“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Dari Abu Darda’ bahwasanya Rasulullah –Shollallohu ‘alaihi wa sallam-  bersabda: “ Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya maka Allah akan membela dan menghindarkan wajahnya dari api neraka di hari kiamat.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi)

Menepis Tuduhan Keji

Bahwa Syaikh Yahya Al-Hajuriy

Mencela Nabi

(Bantahan atas apa yang didustakan Nurruddin Kisyk  dan orang-orang semisalnya)

Penulis:

Abu Muhammad Abdul Karim bin Ghalib bin Ahmad Al-Hasany Al-Hulyany

Masjid Al-Albany-Darussalam Tanzania

Alih bahasa:

Abul Fadl Mu`adz Al-Lomboky

Abu Abdirrahman Ma`ruf Al-Palembangy

Abu Abdillah Muhammad Faishal Al-Maidany

(Darul Hadist Dammaj)

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam kepada Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du.

Menempuh dakwah di jalan Allah memiliki kedudukan yang sangat mulia dan memiliki keutamaan yang sangat besar dalam agama Islam, sehingga perkataan seorang da’i di jalan Allah merupakan sebaik-baik perkataan, Allah berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru kepada Allah dan beramal shalih seraya berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.(Q.S.Fushilat:33).

Hal ini juga merupakan tugas para Nabi, Allah-Subhaanahu wa Ta’ala–  berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku untuk menyeru kalian kepada Allah dengan suatu kebenaran yang nyata, dan Maha Suci Allah dan aku bukanlah orang-orang yang berbuat kesyirikan”.(Q.S.Yusuf:108).

Allah juga berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan sesuatupun dengan Dia, hanya kepadaNya aku menyeru manusia dan hanya kepadaNya aku kembali”.(Ar-Ra’d:36).

Para da’i di jalan Allah di setiap waktu dan tempat yang senantiasa ikhlas dan menjunjung kebenaran dalam berdakwah selalu saja mendapat cobaan dari orang-orang yang memusuhi kebenaran tersebut, demikian pula halnya dengan para rasul. Disebutkan dalam Shahih Bukhary dan Muslim dari hadist ‘Aisyah -Radhiyallahu ‘anha- dia berkata tentang  kisah wahyu yang turun pertama kali kepada Nabi –Shallallaahu ‘alaihi wasallam

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)…… (عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

“Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu (sampai firman-Nya) Dia mengajarkan kepada manusia seseuatu yang belum mereka ketahui”. Aisyah berkata: “Kemudian Khadijah membawa Rasulullah –Shallllahu ‘alaihi wa sallam- untuk menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul `Uzza bin Qushay (dia adalah saudara sepupu Khadijah), dia menganut ajaran agama Nasrani yang masih ada pada zaman Jahiliyyah, dia bisa menulis dengan menggunakan bahasa Arab maka diapun menulis Injil dalam bahasa Arab –sesuai dengan kehendak Allah-, dia juga seorang yang sudah tua dan telah hilang penglihatannya. Kemudian Khadijah berkata kepadanya: “Wahai sepupuku, dengarkanlah apa yang diucapkan saudaramu ini!” Lalu Waraqah berkata: “Wahai anak saudaraku, apa yang telah kau lihat?” Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wasallam– pun menceritakan apa yang beliau lihat, Waraqah berkata: “Ini adalah Naamus (yakni Jibril) yang diutus kepada Musa, seandainya saja aku masih hidup ketika kamu diusir dari kaummu”. Kemudian Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah berkata: “Ya, tidak ada seorangpun yang datang dengan membawa sesuatu seperti yang engkau bawa saat ini kecuali mereka pasti akan disakiti. Dan seandainya aku masih hidup pada hari itu maka aku akan menolongmu dengan kesungguhan”. Namun tak lama kemudian Waraqah pun meninggal. (H.R.Bukhary dan sebagiannya diriwayatkan Muslim).

Allah berfirman :

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ

“Dan telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu dan mereka senantiasa bersabar atas kedustaan dan penganiayaan terhadap mereka sampai datanglah pertolongan Kami kepada mereka, tak ada seorang pun yang dapat merubah janji-janji Allah, dan telah datang kepadamu sebagian berita rasul-rasul itu”.(Q.S.Al-An’am : 34).

Allah juga berfirman :

تِلْكَ الْقُرَى نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَائِهَا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا مِنْ قَبْلُ كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الْكَافِرِينَ

“Negeri-negeri (yang telah kami binasakan) itu Kami ceritakan kepadamu sebagian dari berita-beritanya, dan telah datang kepada mereka para rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata, namun dengan itu mereka juga tidak beriman terhadap terhadap apa yang dahulunya mereka telah dustakan, demikianlah Allah mengunci hati-hati orang kafir”.(Q.S.Al-A’raf : 101).

Dan Allah berfirman ;

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ

“Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul, tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa sesuatu yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, maka sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh“.(Q.S.Al-Maidah :70).

Tidaklah suatu permusuhan, pendustaan, dan kekacauan dalam berdakwah di jalan Allah sebagaimana yang dialami oleh para rasul dan pengikut-pengikutnya ini melainkan timbul dari orang-orang bodoh dan  rendahan dari kaum mereka. Entah kejelekan tersebut bermula dari suatu kedengkian, atau dendam, atau karena takut kehilangan kedudukan, atau karena masalah keduniaan, atau pula karena mereka telah terjerumus dalam perbuatan bid’ah dan takut jika perbuatannya itu terbongkar kepada orang lain, atau mungkin pula dikarenakan  hal-hal yang lainnya. Dalam Shahih Muslim  dari hadist Ibnu Abbas, dia berkata: “Ketika Dhimad tiba di  Mekkah, -dia berasal dari Syanuah (sebuah kabilah di Yaman), dia mampu mengobati orang dari penyakit gila- maka dia mendengar orang-orang bodoh dari penduduk Mekkah berkata: “Sesungguhnya Muhammad itu seorang yang gila!” Dia pun berkata: “Seandainya saja aku dapat menemuinya sehingga  dengan izin Allah aku dapat mengobatinya”. Kemudian dia menemui Nabi dan berkata: “Wahai Muhammad, sungguh aku dapat mengobati penyakit gila, dan jika Allah menghendaki aku dapat menyembuhkan siapa saja, apakah kamu ingin aku mengobatimu?” Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata:

إن الحمد لله نحمده ونستعينه من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله أما بعد

“Segala puji bagi Allah, untuknya segala pujian dan hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan, barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak seorangpun dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah niscaya tidak seorangpun dapat memberi dia petunjuk dan aku bersaksi bahwasanya  tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah tanpa ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba Allah dan rasulNya. Amma ba’du”.

Kemudian dia berkata: “Ulangi untukku kata-katamu tadi”. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pun mengulangi perkataannya tadi tiga kali, dan diapun (Dhimad) berkata: “Aku telah mendengarkan perkataan para dukun, dan para penyihir, namun aku belum pernah mendengarkan seperti perkataanmu tadi, dan kalimat-kalimat tadi telah mencapai dasar lautan[1].  Lalu dia berkata: “Berikan tanganmu kepadaku, aku akan membaiatmu atas agama Islam!” Setelah dia membaiat Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, Beliau berkata kepadanya: “Pembaiatan ini atas kaummu juga?! Dia pun berkata: “Ya, atas kaumku juga”.

Dalil-dalil lainnya dalam permasalahan ini sangat banyak, namun yang kami inginkan hanya isyarat bahwa setiap orang yang memikul dakwah di jalan Allah pasti akan mendapatkan suatu cobaan, seperti tuduhan yang  jelek atau pendustaan kepada dirinya. Oleh karena itu hendaknya seorang da’i senantiasa bersabar dan mencontoh Rasulullah -Shallalahu ‘alaihi wasallam-, serta meyakini bahwa pertolongan Allah itu dekat.  Allah berfirman dalam kitab-Nya:

حَتَّى إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

“Sampai ketika para rasul telah putus asa (dari harapan bahwa umatnya akan mengikutinya) dan mereka yakin bahwa mereka telah didustakan, maka datanglah pertolongan kami, dan Kami selamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan azab Kami tidak dapat dihindarkan dari orang-orang pendosa”.(Q.S.Yusuf : 110).

Allah juga befirman :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, sedangkan belum datang kepadamu cobaan sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kamu, mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta digoncang dengan goncangan yang dahsyat, sampai-sampai berkata Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah? Ketahuilah bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat”.(Q.S.Al-Baqarah: 214).

CELAAN & KEDUSTAAN ATAS SYAIKH YAHYA[2]

Diantara berita dan isu yang saat ini beredar di sebagian negara, dan banyak terjadi simpangsiur, dan pertanyaan-pertanyaan tentangnyanya, adalah apa yang telah didustakan terhadap seorang ulama besar dan da`i yang terkenal, penasehat dari penasehat ahlu sunnah di zaman ini, dia adalah Syaikh kami Penasehat yang terpercaya Yahya bin Ali Al-Hajury -Hafizhahullah wa Ra’ah- yang saat ini menggantikan kedudukan Syaikh kami dan orang tua kami Imam Muqbil bin Hady Al-Wadi`iy –rahimahullah-, bahwasanya beliau telah mencela Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan mengatakan tentang Nabi –Shallallahu `alahi wasallam– bahwasanya beliau telah melakukan kesalahan dalam berdakwah !!!!!!

Saat pertama kali aku mendengar perkataan ini, aku pun terheran, apakah ini suatu hal yang masuk akal dan dapat dipercaya, bahwasanya seorang ulama yang telah lama mengorbankan hidupnya untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya akan mengatakan hal-hal seperti ini!? Aku pun teringat perkataan Al-Imam Ibnu Baz: “Seandainya mereka sanggup untuk menuduh seorang da`i di jalan Allah bahwa dia telah berzina dengan ibunya sendiri, maka pasti mereka akan melakukan hal tersebut!”

Namun pada hakikatnya bukanlah suatu hal yang asing lagi kalau muncul perkataan seperti ini tehadap para ulama semisal beliau dan tidak pula yang kedudukannya lebih tinggi darinya, bila Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- saja tidak selamat dari tuduhan-tuduhan seperti itu, maka terlebih lagi selain beliau. Alangkah indahnya sebuah pepatah yang mengatakan :

ما سلم الله من بريته        ولا نبيه الهدى فكيف أنا

“Allah tidak selamat dari celaannya

Dan tidak pula NabiNya yang membawa petunjuk, lalu bagaimana dengan diriku”.

Ibnul Wardy juga berkata:

ليس يخلو المرء من ضد ولو                  حاول العزلة في رأس الجبل

“Tidaklah seorang dapat bersembunyi dari musuh-musuhnya

walaupun dia pergi menyendiri di puncak gunung”.

Allah berfirman :

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain, apakah kamu akan bersabar? Dan Rabbmu “Bashir” (Maha Melihat)”. (Q.S.Al-Furqaan : 20)

Allah juga berfirman :

ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ

“Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain”. (Q.S.Muhammad : 4).

Dan hal ini bukanlah kedustaan yang pertama kali yang dilemparkan kepada beliau (Syaikh Yahya), telah banyak sekali kedustaan yang telah didustakan kepadanya, mereka selalu saja menukilkan perkataan-perkataan beliau dari kaset yang satu dan kaset yang lainnya dengan tema pembicaraan yang berbeda, kemudian mereka menggabungkan perkataan-perkataan itu dan menyebarkannya dengan tujuan merusak nama baik beliau, akan tetapi dengan izin Allah tidaklah hal-hal seperti itu dapat membayakannya, selama beliau masih berada di atas sunnah dan kesungguhan, walaupun semua orang di muka bumi berkumpul untuk membahayakannnya.  Diriwayatkan olehTirmidzi dan yang lainnya dari hadist Ibnu Abbas-Radhiyallahu ‘anhuma- bahwasanya Nabi-ShallAllahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعت على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت الصحف

“Dan ketahuilah, seandainya saja seluruh umat bersatu untuk memberikan kepadamu sebuah manfaat, tidaklah hal itu akan terwujud keculi sesuatu yang telah Allah takdirkan padamu, dan seandainya mereka bersatu untuk berbuat sesuatu yang dapat membahayakanmu, tidaklah hal itu dapat membahayakanmu kecuali sesuatu yang telah Allah takdirkan kepadamu. Pena takdir telah terangkat dan lembaran-lembaran juga telah kering”.

Diriwayatkan juga oleh Tirmidzi dari hadist Aisyah dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

 ((من التمس رضاء الله بسخط الناس كفاه الله مؤنة الناس ومن التمس رضاء الناس بسخط الله وكله الله إلى الناس))

“Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah dengan kemarahan manusia maka Allah akan cukupkan dia dari kebutuhan terhadap manusia, dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemarahan Allah maka Allah akan serahkan urusannya kepada menusia”.

Oleh karena itu, pada setiap waktu dan tempat senantiasa ada ahlu bid’ah dan para pengikut hawa nafsu yang memusuhi para ulama ahli kritik yang menerangkan kepada manusia kebaikan, dan memberikan peringatan kepada mereka akan bahaya bidah dan pengikutnya.

Sebagai contoh, apa yang disebutkan tentang Imam Abu Ismail Al-Harawy ketika dia difitnah telah menyembah berhala –wal `iyadzu billah-.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam kitab “Siyaru A’lamin Nubala`” dan disebutkan juga dalam kitab “Tazdkiratul Huffazh”: “Ketika Raja Alab Aruslan tiba di Harah dan ketika itu juga telah berkumpul para syaikh dan pemimpin yang ada dalam negeri tersebut, kemudian para syaikh dan pemimpin tadi menemui Abu Ismail dan mengucapkan salam kepadanya dan berkata: “Raja akan datang dan kami juga telah bersiap untuk keluar dan memberi salam kepada raja, namun sebelumnya kami lebih suka terlebih dahulu mulai memberi salam untukmu. Dan sebelumnya mereka telah bersepakat untuk membawa sebuah berhala kecil yang terbuat dari tembaga, kemudian meletakkan berhala itu dalam mihrab di bawah sajadah milik Syaikh (Abu Ismail)!!!

Setelah itu mereka keluar dan Syaikh juga kembali menuju tempat peristirahatannya, kemudian para syaikh dan pemimpin tadi menemui sang Raja dan mengeluhkan kelakuan Abu Ismail Al-Anshary, bahwasanya dia adalah seorang yang berpendapat bahwa Allah memiliki jasad dan menyimpan sebuah berhala di dalam mihrabnya, dia menyangka Allah menyerupai bentuk berhala tersebut. Jika Raja mengutus seseorang untuk memeriksanya pasti dia akan mendapatkan berhala itu!

Hal itu tentunya membuat sang Raja terheran, lalu dia mengutus seorang utusan dan beberapa orang bersamanya, kemudian  mereka langsung masuk menuju mihrab dan mengambil berhala yang ada di dalamnya, kemudian orang tadi mencampakkan berhala itu sehingga Raja pun terlihat sangat marah, kemudian sang Raja mengutus orang untuk mendatangkan Syaikh Abu Ismail Al-Anshary. Maka diapun datang dan melihat para ulama’ tadi serta berhala tersebut. Kemudian Raja bertanya kepadanya: “Ini apa?”. Dia menjawab: “Sebuah patung yang terbuat dari kuningan, mirip sebuah mainan”.

Raja berkata: “Bukan tentang hal itu yang aku tanyakan kepadamu!”

Dia berkata : “Lalu apa yang Raja maksud?”

Raja berkata: “Orang-orang ini menuduh bahwa kamu menyembah patung ini dan kamu mengatakan bahwa Allah menyerupai bentuknya!?”

Kemudian  Syaikhul Islam Abu Ismail dengan kewibawaannya dan suara yang keras berkata: “Subhanallah, sungguh ini merupakan kedustaan yang sangat besar.”

Lantas terbetik di hati sang Raja bahwasanya orang-orang tadi telah berbohong kepadanya. Maka sang Rajapun memerintahkan orang untuk mengantarkan Syaikh Abu Ismail pulang dengan penuh penghormatan, dan berkata kepada para syaikh tadi: “Hendaknya kalian jujur kepadaku!” Dan dia juga mengancam mereka. Kemudian mereka menjawab: “Kami berada dalam musibah dengan kekuasaan orang ini (Abu Ismail) atas kami, maka kami ingin menjauhkan kejelekannya dari kami”. Maka sang Rajapun memerintahkan mereka untuk digiring dan diungsikan, kemudian menghukum dan menghinakan mereka.

Ibnu Thahir pernah berkata: “Aku pernah mendengar Abu Ismail Al-Harawy berkata: “Aku pernah diancam akan dipenggal leherku lima kali. Mereka tidak menyuruhku agar aku meninggalkan mazhabku, namun hanya menyuruhku untuk diam terhadap orang-orang yang menyelisihi pendapatku, tapi aku katakan bahwasanya aku tidak akan diam”.

Ibnu Thahir juga berkata: “Aku juga pernah mendengar dia berkata: “Aku menghafal dua belas ribu hadist dan bisa membacakannya dengan cepat dan lancar”.

Tindakan tipu daya terhadap para ulama Islam bukanlah suatu hal yang baru, hanya kepada Allah kita meminta pertolongan dan kepada-Nya kita bertawakkal.

Oleh karena itu hendaknya setiap muslim terus berhati-hati dari para penipu dan orang yang iri hati terhadap ulama muslimin.

Alangkah miripnya apa yang terjadi pada malam ini dengan malam kemarin, bagaimana mereka berdusta atas seorang `alim lagi pemberani dengan mengatakan bahwasanya dia mencela Nabi –Shallallahu `alahi wasallam- dan mengatakakan bahwa Nabi –Shallallahu `alahi wasallam– telah melakukan kesalahan dalam berdakwah!!!! Di samping itu beliau juga merupakan seorang yang berilmu, mengajarkan ilmu tersebut dan memberikan pelayanan kepada agama Islam, dan para ulama juga telah memberikan pujian yang sangat mulia kepadanya.

PUJIAN ULAMA TERHADAP SYAIKH YAHYA

PUJIAN GURU BELIAU: SYAIKH MUQBIL AL-WADI’IY

Inilah Syaikh beliau Al-Imam Al-Wadi`iy –Rahimahullah- berkata dalam Muqadimah kitab Islaahul Mujtama’: “Aku telah melihat apa yang ditulis oleh Syaikh yang mulia Yahya bin Ali Al-Hajury atas buku “Islaahul Mujtama’” karangan Al-Baihany –rahimahullah-. Syaikh Yahya telah mencurahkan kemampuannya yang patut disyukuri dalam menjelaskan takhrij hadist dan mengoreksi kalimat-kalimatnya, dan makna kalimat serta memberikan peringatan yang sangat penting akan beberapa kesalahan pengarang kitab –rahimahullah-, sehingga menjadikan buku ini sebagai rujukan dalam mengeluarkan jalan-jalan  hadist, hendaknya para penuntut ilmu memilikinya meskipun sekedar untuk mengetahui jalan-jalan hadist.”

Syaikh Muqbil juga berkata: “Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajury –Alhamdulillah- telah menjadi rujukan dalam memberikan pengajaran dan fatwa. Aku memohon kepada Allah semoga dia diberikan balasan yang baik dan diberikan keberkahan terhadap ilmu, harta, dan keturunannya. Sesungguhnya Allah Maha Dermawan dan Murah Hati.”

Syaikh Muqbil juga berkata dalam Muqadimah kitab “Ahkamul Jum’ati wa Bidauha”: “Aku telah melihat kitab Al-Jum’ah milik Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajury, dan Aku mendapatkannya merupakan kitab yang sangat mulia, di dalamnya terdapat faidah-faidah yang pantas bagi seseorang untuk melakukan safar demi mendapatkannya. Syaikh Yahya -Hafizhahullah- berada dalam puncak ketaqwaan, zuhud, wara`, dan takut kepada Allah dan dia selalu mengucapkan kebenaran tanpa takut atas celaan orang-orang yang selalu mencela, dan dia –Hafizhahullah- menggantikan posisiku dalam  pelajaran-pelajaran yang aku ajarkan di Darul Hadist Dammaj, dan dia telah menyampaikan pelajaran-pelajaran tersebut dengan sangat bagus.”

Kemudian Syaikh berkata: “Semoga Allah memberikan sebaik-baik balasan kepada saudara kami Yahya, dan alangkah beruntung dirinya dengan kesabaran yang telah Allah berikan kepadanya dalam penelitian dan pengambilan faidah-faidah yang berkaitan dengan hadist dan masalah fiqh. Dan kitab ini merupakan kitab hadist dan hukum-hukum fiqh. (sampai akhir perkataannya -Rahimahullah-).

Syaikh Muqbil juga berkata dalam Muqadimah kitab “Dhiya`us Saalikin Fi Ahkami wa Aadaabil Musaafirin”: “Amma ba’du, telah dibacakan kepadaku sebagian isi kitab “As Safar” milik saudara kami Syaikh yang mulia, bertaqwa, zuhud, seorang ahli hadist, ahli fiqh, Abu Abdirrahman Yahya bin Ali Al Hajury –Hafizhahullah-, dan aku mendapatkannya merupakan sebuah kitab yang sangat bermanfaat, di dalamnya terdapat faidah-faidah yang pantas seseorang untuk melakukan safar demi mendapatkannya, kitab ini telah mencakup faidah-faidah dalam ilmu hadist dan ilmu kritikan terhadap rawi hadist, penshahihan dan pelemahan terhadap hadist, dan mencakup pula faidah-faidah dalam masalah fiqh berupa pengambilan hukum-hukum, penjelasan kata-kata asing, dan menjelaskan sesuatu yang tidak jelas, sebagaimana halnya dalam risalah-risalahnya yang lain. Aku berharap semoga Allah memberi manfaat kepada agama Islam dan muslimin dengannya dan tulisan-tulisannya. Adapun Syaikh Yahya beliau adalah sosok yang dicintai oleh saudara-saudaranya dikarenakan aqidahnya yang baik dan kecintaannya terhadap Sunnnah dan kebenciannya terhadap Hizbiyyah yang bisa merubah fitrah seseorang. Dia telah memberikan manfaat kepada saudara-saudaranya dengan fatwa-fatwanya yang dibangun berdasarkan dalil. Aku memohon semoga Allah menjaganya dan melindunginya  dari setiap kejelekan dan kecelakaan dan senantiasa melindungi kita semua dari fitnah dunia dan akhirat.”

Syaikh Muqbil juga berkata dalam Muqadimah kitab “’Ash Shubhu Asy-Syaariq fii Arrod ‘ala Dholaalati Abdul Majid Az-Zindani fii Kitaabihi Tauhiidil Kholiq”: “Amma Ba’du, Aku telah melihat salah satu karangan terbaik saudara kami Syaikh yang mulia Yahya bin ‘Ali Al-Hajury –Hafizhahullah– dia telah bekerja dengan baik dan memberi manfaat dalam bantahannya terhadap Abdul Majid Az-Zindany; aku sangat takjub dengan pembahasannya yang akurat dengan disertai dengan faidah-faidah  dalam materi aqidah, fiqh, hadist, dan tafsir.Telah benar firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (ilmu) dan menghapus segala kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni dosa-dosamu. Sungguh Allah mempunyai karunia yang sangat besar”.(Q.S.Al-Anfaal : 29).

Dan Syaikh Yahya –Hafizhahullah-, Allah telah membukakan kepadanya untuk senantiasa berpegang dengan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya –Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Syaikh Muqbil juga berkata dalam Muqadimah kitab “Ahkamut Tayammum”: “Aku telah melihat apa yang ditulis Syaikh yang mulia Yahya bin Ali Al-Hajury dalam perkara tayammum, dan aku mendapatkan kitab tersebut diisi dengan faidah yang pantas seseorang melakukan safar demi mendapatkannya, yang mana kitab tersebut telah mencakup pembahasan masalah hadist, rawi sanad, dan pengambilan hukum dalam masalah fiqh yang ini semua menunjukkan luasnya pengetahuan beliau dalam ilmu hadist dan fiqh, dan aku tidak berlebihan jika aku mengatakan bahwa usaha yang dia hasilkan menyamai apa yang telah dilakukan Al-Hafidz dalam kitab “Al-Fath” dalam pembahasan hadist, dan keterangan tentang tingkatannya, namun aku tidak bermaksud bahwasanya saudara Yahya lebih pandai daripada Al-Hafidz dalam ilmu hadist, namun saudara Yahya telah menguasai apa yang telah dia tulis dalam penjelasan yang penuh berkah ini, yang aku maksud adalah kitab “Syarhul Muntaqa” milik Ibnu Jarud, dan berkah itu hanyalah dari Allah, semoga Allah memberi balasan kepada  kita semua dengan kebaikan.”

Syaikh Muqbil juga berkata dalam biografi beliau: “Dia seorang yang telah menghafal Al-Qur’an, aku pernah mendengar beberapa pelajaran yang dia ajarkan yang menunjukkan keberhasilannya, dan dia juga sangat kuat dalam bidang tauhid.”

Syaikh Muqbil juga berkata kepada penduduk desanya: “ Janganlah kalian rela jika dia diturunkan dari atas kursi, dia adalah seorang penasehat yang dapat dipercaya.”

Arahan-arahan seperti ini dari Syaikh kami Al-Allamah Muqbil –Rahimahullah– seorang yang bertaqwa, yang mana jika dia berkata maka didasarkan oleh ilmu dan ketakutan kepada Allah, belum pernah beliau mengatakan sanjungan seperti ini kepada orang lain dari murid-muridnya. Ini semua merupakan bukti bagi kita semua atas keutamaan yang dimiliki oleh Syaikh Yahya, dengan perjuangannya yang penuh berkah dalam ilmu dan penyebarannya. Adapun amalan antara dia dengan Allah maka jangan diragukan lagi.

PUJIAN SYAIKH AHMAD AN-NAJMIY

Dan Syaikh An-Najmy Pemberi Fatwa Kerajaan Arab Saudi bagian selatan dalam pendahuluannya untuk kitab bantahan terhadap Az-Zindany  mengatakan: “Telah mengirim kepadaku Syaikh yang terhormat saudara kami  Yahya bin Ali Al-Yamany Al-Hajury bukunya yang dia tulis untuk membantah Abdul Majid Az-Zindany, yang bertujuan untuk membantah kesalahan-kesalahan yang telah tersebar……sampai perkataanya: “Dengan hal ini kita dapat mengetahui bahwasanya Az-Zindany telah menipu kaumnya”.

Ketika beliau ditanya tentang orang-orang yang mengatakan bahwasanya di Dammaj terdapat Haddadiyah, beliau berkata: “Yang kami ketahui secara umum, para murid-murid Syaikh Muqbil berada di atas Sunnah, dan barangsiapa yang beranggapan bahwasanya mereka adalah Haddadiyah, maka anggapannya itu adalah salah, dan perkataanya ini merupakan kejahatan dan kelaliman terhadap murid-murid Syaikh Muqbil –rahimahullah-.

Ma’had Dammaj yang didirikan oleh Syaikh Muqbil –Rahimahullah– berada dalam lingkungan Syi`ah dan perkampungan mereka, kemudian tersebarlah sunnah di sana. Dengan sebab itu tidaklah pantas untuk seseorang berani berkata dengan lancang  tentang Dammaj…

Oleh sebab itu aku mengatakan bahwa barangsiapa yang mengatakan bahwa mereka Haddadiyah, maka dia adalah seorang penjahat, zhalim, dan di hadapan Allah kita semua akan bertemu. Hanya Allah lah yang Maha memberi petunjuk. Shalawat Allah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya”. ( dinukil dari kitab “Al-Fatawa Al- Jaliyyah fi Manahij Ad-Da’wiyyah”).

PUJIAN SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL-WAHHAB AL-BANNA

Ketika Al-Allamah Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Banna ditanya tentang perkataan bahwasanya sebagian dari mereka telah melakukan perubahan setelah wafatnya Syaikh Muqbil?

Beliau menjawab: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, demi Allah, aku tidak tahu apa yang bisa aku katakan, tempat yang paling baik saat ini bagi kalian untuk mempelajari manhaj salaf yang sebenar-benarnya dengan menuntut ilmu serta mengamalkannya adalah Dammaj, demi Allah!

Saat ini Mekkah telah dimasuki oleh kelompok Ihwanul Muslimin, dan mereka telah melakukan kerusakan di dalamnya. Demi Allah, mereka (para murid dan pelajar di markaz Dammaj) adalah sebaik-baik orang saat ini.”

PUJIAN SYAIKH RABI’

Ketika dikatakan kepada Syaikh Rabi’–Hafizhahullah-: “Apakah Anda pernah berbicara (jelek) terhadap Syaikh Yahya? Beliau berkata: “Mungkinkah aku berbicara (jelek) terhadap Syaikh Yahya yang telah memegang dakwah Salafiyah dengan tangan baja?!”

PUJIAN SYAIKH SALIM AL-HILALIY

Syaikh Salim Al-Hilaly –Hafizhahullah- juga perrnah ditanya di Masjid As-Sunnah di kota Tarim : “Bagaimana pendapat Anda terhadap orang yang mengatakan bahwa Dammaj telah berubah?”

Beliau menjawab: “Kami telah mengenal Dammaj semenjak zaman Syaikh Muqbil, disana diajarkan kitab Allah, dan sunnah RasulNya dan diajarkan pula atsar para sahabat. Syaikh Muqbil –Rahimahullah- sejak saat itu selalu bicara tentang  Yayasan-yayasan, dan kelompok-kelompok, serta individu-individu. Mungkin aku tidak berlebihan, atau supaya ucapanku tidak disalah pahami, mungkin kritikan-kritikan terhadap kelompok-kelompok, bahkan sampai tingkat negara sekarang ini jauh lebih sedikit daripada yang terjadi di zaman Syaikh Muqbil. Maka apa yang berubah dari Dammaj?! Dammaj masih seperti yag dulu. Kemudian setelah itu Syaikh Muqbil wafat, lalu apakah kalian mengira dia akan meninggalkan Dammaj begitu saja hingga Dammaj menjadi seperti kelompok-kelompok yang ada?! Bagaimana mungkin dia akan meninggalkan Dammaj menjadi seperti itu?! Syaikh –Rahimahullah– memiliki madrasah, markaz dakwah, dan santri-santri orang asing, tentunya harus ada seseorang yang menggantikan posisinya, lantas beliau melihat diantara murid-muridnya dan dia lebih mengetahui tentang keadaan mereka, sehingga akhirnya dia memilih Syaikh Yahya –Hafizhahullah-. Hendaknya kita turut membantu Syaikh Yahya dalam mengemban amanah di Dammaj. Dan Dammaj menurut pandanganku dan apa yang aku ketahui  dari santri-santrinya yang telah memilik pondok di luar, bahwasanya Dammaj masih seperti yang dulu, tidak berubah.”

Syaikh Salim juga berkata: “Markaz ini sebatas pengetahuanku, tidaklah mereka mengajarkan kecuali Kitab Allah dan Sunnah RasulNya –Shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan pemahaman salafus shalih, maka bagaimana mungkin kita mengecamnya atau mengecam para ulama dan pengurus-pengurus yang ada didalamnya… Aku tidak berpikiran bahwa hal seperti ini dilakukan karena menginginkan wajah Allah.” (Perkataan Syaikh Salim ini diambil dari kaset ceramah yang beliau sampaikan saat kunjungannya yang pertama ke Yaman).

PUJIAN PARA PENGEMBAN DAKWAH DI YAMAN SEBELUM MEREKA TERFITNAH

Salafiyyah di incar, begitu pula Anda.” Mereka juga mengatakan bahwa Syaikh Yahya adalah pengganti Syaikh Muqbil di markaznya dan dalam (mengemban) dakwah.

Berkata Syaikh Muhammad Al-Imam: “Tidaklah orang yang mencela Syaikh Al-Allamah Al-Hajury  melainkan orang-orang bodoh atau pengikut hawa nafsu”. (atau yang semakna dengan ucapan beliau).

Syaikh Abdul Aziz Al-Bura`iy berkata: “Syaikh Yahya bagaikan tahi lalat di muka Ahlu sunnah, dan mahkota di atas kepala mereka, singa dari singa-singa ahlu sunnah”.

Beliau juga berkata: “Tidaklah seseorang berbicara (jelek) tentang dirinya (Syaikh Yahya) kecuali orang yang disisipkan dalam dakwah”.

Berkata Syaikh Abdullah bin Utsman: “Orang yang berbicara (jelek) tentang Syaikh Yahya maka ragukanlah keislamannya”.

PUJIAN SYAIKH JAMIL BIN ABDULLAH AS-SILWIY

Syaikh yang mulia  Jamil bin Abduh As-Sulwy pernah di tanya: “Bagaimana pendapatmu terhadap orang yang mencela Syaikh Yahya, dan si pencela tadi masih ada di sini (Darul Hadist Dammaj)?”

Jawab: “Tidaklah mencela Syaikh Yahya kecuali orang-orang yang pantas dicela. Beliau adalah seorang Syaikh yang Mulia, penuh berkah, kita patut menghormatinya, memuliakannya, menyanjungnya dan mendoakannya dalam kesendirian kita, semoga Allah memberikannya petunjuk, kekuatan, taufiq, dan pertolongan dalam menjalankan kebaikan.”

TIDAKLAH MERUGIKAN PARA PENCELA ITU KECUALI DIRINYA SENDIRI

Kemudian setelah ini semua, apakah diperkenankan bagi seseorang untuk mencela seorang ‘alim yang pemberani ini, atau mengira bahwa dia telah mencela Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, atau perkataan-perkataan selain itu?!

Berkata penyair:

يا قوم و الله العظيم أسأتموا               في علما الدين ظن الشاني

“Wahai kaum, sungguh kalian telah berbuat  jelek

Terhadap ulama agama dengan dugaan orang yang jelek.”

Padahal tidaklah pernah didapatkan dalam perkataan Al-Allamah Al-Hajury, baik itu dalam kaset-kasetnya maupun kitab-kitabnya. Tidak pernah pula didengarkan dalam pelajaran-pelajarannya apa yang didustakan oleh Nuruddin Kisyk yang telah dia sebarkan melalui perantara kaset-kasetnya, dan siaran radio bahwasanya Al-Allamah Al Hajury mengatakan: Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– telah melakukan kesalahan dalam berdakwah di jalan Allah.

Aku sungguh khawatir padanya akan tergolong dalam apa yg disebutkan di dalam hadist Samurah dalam Shahih Bukhary; bahwasanya Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda:

((و أماالرَّجُلُ الَّذِي أتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ ، ومِنْخَرُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ ، فإنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الكِذْبَةَ تَبْلُغُ الآفاقَ))

“Adapun orang yang engkau lihat disobek sisi mulutnya sampai tengkuknya, dan dari lubang hidungnya sampai tengkuknya, serta dari mata sampai tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya dan berdusta dengan sekali kedustaan yang menyebar ke seluruh penjuru”.

Kecuali kalau Allah hendak memperbaiki dia dengan kasih sayangNya, atau dia bertaubat dan mengumumkannnya di depan orang banyak.

Sebagaimana firman Allah :

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan barangsiapa yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat maka sesungguhnya mereka telah memikul kedustaan dan dosa yang nyata”.(Q.S.Al-Ahzab: 58).

Aku ingin mengingatkannya dengan sebuah hadist yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Muslim dari hadist Abdullah bin ‘Amr: Bahwasanya Rasulullah –ShallAllahu ‘alaihi wasallam– bersabda:

(( أرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصاً ، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلة مِنَهن كانت فيه خلة من النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا :َإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا وعد أخلف وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ))

“Empat hal, yang jika terdapat pada seseorang, maka dia adalah seorang munafik tulen, dan barang siapa yang ada padanya beberapa hal tersebut, berarti ada padanya sebagian sifat munafik, sampai dia meninggalkannya; jika berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia ingkari, jika diberi amanah maka dia berkhianat, dan jika dia berselisih maka dia curang.”

Adapun hal yang membawa Nuruddin Kisyk merasa iri hati kepada ulama-ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah taqlidnya kepada sebagian orang yang dia cintai atau semisal mereka yang telah terbiasa mencela para ulama dengan melakukan kedustaan kepada ulama, serta tindakan kejahatan yang tersebar melalui beberapa situs internet.

KISAH CELAAN TERHADAP IMAM IBNU BAZ

Tindakan Kisyk ini amatlah cocok dengan apa yang pernah dikatakan Al-Allamah Al-Wadi`iy terhadap Abdul Majid Ar-Raimy  ketika dia (Ar Raimy) mendengar bahwasanya Al-Qardhawy mencela Imam Ibnu Baz dikarenakan fatwa beliau dalam salah satu permasalahan.

Kemudian dia langsung mengadakan sebuah ceramah di ibukota Sona’a yang di dalam ceramahnya tersebut dia mencaci maki Ibnu Baz, sehingga setelah orang-oarang keluar ke jalan raya mereka juga mencaci maki Imam Ibnu Baz, kemudian tatkala berita ini sampai kepada Imam Al-Wadi`iy maka beliau berkata: “Abdul Majid Ar-Raimy bagaikan seekor anjing yang tatkala dia melihat anjing yang lain menggonggong maka dia pun ikut menggonggong  tanpa mengetahui atas dasar apa dan kenapa mereka menggonggong.”

BEBERAPA KESESATAN AL-QARDHAWIY

Kalau tidak demikian, maka mana bentuk kecemburuan dia terhadap Allah Azza wa Jalla ketika Al-Qardhawy mencela Allah dan menyamakan-Nya dengan makhluk, bahkan dia menjadikan seorang kafir Yahudi lebih tinggi derajatnya dari pada Allah. Ini semua sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Utsaimin –Rahimahullah-!!!!

Karena perkara inilah para ulama memvonis bahwasanya Al-Qardhawy telah murtad kalau dia tidak bertaubat, dan sebagian yang lain menghukuminya sebagai seorang yang sesat.

Mana kecemburuan Kisyk dan peringatannya terhadap Al-Qardhawy, padahal dia memiliki pendahulu dari para ulama Islam dalam hal ini?!

Telah beredar dalam koran, majalah, dan buku-buku, serta telah ditanyakan kepada para ulama ketika Al-Qardhawy mengomentari pemilu di Israel dan salah satu kandidat mereka menang dalam pemilu tersebut dengan persentase suara 95% dengan mengatakan: “Kalau seandainya Allah ikut serta dalam pemilu itu maka tidak akan mungkin Dia mendapatkan persentase seperti itu!!!”

Allah tidak butuh untuk mengikuti pemilu, karena Allah jika menghendaki sesuatu cukup mengucapkan “Kun” maka jadilah.

Allah berfirman:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya jika Dia menghendaki sesuatu cukuplah Dia berkata padanya “Kun”, maka terjadilah.” (Q.S.Yaasin : 82)

Allah juga memberitahukan bahwa diriNya Maha Kaya dan berhak dipuji, dan semua ciptaanNya membutuhkanNya, bukan malah Dia yang butuh kepada ciptaanNya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)

“Hai sekalian manusia, kalianlah yang butuh kepada Allah, dan Allah “Al-Ghaniy” (Maha Kaya) lagi “Al-Hamid” (Maha Terpuji) {15} Jika Dia menghendaki, niscaya Dia akan memusnahkan kalian dan mengganti kalian dengan yang lain{16} Dan yang demikian itu tidaklah sulit bagi Allah{17}”.(Q.S.Fathir)

Ketika Al-Allamah Al-Utsaimin ditanya tentang perkataan Al-Qardhawy, beliau menjawab: “Aku berlindung kepada Allah! Orang ini wajib untuk bertaubat, dan kalau tidak maka dia  murtad, karena dia telah menjadikan makhluk lebih tinggi dari pada Allah, maka hendaknya dia bertaubat kepada Allah, seandainya dia bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya, namun kalau tidak, maka wajib bagi pemerintah muslim untuk memenggal kepalanya”. (Potongan suara beliau ini ada padaku).

Namun sampai saat ini belum diketahui akan taubatnya. Setelah ini semua Kisyk masih saja memuliakan, dan menukil perkataannya dalam ceramah-ceramahnya, dan sebaliknya dia malah mencela para ulama semisal Syaikh Al-Hajury.

Bersamaan dengan apa yang dimiliki Al-Qardhawy dari kesalahan-kesalahan lainnya yang dia lakukan tehadap Islam, seperti pujiannya terhadap orang kafir, menghancurkan simbol-simbol Islam, sehingga dengan sebab ini semua banyak dari ulama memperingatkan darinya. Akan tetapi masih saja Kisyk memujinya dengan kebodohan dan kehinaan.

Diantara kejelekannya yang tidak tertutupi kejelekannya meskipun oleh kegelapan  malam adalah pujiannya (Al-Qardhawy) terhadap Paus Nasrani Yohanes Paulus II sebagaimana yang disiarkan oleh siaran  Jazirah pada hari Minggu 24/2/1426 H dan telah beredar di buku dan majalah-majalah, serta tersebar pula di beberapa surat kabar. Dia berkata : “Dia adalah seorang Paus yang agung, dan seorang yang paling mulia yang dijadikan rujukan dalam agama Nasrani,…..merupakan kewajiban kita untuk berbela sungkawa terhadap umat Nasrani, dan para pendeta mereka,…. sebagian dari mereka adalah sahabat kita,….kita ucapkan bela sungkawa kepada pendeta yang mulia ini,…kepada seorang Paus yang memiliki peran yang pantas untuk disyukuri dan dikenang,….dari keikhlasannya  kepada umat, dan berdakwah dalam agama, serta semangatnya walau umurnya telah tua,…..dia adalah seorang yang ikhlas dalam agamanya, dan memiliki semangat yang sangat besar dalam dakwah untuk agamanya, serta beriman dengan risalahnya.”

Telah kita ketahui bersama bahwa semangat yang dia miliki dalam beragama adalah untuk menentang agama Allah. Allah berfirman:

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, maka Kami tambahkan kepada mereka siksaan atas siksaan disebabkan karena mereka selalu berbuat kerusakan.”(Q.S.An Nahl: 88).

Allah juga berfirman :

إنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَشَاقُّوا الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَسَيُحْبِطُ أَعْمَالَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi para rasul, setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberikan bahaya kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan menghapuskan amal-amal mereka”.(Q.S.Muhammad : 32)

Sedangkan jalan yang ditempuh para nabi (dalam berdakwah), adalah berlepas diri dari kesyirikan dan ahlinya, bukan malah memuji-muji mereka, Allah berfirman :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami berlepas diri dari kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman hanya kepada Allah saja.” Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohon ampunan untukmu, dan aku tidak bisa memberikan sedikitpun kepadamu dari hak Allah. (Ibrahim berkata): “Ya Rabb, hanya kepadamu kami bertawakkal dan hanya kepadamu kami kembali.”(Q.S.Al-Mumtahanah : 4).

Dan Allah juga berfirman :

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِنْ تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan ini suatu pengumuman dari Allah dan RasulNya kepada umat manusia pada hari haji yang paling besar bahwasanya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kalian bertaubat, maka taubat itu lebih baik bagi kalian, namun jika kalian berpaling maka ketahuilah bahwa kalian tidak akan melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih” (Q.S.At-Taubah:3).

Al-Qardhawy juga berkata tentang Paus: “Dia memiliki peran politik yang akan ditulis dalam timbangan kebaikannya!”

Bagaimana mungkin dia mempunyai kebaikan sebagaimana yang disangka oleh Al-Qardhawy, padahal Allah berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang kafir, maka amal-amal mereka bagaikan fatamorgana di tanah yang datar, dan disangka air oleh orang-orang yang kehausan, sehingga ketika mereka mendatanginya dia tidak mendapati sesuatu apapun, dan didapatinya (takdir) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal dengan cukup, dan Allah amatlah cepat perhitunganNya”.(Q.S.An Nuur : 39 ).

Allah juga berfirman :

يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا (22) وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا (23)

“Pada hari mereka melihat malaikat, dan hari itu tidak ada berita gembira bagi mereka orang-orang yang berdosa, dan malaikat tersebut berkata: “Tidak mungkin kalian akan masuk surga”(22) Dan kami hadapkan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang bertebaran.” (24). (Q.S.Al-Furqan).

Dan Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

“Permisalan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, amalan-amalan mereka bagaikan debu yang ditiup angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan. Dan yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”.(Q.S.Ibrohim :18).

Telah dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari hadits ‘Aisyah –Radhiyallahu `anha– dia berkata:

يا رسول الله ابن جدعان كان في الجاهلية يصل الرحم ويطعم المسكين فهل ذاك نافعه ؟ قال لا ينفعه إنه لم يقل يوما رب اغفر لي خطيئتي يوم الدين

“Wahai Rasulullah! Ibdu Jud’an pada masa jahiliah menyambung silaturrahmi, dan memberi makan orang-orang miskin, apakah hal itu bermanfaat baginya: Rasulullah bersabda: “Tidak akan bermanfaat untuknya, (sebab) seharipun dia tidak pernah mengatakan: ”Wahai Rabbku ampunilah dosa-dosaku di hari kiamat nanti”.

Bagaimana mungkin Allah akan menerima amalnya sedangkan dia seorang kafir, memusuhi Allah dan RasulNya, padahal Allah telah berfirman :

قُلْ أَنْفِقُوا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا لَنْ يُتَقَبَّلَ مِنْكُمْ إِنَّكُمْ كُنْتُمْ قَوْمًا فَاسِقِينَ (53) وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ (54)

“Katakanlah: “Nafkahkanlah harta kalian baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa. (tapi) nafkah  tersebut tidak akan diterima dari kalian, (karena) sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang fasik (53). Tidaklah ada yang menghalangi dari diterimanya shadaqah-shadaqah  mereka itu melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya, dan tidak mengerjakan shalat melainkan dengan rasa malas, dan tidak pula bershadaqah kecuali dengan rasa terpaksa “. (Q.S.At-Taubah).

Al-Qardhawy juga berkata juga tentang Paus: “Dia memiliki peran yang patut untuk dikenang dan disyukuri. Hal ini tidaklah dapat terwujud kecuali dengan mendoakannya semoga Allah merahmatinya dan memberikan balasan sesuai kebaikan yang telah dia perbuat, dan apa yang telah dia tinggalkan dari amal kebaikan atau jasa-jasanya yang baik.”

Bagaimana mungkin diucapkan doa-doa seperti ini kepada seorang kafir padahal Nabi Ibrahim telah berlepas diri dari bapaknya sendiri setelah dia meyakini  akan kekafirannya dan penentangannya. Allah berfirman :

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

“Dan tidaklah permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya melainkan karena suatu janji yang telah diucapkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala telah jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka dia berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah orang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”.(Q.S.At-Taubah :114).

Dan bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, sedangkan Allah telah melarang NabiNya –Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk memohonkan ampunan untuk pamannya, padahal pamannya tersebut telah memberi perlindungan dan bantuan kepadanya. Maka ketika Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam– berkata: “Demi Allah aku akan memohon ampunan untukmu selama Aku tidak dilarang,” Allah menurunkan firmanNya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik, walaupun mereka adalah kerabatnya setelah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam”.(Q.S.At Taubah : 113).

Dan dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari hadist Abu Hurairah: Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda :

((استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي))

“Aku telah meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampunan untuk ibuku, dan Dia tidak mengizinkanku. Kemudian aku meminta izin untuk menziarahi makamnya dan Dia mengizinkanku”.

Semua umat Islam telah sepakat bahwasanya memberi doa kepada orang kafir hukumnya haram. An-Nawawy berkata dalam kitab “Majmu'”: “Adapun menshalati orang kafir dan meminta ampunan untuk mereka hukumnya adalah haram sebagaimana dalil Al-Quran dan kesepakatan ulama”.

Dan diantara dari perkataan-perkataan Al-Qardhawy apa yang disebutkan dalam kitab “Fatawa Mu’ashiroh” (2/636): “Adapun sifat  fanatik yang kami lihat dari sebagian kaum muslimin, bisa jadi merupakan timbal balik dari sikap fanatik lain dari saudara-saudara mereka atau masyarakat lain yang bukan muslim”.

Dia juga berkata dalam kitab “Fatawa” (2/639) : ”Sendainya  saudara-saudara kita dari umat Nasrani merasa terganggu dengan istilah-istilah ini, hendaknya istilah ini diganti atau dihapus”.

Yang dimaksudkan dalam perkataan ini adalah bahwa  kaum muslimin dan Nasrani adalah besaudara! Sedangkan Allah telah mengingkari persaudaraaan diantara kita dan mereka hingga mereka bertaubat dari kekafiran mereka, dan menjalankan syariat Islam. Allah berfirman:

كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّه وَعِنْدَ رَسُولِه……..فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (11).ِ

“Bagaimana mungkin orang-orang musyrik itu memiliki perjanjian di sisi Allah dan RasulNya……….Kalau mereka bertaubat dan mendirikan shalat serta membayar zakat maka mereka adalah saudara kalian dalam agama. Dan Kami merinci ayat-ayat itu bagi orang-orang  yang mengetahui”.(QS.At-Taubah:11)

Telah sepakat ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan persaudaraan di sini adalah persaudaraan dalam agama.

Dan Allah tidaklah menjadikan untuk orang-orang kafir itu persaudaraan kecuali dengan orang-orang munafik. Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir dari ahli kitab: “Sesungguhnya jika kalian diusir niscaya kamipun akan keluar besama kalian, dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kalian. Dan jika kalian diperangi pasti kami akan membantu kalian. Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta”.(Q.S.Al-Hasyr:11)

Al-Qardhawy juga menyeru kepada pendekatan antara muslimin dengan orang-orang kafir, sedangkan Allah menyuruh kita untuk berlepas diri dari mereka walaupun memiliki hubungan dekat. Allah berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka atau saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menananmkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya, Dan mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah telah meridhai mereka dan mereka juga ridha kepadaNya. Sesungguhnya golongan Allah lah yang beruntung”.(Q.S.Al-Mujadilah:22).

Al-Qardhawy menyatakan agar hati kita dibersihkan dari permusuhan terhadap orang kafir sebagaimana disebutkan dalam kitab “Ulawiyyaat Al Harakah Al-Islamiyah”, padahal Allah dan seluruh rasul-rasulNya telah menyuruh kita agar memusuhi mereka.  Allah berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami berlepas diri dari kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman hanya kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohon ampunan untukmu, dan aku tidak dapat berbuat apapun untuk kamu dari hak Allah. (Ibrahim berkata): Ya Rabb hanya kepadamu kami bertawakkal dan hanya kepadamu kami kembali”.(Q.S.Al-Mumtahanah: 4).

Dan Allah juga berfirman:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir”.(Q.S.Al-Baqarah:98).

Dan Allah telah memberitahu kita bahwasanya orang-orang Yahudi dan Nasrani sangatlah memusuhi kita, dan sekali-kali mereka tidaklah ridha dengan kita, Allah berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk (yang benar),  dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah apa-apa yang datang kepadamu berupa ilmu, maka tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah”. (Q.S.Al Baqarah:120).

Al-Qardhawy juga berkata: “Bahwasanya Yahudi dan Nasrani adalah pengikut Ibrahim Al-Khalil –‘Alaihissalam-, sebagaimana dikutip dari buku-bukunya, diantaranya buku “Da’wah At-Taqarub baina Al-Adyan”. Demi Allah, sungguh Al-Qur’an telah mengingkari pengakuan mereka dan telah menjelaskan kedustaan mereka. Allah berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (67) إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ (68)

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang  yang berpegang teguh dengan Islam, bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik (67) Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman (68)”.(Q.S.Ali ‘Imran).

Allah telah menjelaskan bahwasanya orang-orang Nasrani dan Yahudi menyeru kepada agama mereka, dan berkata bahwa petunjuk itu ada pada mereka, kemudian Allah menjelaskan bahwasanya petunjuk itu didapatkan dengan perantara Ibrahim, Allah berfirman:

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan mereka berkata: “Hendaknya kalian menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kalian akan mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, namun kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia dari golongan orang musyrik”.(Q.S.Al Baqarah:135).

Al-Qardhawy juga berkata: “Kita tidak memerangi Yahudi karena alasan aqidah, namun kita memerangi mereka karena mereka telah merampas tanah, dan rumah kita tanpa hak sedikitpun”. (Perkataan ini adalah jawaban dari sebuah pertanyaan).

Sedangkan Allah dan RasulNya memerintahkan kita untuk memerangi mereka disebabkan kekafiran dan kesyirikan mereka, dan karena mereka tidak mau beriman, serta tidak mengharamkan sesuatu yang telah Allah haramkan. Allah berfirman:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan tidak pula kepada hari akhirat, dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberikan Kitab, sampai mereka membayar jizyah (upeti) dengan patuh, sedang mereka dalam keadaan terhinakan” (Q.S.At-Taubah29).

Dan di dalam Shahih Bukhary dan Muslim dari hadits Abdullah bin Umar dia berkata: Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda:

))أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ((

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan membayar zakat, jika mereka telah melakukannya maka telah terlindung darahnya dan hartanya kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka hanya kepada Allah”.

Dalam Shahih Muslim dari hadist Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-  bersabda:

أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله ويؤمنوا بي وبما جئت به فإذا فعلوا ذلك عصموا منى دماءهم وأموالهم إلا بحقها وحسابهم على الله

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan beriman kepadaku serta apa yang aku bawa, jika mereka telah melakukan itu semua maka telah terlindungi darahnya dan hartanya kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka hanya kepada Allah”.

Adapun Al-Qardhawy dengan perkataannya ini telah mendahulukan rasa cinta dan pembelaan terhadap tanah air daripada kehormatan Allah dan RasulNya. Allah berfirman :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah : “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai itu lebih kalian cintai dari pada Allah dan RaasulNya serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(Q.S.At-Taubah:24).

Kita tidak sedang membicarakan penyelewengan-penyelewengan Al-Qardhwy terhadap Islam, ini cuma isyarat saja supaya para pembaca mengetahui yang telah dilakukan oleh Kisyk berupa celaan yang penuh dengan kebatilan kepada Syaikh Al-Hajury sementara dia diam dari penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh orang-orang tercintanya. Hanya Allah yang diminta pertolongan.

PENJELASAN KEYAKINAN AHLUS-SUNNAH TERHADAP PARA NABI DALAM MASALAH INI

Umat Islam telah sepakat bahwa para nabi terjaga dari kesalahan dalam memikul beban syari`at, mereka tidak melupakan sedikitpun dari apa-apa yang Allah wahyukan kepada mereka kecuali yang telah dihapus hukumnya dalam syari`at ini. Allah berfiman:

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى (6) إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ

“Akan kami bacakan kepadamu sehingga kamu tidak lupa, kecuali yang dikehendaki oleh Allah”. (QS:Al-A`la:5-6)

Dan Allah menjamin akan mengumpulkan Al-Quran di dalam dadanya. Allah berfirman:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (18)

“Jangan gerakkan lisanmu untuk mendahuluinya, sesungguhnya Kami akan mengumpulkannya  dan membacakannya kepadamu. Apabila dia (JIbril) telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya”. (QS. Al-Qiyamah: 16-18)

Kesepakatan para ulama tentang hal tersebut telah dinukil oleh lebih dari satu orang ulama salaf. Lihat kitab Majmu`ul Fatawa (10/291); Lawami`ul Anwaril Bahiyyah (2/304).

Para nabi juga terjaga dari kesalahan dalam menyampaikan agama ini, mereka tidak menyembunyikan sedikitpun dari yang Allah wahyukan kepada mereka. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Wahai rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan oleh Rabbmu, kalau kamu tidak melakukannya maka berarti kamu belum menyampaikan agama Allah”. (QS. Al-Maidah:67)

Allah juga berfirman:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ (44) لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (46)

“Dan seandainya dia mengada-adakan kedustaan atas nama Kami maka Kami akan menghukumnya dengan keras, kemudian kami cabut urat hatinya”. (QS. Al-Haqqah:44-46)

Demikian pula sudah menjadi keyakinan seluruh ulama muslimin bahwa para nabi terjaga dari dosa besar sehingga mereka tidak akan melakukannya. Mereka juga terjaga dari dosa kecil yang mengandung unsur kehinaan. Adapun dosa kecil yang tidak mengandung unsur kehinaan maka mereka tidak terjaga darinya. Para nabi juga berijtihad dan terkadang mereka juga salah dalam perkara-perkara yang tidak berkaitan dengan wahyu. Akan tetapi mereka tidak dibiarkan terus menerus dalam kesalahannya dengan turunnya wahyu yang meluruskan mereka. Hal ini berbeda dengan keyakinan Rafidhah dan Isma`iliyyah yang mengatakan bahwa para nabi terjaga dari kesalahan secara mutlak, dan pendapat mereka ini tidak dianggap.

Telah benar Ibnu Hazm saat mengatakan: “Bagaimana mereka berdalil atas kami dengan pendapat Rafidhah padahal mereka tidak termasuk kaum muslimin”.

Dan Syaikh Al-Hajury tidaklah melewati batasan ini, akan tetapi begitulah hawa nafsu mempermainkan budak-budaknya.

Dosa kecil yang dilakukan oleh para nabi tidak boleh dijadikan alasan untuk mencela dan meremehkan mereka. Dosa-dosa tersebut merupakan perkara yang kecil dan sedikit serta telah diampuni dan dibersihkan oleh Allah. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Syaikh Al-Fauzan –yang namanya didustakan oleh Kisyk dengan mengatakan bahwa beliau mengkritik Syaikh Al-Hajury- dalam kitabnya “Al-Irsyad ila Shahihil I`tiqad”.

DALIL-DALIL AHLUS-SUNNAH DALAM PERMASALAHAN INI

Dalil-dalil dalam masalah ini banyak, diantaranya firman Allah:

وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121)

“Dan Adam bermaksiat kepada Rabbnya maka diapun tersesat”. (QS.Taha:121)

Dan firman Allah tentang Nuh:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (47)

“Berkata Nuh: “Aku berlindung kepadamu dari meminta apa-apa yang aku tidak memiliki ilmunya. Kalau Engkau tidak mengampuni dan mengasihiku maka aku termasuk orang-orang yang merugi”. (QS.Hud:47)

Dan firman Allah tentang Musa:

قالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ (15) قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (16)

“Berkata Musa: “Ini termasuk perbuatan syaitan, sesungguhnya dia adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata. Berkata Musa: “Sesungguhnya aku telah menzalimi dariku maka ampunilah aku”, maka Allah pun mengampuninya. Sesungguhnya Dia “Al-Ghafur” (Maha Pengampun) lagi “Ar-Rahim (Maha Penyayang)”. (QS.Al-Qashash: 15-16)

Dan firman Allah kepada Nabi kita Muhammad –Shallallahu ‘alaihi wasallam-:

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ

“Supaya Allah mengampuni apa-apa yang telah lewat dari dosamu dan yang akan datang”. (QS. Al-Fath:2)

Dan firman-Nya:

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ (55)

“Dan minta ampunlah dari dosamu. Dan pujilah Rabbmu di waktu petang dan pagi”. (QS.Ghafir:55)

Dan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam sujudnya membaca:

اللهم اغفر لي ذنبي كله دقه و جله و أوله و آخره علانيته و سره

“Ya Allah, ampuni semua dosa-dosaku, yang samar dan yang jelas, yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tidak tampak”.

Beliau juga berdoa:

و اغفر لي خطئي و عمدي و كل ذلك عندي

“Dan ampuni dosa-dosaku yang tidak aku sengaja dan yang aku sengaja, semuanya itu ada padaku”. (HR. Muslim dari Abu Musa).

Termasuk dalam bab ini kisah yang terjadi pada Nabi Daud dalam hukumnya, dan Allah memberikan taufik kepada anaknya Nabi Sulaiman dalam masalah tersebut. Dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengatakan: “Dahulu ada dua orang wanita dengan dua orang anaknya. Kemudian datang srigala yang mengambil salah satu dari anak mereka. Berkata wanita yang pertama: “Srigala itu mengambil anakmu”. Berkata wanita yang kedua: ”Tidak, srigala itu mengambil anakmu”. Maka merekapun mengajukan masalah ini kepada Nabi Daud yang akhirnya memutuskan bahwa yang tidak diambil srigala adalah anak wanita yang lebih tua dari mereka. Kemudian mereka keluar menemui Nabi Sulaiman dan melaporkan kejadiannya, maka Nabi Sulaiman berkata: “Berikan aku pisau, aku akan membagi anak ini untuk mereka berdua dengan membelahnya”. Maka berkata wanita yang lebih muda: “Jangan lakukan, semoga Allah merahmatimu, anak itu miliknya”. Maka Nabi Sulaiman pun memutuskan bahwa anak itu adalah milik wanita yang lebih muda”.

Di dalam dalil-dalil ini terdapat bantahan terhadap Isma`iliyyah dan Rafidhah, juga terhadap Kisyk dan Katurah serta yang semisal keduanya dari orang-orang yang mencela ulama dengan kebodohannya. Tidak ada seorang pun yang bisa mentakwil dalil-dalil ini, sampai-sampai Syaikhul Islam menjelaskan bahwa pentakwilan dalil-dalil ini merupakan pemalingan terhadap ayat sebagaimana dalam kitab “Majmu`ul Fatawa” (10/313).

Berkata Ibnul Hajib dalam “Mukhtashorul Usul”: ”Masalah: Rafidhah telah menyelisihi, begitu pula Mu`tazilah kecuali dalam masalah dosa-dosa kecil. Landasan mereka adalah bahwa akal semata bisa menghukumi suatu perbuatan itu buruk atau baik. Para ulama sepakat bahwa para nabi setelah diutus menjadi rasul mereka terjaga dari kedustaan yang disengaja dalam masalah hukum, karena mu`jizat-mu`jizat yang ada menunjukkan kejujuran mereka. Adapun Al-Qodhi, (beliau) telah salah (dalam permasalahan ini) karena berpendapat mungkinnya hal tersebut dan dia mengatakan: “Mu`jizat tersebut menunjukkan kejujurannya secara keyakinan, adapun perkara selain kedustaan yang disengaja berupa kemaksiatan yang lain maka para ulama telah sepakat bahwa mereka terjaga dari dosa-dosa besar dan kecil yang mengandung unsur kehinaan. Dan pendapat kebanyakan ulama bahwa mereka tidak terjaga dari selain keduanya”.

Aku telah membahas masalah ini dan menukil perkataan para ulama dalam buku “At-Ta`liqus Samin `ala Lum`atil `I`tiqad wa Syarhiha lil `Allamatil `Utsaimin”.

TEKS UCAPAN SYAIKH YAHYA AL-HAJURIY DAN PENJELASANNYA

Syaikh kami –semoga Allah menjaganya- telah menyebutkan dalam jawabannya terhadap pertanyaan dari Hadramaut: “Ya, Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- dulu berijtihad dalam sebagian masalah, akan tetapi ijtihad beliau merupakan perkara “Taufiqiy”. Maka sunnah Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- ada dua: “Tauqifiyyah” dan “Taufiqiyyah”. Adapun “Tauqifiyyah” maka maknanya ada wahyu yang memerintahkan beliau untuk melakukannya. Adapun “Taufiqiyyah” maka maknanya ada wahyu yang turun yang mencocoki ijtihad beliau tersebut”.

Kami tidak mengetahui mana sisi kesalahan dalam ucapan beliau ini.  Padahal beliau cuma mengatakan bahwa Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam– berijtihad dalam sebagian keadaan kemudian turun wahyu yang mencocoki ijtihad beliau tersebut, dan inilah inti dari perkataan para ulama. Ataukah Kisyk ini berpendapat bahwa semua ucapan dan perbuatan Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- sampai-sampai yang dilakukan secara fitrah atau naluri kemanusiaan dan semua gerakan beliau harus dengan wahyu dari Allah?! Ataukah semua ini hanya rasa iri yang terpendam terhadap para ulama muslimin seperti seorang ulama yang perkasa ini, yang telah memberikan manfaat yang luas di segala penjuru dunia baik timur, barat, utara, atau selatan, dan Kisyk ini tidak mampu menahan rasa irinya tatkala mendapat ucapan seperti ini. Kita memohon keselamatan dari Allah.

Kemudian berkata Syaikh Al-Hajury –semoga Allah menolak dari kita dan darinya semua kejelekan dan perkara yang dibenci-: “Jika beliau (Rasulullah) salah dalam ijtihadnya tersebut maka akan langsung turun wahyu untuk membenarkan kesalahan tersebut. Diantara contohnya firman Allah:

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4)

“Dia bermuka masam dan berpaling, tatkala datang kepadanya seorang yang buta, siapa tahu mungkin dia akan membersihkan dirinya, atau dia diingatkan sehingga bermanfaat baginya peringatan tersebut”. (QS.`Abasa:1-4)

Ini diantara metode dakwah Rasulullah –Shallallahu `alahi wasallam-, beliau menemui sebagian pemuka Quraisy, menasehati mereka mengharapkan mereka masuk Islam. Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum seorang sahabat yang buta bertanya kepada beliau tentang sebagian perkara agama. Akan tetapi beliau tidak senang kalau dia bertanya disaat beliau sedang berbicara dengan para pemuka Quraisy dan menyeru mereka kapada Islam. Maka setelah hal itu turun peringatan dari Allah kepada Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam-:

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10) كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11) فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ (12)

“Dia bermuka masam dan berpaling, tatkala datang kepadanya seorang yang buta, siapa tahu mungkin dia akan membersihkan dirinya, atau dia diingatkan sehingga bermanfaat baginya peringatan tersebut, adapun orang yang tidak butuh maka kamu menemuinya, padahal tidak ada dosa atas kamu kalau dia tidak mau mensucikan dirinya. Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera dan dia takut kepada Rabbnya maka kamu tidak menganggapnya, sekali-kali tidak, sesungguhnya hal ini adalah peringatan bagi orang-orang yang mau mengingat”. (QS.`Abasa:1-12)

Adapun ungkapan beliau (Syaikh Yahya) dengan kata “salah” dalam selain wahyu pada keadaan seperti dalil-dalil yang menunjukkan ijtihad beliau dan teguran Allah kepada beliau atas hal itu maka bukan beliau saja yang menggunakan istilah tersebut, bahkan lebih dari satu ulama zaman sekarang juga menggunakan istilah tersebut. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Adapun vonis benar atau salah dalam hal tersebut maka diambil dari ucapan para ulama yang menjaga agama ini yang menisbahkan dirinya kepada Ahlu Sunnah dan Jama`ah. Dan rincian masalah ini membutuhkan pembahasan panjang lebar yang tidak cukup dalam fatwa ini. Dan Allah yang lebih mengetahui”.

Telah diriwayatkan oleh Bukhary dan Muslim dari Abu Musa dari Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam– bahwa beliau berdoa dengan doa ini:

رب اغفر لي خطيئتي و جهلي و إسرافي في أمري كله و ما أنت أعلم به مني. اللهم اغفر لي خطايا و عمدي و جهلي و هزلي و كل ذلك عندي

 “Wahai Rabbku, ampunilah kesalahan dan ketidaktahuanku, dan semua tindakanku yang melampaui batas dalam semua perkaraku, dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya dari padaku. Ya Allah, ampunilah kesalahan-kesalahanku, yang aku sengaja dan yang aku tidak mengetahuinya dan kelemahanku, semua hal itu ada padaku”. Dalam riwayat Muslim:

اللهم اغفر لي خطئي و عمدي و هزلي

 “Ya Allah ampunilah kesalahanku, yang aku sengaja dan juga kelemahanku”. Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- sendiri telah menjelaskan hal ini, Ummu Salamah istri Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam– meriwayatkan bahwa Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendengar perselisihan di pintu kamarnya, maka beliau pun keluar dan berkata: “Sesungguhnya aku cuma manusia, datang kepadaku orang yang berselisih, bisa jadi sebagian dari kalian lebih fasih bicaranya dari yang lain sehingga aku mengira dia itu jujur dalam pengakuannya kemudian aku menangkan dia dalam perselisihan tersebut. Maka barang siapa yang aku putuskan untuknya dari hak seorang muslim maka sesungguhnya itu adalah potongan dari neraka, maka silahkan dia ambil atau dia tinggalkan”. Lihat juga apa yang dikatakan oleh Ibnul Baththal saat menjelaskan hadist Abu Musa yang telah lewat dalam Shahih Bukhary. Berkata Adz-Dzahaby tatkala membantah Rafidhah: “Adapun yang dikatakan oleh Rafidhah bahwa Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- tidak pernah terjatuh dalam kesalahan sebelum dan sesudah diutus menjadi Nabi, tidak pula dosa kecil, begitu pula yang dikatakan oleh kelompok Itsna `Asyariyyah maka ini termasuk perkara yang tidak ada dari umat ini yang setuju dengan pendapat mereka ini. Dan keadaan Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam– lebih baik daripada sebelum beliau melakukan kesalahan tersebut”. Syaikhul Islam telah menjelaskan bahwa mentakwil dalil-dalil seperti ini merupakan penyelisihan terhadap para sahabat dan tabi`in dan termasuk memalingkan dalil dari tempatnya yang dengan sebab ini ahlul kitab dicela oleh Allah dengan firmanNya:

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا

“Dari orang-orang Yahudi yang memalingkan ayat-ayat dari tempatnya dan mereka berkata: “Kami mendengarnya tapi kami melanggarnya”. (QS.An-Nisa`:46)

PERNYATAAN SYAIKHUL ISLAM

Syaikhul Islam juga berkata: “Dalil dari Al-Quran dan Sunnah dalam bab ini banyak dan saling menguatkan, begitu pula yang datang dari para sahabat dan tabi`in serta ulama muslimin. Akan tetapi orang-orang yang menyelisihi memalingkan dalil-dalil tersebut seperti yang dilakukan oleh kelompok Jahmiyyah dan Bathiniyyah dan selain mereka. Dan pemalingan mereka ini jelas kerusakannya bagi orang yang memperhatikannya, dan perbuatan mereka ini termasuk memalingkan ayat-ayat dari tempatnya, seperti pemalingan mereka terhadap firman Allah:

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ

“Supaya Allah mengampuni dosamu yang telah lewat yang yang akan datang”. Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dosa yang telah lewat adalah dosa Adam dan dosa yang akan datang adalah dosa umat Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam-. Hal ini jelas kebatilannya”.

Dengan ini jelas bahwa Az-Za`aby dan orang-orang yang taklid kepadanya seperti Kisyk dan Jabir Katurah telah menyelisihi para sahabat dan tabi`in serta ulama muslimin dalam masalah ini sebagimana dalam teks ucapan Syaikhul Islam. Padahal Syaikh Al-Hajury sendiri telah menjelaskan dalam bantahannya terhadap Az-Za`aby bahwa kesalahan para nabi tidak sama dengan kesalahan manusia lain selain para nabi sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang-orang bodoh seperti Nuruddin Kisyk. Berkata Syaikh Al-Hajury: “Wahai orang miskin, sesungguhnya para ulama telah menjelaskan para nabi berijtihad dan mereka terkadang salah. Bahkan mungkin mereka terjatuh ke dalam sebagian dosa kecil yang tidak mengandung unsur kehinaan, dan para ulama menjelaskan tingkat kesalahan mereka bahwa kesalahan mereka berbeda dengan kesalahan selain mereka dari manusia biasa. Allah menjaga mereka dengan perhatiannya dan meluruskan mereka dengan wahyu, hal ini jelas berbeda dengan keadaan selain para nabi. Dan aku tidak menyelisihi hal ini”.

PERNYATAAN SYAIKH AR-ROJIHIY

Syaikh Ar-Rajihy juga menjelaskan bahwa kisah seorang sahabat yang buta dalam surat `Abasa yang disebutkan oleh Syaikh Al-Hajury tidak termasuk kesalahan dalam menyampaikan agama, akan tetapi dalam bab ijtihad. Beliau berkata: “Begitu pula mereka terjaga dalam menyampaikan agama dari Allah, akan tetapi terkadang mereka terjatuh dalam sebagian perbuatan yang perbuatan selain itu lebih pantas untuk mereka lakukan, bahkan terkadang mungkin pula mereka terjatuh dalam dosa kecil. Allah berfirman:

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى)2(

“Dia bermuka masam dan berpaling saat datang kepadanya seorang yang buta”.

Dan ini terjadi pada Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-”. Lihat kitab “Syarh Kitabit Tauhid min Shahihil Bukhary” (1/42).

PERNYATAAN SYAIKH AL-‘UTSAIMIN

Begitu pula Syaikh Al-`Utsaimin juga menyebutkan seperti yang disebutkan oleh Syaikh Al-Hajury bahwa terkadang muncul dari mereka kesalahan dalam berijtihad, akan tetapi mereka diluruskan oleh wahyu dan tidak dibiarkan terus menerus dalam kesalahannya. Berkata Syaikh Al-`Utsaimin: “Para nabi dan rasul berbicara dengan wahyu dari Allah dan mereka terjaga dari semua kesalahan yang bisa  menjatuhkan sifat jujur dan amanah mereka. Dan ini sisi kepercayaan umat terhadap mereka. Adapun perkara yang muncul dari ijtihad maka mereka terkadang salah dalam hal itu. Seperti yang terjadi pada Nabi Nuh saat berdoa kepada Rabbnya supaya menyelamatkan anaknya maka Allah mengatakan:

إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (46) قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (47)

 “Sesungguhnya dia bukan keluargamu (yang beriman), sesungguhnya dia adalah amalan yang tidak baik, maka janganlah kamu meminta kepadaku apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya Aku menasehati kamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang bodoh”. Dan saat Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- mengharamkan apa-apa yang Allah halalkan untuknya dengan ijtihad beliau maka Allah mengatakan:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (1) قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (2)

 “Wahai Nabi, kenapa kamu mengharamkan atas dirimu sesuatu yang Allah halalkan demi mengharapkan  keridhaan istri-istrimu? Dan Allah “Ghafur” (Maha Pengampun) lagi “Rahim” (Maha Pengasih). Allah telah menetapkan atas kalian pembebasan sumpah-sumpah kalian”. Begitu pula saat beliau memberi izin kepada sebagian orang yang meminta izin untuk tidak ikut berjihad maka Allah mengatakan:

عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ (43)

 “Semoga Allah mengampunimu. Kenapa kamu memberi mereka izin.  Sampai jelas bagimu orang-orang yang jujur dari orang-orang yang berdusta”. Akan tetapi para nabi terjaga dan tidak dibiarkan terus menerus di atas kesalahannya. Yakni seandainya muncul dari mereka kesalahan dalam berijtihad maka Allah pasti akan menjaga mereka supaya tidak terus menerus dalam kesalahan. Hal ini berbeda dengan keadaan selain para nabi yang tidak terjaga dari hal tersebut”. Lihat kitab “Fatawa Nur `alad Darb” (3/389).

Dan berkata Syahudz: “Kalau Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam-berijtihad dalam suatu hukum dan ijtihadnya itu benar maka akan disetujui oleh Allah, kalau salah maka tidak akan disetujui oleh Allah dan akan turun wahyu untuk menjelaskannya. Contoh hal ini banyak, diantaranya ijtihad beliau tentang tawanan perang Badr tatkala beliau ingin mengambil tebusan dari mereka, maka turun firman Allah:

ما كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ

“Tidak pantas bagi seorang nabi untuk mengambil tawanan sampai bersungguh-sungguh dalam memerangi orang kafir di muka bumi”. (QS.Al-Anfal:67).

Dan seperti ijtihad beliau tatkala memberi izin kepada orang-orang munafik untuk tidak ikut perang Tabuk maka turun firman Allah:

عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ (43)

“Semoga Allah mengampuni kamu. Kenapa kamu izinkan mereka? Sampai jelas bagimu orang-orang yang jujur dari oaring-orang yang berdusta”.(QS.At-Taubah:43). Lihat kitab “Al-Mufasshol fir Rad `ala Syubuhati  A`da`il Islam” (10/437).

Lantas apa bedanya antara ungkapan ini dengan ungkapan Syaikh Al-Hajury?! Dengan hal ini maka Kisyk dan Jabir Katurah serta orang-orang semisal mereka dari orang-orang yang melancarkan serangan yang bertubi-tubi kepada Syaikh Al-Hajury berada di antara beberapa pilihan: bertaubat kepada Allah dari yang mereka lakukan dan mengumumkannya serta memperbaiki yang telah mereka rusak; atau mereka lakukan juga kepada Syaikh Al-`Utsaimin dan Syahudz seperti yang mereka lakukan kepada Syaikh Al-Hajury; atau mengaku bahwa yang membuat mereka melakukan hal ini adalah semata-mata rasa iri yang terpendam. Hanya Allah yang diminta pertolongan.[3]

Maka aku katakan: “Wahai orang miskin, tidaklah ungkapan “salah” lebih parah dari ungkapan “mungkin para nabi terjatuh dalam kemaksiatan berupa dosa kecil yang tidak mengandung unsur kehinaan”.

HUKUMAN BAGI ORANG YANG BERPENDAPAT BAHWA NABI TERJAGA DARI KESALAHAN SECARA MUTLAK

Berkata Syaikhul Islam: “Semua yang dinukil dari mayoritas ulama menyatakan bahwa para nabi tidak terjaga dari dosa kecil akan tetapi mereka tidak dibiarkan dalam dosa tersebut, dan para ulama tidak mengatakan bahwa para nabi tidak mungkin terjatuh dalam dosa tersebut. Dan yang pertama kali dinukil darinya dari golongan-golongan umat ini dan yang paling mendukung pendapat bahwa para nabi terjaga dari kesalahan secara mutlak adalah Rafidhah”. Lihat “Majmu`ul Fatawa” (4/319).

Beliau juga menegaskan bahwa orang-orang yang difasikkan atau dikafirkan karena berpendapat seperti pendapat mereka maka orang tersebut diberi hukuman ta`zir kalau tidak bertaubat. Betapa butuhnya Kisyk terhadap hukum ini!

Berkata Syaikhul Islam: “Begitu pula orang-orang yang difasikkan karena berpendapat seperti ini maka wajib untuk diberi hukum ta`zir setelah jelas baginya kebenaran. Dan ini berarti vonis fasik dari kebanyakan ulama Islam”.[4] Bagaimana kalau seandainya Kisyk hidup di zaman Syaikhul Islam dan dia berdusta atas nama ulama dengan tujuan jelek yang berakibat mencoreng nama baik mereka dan menjauhkan manusia dari mereka?!

Sungguh bagus penyair yang mengatakan:

ابدأ بنفسك فانها عن غيها                    فإذا انتهت عنه فإنك حكيم

فهناك تسمع إن وعظت و يقتدى            بالقول منك و يقبل التعليم

“Mulailah dengan dirimu dan cegahlah dia dari kesesatannya

Kalau dia berhenti maka kamu adalah orang yang bijaksana

Maka saat itu kamu akan didengar dan diikuti tatkala memberi nasehat

Dengan ucapan kamu dan pengajaran kamu akan diterima”.

Atau mungkin Kisyk telah menyelisihi keyakinan kaum muslimin yang telah lewat penyebutannya dalam masalah ini dan menempuh jalan Rafidhah dan Isma`iliyyah yang lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani menurut ulama. Atau mungkin dia tidak mengetahui keyakinan Ahlu Sunnah dan merasa lebih tinggi dari para ulama dan Ahlu Hadist, dan aku yakin bahwa ini termasuk kebodohannya.

Berkata penyair:

فإن كنت لا تدري فتلك مصيبة     و إن كنت تدري فالمصيبة أعظم

“Kalau kamu tidak tahu maka ini adalah musibah

Kalau kamu tahu maka musibahnya lebih besar”.

Berkata Syaikhul Islam: “Dan yang pertama kali dinukil darinya dari golongan-golongan umat ini dan yang paling mendukung pendapat bahwa para nabi terjaga dari kesalahan secara mutlak adalah Rafidhah …. Kemudian Isma`iliyyah yang dahulu adalah para raja di Kairo dan menganggap diri mereka keturunan `Ali dan Fatimah, padahal menurut para ulama mereka adalah keturunan `Ubaidullah bin Qadah, mereka berpendapat bahwa para pemimpin mereka dan yang semisalnya terjaga dari kesalahan. Padahal hakikat dari mazhab mereka adalah seperti yang dikatakan oleh Abu Hamid Al-Ghazaly dalam kitab yang dia tulis untuk membantah mereka bahwa yang tampak dari mazhab mereka adalah keyakinan Rafidhah dan batinnya murni kekafiran. Maka barangsiapa yang mengkafirkan orang yang berpendapat mungkinnya para nabi terjatuh dalam dosa kecil maka mereka telah menyerupai Isma`iliyyah dan Nashiriyyah serta Rafidhah dan Itsna `Asyariyyah, dan ini sama sekali bukan pendapat dari pengikut Abu Hanifah, Malik, Syafi`i, dan tidak pula pendapat ahlu kalam yang terkenal yang menisbahkan dirinya kepada sunnah seperti pengikut Abu Muhammad `Abdullah bin Said bin Kullab, Abul Hasan `Ali bin Isma`il Al-Asy`ary, Abu `Abdillah Muhammad bin Karram dan tidak pula para ulama dari ahli tafsir dan hadits, tidak pula Shufiyyah. Maka orang yang mengkafirkan dalam masalah ini diminta untuk bertaubat, kalau bertaubat maka diterima, kalau tidak maka dihukum dengan hukuman yang membuatnya dan orang-orang yang semisalnya jera dari perbuatan seperti ini. Kecuali muncul darinya sesuatu yang mengharuskan dia divonis kafir atau zindiq maka hukumnya adalah hukum kafir atau zindiq”.

Oleh karena itu, aku nasehatkan kapada Kisyk untuk bertaubat kepada Allah dari kerusakan-kerusakan yang disebabkannya dan mengumumkannya kepada orang-orang sebagaimana dia menyebarkannya kepada mereka. Allah berfirman:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (160)                

“Kecuali orang yang bertaubat dan memperbaiki serta menjelaskannya maka mereka adalah orang yang Aku terima taubatnya. Dan Allah itu At-Tawwab Ar-Rhohim (Maha Menerima taubat lagi Maha Pengasih)”. (QS.Al-Baqarah:161). Aku juga menasehatinya untuk bersungguh-sungguh dalam belajar dan membahas buku-buku salaf dan jangan merasa lebih tinggi dari para ulama. Telah bagus seorang penyair saat mengatakan:

دخيل في الكتابة يدعيها             كدعوى ال حرب في زياد

فدع عنك الكتابة لست منها        و لو لطخت وجهك بالمداد

“Ada orang asing mengaku bisa menulis

Seperti pengakuan keluarga Harb terhadap Ziyad

Tinggalkanlah penulisan yang kamu bukan termasuk ahlinya

Meskipun kamu mencoreng wajahmu dengan tinta”.

Kalian telah mencoreng nama baik orang yang menyeru kepada agama Allah dan para ulama dengan perbuatan kalian ini dan wajib bagi kalian untuk menjaga harga diri kalian karena Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengatakan:

من يستعفف يعف الله

 “Barangsiapa yang menjaga harga dirinya maka Allah akan menjaga harga dirinya”. Dan Kisyk telah mengucapkan suatu ucapan yang terekam via telepon bahwa Syaikh Al-Hajury mencela Rasulullah –Shallallahu `alahi wasallam-. Ini termasuk kebodohannya, dia mengira itu adalah celaan, padahal para ulama telah sepakat bahwa orang yang berpendapat mungkinnya para nabi untuk terjatuh dalam kesalahan atau dosa kecil yang tidak mengandung unsur kehinaan tidak dianggap celaan sebagaimana yang telah lewat penjelasannya. Ini kalau kita berprasangka baik kepada Kisyk meskipun pada hakikatnya ini adalah kedustaan yang dianggap oleh Syaikh Al-Wadi`iy diantara dari pondasi Hizbiyyah, Kisyk terbawa oleh rasa irinya yang telah lama dia pendam. Telah bagus Zuhair saat mengatakan:

مهما تكن عند امرئ من خليقة    و إن خالها على الناس تعلم

“Betapapun seseorang memiliki perangai

Yang berusaha dia sembunyikan maka akan ketahuan juga”.

Berkata Syaikhul Islam: “Hal ini tidak termasuk celaan terhadap Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam-  yang diperselisihkan oleh para ulama apakah pelakunya diminta bertaubat atau tidak, dan telah sepakat para ulama bahwa ini tidak termasuk celaan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qadhi `Iyadh dan yang semisalnya dari ulama yang berpendapat dengan keras tentang terjaganya para nabi dari kesalahan dan tentang hukuman orang yang mencela Nabi, bersamaan dengan ini mereka semua sepakat bahwa pendapat yang telah lewat tidak termasuk celaan apalagi sampai dihukum, terlebih lagi sampai pada tingkatan bahwa orang yang mengatakannya divonis kafir atau fasik”. Telah benar Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- saat mengatakan sebagaimana dalam hadist Abu Hurairah:

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ ” قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: ” السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, dimana seorang pendusta dianggap jujur dan orang yang jujur dianggap berdusta. Seorang pengkhianat diberi amanah, adapun orang yang amanah justru dianggap pengkhianat. Dan orang-orang Ruwaibidhah mulai berbicara”. Beliau ditanya: “Siapa Ruwaibidhah itu? Maka beliau menjawab: “Orang-orang bodoh yang berbicara tentang masalah umum”. Dalam “Mustdrak Al-Hakim: “Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- ditanya:

  يَا رَسُولَ اللهِ و ما الرويبضة؟ قال: الرجل التافه يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Ya Rasulullah, siapa Ruwaibidhah? ” Maka beliau menjawab: “Orang hina yang berbicara tentang masalah umum”. Dalam Shahih Al-Bukhary dari Abu Hurairah:

بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ القَوْمَ، جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ، فَقَالَ بَعْضُ القَوْمِ: سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ لَمْ يَسْمَعْ، حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ: «أَيْنَ – أُرَاهُ – السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ» قَالَ: هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «فَإِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: «إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»

 “Tatkala Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam– duduk berbincang dengan orang-orang maka tiba-tiba datang seorang arab baduwi berkata: “Kapan hari kiamat?” Maka beliau menjawab: “Jika amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari kiamat.” Berkata orang arab baduwi tersebut: “Bagaimana bentuk disia-siakan amanah?” Beliau menjawab: “Kalau diserahkan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari kiamat”.

BEBERAPA UNGKAPAN ULAMA YANG LEBIH KERAS DARI UNGKAPAN SYAIKH YAHYA

Aku akan menukilkan kepada para pembaca sebagian ucapan ulama muslimin yang ungkapan mereka lebih keras daripada ungkapan “salah”. Berkata Syaikh Asy-Syinqithiy dalam kitab “Adhwa`ul Bayan” (4/583-584): “Firman Allah:

وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121(

“Dan Adam bermaksiat”.(QS.Taha:121)

Ini menujukkan bahwa makna “غوئ” adalah tersesat dari jalan kebenaran sebagaimana yang telah kami sebutkan. Dan telah kami paparkan bahwa ayat yang mulia ini dan yang semisalnya merupakan bukti bagi orang yang berpendapat bahwa para nabi tidak terjaga dari dosa kecil. Dan pembahasan ini termasuk pembahasan ilmu Usul Fiqh yang terjadi padanya perbedaan dan perselisihan pendapat yang sudah diketahui bersama”. Kalau kita mengikuti pendapat Kisyk maka kita akan mengatakan bahwa Syaikh Asy-Syinqithiy telah mencela Nabi Adam dan menvonisnya sesat, sangat jauh sekali Syaikh dari ucapan orang-orang bodoh.

Dan telah berkata Al-Qadhi `Iyadh tentang awal surat `Abasa: “Yang benar dan pantas kalau seandainya ditampakkan hakikat keadaan dua orang tersebut (yakni Ibnu Ummi Maktum dan pemuka Quraisy yang sedang didakwahi oleh Rasulullah –Shallallahu `laihi wasallam-)”.

Ungkapan ini persis seperti ucapan Syaikh Al-Hajury bahwa Rasulullah telah salah dalam kisah sahabat yang buta tersebut. Dan ungkapan “benar” adalah lawan dari kata “salah” maka maknanya bahwa Rasulullah –Shallallahu `alahi wasallam– telah menjauhi kebenaran dan terjatuh dalam kesalahan.

Syaikh Al-Hajury menetapkan bahwa Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- berijtihad dan Allah mendidiknya dengan wahyu yang mana hal ini merupakan keutamaan bagi beliau. Dan juga dalam ucapan Al-Qadhi menurut Kisyk bahwa beliau telah mengatakan bahwa Rasulullah bodoh dan tidak tahu. Semoga Allah membebaskan Al-Qadhi dan Syaikh Al-Hajury dari tuduhan tersebut.

Berkata Syaikh Ahmad bin Hajar Alu Buthamiy –semoga Allah merahmatinya- dalam kitabnya “Al-`Aqaid As-Salafiyyah biadillatiha An-Naqliyyah wal `Aqliyyah”: “Maka apa-apa yang dilakukan oleh Rasulullah –Shallallahu `laihi wasallam- pada sebagian waktu yang menyelisihi perbuatan yang lebih pantas untuk dilakukan maka Allah akan menegur dan memberitahunya bahwa hal tersebut tidak layak dan ini berarti bahwa beliau telah meninggalkan perkara yang lebih pantas untuk dilakukan”.

Kalau kita mengikuti pendapat mereka maka kita akan mengatakan bahwa dalam ucapan ini terdapat celaan yang keras kepada Rasulullah Shallallahu `laihi wasallam-, meskipun yang mengatakannya diberi uzur. Dan orang yang berakal bisa membedakan antara ucapan ini dengan ucapan Syaikh Al-Hajury bahwa Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam– berijtihad kemudian salah atau ditegur oleh Allah dengan wahyu. Tidak diragukan lagi bahwa ungkapan Syaikh Ahmad yang telah lewat lebih keras daripada ungkapan Syaikh Al-Hajury.

PENJELASAN BAHWA UNGKAPAN SYAIKH YAHYA AL-HAJURIY TIDAK MENGANDUNG UNSUR CELAAN TERHADAP RASULULLAH –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-

Adapun ungkapan Syaikh Al-Hajury saat menjawab pertanyaan bahwa beliau “dididik” oleh Rabbnya dengan wahyu firman Allah dalam awal surat `Abasa yang telah lewat maka kami katakan bahwa kalimat ini sama sekali tidak mengandung unsur celaan terhadap Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam-.

As-Suyuthiy dalam kitabnya “Al-Jami`” telah menyebutkan hadist:

((أدبني ربي فأحسن تأديبي))

“Rabbku telah mendidikku dan telah bagus dalam pendidikannya”

Hadist ini diberi tanda olehnya dengan tanda “shahih”, dan disebutkan oleh `Abdur Ra`uf Al-Munawy bahwa Abul Fadhl bin Nashir juga menshahihkannya. Dan dinukil dari Az-Zarkasyiy bahwa makna hadist ini shahih akan tetapi tidak datang dari jalan yang shahih. Kita telah melihat bahwa hadist ini telah dishahihkan oleh sebagian ulama, maka ini jelas menunjukkan dan menguatkan ungkapan Syaikh Al-Hajury di atas, terlebih lagi tidak ada seorangpun yang mencela lafaz hadist ini, bahkan mereka membenarkan maknanya sebagaimana yang telah dinukil dari Az-Zarkasyiy. Meskipun pendapat yang kuat adalah bahwa hadist ini lemah sebagaimana yang dipastikan oleh Syaikh Al-Albany, akan tetapi kelemahannya dari sisi sanad bukan matan. Dan sudah diketahui di kalangan ulama hadist bahwa kelemahan suatu hadist bisa jadi kembali kepada sanad atau matan atau kedua-duanya. Oleh karena itu bisa jadi sanad suatu hadist shahih akan tetapi lafaznya mungkar, bisa jadi pula sanad suatu hadist lemah akan tetapi maknanya shahih.

RUJUKNYA SYAIKH YAHYA AL-HAJURIY DARI UNGKAPAN TERSEBUT

Bersamaan dengan ini semua Syaikh Al-Hajury sendiri telah rujuk dari ungkapan seperti ini sejak beberapa tahun yang lalu tatkala beliau disibukkan oleh sebagian orang bodoh yang menambah dan mengurangi kalimat beliau maka beliau pun memutus “tali” yang yang mereka jadikan pegangan dan sungguh bagus yang beliau lakukan ini, semoga Allah memberi kita dan beliau taufik. Akan tetapi musuh-musuh sunnah seperti Kisyk masih terus membuat kedustaaan atas nama beliau, hanya Allah yang diminta pertolongan. Dan berikut ini adalah teks ucapan beliau: “Demi bapak dan ibuku[5], ucapan ini sama sekali tidak mengandung unsur peremehan terhadap Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam-, bahkan ini merupakan pujian terhadap beliau dan syari`atnya yang agung. Maka pembatasan kata “adab” dengan wahyu dan konteks kalimat yang mengandung penjelasan macam-macam sunnah Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam–  yang menujukkan pengagunganku terhadap Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- dan syari`atnya yang suci maka ini semua tidak mengandung unsur celaan terhadap Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam– bagi orang-orang yang berakal dan adil. Meskipun begitu, maka tatkala sebagian orang membawa ucapanku ke arah yang tidak baik padahal ucapanku tidak mengarah ke sana dan konteks kalimatku tidak mendukung hal itu dan yang semisalnya maka aku katakan bahwa aku rujuk dari ungkapan seperti itu dan aku meminta ampun kepada Allah dalam rangka menutup pintu fintah yang diinginkan oleh sebagian orang. Akan tetapi fitnah mereka tidak berhenti dan mereka memiliki tujuan-tujuan yang diketahui oleh Allah dan orang-orang yang mengetahuinya. Diantaranya adalah tentang ungkapan yang sedang kita bahas sekarang, maka aku terpaksa menjelaskan hakikat yang digunakan oleh salaf dalam menghadapi mazhab ahli bid`ah”.

Berkata Syaikh Al-Hajury: “Betapa parahnya kerusakan umat yang disebabkan oleh orang-orang seperti Az-Za`abiy Ar-Rahib dan pemahaman serta hukum-hukumnya. Wahai Az-Za`abiy, semua yang kamu nukil dari para ulama dalam ucapanmu adalah kedustaan atas mereka, dan ucapanku sama sekali tidak dianggap oleh seorangpun dari mereka sebagai celaan terhadap keadilan Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam– dan amanahnya…….dan Allah mengetahui betapa besarnya kecintaan dan pengagunganku kepada Rasulullah –Shallallahu `laihi wasallam- dan syari`atnya yang agung dan aku berlepas diri kepada Allah dari apa-apa yang dituduhkan orang bodoh dan zhalim ini kepadaku. Aku berlindung kepada Allah dari pemahaman dan hukum-hukumnya. Dan aku minta dari para ulama sunnah untuk melihat antara ucapanku dan ucapan orang ini dan orang yang mendukungnya serta hukum-hukum mereka untuk kemudian membela yang benar dalam rangka menjaga sunnah dan ahlu sunnah dari peremehan orang-orang bodoh dan ketidakadilan mereka, dan aku berharap mereka melakukan hal ini dengan segera. Semoga Allah memberi taufik kepada para ulama sunnah untuk menjaga sunnah dan menjaga diri mereka dari gangguan orang-orang bodoh lagi dungu terhadap pribadi, keyakinan serta manhaj mereka. Semoga Allah memberi shalawat dan salam yang banyak kepada Nabi kita Muhammad –Shallallahu `alaihi wasallam- dan keluarganya serta para sahabatnya”.

Maka bagaimana diperbolehkan bagi  Kisyk dan orang-orang yang semisalnya dari orang-orang tergabung dalam Jam`iyyah dan Hizbiyyah untuk menyebutkan ucapan ini padahal beliau telah rujuk darinya dengan jelas. Berkata Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Syifaul `Alil” tentang hadist:

((و حاج آدم موسى))

“Adam mengalahkan hujjah Musa”: “Kedua: bahwa Musa telah mengenal Allah dan perintahnya serta agamanya, bagaimana mungkin dia mencela Adam atas suatu dosa yang Allah sendiri telah menerima taubat pelakunya, dan Allah telah memilihnya setelah itu dan memberinya hidayah. Hal ini tidak boleh dilakukan oleh seorang mukmin, apalagi oleh Musa yang telah diajak bicara langsung oleh Allah”. Syaikhul Islam juga menyebutkan hal yang semisal ini sebagaimana dalam kitab “Majmu` Fatawa”.

Setelah penjelasan ini maka jelas bagi para pembaca bahwa Kisyk telah melampaui batas dengan kebatilan terhadap Syaikh ini. Seandainya saja dia menukil yang aku nukil dari ucapan Syaikh Al-Hajury, akan tetapi dia malah berdusta atas nama beliau dengan mengatakan bahwa beliau mengatakan  bahwa Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- telah salah dalam dakwahnya kepada Allah; dan beliau mencela dan mencaci Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-[6]. Semua ucapan ini tidak terdapat dalam buku-buku karangan beliau yang mencapai 90 karangan yang sebagiannya berjilid-jilid, tidak pula dalam kaset rekamannya yang mencapai 1500 kaset dalam rangka mengkhidmat Islam dan kaum muslimin, dan tidak ada seorang murid-muridnya pun yang mendengarnya, padahal jumlah mereka besar mencapai ribuan dan mereka adalah orang-orang berilmu dan memiliki perhatian yang tinggi, mereka berasal dari berbagai penjuru dunia, Afrika, Eropa, Yaman, dan juga Syam, semua ini dengan keutamaan dari Allah. Sampai akhirnya muncul orang miskin ini mengatakan ucapan busuk ini. Telah bagus seorang penyair  saat mengatakan:

يا ناطح الجبل العالي ليكلمه         أشفق على الرأس لا تشفق على الجبل

كناطح صخرة يوماً ليوهتها           فلم يضرها و أوهى قرنه الوعل

“Wahai orang yang hendak menanduk gunung yang tinggi untuk melukainya

Kasihanilah kepalamu dan jangan merasa kasihan kepada gunung itu

Ibarat seorang menanduk batu untuk melemahkannya

Maka tidak sedikitpun dia mencelakakannya bahkan kambing itu melemahkan tanduknya sendiri”.

Sangat tepat untuk aku bawakan di sini ucapan Asy-Syaukaniy tentang Az-Zamakhsyariy tatkala mencela sahabat yang mulia Abdullah bin Amr dalam suatu hadist yang diriwayatkan darinya dan hadist tersebut lemah, kami sebutkan hal ini karena ada kaitannya dengan celaan Kisyk terhadap Syaikh Al-Hajury dengan kebatilan dan kebodohan, padahal memungkinkannya untuk tidak mencampuri urusan yang tidak dikuasainya, akan tetapi begitulah orang yang ingin terkenal dan tampil ke depan. Berkata Asy-Syaukaniy: “Adapun celaan kamu (Az-Zamakhsyariy) terhadap seorang sahabat Rasulullah, penghafal sunnah beliau, dan ahli ibadahnya para sahabat, Abdullah bin `Amr, maka mau kemana kamu wahai Mahmud, tahukah kamu apa yang kamu lakukan, di lembah mana kamu berada, dan di sisi mana kamu terjatuh? Siapa kamu sampai-sampai kamu berani naik ke posisi ini dan berusaha menyentuh bintang-bintang langit dengan tanganmu yang pendek dan kakimu yang pincang, tidakkah kesibukan kamu belajar kepada ahli Nahwu dan Bahasa bisa mencegah kamu untuk tidak mencampuri urusan yang tidak kamu ketahui. Sungguh sangat mengherankan, lihat bagaimana kebodohannya tentang ilmu hadist mengantarkannya sampai terbongkar kedok orang yang tidak mengetahui kadar dirinya serta tidak memposisikan dirinya pada posisi yang telah diletakkan oleh Allah”.

Dan termasuk yang membuat heran semua salafy bahwa telah sampai kepadaku berita pada hari Kamis yang bertepatan tanggal 11 Ramadhan bahwa Qasim Mafuta pergi ke Mombasa dan duduk dengan sebagian salafiyyin di sana dan dia menyebutkan kepada mereka kesalahan-kesalahan Syaikh Al-Hajury –menurut sangkaannya-, diantaranya adalah poin yang sedang kita bahas dalam risalah ini, dan ucapan beliau bahwa Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- telah salah dalam cara berdakwah. Hanya Allah yang diminta pertolongan. Begitulah gerombolan orang-orang Jam`iyyah saling mengikuti satu sama lain dalam mencela ulama. Dan ucapan tersebut tidak benar. Syaikh hanya menyebutkan sebagian poin penting sebagaimana dalam kisah seorang sahabat yang buta yang telah lewat penukilan inti dari ucapan beliau. Bagaimana bisa hal ini dilakukan oleh Qasim?! Padahal dia mengetahui bahwa orang yang pertama kali menyebarkan berita itu dari kalangan para pendahulunya adalah para pengikut Abul Hasan, dan Syaikh saat itu telah menjelaskan masalah ini sebagaimana yang telah kami nukil. Dan inilah akhir dari kisah orang-orang yang masuk dalam Jam`iyyah.  Kalau tidak begitu kenapa baru sekarang dia menyebarkannya?! Kalau seandainya Qasim ini hanya taklid kepada orang-orang tercintanya yang dipuji-pujinya seperti Al-Barmakiy dan yang semisalnya dari orang-orang yang memang menyiapkan dirinya untuk mencela markaz Dammaj dan ulamanya dengan penuh kedustaan, seandainya saja dia menerima nasehat seorang penyair yang mengatakan:

و من يكن الغراب له دليلا         يمر به على جيف الكلاب

إذا نطق الغراب خيرا              فأين الخير من وجه الغراب

“Barangsiapa yang penunjuk jalannya adalah burung gagak

Maka di akan melewati bangkai-bangkai anjing

Kalau burung gagak itu berbicara dan mengatakan kebaikan

Maka tidak ada kebaikan pada wajah burung gagak”.

Maka aku katakan bahwa tidak ada gunanya sembunyi-sembunyi dan berbicara dalam pertemuan rahasia untuk menjelek-jelekkan Syaikh Al-Hajury dan Darul Hadist di Dammaj, akan tetapi lakukanlah seperti yang dilakukan oleh Kisyk dalam pengajian umum atau menulis artikel untuk menjelaskan kesalahan Syaikh Al-Hajury yang kamu jadikan sandaran sebagaimana yang telah lewat. Berkata penyair:

و سوف ترى إذا انجلى الغبار          أ فرس تحتك أم حمار

“Kamu akan melihat tatkala hilang debu-debu yang ada

Apakah kuda yang ada di bawah kamu atau keledai?”.

Sesungguhnya Kisyk telah memendam dan menyimpannya sekian lama  kemudian memuntahkannya.

Berkata penyair:

إذا قلتَ قولا فاخش رد جوابه         لكل مقال في الكلام جواب

“Kalau kamu mengatakatan suatu ucapan maka takutlah balasan jawabannya

Karena setiap ucapan memiliki jawaban”.

Dan yang menambah keherananku bahwa Qasim ini memuji-muji Ubaid Al-Jabiriy dan berlebihan dalam memujinya padahal Ubaid memiliki peyimpangan-penyimpangan yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, sampai-sampai sahabat Ka`ab bin Malik pun tidak selamat dari celaannya sehingga Syaikh Al-Fauzan menyuruh untuk meninggalkannya dengan sebab itu, dan aku memiliki rekaman suaranya yang terdapat dalam situs “al-oloom”.

CELAAN UBAID AL-JABIRIY TERHADAP SAHABAT KA’AB BIN MALIK DAN TAHDZIRAN SYAIKH AL-FAUZAN DARINYA

Barkata Ubaid: “Dia (Ka`ab) takut kalau sendainya dia atau Rasulullah wafat dalam keadaan dia masih diboikot, karena kalau dia wafat dalam keadaan demikian maka dia wafat dalam keadaan sesat lagi menyesatkan kecuali kalau Allah memberikan maaf kepadanya”.

Syaikh Al-Fauzan ditanya tentang masalah ini maka beliau menjawab: “Siapa yang mengatakannya?”. Maka dijawab: “Ubaid bin `Abdillah Al-Jabiriy”. Maka Syaikh Al-Fauzan berkata: “Tinggalkan dia. Ucapan ini tidak benar”.

KEDUSTAAN ATAS SYAIKH SHOLEH AL-FAUZAN

Aku juga ingatkan kepada para pembaca bahwa Kisyk ini tidak hanya berdusta atas nama Syaikh Al-Hajury saja, bahkan juga terhadap Syaikh Al-Fauzan dengan mengatakan bahwa beliau memperbolehkan menggambar makhluk bernyawa padahal beliau mengharamkannya, akan tetapi Kisyk berdusta atas nama para ulama demi memuaskan keinginan sebagian orang yang tidak memahami perkataan para ulama. Semua itu dia lakukan supaya orang menerima kebatilannya dan mengikiti hawa nafsu dan kesesatannya. Hanya Allah yang diminta pertolongan.

FAEDAH: PEMBAGIAN MANUSIA KETIKA MENUKIL PERKATAAN ULAMA

Tatkala Syaikh Al-`Utsaimin ditanya tentang orang yang menukil sebagian fatwa para ulama maka beliau menjawab: “Kedua: orang-orang yang menukil dari para ulama yang diterima fatwa mereka dan masyarakat mempercayai mereka, maka mereka itu terbagi menjadi beberapa golongan. Di antara mereka ada yang tujuannya jelek, ingin menyesatkan manusia, akan tetapi dia tidak mendapatkan cara selain dengan menisbahkan ucapan tersebut kepada seorang ulama yang diterima oleh masyarakat, maka diapun menyebarkannya atas nama ulama tersebut. Akan tetapi kalau dia mengatakan: “Aku katakan” atau “berkata Fulan” dari orang-orang yang tidak dipercaya maka ucapannya tadi tidak akan diterima, maka akhirnya dia menisbahkan ucapan tersebut kepada seorang ulama yang dipercaya ucapannya, sehingga tujuan orang yang menukil ini adalah supaya diterima ucapannya.

Kedua: orang tersebut memiliki tujuan jelek terhadap para ulama sehingga mencoreng nama baik mereka di tengah masyarakat dengan mengatakan: “Ulama fulan telah mengatakan begini begitu, maka bagaimana mungkin diterima ucapannya, atau uacapan yang semisalnya”. Maka masyarakat kalau mendengar ucapan yang asing dan mungkar maka kepercayaan mereka kepada para ulama akan jatuh. Maka kalau begitu orang yang menukil ini berada di antara dua pilihan: pertama; dia ingin menguatkan ucapannya yang jelek, kedua; dia ingin mencemarkan nama baik ulama sehingga masyarakat tidak lagi percaya kepada mereka”. Lihat kitab “Liqa`ul Babil Maftuh” (9/120).

TEKS FATWA SYAIKH AL-FAUZAN TENTANG PENGHARAMAN GAMBAR MAKHLUQ BERNYAWA

Berikut ini adalah teks fatwa Syaikh Al-Fauzan tentang pengharaman gambar makhluk bernyawa: “Wahai saudaraku, hadist-hadist tentang pengharaman gambar makhluk bernyawa umum mencakup semua bentuk baik berupa video, papan iklan, kertas atau pun gambar. Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- tidak mengecualikan, bahkan melaknat orang-orang yang menggambar (makhluk bernyawa), beliau tidak mengecualikan video, tidak untuk anak-anak tidak pula selain anak-anak. Maka sudah menjadi kewajiban kaum muslimin untuk menjauhi gambar-gambar tersebut sehingga tidak terjatuh dalam ancaman Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Tidak ada kebutuhan terhadap gambar-gambar tersebut, tidak pula keadaan darurat yang mengharuskan kita untuk mengambil gambar”.

BANTAHAN SYAIKH AL-FAUZAN KEPADA ORANG-ORANG YANG BERDUSTA ATAS NAMA BELIAU DALAM MASALAH GAMBAR MAKHLUQ BERNYAWA

Berikut ini adalah bantahan Syaikh Al-Fauzan kepada orang-orang seperti Kisyk yang berdusta atas nama beliau dalam masalah ini dan rekaman suara beliau ada padaku.

Beliau ditanya: “Apa benar berita yang dinukil bahwa Anda menarik kembali fatwa Anda tentang pengharaman gambar makhluk bernyawa sebagaimana munculnya gambar Anda dalam sebagian stasiun TV seperti stasiun Al-Majd dan yang lainnya?”. Maka beliau menjawab: “Ucapan ini tidak benar. Menggambar makhluk bernyawa hukumnya haram. Dan aku benci untuk mengatakan bahwa hal itu halal, tidak pula selain aku. Karena dalil-dalil tentang keharamannya jelas, begitu pula ancamannya bahwa ini termasuk dosa besar. Dan aku termasuk yang mengingkari hal ini dan mengharamkannya, kecuali dalam keadaan darurat seperti KTP, SIM, atau paspor maka diperbolehkan dengan alasan darurat. Adapun yang selain itu berupa foto kenangan,atau…..[7], atau pemandangan atau dekorasi yang digantung di dinding maka hal ini haram bahkan lebih haram. Ini pendapatku. Barangsiapa yang menisbahkan kepadaku selain ini maka dia adalah pendusta. Adapun stasiun TV Al-Majd maka aku tidak mengetahuinya, tidak pula studionya”. Dan beliau juga menjelaskan dalam jawaban yang lain bahwa mereka melakukan hal itu tanpa izin beliau dan beliau tidak rela dengan hal tersebut, dan dosanya mereka sendiri yang akan memikulnya. Berikut ini adalah teksnya: “Seorang wanita bertanya: Kalau kami mambaca perkataan Anda di koran, muncul juga foto Anda bersama dengan ucapan tersebut. Begitu pula saat Anda memberikan ceramah pada sebagian stasiun TV, apakah ini merupakan bukti bahwa Anda berpendapat bolehnya mengambil gambar makhluk bernyawa?”. Maka beliau menjawab: “Itu sama sekali bukan bukti. Aku tidak pernah memerintahkan mereka tidak pula meminta hal itu dari mereka. Hanya saja mereka yang datang. Mereka dulu juga telah mengambil gambar Syaikh Ibn Baz, padahal beliau mengharamkannya dan juga gambar makhluk bernyawa. Dosanya atas mereka. Adapun kami maka tidak ridha dengan hal ini, tidak pula kami memerintahkan mereka sebagaimana yang telah diketahui”.

Dengan ini semua jelaslah bahwa Kisyk tidak hanya berdusta atas nama Syaikh Al-Hajury saja akan tetapi juga atas nama  Syaikh Al-Fauzan. Ini hanya sebagian yang tampak dari perbuatannya, dan yang disembunyikan hatinya lebih besar lagi. Selama Kisyk masih mengekor kepada sebagian orang-orang bodoh dalam mencela ulama, dan mengekor sebagian ulama dalam urusan agamanya serta berpaling dari Al-Quran dan Sunnah, maka setelah apa yang aku nukilkan dari Syaikh Al-Fauzan apakah dia akan meninggalkan gambar makhluk bernyawa, dan tidak lagi muncul di TV dalam ceramah-ceramahnya, dan juga akan mengharamkan gambar-gambar dalam CD? Kalau dia tidak meninggalkan ini semua maka semakin jelas bagi para pembaca bahwa mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka dan bergantung dengan sebagian ketergelinciran dan ijtihad sebagian ulama yang mencocoki hawa nafsu mereka. Melihat orang-orang seperti mereka aku teringat akan ucapan Ibnul Qoyyim dalam kitabnya “Ighatsatul Lahafan”: “Tidak semua perbedaan pendapat itu dianggap dan dijadikan sandaran. Barangsiapa yang mencari-cari perbedaan pendapat di kalangan ulama dan hanya mengambil keringanan-keringanan saja dari pendapat mereka maka orang yang seperti ini akan menjadi zindiq atau hampir menjadi zindiq”.

Dan hendaklah diketahui bahwa aku sudah hampir setahun berada di Tanzania, tinggal di masjid Al-Albany. Aku mengajarkan Al-Quran dan Sunnah, fiqh, aqidah, tauhid, nahwu dan yang lainnya dari cabang-cabang ilmu. Dan dengan keutamaan dari Allah berdatangan para pelajar dari berbagai penjuru Tanzania bahkan sebagian negara tetangga. Dalam keadaan masih saja Kisyk mencela ahlu sunnah dan mengatakan bahwa aku termasuk dari kelompok pemberontak Khawarij[8], padahal Rasulullah-Shallallahu `alaihi wasallam- mengatakan bahwa mereka adalah anjing-anjing neraka, dan mereka adalah sejelek-jelek orang yang dibunuh di kolong langit. Apakah aku dan saudara-saudaraku di masjid Al-Albany dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj salafy adalah anjing-anjing neraka?! Dan mereka adalah sejelek-jelek orang yang terbunuh di kolong langit?! Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- mengatakan: “Seandainya aku mendapati mereka maka aku akan membinasakan mereka seperti kebinasaan kaum `Ad”. Apakah ini keyakinan kamu, bahwa seandainya Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- mendapati kami maka beliau akan membinasakan kami seperti kebinasaan kaum `Ad?! Ataukah ini hanya rasa iri yang terpendam terhadap ahlu sunnah sehingga kamu menuduh mereka dengan membabi buta?! Seolah-olah kamu lupa dengan hadist:

من قال في مسلم ما ليس فيه أسكنه الله ردغة الخبال)). قالوا: و ما ردغة الخبال؟ قال: ((عصارة أهل النار))

“Barang siapa yang menuduh saudaranya  dengan sesuatu yang tidak ada padanya maka Allah akan menempatkannya di “Radghatul Khabal”. Mereka bertanya: “Apa “Radghatul Khabal?” berkata Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam: “Perasan penghuni neraka”. Ataukah kamu bodoh tentang keyakinan pemberontak Khawarij dan hukum mereka dalam syariat Islam?! Telah bagus seorang penyair saat mengatakan:

ما يفعل الأعداء في جاهل         ما يفعل الجاهل في نفسه

“Yang dilakukan musuh terhadap orang bodoh

Adalah seperti yang dilakukan orang bodoh terhadap dirinya”.

Berkata penyair yang lain:

إذا لم يكن عون من الله للفتى          فأكثر ما يجنى عليه إجتهاده

“Kalau tidak ada pertolongan dari Allah kepada seseorang

Maka yang paling membahayakan dirinya adalah ijtihadnya”.

Berkata penyair yang lain:

من لا يقوم بشكر نعمة خله           فمتى يقوم بشكر نعمة ربه

“Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat temannya

Maka bagaimana mungkin dia akan mensyukuri nikmat Rabbnya”.

Dan rekaman suara Kisyk ada padaku, akan tetapi aku akan berusaha sabar. Sebagaimana perkataan `Ubaidullah bin `Abdillah bin `Utbah:

و إن أنا لم آمر و لم أنه عنكما          سكت له حتى يلج و يستشري

“Dan kalau aku tidak memerintah dan melarangnya dari kalian berdua

Maka aku akan diam sampai dia bersunguh-sungguh dan tidak malas”

Tatkala dia merasa sombong terhadap para ulama dan para da`i yang menyeru kepada Allah dan dia terus berada di atas kebatilannya, maka akupun mulai membantah dan menjelaskan kebatilannya, begitu pula tindakan “kriminalnya” terhadap para ulama, dan aku bongkar kesalahan-kesalahannya kepada masyarakat sampai dia bertaubat atau sampai orang-orang mengetahui kebatilannya.

Telah bagus seorang penyair saat mengatakan:

…………………           و من لا يكرم نفسه لم يكرم

“Barang siapa yang tidak memuliakan dirinya maka tidak akan dimuliakan”

Berkata penyair yang lain:

مقالة السوء إلى أهلها                       أسهل من منحدر سائل

و من دعا الناس إلى ذمه                   ذموه بالحق و بالباطل

“Perkataan jelek bagi yang mengatakannya

Lebih mudah daripada air yang turun ke tempat yang curam

Barang siapa yang menyeru orang untuk mencela dirinya

Maka mereka akan mencelanya dengan kebenaran atau dengan kebatilan”.

Aku menuntut Kisyk untuk menulis bantahan yang ilmiah yang berdasarkan Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman salaf kalau memang dia memiliki ilmu. Kalau dia tidak mampu maka hendaknya dia mengumumkan taubatnya kepada Allah dari penyelisihan-penyelisihannya yang jelas dan kesalahan-kesalahannya yang parah. Hanya Allah yang diminta pertolongan dan hanya Dia yang dijadikan sandaran. Maka aku katakan kepadanya dan orang-orang yang semisalnya dari ahlu batil sebagaimana yang dikatakan Nabi Hud:

فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (56)

“Maka buatlah oleh kalian semua makar kepadaku dan jangan ditunda-tunda lagi. Aku pasrahkan urusannya kepada Rabbku dan Rabb kalian. Tidak ada seekor binatang melata pun melainkan Allah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku berada di atas jalan yang lurus”. (QS.Hud:55-56)

Dan juga sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya:

يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ (71)

“Wahai kaumku, kalau seandainya berat bagi kalian keberadaanku di tengah-tengah kalian  dan juga peringatanku dengan ayat-ayat Allah maka hanya kepada Allah aku bertawakkal. Maka kumpulkan urusan dan sekutu-sekutu kalian, dan jangan kalian sembunyikan apa yang ingin kalian lakukan kemudian segera laksanakan hal tersebut dan jangan tunda-tunda lagi”. (QS.Yunus:71)

Hari-hari akan menampakkan kepada manusia siapa yang jujur dan siapa yang berdusta, siapa yang di atas kebenaran dan siapa yang di atas kebatilan. Seperti yang dikatakan penyair:

ستبدي لك الأيام ما كنت جاهلا      و يأتيك بالأخبار من لم تزود

و يأتيك بالأخبار من لم تبع لم        بتاتا و لم تضرب له وقت موعد

“Hari-hari akan menampakkan kepada kamu apa yang tidak kamu ketahui

Datang kepadamu orang yang tidak kamu beri bekal dengan membawa berita

Dan datang kepadamu dengan membawa berita orang yang kamu tidak menjual kepadanya perbekalan

Begitu pula orang yang tidak kamu beri janji”.

Berkata penyair yang lain:

إن اليالي و الأيام حاملة      و ليس يعلم غير الله ما تلد

“Sesungguhnya malam dan siang itu bagaikan wanita hamil

Tidak ada seorangpun selain Allah yang tahu apa yang akan dia lahirkan”

Segala puji untuk Allah Rabb Semesta Alam

Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad –Shallallahu `alaihi wasallam– dan keluarganya serta para sahabatnya. Selesai lembaran-lembaran ini pada hari Kamis, 27 Sya`ban 1431 H, di masjid Al-Albany, Gharwaniy, Darussalam.

Editor: ASH-HABUL HADITS


[1] Yakni bahwa ucapan Rasulullah –Shallallahu `alaihi wasallam- tersebut telah menyentuh dasar hati Dhimad. Lihat kitab “Al-Mufhim” (12/115).

[2] Judul yang berada di dalam kurung […] diletakkan oleh Abu Zakaria Irham Al-Jawiy –waffaqohulloh- untuk memudahkan pembaca dalam mencari faedah yang diinginkan.

[3] Syaikh Al-`Utsaimin juga menjelaskan bahwa para nabi terjaga dari kesalahan dalam masalah wahyu dan tidak terjaga dari selainnya. Ini sama persis dengan yang dikatakan oleh Syaikh Al-Hajury. Berkata Syaikh Al-`Utsaimin: “Adapun para rasul maka mereka terjaga dari kesalahan dalam hukum yang mereka sampaikan dari Allah dengan dalil firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kami yang akan menjaganya”.Dan mereka tidak terjaga dari sebagian dosa, hanya saja mereka bertaubat darinya dan dihapuskan dosa tersebut dan tidak ada celaan atas mereka dalam hal ini. Ini pendapat yang benar pada hak para rasul”. Lihat kitab “Jalasat wa Fatawa” (7/41).

[4] Dan kami katakan bahwa pengingkaran Kisyk terhadap Syaikh Al-Hajury berarti pengingkaran terhadap semua ulama muslimin dan pencemaran nama baik mereka, celaan kapada mereka serta kedustaan atas nama mereka bahwa mereka mencela Rasullulah –Shallallahu `alaihi wasallam-sebagaimana yang dikatakannya terhadap Syaikh Al-Hajury dalam rekaman percakapan via telepon yang ada padaku. Dan konsekwensi dari hal ini bahwa dia mengkafirkan Syaikh Al-Hajury dan seluruh ulama yang berpendapat dengat pendapat ini, karena mencela Rasulullah merupakan kekafiran menurut para ulama kalau tidak ada yang menghalanginya dari hukum ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam kitabnya “Ash-Shorimul Maslul”.Begitulah kebodohan mempermainkan orang-orang bodoh.

[5] Ucapan ini tidak dimaksudkan sumpah, akan tetapi cuma untuk penekanan.(pent.)

[6]Dan yang mengherankan dari Kisyk ini bahwa setelah mengucapkan ucapan ini di hadapan massa dan menyiarkannya melalui beberapa pemancar radio, secara langsung dia menghapusnya dari CD yang diperjual belikan di pasar. Ini termasuk tindakan “kriminalitas” yang parah yang tidak dilakukan oleh seorang pelajar pemula, bagaimana Kisyk bisa melakukannya?! Semua ini dengan tujuan supaya ketika dikatakan bahwa Kisyk berdusta atas nama para ulama dia bisa mengingkarinya dengan mengatakan: ini kaset-kasetku beredar di pasaran, tidak ada padanya apa yang diberitakan, sebagaimana hal ini digembor-gemborkan oleh pengikutnya sekarang bahwa Kisyk tidak mengatakan bahwa kalian adalah pemberontak Khawarij. Padahal rekaman suaranya ada padaku.Segala puji bagi Allah. Maka kami katakan kepada Kisyk bahwa kami memiliki rekaman suara kamu saat kamu berdusta atas nama Syaikh ini, diambil dari orang yang menghadiri pengajian kamu dan merekamnya dengan HPnya. Kalau kamu mengingkarinya maka kami akan mengeluarkan rekaman tersebut kepada khalayak ramai disertai catatan ringan supaya lebih tampak kedustaanmu. Segala puji bagi Allah. Telah bagus ucapan seorang penyair:

Semua ilmu yang tidak di kertas akan hilang

Semua rahasia melewati dua orang maka akan tersebar

Berkata penyair yang lain:

Jangan ada orang ketiga yang mendengar rahasiaku dan kamu

Ketahuilah bahwa semua rahasia yang melewati dua orang maka akan tersebar.

Kalau kita mau berprasangka baik kepada Kisyk maka kita akan mengatakan bahwa mungkin dia menghapusnya karena takut ketahuan oleh kita. Akan tetapi mana rasa takutnya dari Allah yang berfirman:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا (108)

“mereka sembunyi-sembunyi dari manusia tapi tidak sembunyi dari Allah, padahal Allah bersama dengan mereka tetkala mereka mengucapkan ucapan yang tidak diridhoi oleh Allah pada malam hari. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan”.(QS.An-Nisa`: 108)

[7] Kalimat tidak jelas

[8]Hal itu saat dia ditanya tentang aku tatkala aku mengeluarkan selebaran penjelasan tentang Al-`Arifiy dengan dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah dengan perkataan para ulama zaman sekarang seperti Al-Albany, Al-Wadi`iy, Ibn Baz, dan Al-Fauzan dan yang lainnya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: