Al-Haq Karena Membela SiPenuduh

Pertanyaan:

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

Luqman Ba’abduh mengadakan dauroh di beberapa tempat di Tanah Air dengan tujuan untuk membongkar tuntas tentang Ahlissunnah yang di Dammaj dan sekitarnya, apa tanggapanmu!.

Jawaban:

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

أمّا بعدُ:

Alloh (تعالى) berkata:

{الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا} [الكهف: 104]

“Orang-orang yang telah sesat amalan mereka di kehidupan dunia dan mereka menyangka dalam keadaan melakukan perbaikan”. (Al-Kahfi: 104).

Demikianlah keadaannya Luqman bin Muhammad Ba’abduh berserta jaringannya, tidak pernah mereka itu merasa salah bahkan mereka selalu merasa di atas jihad dan sedang beramal kebaikan.

Dosa dan kejahatan mereka masih segar bau busuknya tercium oleh manusia ditambah lagi dengan berbuat dosa-dosa baru, ingin mencari-cari dan menghitung-hitung kesalahan orang dengan berbagai macam cara, padahal mereka sendiri memiliki segudang dosa dan kejahatan, sungguh bagus perkataan Abdulloh bin Mas’ud untuk dipukulkan kepada Luqman Ba’abduh dan orang-orang yang semisalnya:

“فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ”.

“Maka hitunglah kejelekan-kelejekan kalian, aku adalah yang memberi jaminan bahwa tidak akan tersia-siakan dari kebaikan-kebakan kalian sedikit pun”. Diriwayatkan oleh Ad-Darimiy dengan sanad hasan, dari hadits Al-Hakam Ibnul Mubarok, dari ‘Amr, dari Yahya dari Bapaknya.

Kasihan sekali mereka itu, lantaran membela pembuat kerusakan dan membela si penuduh mereka pun berbondong-bondong membuat kerusakan di muka bumi dengan anggapan sedang mengadakan perbaikan:

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12)} [البقرة: 11، 12]

“Dan jika dikatakan kepada mereka: “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ketahuilah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari”. (Al-Baqoroh: 11-12).

Kali ini mereka riang gembira karena mendapatkan respon dari Asy-Syaikh Robi’, mereka bergembira karena mereka bisa menyatukan kalimat di hadapan manusia, bukan main orang-orang yang berloyalitas dengan Syi’ah-Rofidhoh, orang-orang yang berloyalitas dengan hizbiyyin, orang-orang yang berloyalitas dengan para penjahat bisa bersatu untuk menyerang Ahlissunnah yang berada di Dammaj, kasihan persatuan mereka hanya di depan mata namun hakekatnya mereka berpecah:

{بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ} [الحشر: 14]

“Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat dahsyat. kamu mengira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah, yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. (Al-Hasyr: 14).

Kasihan mereka berani membela Muhammad bin Abdillah Ar-Rimiy yang ghuluw dan senang menggelari dirinya dengan al-imam, tanpa malu menuliskan di belakang namanya dengan gelar itu, kasihan kali ini Muhammad Ar-Rimiy sedang kebingungan, dengan terang-terangan dia mengkafirkan orang-orang yang meninggalkan sholat namun Rofidhoh dia tidak berani kafirkan, padahal berbagai kejelekan dan kekafiran dilakukan oleh Rofidhoh; meninggalkan sholat, berbuat syirik dan ghuluw kepada ahlil bait, keluar dari jama’ah kaum muslimin, mengkafirkan sebagian shohabat, menuduh Aisyah berbuat keji, menghalalkan zina dan memerangi kaum muslimin dengan persenjataan.

Kasihan kekafiran seperti itu jelasnya mereka masih berloyalitas dan menganggapnya sebagai saudara mereka dan tidak menggugatnya, namun ketika ada dari kaum muslimin yang mereka anggap (sesuai sangkaan mereka) terjatuh ke dalam dosa besar mereka beramai-ramai untuk mengusirnya, bahkan menculiknya, memukulnya, bahkan menyembelihnya serta merajamnya, padahal mereka sendiri para pelaku dosa besar yang mereka tidak menyadari.

Kami katakan: Wahai Luqman, tidaklah ada yang masih bisa tertipu dengan penampilan dan lagakmu melainkan hanya orang-orang yang masih tertanam watak dan bid’ahnya LJ (laskar jihad). Adapun orang-orang yang sudah benar-benar bertaubat dari LJ dan yang mengetahui kelicikan dan kebengisanmu maka mereka melihatmu merasa jijik karena kamu itu tidak ada bedanya dengan seekor anjing:

{فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ} [الأعراف: 176]

“Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya maka dia mengulurkan lidahnya (juga)”. (Al-A’rof: 176).

Mungkin kata-kata ini sangat kasar, tapi bagaimana lagi karena Luqman itu perlu dipukulkan kata-kata seperti ini, supaya dia lebih mengerti tentang dirinya dan supaya sadar atau kalau dia masih tetap tidak mengerti dan tidak mau sadar maka tidak ada ucapan untuknya melainkan perkataan:

{إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ}

Kasihan karena deritanya mereka bertambah parah, mereka semakin tuli, buta dan bisu dari al-haq:

{مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ (17) صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ (18)} [البقرة: 17، 18]

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Alloh hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”. (Al-Baqoroh: 17-18).

Sungguh kasihan dia begitu pula jaringannya mulai lagi angkat bicara karena mendapat semprotan dari Asy-Syaikh Robi’, kasihan mereka ingin membela Asy-Syaikh Robi’ atau ulama mereka dengan memulai menyalakan api lagi!.

Mereka ghuluw sampai menjadikan Asy-Syaikh Robi’ seakan-akan Robb alam semesta, mereka tidak peduli apa yang keluar dari lisan Asy-Syaikh Robi’ baik benar atau salah “yang penting Robi’ berkata”, mereka langsung menelannya mentah-mentah, kasihan mereka dalam beragama persis seperti orang-orang shufi.

Perkataan ulama, mereka lebih unggulkan dari pada perkataan Alloh dan Rosul-Nya, kasihan prilaku dan ucapan serta dorongan mereka kepada para jaringan mereka persis dengan ucapan kaum Nabi Ibrohim:

{حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ} [الأنبياء: 68]

“Bakarlah dia dan tolonglah sesembahan-sesembahan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak”. (Al-Anbiya’: 68).

Ini persis dengan ucapan Luqman Ba’abduh ketika dimintai fatwa oleh Saifulloh Ambon dia pun berkata “tolonglah ulama kita…”. Sungguh kasihan mereka, sekarang Luqman Ba’abduh mencoba tampil lagi.

LuqmanLuqmanLuqman! Kasihan dirimu! Walau pun kamu dan orang-orang yang sejaringan dengamu mencoba dengan berbagai macam cara untuk bertingkah seperti itu, namun dengan izin Alloh kalian tidak akan berhasil, bahkan kalian akan semakin terpuruk dan binasa:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ} [فاطر: 10]

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Alloh-lah kemuliaan itu semuanya, kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang sholih dinaikkan-Nya. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur”. (Fathir: 10).

Kasihan dirimu wahai Luqman!, bukankah dulu kamu dan orang-orang yang sejaringan denganmu merekomendasikan orang-orang kalian ke Dammaj, dan mereka kemudian melakukan makar di Dammaj, menjalankan misi seperti yang pernah kamu lakukan baik berupa kejahatan, pemukulan, pencelaan, penghinaan, penghalalan kehormatan orang dan yang semisal itu, namun dimana mereka semua?.

Karena tidak berhasil kemudian kamu (wahai Luqman) dengan penguat dari fatwa Ubaid Al-Jabiriy memerintahkan untuk keluar dari Dammaj, orang dilarang masuk ke Dammaj, yang di Dammaj disuruh keluar, kasihan!.

Walaupun faham kalian seperti itu masih ada pada orang-orang yang pernah terpengaruh dengan kalian yang mereka mencoba menerapkannya kembali faham busuk kalian itu di Dammaj dengan berusaha mengeluarkan Ahlissunnah Al-Indonesiyyin dari Dammaj dengan tuduhan dan alasan karena ahlul ma’ashi (pelaku ma’siat), luthi, jatuh cinta dengan anak-anak atau  melihat gambar porno dan yang semisalnya namun:

{وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ} [فاطر: 10]

“Dan rencana jahat mereka itu akan hancur”. (Fathir: 10).

Kasihan mereka semua berusaha untuk mengeluarkan Ahlissunnah dari Dammaj, mereka kali ini semisi dengan Rofidhoh, kaum Rofidhoh berupaya mengeluarkan Ahlissunnah dari Dammaj dengan berbagai macam cara, perang fisik dan mental mereka lakukan.

Dan ternyata para hizbiyyun yang dipelopori oleh Ubaid Al-Jabiriy ikut andil dengan mengeluarkan fatwa ngawur “orang-orang yang di Dammaj keluar, yang diluar jangan ke Dammaj”.

Mereka yang di Ma’bar tidak ada tamayyuz (pembeda) antara Ahlissunnah dan para hizbiyyin, bahkan sebagian orang-orang yang beramai-ramai duduk di sisi Asy-Syaikh Robi’ adalah mereka para hizbiyyin dan nampak Asy-Syaikh Robi’ berloyalitas dengan mereka karena mungkin ditipu, Asy-Syaikh Robi’ sungguh telah terhujati dengan perkataannya yang dahulu, dia berkata di dalam “Syarhu Ushulis Sunnah Lil Imam Ahmad“:

“كثير من السياسيين عندهم نفاق عملي في الأحزاب السياسية، ومن علامات هذا النفاق تولي أهل البدع”.

 “Kebanyakan dari para politikus mereka ada “nifaq ‘amaliy” (amalan kemunafiqkan) pada kelompok-kelompok siasat (mereka), dan diantara tanda kemunafiqkan ini adalah berloyalitas dengan ahlul bida’“.

Maka sangat pas perkataan Asy-Syaikh Robi’ pada salah satu tulisannya untuk dipukulkan kepada Asy-Syaikh Robi’ sendiri dan orang-orang yang taqlid kepadanya, dia berkata:

“قد يتحالفون مع بعض الأحزاب الملحدة من شيوعيين وغيرهم فإذا أنكر عليهم هذا التحالف الأثيم قالوا: إنهم أسلموا”، فإذا نشب بينهم وبين حلفائهم قالوا: إنهم كفار شيوعيين”. 

“Terkadang mereka bersatu dengan kelompok-kelompok yang kafir dari para syi’ah dan yang selain mereka, jika diingkari atas mereka terhadap persatuan yang berdosa ini maka mereka mengatakan: “Mereka telah berislam”, jika tidak beterkaitan antara mereka dan antara persatuan mereka (ya’ni berpecah) maka mereka mengatakan: “Sesunguhnya mereka adalah orang-orang kafir lagi orang-orang syi’ah”.

Perkataannya ini telah terhunuskan ke leher Asy-Syaikh Robi dan menjadi bumerang atas dirinya sendiri, ketika dia bermajelis dengan murid-muridnya atau kawan-kawannya yang membenci Syaikhuna, dia menuduhkan kepada Syaikhuna dengan berbagai tuduhan yang tidak bisa dia pertanggung jawabkan, ketika ada dari murid-muridnya atau kawan-kawannya menyebarkan ucapannya dan perkataannya maka dia pun ingkari bahwa dia tidak mengatakannya atau dia tidak menuduhkannya itu kepada Syaikhuna, kasihan muridnya pun jadi kambing hitam, dicap sebagai pendusta namun sekarang perkataan itu dia benarkan dan nampakkan.

Dan perkataanya ini pula telah terhunuskan ke leher Muhammad bin Abdillah Ar-Rimiy dan Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Washobiy dan jaringan mereka, karena mereka membela-bela Rofidhoh dan tidak mengkafirkannya, ketika diingkari dengan lisan ringan mereka berkata: “Sesungguhnya mereka adalah muslimun (orang-orang yang beragama Islam)”.

Memang kamu (wahai Luqman) begitu pula jaringan-jaringanmu hebat dan berani menantang serta masih berani juga merasa aman dari makarnya Alloh:

{أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ} [الأعراف: 99]

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Alloh (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah yang merasa aman dan azab Alloh kecuali orang-orang yang merugi”. (Al-A’rof: 99).

Kasihan dirimu wahai Luqman! Betapa banyak sunnah sayyiah (metode yang jelek) yang kamu lakukan dan yang kamu da’wahkan kini banyak yang mengikutinya:

«وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ».

“Barang siapa yang membuat sunnah-sunnah (metode-metode) di dalam Islam dengan sunnah yang jelek lalu diamalkan (oleh orang-orang) setelahnya maka ditulis atasnya semisal dosa orang yang mengamalkannya, dan tidak terkurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun”. Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Jarir bin Abdillah dari Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).

Dahulu Luqman Ba’abduh dan jaringannya mengingkari kemungkaran namun kali ini mereka mendiamkannya bahkan melakukannya, dahulu mereka mengingkari seorang majhul (penulis gelap) semisal Abdurrohman Ath-Tholibiy namun ternyata ketika mereka menjalankan makar atas Ahlissunnah di Dammaj mereka pun meniru dan menerapkan prilaku Abdurrohman Ath-Tholibiy, mereka menulis celaan dan penghinaan terhadap Syaikhuna, muncul diantara mereka dengan menamakan diri Abu Umar bin Abdul Hamid tulisannya dicetak oleh makatabah Al-Ghuroba’ Solo dan tidak ada seorang pun yang terang-terangan dari mereka mengingkari itu, muncul pula Abu Mahfudz bin Ali, muncul pula Abdulloh bin Abdirrohman, semuanya mengikuti prilaku Abdurrohman Ath-Tholibiy:

«يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ»

“Didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka keluarlah usus (atau sesuatu dari isi) perutnya, dia berputar padanya sebagaimana berputarnya keledai pada tali pengikatnya, maka penduduk neraka berkumpul kepadanya, mereka berkata: Wahai Fulan ada apa denganmu? Bukankah dahulu kamu memerintahkan kepada kebaikan, dan melarang dari kemungkaran? Dia pun berkata: “Tentu, dahulu aku memerintahkan kepada kebaikan namun aku tidak melakukan (kebaikan itu), dan aku melarang dari kemungkaran namun aku melakukannya”. Diriwayatkan oleh Muslim dari Usamah bin Zaid dari Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) .

Sungguh memalukan dan menghinakan, mereka beramai-ramai mengajak manusia kepada kebaikan namun mereka selalu menyelisihi ajakan mereka sendiri, sekarang mereka mulai lagi berorasi, berbicara dan berpidato di hadapan manusia, sungguh sangat mengena perkataan Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) untuk dijadikan hujat atas mereka:

«ليلة أسري بي رأيت قوما تقرض ألسنتهم بمقاريض من نار – أو قال: من حديد – قلت: من هؤلاء يا جبريل؟ قال: خطباء من أمتك». 

“Ketika aku di-isra (dinaikan ke langit) aku melihat suatu kaum di parut lidah-lidah mereka dengan parutan dari api –atau dia berkata-: “Parutan dari besi” Maka aku bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab: Para khotib dari umatmu”. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Anas bin Malik.  

Dahulu mereka mentahdzir dari prinsip Hasan Al-Banna: “Tolong menolong kepada perkara yang kita sepakati dan saling memberi udzur dalam perkara yang kita perselisihkan”, ternyata sekarang mereka terapkan prinsip itu, ketika dahulu ada yang konsultasi kepada mereka untuk kuliah di Universitas Islam Madinah maka mereka melarang karena kata mereka para pengajarnya banyak hizbiyyun namun sekarang mereka merubah ucapan itu.

Mereka dahulu dengan terang-terangan mengkafirkan Rofidhoh bahkan ada dari mereka mengkafirkan Syi’ah secara umum namun karena sebab menerapkan prinsip Hasan Al-Banna itu mereka pun memberi toleransi terhadap fatwa Muhammad Ar-Rimiy dan fatwa ulama mereka dengan berbagai macam alasan:

{قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ} [التوبة: 30]

“Semoga Alloh binasakan mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?”. (At-Taubah: 30).

Demikian jawaban singkat ini semoga bermanfaat untuk siapa saja yang menginginkan kebenaran. 

وصَلَّى اللَّهُ على مُحَمَّد وَآلِهِ وَصَحْبِه وَسَلِّم.

OlehAbu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory (Hafidzahullah)

di Darul Hadits Dammaj 1434 H 

Tulisan Terkait Lainnya :

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: