“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Tentang penentuan Hisab Bulan Ramadhan

PENENTUAN
AWAL BULAN  RAMADHAN

DENGAN HISAB ADALAH BID’AH

بسم الله الرحمن الرحيم

Ditulis oleh:

Ahmad Rifai bin Mas’ud Al-Indunisi -semoga Alloh menjaganya-

Darul Hadits Dammaj 2 Romadhon 1433 H

Dalam menentukan masuknya awal bulan Hijriyah biasanya dipergunakan
dua cara: ru’yah dan hisab. Ru’yah (baca: rukyat atau rukyah) adalah
menentukan awal bulan dengan melihat terbitnya hilal (bulan sabit
baru) bersamaan dengan tenggelamnya matahari di ufuq barat, sedangkan
hisab adalah menentukan awal bulan dengan menghitung derajat
pergeseran manazil (tempat-tempat) bulan.

Yang kami perhatikan selama di tanah air, selalu saja penentuan
tanggal satu Romadhon dan Syawwal menjadi problem tahunan yang tak
bisa dihindari dan tidak bisa untuk disatukan menjadi satu pendapat.
Salah satu ormas  besar (sebut Muhammadiyah) berpendapat bahwa
penentuan awal bulan hanya dengan hisab bukan dengan ru’yah,
sebaliknya ormas yang lain berpendapat hanya dengan ru’yah bukan
dengan hisab. Dan penulis sendiri pernah meyakini pendapat yang
pertama karena doktrin yang sedemikian rupa  dari sebagian pengurus
Muhammadiyah.

Adapun yang benar dalam masalah ini adalah bahwa penentuan masuknya
awal bulan Hijriyah hanya dengan ru’yah, sementara penggunaan hisab
dalam hal ini hukumnya bid’ah, menyelisihi syariat Rosululloh ﷺ.

Alloh ta’ala berfirman:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ الله فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ الله
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَالله غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [آل عمران/31].

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya
Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Alloh
itu Ghofur (Maha Pengampun) dan Rohim (Maha Menyayangi para
hamba).” (QS. Ali Imron: 31).

Syaikhul Islam -rohimahulloh- berkata: “Dan hanyalah kesempurnaan rasa
cinta pada beliau (Rosululloh ﷺ) dan pengagungannya itu ada pada
mutaba’ah (mengikutinya), taat dan mengikuti perintahnya, menghidupkan
sunnah-sunnahnya yang lahiriyyah dan bathiniyyah, menyebarkan syariat
yang beliau diutus dengannya, menegakkan jihad untuknya dengan hati,
tangan dan lisan. Maka inilah jalan para As Sabiqunal Awwalun dari
kalangan Muhajirin dan Anshor dan yang mengikuti mereka dengan
baik.” (Iqtidhoush Shirothol Mustaqim /2/hal. 124/Maktabatur Rusyd).

Al Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- berkata: “Ayat yang mulia ini
merupakan hakim bagi setiap orang yang mengaku cinta pada Alloh, tapi
dia tidak berada di atas jalan Muhammad  ﷺ, karena dia itu sungguh
pada hakikatnya telah berdusta di dalam pengakuannya, sampai dia itu
mau mengikuti syariat Muhammad ﷺ dan agama Nabi di dalam seluruh
ucapan dan keadaannya, sebagaimana telah tetap di dalam “Ash Shohih”
dari Rosululloh ﷺ yang bersabda:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عليه أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ»

“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang bukan dari urusan agama
kami maka amalannya itu tertolak.”

Oleh karena itulah Alloh berfirman: (yang artinya:) “Katakanlah: Jika
kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan
mencintai kalian” Yaitu kalian akan mendapatkan sesuatu yang melebihi
apa yang kalian cari, yaitu diakuinya cinta kalian pada-Nya. Yang akan
kalian dapatkan adalah Alloh cinta pada kalian, dan itu lebih agung
daripada yang pertama. sebagaimana sebagian orang bijak berkata:
“Bukanlah yang penting itu kalian mencintai, tapi yang penting adalah
kalian dicintai.” (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim/1/hal. 494-495/cet. Darus
Shiddiq).

Rosululloh ﷺ dalam banyak hadits mengaitkan kewajiban puasa dengan
ru’yah, di antaranya hadits ibnu Umar di Shohihain, Rosululloh ﷺ
berkata:

«صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ
عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعَدَدَ» وفي رواية: «لَا تَصُومُوا حَتَّى
تَرَوُا الْهِلَالَ، وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْه.

“Berpuasalah kalian apabila melihatnya (hilal Romadhon) dan
berhentilah dari puasa apabila kalian melihatnya (hilal Syawwal). Dan
apabila kalian terhalangi oleh awan maka genapkanlah bilangan bulan.”
Dan dalam riwayat yang lain: “Janganlah kalian berpuasa kecuali
apabila kalian melihat hilal dan jangan berhenti berpuasa sampai
kalian melihatnya.” (HR Bukhori:1909 dan Muslim:1081)

Juga hadits Abu Huroiroh semakna dengannya, diriwayatkan oleh Bukhori
(1900) dan Muslim (1080).

Dan dalam hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh  Abu Dawud dengan sanad
yang shohih bahwa Rosululloh ﷺ berhati-hati dalam bulan Sya’ban tidak
sebagaimana pada bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa bila
melihat hilal bulan Romadhon dan bila terhalang oleh awan beliau
menggenapkan Sya’ban menjadi tiga puluh hari, lalu berpuasa.

Ibnu Daqiq Al-‘Ied -rohimahulloh- berkata dalam kitab Syarhul ‘Umdah
(2/206): “Aku berpendapat bahwa hisab tidak boleh untuk dijadikan
pedoman dalam menentukan kapan puasa (Romadhon), karena padanya
terdapat penyerupaan bulan dengan matahari, sesuai dengan ilmu
perbintangan (astronomi). Dengan hisab itu mereka terkadang memajukan
awal bulan satu atau dua hari sebelum ru’yahnya. Apabila hisab
dijadikan sebagai pedoman maka artinya kita telah mengada-adakan di
dalam syariat Islam ini sesuatu yang tidak diizinkan oleh Alloh.”

Ibnu Baththol -rohimahulloh- berkata sebagaimana dinukil dalam kitab
Subulus Salam (2/423): “Di dalam hadits tersebut (hadits Ibnu Umar )
terdapat bantahan terhadap orang yang menentukan awal bulan dengan
ilmu perbintangan, sedangkan yang terpandang dalam menentukan awal
bulan adalah dengan melihat hilal, dan kita telah dilarang dari
takalluf (membebani diri).”

Ibnu Bazizah -rohimahulloh- berkata sebagaimana dinukil dalam kitab
Subulus Salam (2/423): “Itu (penggunaan hisab) adalah madzhab yang
batil, sedangkan syariat telah melarang dari berlebih-lebihan dalam
ilmu nujum (perbintangan/astronomi), karena ilmu tersebut hanya
berdasarkan atas perkiraan dan tidak mungkin untuk mendapatkan
kepastian dengannya.”

Imam Ash-Shon’ani menguatkan perkataan tersebut seraya berkata: “Dan
jawaban yang paling tepat dan gamblang bagi mereka (ahli hisab) adalah
hadits yang disebutkan oleh imam Bukhori dalam shohihnya (1913) dari
Abdulloh bin Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- bahwa Rosululloh ﷺ berkata:

«إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ
هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا» وَعَقَدَ الْإِبْهَامَ فِي الثَّالِثَةِ
«وَالشَّهْرُ هَكَذَا، وَهَكَذَا، وَهَكَذَا» يَعْنِي تَمَامَ ثَلَاثِينَ

“Kita adalah ummat yang ummi, tidak menulis tidak pula menghitung,
bulan itu kadang seperti ini dan seperti ini dan seperti ini,” -beliau
(mengisyaratkan dengan sepuluh jarinya tiga kali dan) melipat satu
jarinya pada kali ketiga-, dan kadang bulan itu seperti ini dan
seperti ini dan seperti ini,” maksud beliau adalah genap tiga puluh
hari.”

Syaikhuna Muhammad bin Hizam -hafidzohulloh- berkata: “Hadits tersebut
juga disebutkan oleh imam Muslim:(1080)(15).”

Al-Hafidz Ibnu Hajar -rohimahulloh- berkata dalam kitab Syarh Shohih
Al-Bukhori hadits no.1913: “Yang dimaksud dengan hisab di sini adalah
menghitung pergeseran bintang-bintang, sedangkan pada masa itu tidak
ada yang mengerti tentang itu kecuali segelintir orang. Maka
disandarkanlah penetapan puasa dan lainnya kepada ru’yah sehingga
mereka tidak susah payah menanggung repotnya menghitung pergeseran
bintang. Hukum tersebut terus berlaku demikian, walaupun pada masa-
masa setelah generasi tersebut banyak orang yang mengerti tentang ilmu
perbintangan. Bahkan yang dipahami dari dhohir (konteks) hadits
tersebut adalah menafikan sama sekali penyandaran hukum (penetapan
awal puasa dan lainnya) kepada hisab. Yang lebih memperjelas hal itu
adalah perkataan Rosululloh ﷺ dalam hadits yang lalu (hadits Ibnu Umar
dalam Shohih Bukhori:1906):   “Apabila kalian terhalangi oleh awan
(dari melihat hilal) maka perkirakanlah,” beliau tidak mengatakan:
Bertanyalah kalian kepada ahli perbintangan. –sampai pada ucapan
beliau:-

Sebagian orang berpendapat bolehnya merujuk kepada pendapat ahli
perbintangan dalam permasalahan tersebut, di antaranya adalah
Rofidhoh, dan dinukil dari sebagian ahli fikih pendapat yang sama
dengan itu. Al-Baji berkata: Ijma’ salafus sholih (tentang tidak
bolehnya merujuk kepada ahli perbintangan) adalah hujjah yang
membantah pendapat mereka.” Demikian perkataan Al-hafidh rohimahulloh.

Shiddiq Hasan Khon -rohimahulloh- dalam kitab Roudhotun Nadiyyah
(1/224) berkata (perkataan ini beliau nisbatkan kepada As-Shon’ani):
“Penentuan waktu baik hari ataupun bulan dengan dengan perhitungan
hisab terhadap tempat-tempat beredarnya bulan hukumnya adalah bid’ah
menurut kesepakatan ummat.”

Lajnah Daimah ketika ditanya tentang masalah ini (fatwa no.386)
menjawab: “Merujuk kepada ilmu perbintangan dalam menetapkan awal
bulan-bulan qomariyah dan kaitannya dengan ibadah-ibadah disertai
dengan mengesampingkan ru’yah adalah suatu bid’ah yang tidak ada
kebaikan padanya dan tidak ada dasarnya dalam syariat.”

Demikian, kami memohon kepada Alloh semoga tulisan ini bermanfaat bagi
kaum muslimin, khususnya bagi siapa saja yang mencari kebenaran dengan
dalilnya. Wabillahittaufiq.

Maroji’:

    Ithaful Anam Bi Ahkam wa Masail Ash-Shiyam, karya Syaikh Muhammad
bin Hizam Al-Ba’dani cet. Maktabah Al-Falah edisi kedua.
    Fathul Bari Syarh Shohihul Bukhori, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar,
cet. Darul Hadits, edisi pertama.
    Subulus salam Syarh Bulughul Marom, karya Ash-Shon’ani, cet.
Maktabah Al-Ma’arif, edisi pertama.
    Ihkamul Ahkam syarh ‘Umdatil Ahkam, karya Ibnu Daqiq Al-Ied, cet.
Maktabatus Sunnah Al-Muhammadiyyah.
    Ar-Roudhotun Nadiyyah, karya Shiddiq Hasan Khon Al-Qonnuji, cet.
Darul Ma’rifah.
    Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, kumpulan pertama.

sumber: http://www.ISNAD.net

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: