“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

KAPANKAH SESEORANG DIHUKUMI

TELAH KELUAR DARI AHLUSSUNNAH?

 

Jawaban kelima: Setelah kita mengingat kembali keagungan As Sunnah dan wajibnya mengikuti As Sunnah, maka tibalah saatnya untuk mengetahui kapankah seseorang itu divonis keluar dari As Sunnah dan berhak untuk diboikot dan dimusuhi. Ana dalam pembahasan ini akan sangat banyak mengambil manfaat dari tulisan Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy, dan yang lainnya -hafizhohumulloh-.

Pasal Satu

Seseorang Dihukumi Menjadi Mubtadi’ Jika Menyelisihi Kaidah Umum, atau Banyak Menyelisihi Perkara Cabang

Al Imam Asy Syathiby -rohimahullohu- berkata:

أن هذه الفرق إنما تصير فرقا بخلافها للفرقة الناجية في معنى كلي في الدين وقاعدة من قواعد الشريعة لا في جزئي من الجزئيات –إلى قوله:- ويجري مجرى القاعدة الكلية كثرة الجزئيات فإن المبتدع إذا أكثر من إنشاء الفروع المخترعة عاد ذلك على كثير من الشريعة بالمعارضة كما تصير القاعدة الكلية معارضة أيضا.

“Bahwasanya kelompok-kelompok pecahan itu memang menjadi pecahan dikarenakan dirinya menyelisihi Al Firqotun Najiyah di dalam suatu nilai yang bersifat umum di dalam agama, dan dalam suatu kaidah dari kaidah-kaidah syari’ah, bukan karena menyelisihi mereka dalam suatu perkara yang bersifat parsial, – sampai pada ucapan beliau:- Akan tetapi perkara parsial yang banyak pun akan berlaku seperti suatu kaidah umum. Yang demikian itu dikarenakan seorang mubtadi’ itu jika banyak mengadakan perkara-perkara baru yang bersifat cabang, yang seperti itu akhirnya akan balik menentang syari’at, sebagaimana kaidah umum yang dibikin dia juga akan balik menentang syari’at.” (“Al I’tishom”/2/hal. 200).

Kesimpulannya: seseorang itu menjadi mubtadi’ jika dia menyelisihi Al Firqotun Najiyah. Dan dia itu  menyelisihi Al Firqotun Najiyah jika menyelisihi suatu kaidah umum atau aturan pokok dari pokok-pokok syari’ah. Atau juga dikarenakan dirinya memperbanyak penyelisihan di dalam perkara furu’ (cabang), karena gabungan dari penyelisihan terhadap perkara-perkara cabang pada akhirnya akan menyebabkan dirinya menentang syari’ah.

Syaikhunal ‘allamah Yahya bin ‘Ali Al Hajuriy -hafizhohulloh– ditanya: Kapankah seseorang itu dihukumi keluar dari ahlussunnah? Beliau menjawab:

إذا خالف أصلا من أصول السنة أو كثيرا من الفروع

Jika dia menyelisihi salah satu dari pokok-pokok As Sunnah atau menyelisihi banyak perkara cabang.”

Kemudian perlu diketahui bahwasanya penyelisihan itu bisa berupa penambahan, ataupun pengurangan terhadap syari’ah. Al Imam Ibnul Wazir -rohimahullohu- berkata:

فاعلم أن منشأ معظم البدع يرجع إلى أمرين واضح بطلانهما فتأمل ذلك بإنصاف وشد عليه يديك وهذان الأمران الباطلان هما الزيادة في الدين باثبات ما لم يذكره الله تعالى ورسله عليهم السلام من مهمات الدين الواجبة والنقص منه بنفي بعض ما ذكره الله تعالى ورسله من ذلك بالتأويل الباطل

“Maka ketahuilah bahwasanya tempat tumbuhnya mayoritas bid’ah itu kembali kepada dua perkara yang kebatilannya jelas. Maka perhatikanlah dia dengan adil, dan kuatkan kedua tanganmu untuk menghadapinya. Kedua perkara yang batil ini adalah:

–          penambahan terhadap agama dengan cara menetapkan apa yang tidak disebutkan oleh Alloh dan para Rosul-Nya –‘alaihimus salam- yang berupa urusan agama yang besar yang wajib,

–          ataupun juga pengurangan dari urusan agama, dalam bentuk meniadakan sebagian dari apa yang disebutkan oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya dengan suatu pena’wilan yang batil([1]).”

(“Itsarul Haqq ‘alal Kholq”/hal. 85).

Pasal Dua

Pengertian Perkara Pokok

Jika sudah jelas bagi kita bahwasanya seseorang bisa keluar dari Ahlussunnah dan menjadi Ahli bid’ah. Maka apa itu pengertian dari perkara pokok?

Al Imam Asy Syathiby -rohimahullohu– berkata:

فما عظمه الشرع فى المأمورات فهو من أصول الدين وما جعله دون ذلك فمن فروعه وتكميلاته

“Perintah-perintah yang  diagungkan oleh syari’at, maka perkara itu termasuk pokok dari agama. Adapun perkara yang dijadikan oleh syari’at lebih rendah dari itu, maka dia itu termasuk cabang agama dan penyempurnaannya.” (“Al Muwafaqot”/1/hal. 338).

Al Imam Ibnu Abi Zaid Al Qoirowaniy -rohimahullohu– telah mengisyaratkan yang demikian itu di dalam kitab beliau “Al Jami’” (hal. 106) saat menyebutkan pokok-pokok As Sunnah:

فمما أجمعت عليه الأمة من أمور الديانة ومن السنن التي خلافها بدعة وضلالة …

“Maka termasuk dari perkara-perkara  yang umat ini telah bersepakat di atasnya yang berupa urusan-urusan keagamaan dan bagian dari sunnah-sunnah, yang mana penyelisihannya itu menjadi bid’ah dan kesesatan adalah sebagai berikut… (lalu beliau menyebutkan pokok-pokok aqidah Salaf).”

Al Imam Ibnul Wazir -rohimahullohu– telah mengisyaratkan bahwasanya perkara pokok tadi adalah:

من مهمات الدين الواجبة

“termasuk dari perkara-perkara agama yang besar yang bersifat wajib”.

Al Imam Abul Muzhoffar As Sam’aniy -rohimahullohu– berkata:

كل ما كان من أصول الدين فالأدلة عليها ظاهرة باهرة والمخالف فيه معاند مكابر والقول بتضليله واجب والبراءة منه شرع.

“Setiap perkara yang termasuk pokok-pokok agama, maka dalil-dalilnya itu terang dan jelas, dan orang yang menyelisihi dalam perkara tadi adalah pembangkang yang menentang perkara yang dalilnya nyata. Dan wajib untuk menghukumi orang tadi sebagai orang yang sesat, dan disyariatkan untuk berlepas diri darinya.” (“Qowathi’il Adillah” (5/hal. 13)).

Al Imam Ath Thufiy -rohimahullohu–  berbicara tentang makna pokok agama yang umum adalah:

القطعية التي أدلتها ظاهرها في نفس كل عاقل

“Perkara-perkara pasti yang dalil-dalilnya itu sesuai dengan lahiriyahnya yang dikenal oleh setiap orang yang berakal.”

Dan beliau -rohimahullohu- menambahkan:

وإن منع العامي عيه من التعبير عنها

“Sekalipun kelemahan seseorang yang awam itu menghalanginya untuk mengungkapkan perkara pasti tersebut.” (rujuk “Mukhtashorur Roudhoh”)

Kesimpulan dari pendapat ini semua: bahwasanya perkara pokok ( أصل الدين) adalah:

كل ما عظمه الشرع، نصب له من الأدلة والحجج ما يصير به قطعيا ظاهرا معلوما

Setiap perkara yang diagungkan oleh syariat, sementara dalil-dalil dan argumentasi juga ditancapkan untuk menunjukkannya yang menyebabkan perkara itu jadi pasti, nyata dan diketahui.” (“Al Burhanul Manqul”/hal. 9/Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy -hafizhohulloh-).

Pasal Tiga

Agama memang bertingkat-tingkat

Bukan Berarti Kita mengikuti para Ahlul bid’ah yang membagi agama itu jadi usul dan furu’ dengan tujuan meremehkan sebagian urusan agama. Tapi yang diinginkan di sini adalah sebagaimana istilah yang sering diucapkan ulama Salaf: “Ashulus Sunnah”, “Ashlus Sunnah”, “Syarhu Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah”, “Ushulus Sunnati ‘indana …”, “Al Ushuluts Tsalatsah”, “Al Ushulus Sittah” dan sebagainya. Yang demikian itu dikarenakan agama Islam ini memang bertingkat tingkat, ada yang posisinya tinggi dan tertinggi, ada yang posisinya rendah dan terendah, sebagaimana hadits cabang-cabang keimanan. Ada yang penting, ada yang lebih penting, tapi tidak ada yang tidak penting.

Makanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahullohu- di samping beliau membantah para ahlu bid’ah yang  membagi agama itu jadi usul dan furu’, beliau sendiri sering berkata: “Ini adalah pokok dari agama”, “Di antara pokok-pokok agama adalah …” Misalnya adalah beliau berkata:

فكان من الأصول المتفق عليها بين الصحابة والتابعين لهم بإحسان أنه لا يقبل من أحد قط أن يعارض القرآن لا برأيه ولا ذوقه ولا معقوله ولا قياسه …

“Makanya di antara perkara-perkara pokok yang disepakati oleh para Shohabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah: Tiada seorangpun yang diterima penentangannya terhadap Al Qur’an, baik dengan rasionya, perasaannya, hasil akalnya, ataupun qiyasnya, …” (“Majmu’ul Fatawa”/13/hal. 28).

Diambil dari judul  Mengingat Kembali  Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi (2)

 

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: