“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

JAWABAN UNTUK SEORANG SALAFI

~ Seputar Kasus Khaidir al-Makassariy ~

Ditulis Oleh:
Abu Abdirrohman Shiddiq bin Muhammad Al-Bugisi
Editor:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy
-semoga Alloh menjaga mereka-
Darul Hadits Salafiyyah  -Dammaj, Yaman
-semoga Alloh menjaganya dari makar musuh-musuh dakwah-
28 Jumadits Tsaniy 1433

Pertanyaan:
Afwan kadang sebagian ikhwan bertanya kepada ana bahwa apa dasarnya
engkau meninggalkan ta’limnya ustadz Khaidir (mukim di Makassar,
saudara dari “ustadz kibar” Dzulqornain ;ed)…? bukankah dia berda’wah
diatas Al-Qur’an dan Sunnah, dan bukankah sebab meninggalkannya kita
jauh dari majelis Ilmu yang mana saat ini di Makassar tidak ada Da’i
yang sejalan dengan orang yang datang dari Dammaj…? dan mereka
sebagiannya berkata perselisihannya hanya masalah Jam’iyat dan kotak
amal yang mana masing-masing memiliki ulama sebagai rujukan. dan
sebagiannya lagi tidak ingin menyibukkan diri dengan perselisihan itu
dengan dalih kita tidak akan lagi Ta’lim karna semua ustadz di
Makassar punya Yayasan.

Jazakalah khairan, semoga kalian bisa memberikan jawaban, sehingga
kamipun tenang dengan amalan kami.

Jawaban:
Jawaban: Mauqif khaidir pada fitnah ini([1]) jelas bahwa dia bersama
dan membela hizbiyyin([2]) dengan ucapan dan perbuatan walaupun awal
mulanya dia berupaya menampakkan bahwa dirinya netral. Hujjah dan
penjelasan tentang kebatilan hizbiyyin Mar’iyyin telah disebar,
tinggal mereka apakah mau melihat hujjah dan penjelasan tersebut,
ataukah berpaling dan membelakanginya. Mau tunduk dan menerima,
ataukah congkak dan melemparkannya ke belakang punggung mereka([3]).
Mau taroju’ ataukah lebih memilih bergelimang di atas kubang
kehinaan([4]).

Dan sampai sekarang belum ada dari khaidir sikap tawadhu untuk taroju’
dari kebatilannya([5]), al akh Hasan Al Bughisiy hafizhohulloh
menanyakan tentang beberapa ucapan khaidir kepada Syaikh Sa’id Da’as
hafidzahullah beliau berkata yang maknanya: “Kalau dia tetap
membangkang (dari kebenaran pada kebatilannya tersebut) maka dia
diikutkan dengan mereka (hizbiyyin).” ([6])

Apakah setelah semua ini seorang sunni salafy yang berakal yang betul-
betul menjaga keselamatan agamanya masih mau duduk dan mengambil ilmu
dari orang semacam khaidir? Terlebih lagi dia menyebar syubhatnya
dengan terang-terangan di majlis ta’limnya. Sementara Nabi shallAllohu
‘alaihi wa sallam bersabda:

من سمع بالدجال فلينأ عنه فوالله إن الرجل ليأتيه وهو يحسب أنه مؤمن
فيتبعه مما يبعث به من الشبهات أو لما يبعث به من الشبهات هكذا قال.

“siapa yang mendengar keberadaan dajjal‏‎ hendaknya dia menjauh
darinya sungguh demi Alloh seseorang mendatanginya dalam keadaan dia
mengira bahwasanya dia itu beriman akhirnya dia malah mengikutinya
disebabkan apa yang dia bangkitkan dari syubhat-syubhat.” (HR. Ahmad,
dimuat dalam Shahih Al Musnad milik Syaikh Muqbil rahimahullah). ([7])

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

يرون أن القلوب ضعيفة، والشبه خطافة.

“Mereka memandang bahwa hati itu lemah sementara syubhat-syubhat itu
menyambar-nyambar”. (“Siyar ‘Alamun Nubala”).

Adapun ucapan “bukankah dia berda’wah di atas Al-Qur’an dan Sunnah“

jawabannya: apakah bersama dan membela hizbiyyin itu termasuk
berdakwah di atas Al-Qur’an dan Sunnah? Apakah menyebar syubhat dan
penyimpangan dan penyelisihan terhadap manhaj salaf itu termasuk
berdakwah di atas Al-Qur’an dan Sunnah? ([8]) kemudian tidak mau
taroju’ dan meninggalkan kebatilan setelah dijelaskan dan ditegakkan
hujjah atasnya apakah itu termasuk berdakwah di atas Al-Qur’an dan
Sunnah? Apakah membela perkara bid’ah dan mencela orang yang
mengingkari kebid’ahan tersebut termasuk berdakwah di atas Al-Qur’an
dan Sunnah? ([9]) Apakah ghuluw dan berlebihan terhadap Syaikh Robi’
tersebut termasuk berdakwah di atas Al-Qur’an dan Sunnah? ([10])

Ucapan: dan bukankah sebab meninggalkannya kita jauh dari majelis Ilmu
yang mana saat ini di Makassar tidak ada Da’i yang sejalan dengan
orang yang datang dari Dammaj…?

dan demikian ucapan: dan sebagiannya lagi tidak ingin menyibukkan diri
dengan perselisihan itu dengan dalih kita tidak akan lagi Ta’lim karna
semua Ust. di Makassar punya Yayasan.

Jawabannya:
Kalau maksudnya adalah bahwasanya tidak ada lagi ustadz yang istiqomah
di Makassar, semuanya sama atau seperti Dzulqornain/ Khaidir, kalau
memang demikian keadaannya, maka barangsiapa mampu untuk rihlah
(berangkat pergi) ke tempat salah seoarang da’i yang istiqomah yang
mengajarkannya perkara-perkara yang bersifat wajib dalam agamanya, dan
tidak mungkin ilmu tadi dimiliki kecuali dengan rihlah, maka wajib
baginya untuk rihlah karena menuntut ilmu itu wajib pada perkara
tadi([11]). Para salaf terdahulu mengadakan rihlah berhari-hari bahkan
bulan dari negri ke negri demi mendengar hadits dari seorang ‘alim.
Dan alhamdulillah masih ada yang istiqomah dan masih satu profinsi
seperti di Mangkutana markaz al akh Abu Muqbil hafidzahulloh.

Adapun yang tidak mampu untuk rihlah maka dia bisa dengar kaset-kaset
dars ahlus sunnah yang istiqomah atau‏ membaca tulisan-tulisan mereka,
dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang istiqomah, Alloh
berkata:

{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } [الطلاق: 2]

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan jadikan
untuknya jalan keluar” [Ath Thalaq 2].

Nabi shallAllohu ‘alaihi wa sallam berkata:

إنك لن تدع شيئا اتقاء الله جل وعز ألا أعطاك الله خيرا منه

“Sesungguhnya engkau tidaklah meninggalkan sesuatu karena takut Alloh
jalla wa azza, melainkan Alloh akan memberimu yang lebih baik darinya
(dari apa yang engkau tinggalkan)” (HR. Ahmad, dimuat di shahihil
musnad karya Syaikh Muqbil rahimahullah).

Kalau yang ana sebutkan tadi juga tidak bisa dijalankan, maka
perhatikanlah perkataan al akh Abu Gholib ‘Abdullah bin Muhammad Ash-
Shuwmali sebagaimana dalam kitabnya “Tanbih ulil albab ‘ala tahrim ad
dirasah ‘inda ahlil bida’ wal irtiyab” (peringatan bagi orang yang
berakal akan haramnya belajar di sisi ahlul bida’ dan orang-orang yang
bingung) hal 100-102 cet. Maktabah imam Al Wadi’i yang di taqdim oleh
Syaikh Yahya Al Hajuri hafidzahullah ketika membantah syubhat sebagian
orang yang membolehkan belajar di sisi ahlul bid’ah pada zaman ini
dengan kaidah (adh dhorurot tubihul mahdzurat) perkara-perkara darurat
membolehkan hal-hal yang terlarang dengan makna bahwasanya dia tidak
dapat seorangpun yang dia bisa belajar darinya dari kalangan ahlus
sunnah, [sampai ke ucapannya]

sisi kedua: Dijawab tidak boleh bagi seseorang belajar di sisi
mubtadi’ meskipun dia tidak mendapati selainnya dari kalangan ahlus
sunnah karena dua hal: pertama: karena sabda Nabi shallAllohu ‘alaihi
wa sallam pada hadits hudzaifah yang panjang yang telah lewat dan
disitu:

فقلت هل بعد ذلك الخير من شر ؟ قال ( نعم دعاة على أبواب جهنم من أجابهم
إليها قذفوه فيها ) فقلت يا رسول الله فقلت يا رسول الله صفهم لنا قال
( نعم قوم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا ) قلت يا رسول الله فما ترى إن
أدركني ذلك قال ( تلزم جماعة المسلمين وإمامهم ) فقلت فإن لم تكن لهم
جماعة ولا إمام ؟ قال ( فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض على أصل شجرة
حتى يدركك الموت وأنت على ذلك )

((Aku (hudzaifah) katakan: apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan?
Beliau (Rasulullah shallAllohu ‘alaihi wa sallam) katakan: “Iya para
da’i (penyeru) kepada pintu-pintu neraka jahannam,  barangsiapa yang
memenuhi seruan mereka maka mereka akan lemparkan dia ke dalamnya
(jahannam).” Aku katakan wahai Rasulullah gambarkanlah sifat mereka
untuk kami, beliau bersabda: “Mereka dari keturunan kita dan berbicara
dengan bahasa kita” Aku katakan: apakah yang Anda perintahkan aku
apabila zaman itu menimpaku? Beliau bersabda: “lazimilah jama’ah kaum
muslimin dan imam mereka” kukatakan: kalau mereka tidak ada jama’ah
tidak pula imam? Beliau berkata: “Tinggalkanlah semua kelompok-
kelompok itu, walaupun engkau menggigit akar pohon, hingga maut
menjemputmu sementara engkau dalam keadaan demikian)).

Jadi Rasulullah shallAllohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada
kita apabila telah terjadi fitnah dan bid’ah -dan tidak didapati
kecuali para da’i kepada fitnah dan bid’ah- agar kita menjauh dari
mereka semua, dan ini wajib karena Nabi shallAllohu ‘alaihi wa sallam
berkata: (jauhilah).

Jawaban kedua adalah: bahwasanya keselamatan itu tiada bandingannya
dengan sesuatupun([12]), yang demikian itu ialah apabila engkau tidak
mendengar (ilmu) dari salah seorangpun, engkau tetap di atas fitrahmu
dan asal pada awwam/keumuman kaum muslimin adalah sunnah kecuali orang
yang telah berubah fitrahnya disebabkan bermajlis dengan ahlul ahwa’.
([13]) Dan engkau bersamaan dengan kebodohanmu diharapkan bagimu
kebaikan di dunia dan akhirat, dan engkau pada hal ini teranggap lebih
utama daripada seorang ‘alim dari kalangan ulama ahlil ahwa. -selesai-

Ucapan: mereka sebagiannya berkata perselisihannya hanya masalah
Jam’iyat dan kotak amal yang mana masing-masing memiliki ulama sebagai
rujukan.

Jawabannya: seandainya hanya demikian, tentunya mereka tidak terjatuh
dalam amalan-amalan hizbiyyah seperti wala wal baro’ sempit, mencela
para penasihat, mengada-ngadakan kaidah-kaidah kholafiyyah yang
menyelisihi manhaj salaf, membela dan memuji hizbiyyin, tanpa adanya
taubat bahkan terus bergelimang di atas kebatilannya. ([14])

Lalu apakah suatu amalan itu jadi sah dan halal jika ada ulama yang
mendukungnya, sekalipun telah dibuktikan dengan dalil-dalil yang kuat
akan batilnya amalan itu? Apakah syari’at jadi belum mantap hukumnya
karena masing-masing pendapat didukung oleh para ulama? ([15])

wAllohul musta’an

سبحانك اللهم وبحمدك أستغفرك وأتوب إليك

Abu ‘Abdirrohman Shiddiq bin Muhammad Al-Bugisi
Di Darul Hadits Dammaj harasahAlloh
28 jumadits Tsaniy 1433

([1]) Tambahan editorوفقه الله : yang dimaksudkan dengan fitnah ini
bukanlah sekedar perselisihan antar salafiyyin, tapi kekacauan yang
dibikin oleh hizbiyyun Abdurrohman Al Adniy cs. Semoga ini dipahami
dengan baik. Bukan sekedar perselisihan antar ahlussunnah.

([2]) Tambahan editorوفقه الله : Di antara alamat seorang hizbiy
adalah : Menolong hizbiyyin dan membela hizbiyyin. Fadhilatusy Syaikh
Ahmad An Najmi -rahimahulloh- berkata kepada sebagian anggota Ikhwanul
Muslimin: “Selama kalian tidak mengingkari kebatilan yang ada di dalam
manhaj-manhaj ini, bahkan kalian mengakuinya, membelanya, dan membela
pelakunya, maka kalian berhak untuk digabungkan kepada kalian dosa
yang ada pada manhaj-manhaj tadi.” (kitab “Ar Roddusy Syar`i” hal. 239
karya beliau).

([3]) Tambahan editorوفقه الله : Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله
berkata : “Maka wajib bagi orang yang telah didatangi hujjah, dan
jelas baginya penunjukannya, untuk tunduk pada kebenaran, dan berjalan
menuju kepada apa yang diwajibkan oleh hujjah tadi.” (“Al Faqih Wal
Mutafaqqih”/2/hal. 112/Maktabah Tau’iyatil Islamiyyah).

([4]) Tambahan editorوفقه الله : Al Imam Asy Syaifi’y رحمه الله
berkata : “Tidaklah seseorang itu menyombongkan diri terhadap al haq
di hadapanku dan menolaknya, kecuali martabatnya akan jatuh dari
mataku, Dan tidaklah dia menerima kebenaran itu kecuali aku akan
merasa segan padanya dan menjadi cinta padanya.” (“Siyar A’lamin
Nubala” 10/hal. 33).

([5]) Tambahan editorوفقه الله : Ibrohim رحمه الله berkata: Aku
bertanya kepada Al Fudhoil: Apakah tawadhu’ itu? Beliau menjawab:
“Yaitu engkau merunduk kepada kebenaran dan menaatinya. Sekalipun
engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau terima kebenaran tadi
darinya. Dan sekalipun engkau mendengarnya dari orang yang paling
bodoh, engkau terima kebenaran tadi darinya.” (“Hilyatul Auliya”/3/
hal. 392/atsar hasan).

([6]) Tambahan editorوفقه الله : Ini adalah alamat hizbiy, pengekor
hawa nafsu: sombong menentang kebenaran setelah ditegakkannya hujjah-
hujjah dan bukti-bukti bersamaan dengan ketidakmampuan dirinya untuk
meruntuhkannya secara ilmiyyah. Al Imam Al ‘Iroqiy رحمه الله berkata:
“Hanyalah dikatakan ‘inad (penentangan) jika dia telah mengetahui
kebenaran dan menyelisihinya.” (“At Taqyid Wal Idhoh”/1/hal. 157)

Itulah pengekor hawa nafsu. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ
جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى﴾ [النجم/23].

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang
diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk
kepada mereka dari Robb mereka.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Adapun orang yang
mengikuti hawa nafsu murni maka dia itu adalah orang yang mengetahui
kebenaran dan menentangnya.” (“Majmu’ul Fatawa”/29/hal. 44).

([7]) Tambahan editorوفقه الله : Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله
berkata: “Ini adalah ucapan Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam-, dan
beliau itu orang yang jujur dan dibenarkan. Maka bertaqwalah pada
Alloh wahai Muslimun, jangan sampai rasa baik sangka pada diri sendiri
dan juga ilmu yang dimiliki tentang bagusnya madzhab dirinya membawa
salah seorang dari kalian untuk melangsungkan perdebatan dengan
agamanya di dalam acara duduk-duduk dengan ahlul ahwa, seraya berkata:
“Aku akan masuk ke tempatnya dan kuajak dia berdebat, atau kukeluarkan
dirinya dari madzhabnya.” Mereka itu sungguh lebih dahsyat fitnahnya
daripada Dajjal, ucapan mereka lebih lengket daripada kurap, dan lebih
membakar daripada gejolak api. Sungguh aku telah melihat sekelompok
orang yang dulunya mereka itu melaknati ahlul ahwa dan mencaci mereka.
Lalu mereka duduk-duduk dengan mereka tadi dalam rangka mengingkari
dan membantah mereka. Tapi mereka terus-terusan di dalam obrolan, dan
makar musuh tersamarkan dari mereka, dan kekufuran yang lembut
tersembunyi dari mereka, hingga akhirnya mereka pindah ke madzhab
ahlul ahwa tadi.” (“Al Ibanatul Kubro”/dibawah no. (480)).

([8]) Tambahan editorوفقه الله : Yang terpandang itu bukanlah sekedar
pengakuan belaka. Alloh ta’ala berfirman :

﴿لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ
يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ
وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا ﴾ [النساء: 123]

“Bukanlah dengan angan-angan kalian, dan bukan pula dengan angan-angan
ahli kitab. Barangsiapa melakukan kejelekan maka dia akan dibalasi
sesuai dengan kejelekan itu, dan dia tak akan mendapati pelindung
ataupun penolong selain Alloh.”

([9]) Tambahan editorوفقه الله : Bukannya membantu orang yang gigih
menyadarkan umat dari bahaya kebid’ahan dan ahli bid’ah, dia justru
mencela orang tadi. Ini berarti membuka front terhadap ahlussunnah,
dan sebagai benih hizbiyyah. Syaikh Sholih As Suhaimi -hafizhahulloh-
berkata tentang hizbiyyin: “Dan mereka melancarkan serangan gencar
kepada orang yang menerangkan kesalahan-kesalahan jama’ah-jama’ah itu,
atau yang mengkritiknya, atau yang membantahnya, atau yang menyerunya
untuk membersihkan manhajnya dari penyelisihan-penyelisihan yang tidak
cocok dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah.” (Muqoddimah “An Nashrul
‘Aziz” Syaikh Robi’ -hafizhahulloh-)

([10]) Tambahan editorوفقه الله : Kita mengakui ketinggian posisi
Syaikh Robi’ حفظه الله tapi kita diharomkan untuk memperlakukan beliau
bagaikan orang yang pasti benar dan tak pernah salah. Semua
dikembalikan pada dalil. Al Imam Al Albaniy -rohimahullohu-ketika
membantah seorang muqollid, beliau berkata: “… yang demikian itu
adalah dikarenakan dirinya telah mensucikan pendapat ini karena dia
melihat bahwasanya pendapat tadi muncul dari salah seorang ulama
muslimin. Dan si alim ini tidak berbicara dengan hawa nafsu ataupun
kebodohan. Aku katakan bersamanya: Memang dirinya  tidak berbicara
dengan hawa nafsu ataupun kebodohan. Tapi apakah dirinya itu ma’shum
di dalam ijtihadnya yang di situ dia menjauhi  hawa nafsu ataupun
kebodohan?!” (“At Tashfiyyah Wat Tarbiyyah”/hal. 21).

([11]) Tambahan editorوفقه الله : Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله
berkata: “Maka wajib bagi setiap orang untuk mempelajari perkara yang
wajib diketahuinya, dari perkara-perkara yang Alloh wajibkan padanya,
sesuai dengan kemampuannya untuk mencurahkan kerja kerasnya demi
kebaikan dirinya sendiri. Dan setiap muslim yang baligh, berakal, pria
dan wanita, orang merdeka, budak, wajib bagi dirinya untuk bersuci,
sholat, dan puasa wajib. Maka wajib bagi setiap muslim untuk
mengetahui ilmunya. Dan demikian pula wajib bagi setiap muslim untuk
mengetahui apa yang halal baginya dan apa yang diharomkan untuknya,
yang berupa makanan, minuman, pakaian, kemaluan, darah, dan harta.
Maka ini semua tidak boleh seseorang itu untuk tidak
mengetahuinya.” (“Al Faqih Wal Mutafaqqih”/1/hal. 185).

([12]) Tambahan editor وفقه الله: Al Imam An Nawawiy رحمه الله
berkata: “Keselamatan itu tak bisa dibandingi oleh
apapun.” (“Riyadhush Sholihin”).

([13]) Berkata Al Imam ibnu Utsaimin di “Syarh Al-Ushul Ats-Tsalahah”
hal 80: “Adapun fitrah tentang keberadaan Alloh maka setiap makhluk
telah difitrahkan beriman kepada penciptanya tanpa pemikiran atau
pengajaran terlebih dahulu, dan tidak berpaling dari konsekwensi
fitrah ini kecuali siapa yang muncul pada hatinya apa yang
memalingkannya dari fitrah tadi, dengan dalil sabda Nabi shallAllohu
‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Tidak ada dari yang dilahirkan kecuali dia dilahirkan dalam keadaan
fitrah”al hadits”-selesai-

([14]) Tambahan editor وفقه الله: Hanya saja yang terjadi adalah:
bahwasanya dosa itu jika diremehkan dan disepelekan, maka dia akan
menjadi besar dan berkembang. Demikian pula perkara muhdats. Al Imam
Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Dan hindarilah muhdatsat yang kecil
dari perkara-perkara yang ada, karena sesungguhnya bid’ah-bid’ah yang
kecil itu dibiasakan hingga menjadi besar. Dan demikianlah setiap
bid’ah yang terjadi di umat ini. Dulu pada awalnya kecil menyerupai
kebenaran, sehingga tertipulah orang yang masuk di situ, kemudian dia
tak bisa keluar darinya. Lalu bid’ah tadi membesar dan menjadi suatu
agama yang dianut, maka dia menyelisihi jalan yang lurus lalu keluar
dari Islam.” (“SyarhusSunnah”/hal. 18/Darul Atsar).

Dan lagi pula, kejelekan itu melahirkan kejelekan berikutnya. Al Imam
Ibnul Qoyyim  berkata: “Bahwasanya maksiat itu menumbuhkan maksiat
yang semisalnya, dan yang satu melahirkan yang lainnya hingga sulitlah
bagi sang hamba untuk berpisah dengannya dan keluar darinya,
sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Sesungguhnya di antara hukuman
kejelekan adan kejelekan setelahnya, dan termasuk dari pahala kebaikan
adalah kebaikan setelahnya.”.” (“Al Jawabul Kafi”/hal. 54).

([15]) Tambahan editor  وفقه الله: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه
الله berkata: “Perkataan mereka: “Tidak boleh untuk saling mengingkari
dalam perkara-perkara yang diperselisihkan” bukanlah perkataan yang
benar, karena pengingkaran itu bisa jadi diarahkan kepada ucapan dari
hukum tersebut, dan bisa jadi diarahkan kepada pengamalan dari hukum
tadi. Adapun yang pertama: jika ucapan tadi menyelisihi suatu sunnah
atau suatu ijma’ yang telah lampau, maka ucapan tadi wajib diingkari,
tanpa ada perselisihan. Jika tidak demikian, maka ucapan tadi boleh
diingkari dalam artian: sisi kelemahannya dijelaskan, menurut orang
yang berpendapat bahwasanya pihak yang benar itu cuma satu, dan ini
adalah pendapat hampir seluruh Salaf dan fuqoha. Adapun dari sisi
amalan, jika amalan tadi menyelisihi suatu sunnah atau suatu ijma’
yang telah lampau, maka dia juga wajib diingkari sesuai dengan derajat-
derajat pengingkaran, sebagaimana telah kami sebutkan dari hadits
peminum nabidz yang diperselisihkan, dan sebagaimana hukum seorang
hakim itu dibatalkan jika menyelisihi suatu sunnah sekalipun dia telah
mengikuti sebagian ulama. Adapun jika di dalam masalah itu tidak ada
sunnah ataupun ijma’ maka ijtihad di situ boleh, orang yang
mengamalkannya tidak diingkari baik secara ijtihad ataupun
taqlid.” (“Bayanud Dalil ‘Ala Buthlanit Tahlil”/hal. 159/Daru Ibnul
Jauziy).

sumber isnad.net

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: