“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

KOMENTAR SYAIKH YAHYA AL-HAJURY

TERHADAP KELANCANGAN LISAN PARA PENDENGKI

(Dalam tanya-jawab yang diajukan oleh penduduk As-Sadah, Rabu 19 Shofar 1434H)


Alih Bahasa: Abu Ja’far Harits bin Dasril Al-Andalasy Waffaqohulloh wa Saddadah

Setelah menyinggung fitnah Rofidhoh dalam rangka mensyukuri nikmat dan kekuasan Alloh, beliau berkata:

Wallohi,

Rofidhoh tidak membahayakan kita tidak juga orang-orang yang tidak memberi pertolongan, tidak dari luar barisan maupun dari dalam barisan.

Rofidhoh sekarang, setelah terjadi perang, darah mengalir dan arwah terenggut, antara kita dan mereka, dan pada mereka lebih banyak sebagaimana dinukilkan. Bersamaan dengan itu engkau lewat di tempat mereka, engkau mendapatkannya seseorang yang –pada kebanyakan keadaan- tidak berbicara dengan kata-kata keji. Dari waktu ke waktu berbeda-beda perkataan dan perbuatan mereka: “Tafaddhol … Hayyakumulloh”, atau semisal itu.

Sementara mereka, yakni orang-orang yang dari dalam (Islam), Allohul Musta’an engkau terheran-heranwallohi, engkau terheran-heran melihat kondisi mereka. Kita memohon hidayah kepada Alloh bagi kaum muslimin.

Karena kondisi yang mereka ada di dalamnya, ketika engkau membaca surat Al-Ahzab seolah-olah engkau melihat (apa yang dikisahkan dalam surat tersebut –pent) dengan matamu sendiri …

قَدْ يَعْلَمُ اللّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنْكُمْ وَالْقَائِلِينَ لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلَا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا * أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ

“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang- halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara- saudaranya: “Marilah kepada kami”. dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadap kalian, apabila datang ketakutan (bahaya), kalian lihat mereka itu memandang kepada kalian dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kalian dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan”. (QS Al-Ahzab 18-19)

Terapkan ayat tersebut pada kenyataan yang ada sekarang ini wahai para penuntut ilmu, wahai pada da’i, apa yang kalian lihat? Wallohi seolah-olah engkau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri.

Di depan musuh, di depan zanadiqoh, di depan orang-orang yang sewenang-wenang … tenang, tentram tidak ada sedikitpun dari itu, yakni tidak ada sedikitpun dari apa yang diridhoi Alloh Subhanahu wa Ta’ala … maksudku tidak ada penentangan, tidak menyemangati (untuk jihad), tidak ada muhadhoroh, tidak ada dakwah, tidak ada pergerakan, tidak ke selatan (yakni bagian Yaman selatan, Hadromaut dan sekitarnya), tidak ke utara … tidak ada sedikitpun. Ketika ketakutan (bahaya) berlalu –setelah itu- dan orang-orang tenang, beribadah kepada Alloh, menuntut ilmu dan fokus pada urusan-urusan mereka … orang-orang ini (malah) mencaci maki kalian dengan lidah yang tajam.

Menunggu-nunggu kesempatan yaa ikhwan!!

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ

“Orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada diri kalian (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagi kalian kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah dulu kami beserta kalian ?”. (QS An-Nisa’ 141)

Haa … bukankah dulu kami membantu kalian  dan menolong, dan kami melakukan itu dan itu ??!

وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِين

“Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkan kalian, dan membela kalian dari orang-orang mukmin?”. (QS An-Nisa’ 141)

Mereka berada di antara dua posisi.

فَاللَهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”. (QS An-Nisa’ 141)

Rasa yakin kita kepada Alloh sangat besar, yakinlah kalian barakallohu fiikum, bahwa perjalanan yang ditempuh kebaikan ini –walillahil hamd wal minnah- dan ma’had (Darul Hadits) ini, merupakan perjalanan yang diridhoi oleh Alloh, wallohi. Barangsiapa yang berkata selain itu sungguh dia telah berdusta atas nama Alloh, Alloh berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُون

“Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh tidak beruntung”(QS Yunus 69)

Selamanya … orang yang mengada-adakan kebohongan tidak beruntung.

Diantara ketidak beruntungannya, sungguh perkataannya berada pada posisi yang tidak diterima oleh orang-orang sholih, bahkan menjadi celaan baginya di dunia dan akhirat.

Diantara ketidak beruntungannya, tidak adanya taufik dan kekokohan di atas dalil-dalil.

Diantara ketidak beruntungannya, bertambah kejelekannya dan kebenciannya terhadap kebaikan, dan dia bertambah dekat dengan kebatilan dan hawa dan para hizbiyyin, na’am … dari waktu ke waktu.

Diantara ketidak beruntungannya, engkau melihatnya lemah di depan hujjah-hujjah, keras melawan al-haqq, dan menjadi penolong kebatilan.

Diantara ketidak beruntungannya, engkau melihatnya bersikeras dari fitnah ke fitnah dan maksiat ke maksiat. Terkadang dengan adu domba yang nyata yang tidak tersembunyi bagi orang yang mencermati bahkan tidak pula bagi orang awam, orang-orang fasik saja menjaga diri dari perbuatan ini … orang-orang sesat dari kalangan ahlul ahwa’ menjaga diri dari perbuatan adu domba ini.

Adu domba seperti seorang tentara dari bala tentara syaithon,

إن الشيطان قد أيس أن يعبده المصلون في جزيرة العرب، ولكن في التحريش بينهم

Sesungguhnya Syaithon telah putus asa untuk diibadahi orang-orang yang sholat di jazirah arab, akan tetapi dia melakukan adu domba diantara mereka” (HR Muslim dari Jabir Rodhiyallohu ‘Anhu)

Dia melakukan adu domba antara orang awam, antara lelaki, antara perempuan, antara para da’i dan antara ulama … bahkan antara ulama, nas’alulloh al-‘aafiyah.

Juga disertai talbis (pengkaburan antara kebenaran dan kebatilan), menyerupai perbuatan Yahudi, Alloh Ta’ala berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai ahli kitab, mengapa kalian mencampur adukkan al-haq dengan kebathilan serta menyembunyikan kebenaran, sementara kalian mengetahuinya?”. (QS Ali ‘Imron 71)

Talbis bakal terbongkar aibnya dan didustakan, Talbis membuat orang berakal tertawa.

Tambahkan lagi, kepada perkara-perkara itu: berkata tanpa ilmu, dan berbicara atas nama Alloh apa yang tidak kalian ketahui. Ia adalah perkara haram yang digandengkan (dalam ayat) dengan kesyirikan kepada Alloh Ta’ala.

Berapa bisa engkau hitung berupa penyelisihan yang jatuh padanya orang yang tak beruntung ini karena mengada-ngadanya dia atas nama Alloh.

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُون

“Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh tidak beruntung”. (QS Yunus 69)

Wallohi, sungguh sebuah musibah. Engkau melihat seseorang di atas kebaikan dan ibadah kepada Alloh ‘Azza wa jalla, kemudian kedengkian telah membunuhnya, rasa dendam telah menyergapnya. Di depan musuh Alloh lebih pengecut dari burung onta sementara di depan auliya’ulloh bagaikan singa yang licik, lihatlah keajaiban ini!!

أسَدٌ عليّ وَفِي الحروب نَعامةٌ … فَتْخاءُ تَفْرَقُ من صفير الصافرِ

Kepadaku dia bak singa, sementara di peperangan dia bak burung onta … yang lemah kedua sayapnya untuk terbang, ingin melepaskan diri dari siulan orang yang bersiul

Inilah kondisinya …

Wahai manusia, kasihanilah diri-diri kalian!! Dakwah ini murni di atas kebaikan, Kenalilah nikmat Alloh! Barangsiapa yang mengenal nikmat kemudian tidak mensyukurinya, tapi mengubah dan menggantinya, maka Alloh akan mengubah keadaannya akibat perbuatannya itu. Alloh Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Alloh sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS An-Anfal 53)

Ada yang mengatakan: “Orang-orang sudah lari dari mereka … orang-orang sudah tidak menghargai mereka … orang-orang …”.

Maka dalil permasalahan adalah ayat ini. Wallohi, tidaklah Alloh mengubah keadaan kalian kecuali kalian sendiri yang telah mengubahnya. Tidaklah Alloh mengubah keadaanmu kecuali kamu sendiri yang telah mengubahnya

Aku mengenal sebagian orang, –dahulu- jika dia ingin keluar dakwah maka diiklankan bahwa dia akan melakukan Muhadhoroh-muhadhoroh, iklan tersebut sepekan atau lebih sebelum dia keluar. Orang-orang pun bergiliran dan berlomba-lomba melakukan muhadhoroh-muhadhorohnya, walau padanya terdapat kerendahan: “Al-lisaan … Al-Lisaan … Al-Lisaan (yakni dendangannya di setiap muhadorohnya)”, demikianlah.

Sekarang dia termasuk dari orang-orang yang paling jelek lisannya, mencaci maki kaum mukminin, dibangun dibangun di atas kesewenang-wenangan, permusuhan dan kezholiman, tanpa bukti dan tanpa dalil. Tidaklah dengan Al-Kitab dia berkata … tidak juga dengan sunnah Rosul. Pencapaiannya lemah … keistiqomahannya lemah. Apabila dia berbicara masalah takfir maka terlihat padanya ghuluw yang hina. Dia datang kepada Syaikhuna (Muqbil) maka beliau menasehatinya: “Jangan kamu kafirkan Muhammad bin Surur, taroju’lah kamu! taroju’lah kamu!”. Beliau memangkasnya, kemudian dia pun taroju’.

Demikianlah dia … berlebih-lebihan di satu sisi dan bermudah-mudahan di sisi lain. Pada sisi Ahlussunnah maka dia bersikap ghuluw yang membinasakan, seolah salafiyyah itu dia, ilmu itu dia, agama itu dia … apa-apa yang menyelisihinya adalah kemunafikan, kezholiman dan kesewenangan.

Yaa akhii, ini adalah ghuluw. Wallohi ini tidaklah keluar kecuali dari para pembesar takfiriyin dan khowarij. Dia mengkafirkan kaum seluruhnya, dia membid’ahkan kaum seluruhnya. Dimaklumi secara syari’at harusnya iqomatul hujjah –yang dia dan semisalnya lemah untuk yang lebih sepele dari itu-, dengan menegakkan hujjah terhadap ahlussunnah dengan hujjah yang jelas atas perkataan mereka berupa cacian dengan lisan yang tajam seperti yang Alloh sebutkan di surat Al-Ahzab.

Perbuatan-perbuatan nifaq!! Perbuatan-perbuatan nifaq yang jelas lagi terang, tidak bakal ragu orang yang memiliki –walau minim- pemahaman dan ilmu.  Di depan musuh, di depan zanadiqoh dan di depan kebatilan: lemah dan terikat … sementara di depan kebaikan: melawan, menantang dan mengadu otot, gaya-gayaan, menampak—nampakkan kepada manusia bahwa mereka merasa sakit atas apa yang menimpa agama Alloh. Subhanalloh …

Aku sampaikan kepada saudara-saudaraku ahlussunnah –waffaqohumulloh-, tidak ada bahaya! tidak ada bahaya terhadap dakwah salafiyyah, dan terhadap rijalus sunnah (pengembannya, dan yang paling terdepan adalah para ulamanya –pen). Ma’had ini adalah asasnya salafiyyah, ma’had ini adalah asas penyebaran ilmu-ilmu sunnah bagi ma’had-ma’had lain di Yaman. Ma’had ini, yang mengingkarinya kurang rasa syukur …

Ma’had ini, yang mengingkarinya tidak memiliki hujjah … bagaimanapun … sejak zaman SyaikhRahimahulloh sampai sekarang. Sekelompok orang bangkit, mengingkarinya, mereka menyangka telah menggerakkan ototnya, ternyata mereka tersungkur ke tanah, dari Alloh … Allohlah yang menghinakan mereka.

Jam’iyyah berkobar … Rofidhoh bangkit … fitnah Abul Hasan, finah fulan, fitnah fulan … fitnah hizb ini dan yang berdiri bersamanya … semuanya rontok

Antara kita dan mereka ilmu!! Antara kita dan mereka sunnah!! Antara kita dan mereka Al-Haq!! Antara kita dan mereka berdiri di hadapan Alloh!!! Antara kita dan mereka, berhukum kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِين

“Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?” (QS At-Tiin 8)

[Selesai penukilan yang diinginkan, Wabillahit Taufiiq]

سبحانك اللهم وبحمدك، لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

Sumber: http://www.ahlussunnah.web.id

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: