“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Soal-Jawab Bersama Ahli Ilmu

(Edisi Bulan Robi’uts Tsani 1434 H)

images (3)

Disusun Oleh: Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al-Qudsiy Al Jawiy

-semoga Allah menolongnya- 

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين، أما بعد:

Berikut ini adalah sebagian soal-soal dari para ikhwah di tanah air yang dititipkan ke saya untuk dicarikan jawabannya, sekalipun secara ringkas karena keterbatasan waktu dari para masyayikh dan si perantara.

SOAL PERTAMA:

Dikatakan bahwasanya Ahmad bin Hasan Al Mu’allim akan mengadakan dauroh di Indonesia. Siapakah Ahmad bin Hasan Al Mu’allim ini.

Jawaban Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله:

Orang ini hizbiy, punya lima wajah.

Jawab Asy Syaikh Muhammad bin Hizam Al Ibbiy حفظه الله:

Orang ini hizbiy, dan Anggota jam’iyyat.

SOAL KEDUA:

Nenek dari ibu saya di waktu hidupnya berwasiat pada bibi agar setengah dari rumah dari bagian bibi saya itu diberikan pada seorang cucu. Ternyata setelah sang cucu dididik oleh sang bibi, setelah dewasa dia itu meninggalkan sholat, puasa dan lainnya. Apakah si cucu itu berhak mendapatkan wasiat tadi, yang mana wasiat tadi termasuk dari hak warisan dari para ahli waris.

Jawab Asy Syaikh Zayid Al Wushobiy حفظه الله:

Jika nenek itu sekarang telah meninggal, maka wasiat tadi harus dijalankan. Adapun jika sang nenek masih hidup, maka sang nenek berhak menarik kembali wasiat tadi.

SOAL: jadi sang cucu yang pendurhaka itu berhak mendapatkan wasiat tadi?

JAWAB BELIAU: iya berhak.

SOAL KETIGA:

Seorang suami berhubungan badan dengan istrinya, akan tetapi sang laki-laki lambat untuk ejakulasi, sementara istrinya cepat mencapai puncak. Jika diteruskan, sang istri akan merasa kesakitan. Maka apakah boleh sang istri merangsang suaminya dengan onani (istimna)?

Jawab Asy Syaikh Zayid Al Wushobiy حفظه الله:

Jika keduanya bisa sabar dengan keadaan pasangannya, maka itu lebih baik. Akan tetapi jika tidak bisa, maka Alloh tidak membebani jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya. Sang suami bisa mengusahakan untuk mengobati dirinya.

Tidak, onani itu tidak boleh, sama saja apakah dengan tangan sendiri ataukah dengan tangan istri. Bahkan sering-sering onani akan merusak kesehatan sang suami. Tapi jika dilakukan dengan sangat jarang, yaitu sang istri memegang kemaluan sang suami untuk merangsangnya, dengan jarang-jarang, maka tidak mengapa.  

SOAL KEEMPAT:

Apakah Al A’rof: 164

﴿قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ﴾ [الأعراف: 164].

“Mereka berkata: “Sebagai pelepasan udzur kepada Robb kalian dan agar mereka bertaqwa”

bermakna bahwasanya di antara alasan menasihati seseorang itu adalah sebagai bentuk pelepasan udzur di hadapan Alloh dan sebagai usaha untuk mengajak mad’u untuk bertaqwa?

Jawab Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله :

Tiada keraguan bahwasanya itulah yang dimaukan.

SOAL KELIMA:

Benarkah bahwasanya menyebut-nyebut kebaikan meskipun dalam hati itu merupakan pembatal amalan?

Jawab Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله :

            Tidak demikian.

SOAL KEENAM:

Apa hukum menjawab pertanyaan seseorang ketika kita baru di pertengahan membaca ayat Al Qur’an? Apakah kita selesaikan dulu sampai ayatnya selesai ataukah menjawab pertanyaan dia?

Jawab Asy Syaikh Jamil Ash Shilwiy حفظه الله :

Telah tetap riwayat bahwasanya Ibnu Umar رضي الله عنهما jika membaca Al Qur’an, beliau tak mau mengajak bicara seorangpun. Jika ayatnya pendek, memang lebih utama untuk membaca ayat itu sampai selesai. Akan tetapi jika ayatnya panjang seperti ayatud dain (Al Baqoroh: 282) maka tidak mengapa untuk menjawab pertanyaan orang tadi lebih dulu.

SOAL KETUJUH:

Saya ingin tahu contoh orang awam salafiy itu bagaimana? Jika seseorang itu memakai pantalon atau jins, mendengarkan musik dan semacam itu, tapi dia mengakui bahwasanya agama itu diambil dari Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf, maka apakah orang ini termasuk awam salafiy?

Jawab Asy Syaikh Jamil Ash Shilwiy حفظه الله :

Orang tadi melakukan beberapa kemaksiatan, tapi keyakinannya adalah bahwasanya agama itu diambil dari Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Iya orang itu adalah salafiy awam, dengan syarat tidak ada padanya kebid’ahan. Kesalafiyahannya goncang-goncang dengan maksiatnya tadi. Sebagaimana yang diucapkan oleh Syaikh kami رحمه الله bahwasanya salafiy yang makan kot (sejenis ganja) maka kesalafiyahannya goncang.

SOAL KEDELAPAN:

Telah datang seorang kerabat, dari tempat yang jauh dalam rangka menghadiri walimah yang di dalamnya ada ikhtilath (campur baur lelaki dan perempuan) dan lagu-lagu. Dia butuh tempat untuk bernaung. Maka apakah boleh kita menaunginya sampai dia berangkat ke tempat walimah tadi?

Jawab Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله :

            Tidak mengapa dia dinaungi. Hendaknya dia dinasehati tentang hukum perkara-perkara tadi.

Insya Alloh sampai di sini dulu, semoga bermanfaat. Insya Alloh dilanjutkan di kesempatan yang lain.

سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

والحمد لله رب العالمين

Dammaj, 27 Robi’uts Tsani 1434 H

Comments on: "Soal-Jawab Bersama Ahli Ilmu (Edisi Robi’uts Tsani1434 H)" (1)

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: