“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

NASEHAT

  YANG BERMANFAAT

 

Ditulis oleh:

Abu ‘Iyadh Sa’id bin Muhammad Al-Limboriy As-Seramiy

Semoga Alloh menjaganya

 

Dibaca dan diberi catatan kaki oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy

Semoga Alloh mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan saudara-saudarinya

  

NASEHAT YANG BERMANFAAT

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

أمّا بعدُ[1]:

Saya sangat bersyukur kepada saudara kami Abul ‘Abbas Harmin Rohimahulloh (semoga Alloh merahmatinya), yang beliau telah menyemangati kami dengan memperkenalkan kami kepada da’wah Ahlissunnah wal Jama’ah ketika kami di kampung (Limboro)[2], yang mana beliau paling bersemangat dan sangat perhatian kepada orang-orang yang bersamanya, apalagi dengan orang-orang yang telah mengikuti da’wahnya maka beliau sangat mencintai dan perhatian untuk memberikan dorongan agar mempelajari dan mendalami ilmu agama, sehingga dengan sebab itu kami bisa berada di atas da’wah Ahlissunnah wal Jama’ah, tidak lain karena sebab beliaulah yang menyemangati kami untuk senantiasa komitmen di atas al-haq (kebenaran) dan tidak takut terhadap celaan para pencela dalam membela agama ini, Alloh (تعالى) berkata:

{وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا} [النساء/83]

“Dan kalaulah bukan karena pengutamaannya Alloh atas kalian dan rohmat(Nya), maka sungguh kalian akan mengikuti syaithon melainkan hanya sedikit (orang yang tidak megikutinya)”. (An-Nisa’: 83).

Betapa banyak beliau (Abul ‘Abbas Harmin) Rohimahulloh mendapatkan ujian dari masyarakat di Limboro, baik berupa celaan dan hinaan yang bertubi-tubi namun beliau tetap sabar dan kokoh dalam menghadapinya dan tidak pernah goncang bahkan beliau semakin bertambah yakin kalau beliau di atas al-haq, Alloh (تعالى) berkata::

{وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ آمَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ} [الأعراف/87]

“Jika ada segolongan dari kalian yang beriman apa yang aku telah diutus dengannya dan ada pula segolongan (lain) yang tidak beriman, maka bersabarlah sehingga Alloh menetapkan hukumnya di antara kita, dan Dialah adalah hakim yang sebaik-baiknya”. (Al-A’rof: 87).

Dan Alloh (تعالى) berkata:

{وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا} [الأنعام/34]

“Dan sungguh telah didustakan para Rosul dari sebelummu, lalu mereka bersabar atas apa-apa yang mereka telah dustakan, dan mereka diganggu sampai datang kepada mereka pertolongan Kami”. (Al-An’am: 34).

Dan Alloh (تعالى) berkata:

{وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ} [الرعد/22]

“Dan orang-orang yang bersabar karena mencari wajah Robb mereka dan mereka menegakan sholat, menginfaqkan terhadap apa-apa yang telah Kami rezqikan kepada mereka baik dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, maka mereka itulah orang-orang yang mendapatkan tempat kesudahan yang baik”. (Ar-Ro’du: 22).

Abul ‘Abbas (Harmin) Rohimahulloh pernah berkata kepadaku:“Pondoklah di pondoknya Ahlussunnah karena disitulah semua kebaikan berada dan janganlah mengikuti perkataan orang-orang untuk masuk di sekolah umum, karena di dalam sekolah umum sangatlah banyak terdapat penyelisihan terhadap syari’at Islam[3].

Apa yang dikatakan oleh Abul ‘Abbas Rohimahulloh itu sangatlah benar, insya Alloh saya akan sebutkan beberapa penyelisihan syar’iat di dalam sekolah-sekolah umum, diantaranya:

  • Pertama: Ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita).
  • Kedua: Banyaknya perzinaan.
  • Ketiga: Rusaknya akhlak dan moral dengan memasukan kepercayaan ilmu filsafat.
  • Keempat: Banyaknya perkataan yang sia-sia.
  • Kelima: Banyak terbuang waktu.
  • Keenam: Tujuan belajar hanya untuk mendapatkan keuntungan dunia semata.

DALIL-DALIL TENTANG LARANGAN-LARANG TERSEBUT

 

Dalil tentang larangan ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) adalah perkataan Alloh (تعالى):

{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ} [الأحزاب/53]

“Dan jika kalian meminta sesuatu kebutuhan kepada mereka (istri-istri Nabi) maka mintalah dari balik hijab (tirai)” (Al-Ahzab: 53)[4].

Dalil tentang larangan zina adalah perkataan Alloh (تعالى):

{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا} [الإسراء/32]

“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya dia itu perbuatan keji dan paling jeleknya jalan”. (Al-Isro’: 32) [5].

 

Dalil tentang larangan dari perkataan sia-sia adalah perkataan Alloh (تعالى):

{وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا} [الجن/4]

“Dan bahwasanya orang yang dunggu dahulu berkata tentang Alloh dengan melampui batas”. (Al-Jin: 4).

Alloh (تعالى) berkata:

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ} [لقمان/6]

“Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Alloh dengan tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan, mereka itu memperoleh azab yang menghinakan”. (Luqman: 6).

Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) berkata:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ».

“Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau dia diam”[6].

Dan Alloh (تعالى) berkata:

{وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ} [القصص: 55]

“Dan jika mereka mendengar olok-olokan maka mereka berpaling darinya, dan mereka mengatakan: Bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian”. (Al-Ghoshosh: 55).

Dalil tentang larangan dari belajar karena dengan tujuan dunia adalah perkataan Alloh (تعالى):

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [هود: 15، 16]

“Barang siapa menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka diberikan kepada merela balasan amalan-amalan mereka di dunia, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan, itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (Huud: 15-16).  

Dan Alloh (تعالى) berkata:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا} [الإسراء: 18، 19]

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang menginginkannya dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan dia adalah beriman maka mereka itulah adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik”. (Al-Isro’: 18-19)[7].

Tentang rusaknya akhlak dan moral itu disebabkan terpengaruh dengan akhlak dan moral orang-orang kafir yang kemudian dicontoh, maka larangannya masuk dalam perkataan Nabi (صلى الله عليه وسلم):

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ».

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abdulloh bin Umar.

Adapun tentang filsafat maka telah berkata Syaikh kami Yahya bin Ali Al-Hajuriy semoga Alloh menjaganya: “Filsafat bukan dari agama”.

Semoga dengan nasehat saudara kami (Abul Abbas Harmin Rohimahulloh) menjadi amalan kebaikan di sisi Alloh dan menjadi bekal untuknya di kemudian hari, semoga Alloh meninggikan derajatnya dan memberikan kedudukan di sisi-Nya sebagai orang yang bertauhid.

 

Ditulis oleh:

Abu ‘Iyadh Sa’id bin Muhammad Al-Limboriy As-Seramiy

Semoga Alloh menjaganya

Di Darul Hadits Dammaj-Sho’dah-Yaman.


[1] Ini tambahan dari Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy.

[2]  Pertama kali beliau memperkenalkan da’wah Ahlissunnah di Limboro pada tahun 2000 (dua ribu) masehi, ketika kami mendidik anak-anak belajar membaca Al-Qur’an beliau datang membawa puluhan kitab terjemahan “Hishnul Muslim”, lalu dibagi-bagikan kepada kami dan anak-anak yang belajar bersama kami, mengingat kesibukan jihad di Ambon maka beliau kembali ke Ambon, beberapa bulan kemudian kami menyelesaikan studi di SMU Muhammadiyyah Limboro dan kami ke Ambon mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru cabang Surabaya dan kami diterima, ketika beliau mengetahui kami maka beliau selalu menghubungi dan mewasiatkan kami kalau sudah sampai di Surabaya untuk mencari majelis ta’lim Ahlissunnah dan mengikuti pengajian di majelis tersebut, Alhamdulillah kami menerima nasehat dan wasiatnya Rohimahulloh.

[3]  Abu Ahmad Muhammad Al-Limbory berkata:

Perkataanya Rohimahulloh: “…sangatlah banyak terdapat penyelisihan terhadap syari’at Islam” itu juga beliau ucapkan ketika beliau ditawarkan untuk mengikuti seleksi menjadi pegawai negri sipil, juga ditawarkan menjadi tentara, pengajar di sekolah tinggi dan di sekolah-sekolah, namun beliau tidak terbetik sama sekali untuk menerima tawaran tersebut, dan alasan beliau seperti yang telah kami sebutkan.

[4] Dari Abdulloh bin Abbas semoga Alloh meridhoi keduanya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«لاَ تُسَافِرِ المَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ، وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ»

“Janganlah seorang wanita safar melainkan bersama mahromnya, dan janganlah seseorang masuk kepadanya melainkan bersamanya mahromnya”. Maka seseorang berkata: “Wahai Rosululloh sesungguhnya saya ingin untuk keluar ke pertempuran ini dan itu, dan istriku menginginkan untuk haji? Maka beliau (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«اخْرُجْ مَعَهَا»

“Keluarlah kamu bersamanya (untuk menunaikan ibadah haji)!”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy.

[5]  Beliau menyebutkan permasalahan ini karena beliau menyaksikan dan mendengarkan, terkadang ada dari anak-anak sekolahan melakukan perzinaan di dalam sekolah dan ini terjadi bila kawan-kawan mereka semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing. Dan juga terkadang ketika pulang dari sekolah, bila sekolahnya berada di tanjung (ujung kampung) maka ketika pulang mereka singgah di bawah pohon atau di pinggir-pinggir batu besar bahkan terkadang di samping kuburan mereka melakukan perzinaan na’udzu Billahi minzalik (kita berlindung kepada Alloh dari demikian itu).

Kalau pun ada yang menyatakan: “Sekolah kami adalah sekolah islamiyyah” maka kita katakan: Selama ada ikhtilath maka tidak akan lepas dari perzinaan, bahkan walaupun dipisahkan (ada pembatas) antara pria dan wanita akan tetapi mereka memiliki para pengajar yaitu guru-guru mereka yang biasa menoleh ke tempat pria atau ke tempat wanita maka ini akan menimbulkan perzinaan, dan paling kecilnya zina pandangan, Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) berkata:

«فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ وَيُكَذِّبُهُ».

“Maka zinanya mata adalah memandang, zinanya lisan adalah mengucapkan, zinanya jiwa adalah mengangan-angankan  dan mengharapkan dan kemaluan yang membenarkan demikian itu dan mendustakannya”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan yang selainnya dari Abu Huroiroh.

[6] Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari Abu Huroiroh.

[7] Ada pula dari mereka belajar untuk tujuan dunia namun ternyata tidak mereka dapati, ada dari wanita baru di bangku SMP sudah hamil, pendidikannya pun terputus, ada ketika sudah SMU dan ada pula ketika di perguruan tinggi, dan ada pula baru menyelesaikan studinya (belum menjadi pegawai) sudah mati, ada yang sudah menjadi pegawai namun tidak lama kemudian hancur berantakan rumah tangganya, istrinya mati karena dia khianati, kemudian dia pun menyusul (mati) maka dimana kebahagian yang mereka angan-angankan itu?! Mereka bersusah payah sekolah, kuliah dan bekerja karena dunia namun mereka tidak memperolehnya maka bukankah ini adalah kerugian yang bertumpuk-tumpuk?! Sungguh benar perkataan Alloh (تعالى):
{وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)} [العصر/1-3]
“Demi waktu, sesungguhnya manusia benar-benar di atas kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih; yang mereka saling mewasiatkan kepada kebenaran dan saling menasehatkan kepada kesabaran” (Al-‘Ashr: 1-3).
Kami memohon kepada Alloh untuk memberikan ganjaran pahala yang berlipat ganda kepada saudara kami Abul ‘Abbas Harmin yang mana beliau telah menghabiskan sisa umurnya yang pendek untuk beriman, beramal sholih, berda’wah kepada kebenaran dan selalu menasehatkan untuk bersabar, semoga Alloh menempatkannya di Jannah Firdausnya yang Tertinggi.
سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: