“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Tanya Jawab (Edisi 8 Jumadits Tsani 1433 H)

images (3)

 بسم الله الرحمن الرحيم

لحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين ولا عدوان إلا على الظالمين. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ولا إله سواه، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله الذي اصطفاه واجتباه وهداه، صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليماً كثيراً إلى يوم الدين. أما بعد:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [النحل/43]

“Maka bertanyalah kalian kepada ahludz dikr (orang yang memiliki ilmu) jika kalian tidak mengetahui”. (An-Nahl: 43). Orang yang ada di Dammaj berbagai macam latar belakang, walaupun mayoritasnya thullab (penuntut ilmu) namun di sana ada juga yang hanya mengaku-ngaku sebagai thullab namun tidak memiliki kemauan dan semangat dalam menuntut ilmu, dan ini terbukti ketika pulang atau sampai ke tanah airnya (Indonesia) menjadi anak jalanan atau gelandangan yang lebih rusak dari pada sebelumnya, oleh karena itu hendaklah seseorang tidak tertipu kalau ada orang-orang yang mengaku-ngaku pernah menjadi thullab sejati di Dammaj, Asalullohassalamah wal ‘afiyah.

PERTANYAAN:

1. Bismillah. Apakah bermanfaat bagi pembacanya, yang membaca diantaranya Al-Qur’an dan doa-doa dan dia belum bisa bahasa Arab. (Baru baca terjemahan saja) Barakallahufikum.

Jawaban:

Bermanfaat kalau dia membacanya dengan ikhlas dan mengikuti metode atau tuntutan syari’at, Alloh Ta’ala berkata:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا [الإسراء/9]

“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mereka mengerjakan amal kebaikan bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (Al-sro: 9).
Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

فإن الله يأجركم على تلاوته كل حرف عشر حسنات أما إني لا أقول : الم حرف و لكن ألف و لام و ميم

“Maka sesungguhnya Alloh membalas kalian atas bacaan kalian terhadap Al-Qur’an, setiap huruf sepuluh kebaikan, ketahuilah bahwasanya saya tidak mengatakan: “aliif laam miim” itu satu huruf, akan tetapi aku katakan “alif”, “laam” dan “miim”. (HR. Al-Hakim).
Dalam bahasa Arob huruf terbagi dua, ada huruf yang memiliki makna dan ada yang tidak memiliki makna. Dan tiga huruf yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah termasuk huruf hijaiyyah yang jin dan manusia tidak mengetahui maknanya, walaupun tidak diketahui maknanya namun yang membacanya tetap mendapatkan pahala dari bacaannya tertsebut.

Namun hendaklah seorang yang memeluk agama Islam berupaya untuk mempelajari agamanya sehingga dengan itu dia mengerti permasalahan yang berkaitan dengan agamanya, karena dengan mempelajari agama Islam dia akan meraih pahala dan kebaikan yang banyak, Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang dikehendaki oleh Alloh kebaikan maka difahamkan baginya agamnya”. (HR. Al-Bukhory dan Muslim dari Mu’awiyyah, di dalam “Sunan At-Tirmidzy” dari Abdulloh bin ‘Abbas dan At-Tirmidzy berkata: Dan pada bab ini ada dari Umar, Abu Huroiroh dan Muawiyyah dan ini adalah hadits hasan shohih).

PERTANYAAN:

2. Saya sholat di masjid yang di deket rumah, dhuhur dan ashar, kadang saya sendiri, apakah ini benar? Dari pada sholat di masjid Luqmaniyyun dan masjid umum yang ada jama’ahnya?

Jawaban:

Jika masjid yang di dekat rumahmu tersebut ditegakan sholat berjama’ah di dalamnya, maka kamu sholat di masjid tersebut bersama jama’ah yang ada, adapun kalau masjid tersebut ternyata masjid pribadi atau disebut dengan “musholla dalam rumah” yang terkadang ada di setiap rumah orang, maka wajib baginya untuk keluar sholat berjama’ah di masjid umum, Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أن آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh saya sudah bertekad untuk memerintah dengan (ditegakan) sholat dan diazankan padanya kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia kemudian aku berpaling ke (rumah) para laki-laki lalu aku bakar rumah-rumah mereka”. (HR. Al-Bukhory dan Ibnu Hibban dari Abu Huroiroh).

Al-Imam Al-Bukhory dalam “Shohinya” berkata: “Kitabu Sholatil Jama’ah wal Imamati” kemudian beliau membuat bab khusus: “Bab Wujuubi Sholatil Jama’ah (Wajibnya Sholat Jama’ah)”.

Dan bila masjid yang penanya maksudkan tersebut digunakan sebagai masjid untuk shalat berjama’ah bersama masyarakat (kaum muslimin) yang ada di sekitarmu akan tetapi bila sholat zhuhur dan ashar tidak ada seorang pun yang hadir melainkan hanya kamu sendiri, maka sebaiknya untuk dua waktu sholat tersebut kamu sholat di masjid yang ada jama’ahnya karena keutamaannya besar dan pahalanya berlipat ganda, sebaimana disebutkan dalam hadits Abu Huroiroh dalam “Ash-Shohihain” dan dalam “As-Sunan” dan hadits Ibnu Umar dalam “Shohih Muslim” dan hadits Abu Said Al-Khudry dalam “Sunan Abi Dawud” dan hadist Ubay bin Ka’ab dan Anas bin Malik dalam “Sunan Ibni Majah”. Wallohu A’lam.

PERTANYAAN:

3. Apakah di benarkan ketika suami kerja sedang istri dan anaknya berada di rumah dan jauh dari muhrimnya? Apa dititipkan di muhrim awam dan punya TV? Barakallahufikum.

Jawaban:

Perlu dibedakan antara muhrim dengan mahrom, kalau muhrim yang berkaitan dengan permasalahan ibadah haji sedangkan mahrom adalah yang berkaitan dengan permasalahan kekeluargaan yaitu orang-orang yang harom untuk dinikahi, baik dia saudara yang memiliki keterkaitan dengan rohim atau saudara sepersusuan.
Permasalahannya dilihat dulu, apakah rumahnya tersebut sementara ataukah memang rumah tersebut adalah rumah mereka selamanya?! Dalam artian mereka mukim di tempat tersebut ataukah tidak? Kalau memang itu adalah tempat mukimnya (kampung halamannya) maka boleh dia meninggalkan istrinya bersama anak-anaknya di rumahnya tersebut dengan tanpa harus ada mahromnya, sebagaimana ketika Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya ketika safar mereka meninggalkan istri dan anak-anak mereka di rumah-rumah mereka masing-masing di Madinah, begitu pula Nabi Ibrohim ‘Alaihis Salam meninggalkan istri dan anaknya di tempat tinggalnya, Alloh Ta’ala berkata tentang kisahnya:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ [إبراهيم/37]

“Ya Robb Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Ka’bah) yang dihormati, Ya Robb Kami (yang demikian itu) agar mereka menegakan shalat, maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (Ibrohim: 37).

Namun kalau dia khawatir dari adanya gangguan dari orang-orang jahat yang ada di sekitar rumahnya maka dia memanggil mahrom bagi istrinya untuk menemani istri dan anak-anaknya maka ini lebih bagus dan baik akibatnya, namun jika tidak bisa maka baginya untuk dititipkan ke rumah mahromnya.

Boleh baginya untuk menitipkan mereka ke rumah mahrom mereka, tapi sebelum dia titipkan terlebih dahulu dia membuat kesepakatan dengan mahrom mereka, apakah agama istri dan anak-anaknya siap diberi kebebebasan dalam beragama ataukah tidak? Dia persyaratkan istri dan anak-anaknya untuk tidak menoleh atau menonton TV, dan dia berkewajiban untuk menasehati mahrom istrinya tersebut untuk meninggalkan TV, atau kalau mereka tidak mau maka dia ingatkan mereka agar tidak memperbolehkan istri dan anak-anaknya melihat kepada TV tersebut.

Di samping itu dia wajib bersyukur kepada mahrom istrinya, jika dia bekerja maka tidak boleh baginya untuk melupakan mahrom istrinya tersebut, diberi hadiah atau sedekah sehingga mereka pun bersyukur dengan pemberian tersebut, yang akibatnya mereka pun saling berkasih sayang dan memiliki keterkaitan hati karena sebab ukhuwah (persaudaraan), jika sudah seperti itu mereka pun siap membantu istri dan anak-anaknya dalam ta’awun (tolong menolong) dalam kebaikan, jika hal ini dilakukan maka mereka akan terjaga dari kerugian dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, Alloh Ta’ala berkata:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al-Ashr: 1-3).
Dan merupakan kesesatan yang nyata dan penyelisihan terhadap syari’at bila kemudian ada seseorang menitipkan istri dan anak-anaknya ke TN (Taman Nona) sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang sesat, diantara mereka adalah Muhaimin Al-Hizby yang menitipkan istri dan anak-anaknya ke TN ketika dia pergi berekreasi ke Dammaj.

PERTANYAAN:

4. Dari keluarga Abu Miftah Cianjur, 0858xxxxxxxx (para umahatnya). Bagaimana hukum belajar tajwid, maksudnya murojaah belajar tajwid melalui HP? Sebelumnya kami hampir menyelesaikan pelajarannya, dan kami telah melihat bagaimana makharijul huruf dan contoh-contohnya dibacakan. Qodarullah kini pengajar kami tinggal di luar daerah. Apakah boleh kita belajar dengannya melalui HP?

Jawaban:

Boleh dengan syarat: Belajar lewat HP tersebut tidak mengandung unsur kemaksiatan, misalnya: Dengan menampilkan gambar pengajarnya sehingga mereka bisa melihat gerakan mulut pengajarnya lewat HP maka model seperti ini tidak diperbolehkan, dan kalau pun dia bisa menguasai atau bisa mengambil faedah dari gambar tersebut akan tetapi dia tidak akan mendapatkan berkah, para malaikat tidak akan mendekatinya, Al-Imam Al-Bukhory Rohimahulloh berkata di dalam “Shohihnya”: “Telah berkata kepada kami Muqatil, beliau berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abdulloh –yaitu Ibnul Mubarok-, beliau berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az-Zuhry dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bahwasanya beliau mendengar Abdulloh bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘Anhuma berkata: Aku mendengar Abu Tholhah berkata: Aku mendengar Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ، وَلاَ صُورَةُ تَمَاثِيلَ.

“Tidak akan masuk malaikat ke rumah yang di dalamnya ada anjing, dan tidak pula (masuk ke rumah) yang di dalamnya ada gambar-gambar”. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam “Shohihnya”. Dan di dalam “Shohih Al-Bukhory” dari hadits Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha bahwa Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لاَ تَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ.

“Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar tidak akan malaikat masuk di dalamnya”.

PERTANYAAN:

5. Ada yang membolehkan secara mutlak bagi wanita belajar tajwid ke seorang pengajar laki-laki yang bukan mahromnya dengan berdalil bahwa ada shahabat wanita belajar tajwid langsung kepada Nabi, apakah benar demikian?

Jawaban:

Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki kekhususan-kekhususan tersendiri yang tidak diperkenankan untuk umatnya, diantara kekhususan-kekhususannya adalah mengajar kaum mukminah (wanita-wanita beriman).
Tidak diragukan lagi bahwa para Nabi kedudukannya terhadap umatnya seperti kedudukan seorang bapak terhadap anak-anaknya, Syaikhuna Imam Darul Hadits Dammaj Hafizahulloh dalam majelisnya ketika mengajar “Tafsir Ibnu Katsir” berkata: “Para nabi kedudukannya terhadap umatnya bagaikan kedudukan bapak terhadap anak-anaknya adapun para da’i yang mengajar para wanita kedudukannya terhadap para wanita yang dia ajari tersebut bagaikan kedudukan syaithan”.
Di dalam hadits-hadits shohih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkali-kali mengajari para wanita, dan bahkan para wanita ikut menyaksikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika mengajarkan Al-Qur’an, diantaranya disebutkan oleh Al-Imam Ahmad dalam “Musnadnya”, Muslim dalam “Shohihnya”, Abu Dawud dan An-Nasay dalam “Sunan Keduanya”:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ مَعْنٍ عَنْ بِنْتِ الْحَارِثِ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَتْ مَا حَفِظْتُ ق إِلاَّ مِنْ فِى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَخْطُبُ بِهَا كُلَّ جُمُعَةٍ

“Dari Abdulloh bin Muhammad bin Ma’n, dari Putrinya Al-Harits bin An-Nu’man, dia berkata: “Tidaklah saya menghafal (surat) “Qoof”, kecuali dari mulutnya Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dahulu beliau berkhutbah dengannya setiap Jum’at”.
Di dalam riwayat An-Nasay dengan lafadz:

عن محمد بن عبد الرحمن عن ابنة حارثة بن النعمان قالت : حفظت ق والقرآن المجيد من في رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو على المنبر يوم الجمعة

“Dari Muhammad bin ‘Abdurrohman dari Putrinya Haritsah bin An-Nu’man, dia berkata: “Aku menghafal (surat) “Qoof, dan demi Al-Quran yang mulia” dari mulutnya Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa sallam dan beliau di atas mimbar pada hari Jum’at”.
Wanita tersebut melihat langsung Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika membaca surat “Qoof” dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membiarkannya, bukan berarti kemudian difahami bahwa pembiaran tersebut menunjukan bolehnya memandang orang yang bukan mahrom! atau difahami bolehnya seorang ustadz mengajar tajwid di TN (Taman Nona) atau bolehnya ustadz TN menemani atau berdua-duaan dengan santriwatinya atau mengantar santriwatinya ke RS (Rumah Sakit) untuk berobat atau rekreasi ke gunung-gunung atau ke kolam renang! Alloh Ta’ala berkata:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [النور/31]

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kehormatan (kemaluan)nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung sampai ke dadanya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau bapak mereka, atau bapak suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Alloh, Wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung”. (An-Nuur: 31).

PERTANYAAN:

6. Apa hukumnya menghadiri sholat jum’at, yang belum masuk waktu, dan khutbahnya diisi para hizbiyun, yang membuat hati tergoncang, Barakallahufikum. 

Jawaban:

Waktu-waktu sholat sudah ada ketentuan-ketentuannya sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih seperti dalam “Ash-Shohihain” dan “As-Sunan” sebagaimana pemaparannya pada awal-awal dari “Kitabus Sholah”, dan Alloh Ta’ala berkata:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا [النساء/103]

“Sesungguhnya shalat itu atas orang-orang yang beriman telah ditentukan waktunya”. (An-Nisa’: 103).
Dan tidaklah semua orang bisa mengetahui waktunya masuknya sholat, melainkan hanya orang yang mengerti, bahkan terkadang ada yang sok mengerti tentang waktu masuknya sholat ternyata keliru. Pernah terjadi di kapal besar dari Ambon ke Jawa, ketika pengurus kapal mengumumkan waktu fajar shadiq (subuh) sudah masuk maka pengurus masjid kapal mengumandangkan azan maka tiba-tiba ada salah seorang da’i gadungan dari kalangan hizbiyyun menentang dan dia berpendapat bahwa waktu fajar (subuh) belum masuk, dia pun kemudian berbicara dengan karyawan kapal maka karyawan kapal yang masih awam itu pun akhirnya menjelaskan secara mendeteil tentang masuknya waktu fajar (subuh), maka da’i gadungan tersebut pun tercengang-cengeng (kebingungan). Maka hendaknya seseorang berhati-hati dalam permasalahan ini, supaya dia tidak salah dalam bersikap maka hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya.

Dan kalau dia yakin (berdasarkan ilmu) bahwa waktu sholat belum masuk namun sudah ditegakan sholat maka wajib baginya untuk menasehati pengurus masjid tersebut, bila enggan dari menerima nasehatnya yang berdasarkan ilmu itu maka wajib baginya untuk mencari masjid lain yang ditegakan sholat sesuai waktu, dan ini sangat memungkinkan untuk negara Indonesia, mayoritas penduduknya mengaku sebagai pemeluk agama Islam dan masjid pun didapati di mana-mana, lebih-lebih di Jawa masjid sangat banyak.

Begitu pula kalau kamu mendapati di masjid yang khutbah jum’at adalah dari kalangan hizbiyyun yang memiliki gudang syubhat di dalam hatinya, dan kamu takut dari syubhatnya yang akan mengoncangkan hatimu maka kamu bisa mencari masjid yang lain yang kira-kira syubhatnya lebih tipis dan lemah seperti sarang laba-laba, kamu sholat bersama mereka.
Tidak dibenarkan bila kemudian dengan alasan tersebut kamu meninggalkan dari mendengarkan khutbah jum’at atau meninggalkan sholat berjama’ah.

PERTANYAAN:

Bagaimana cara mandi jum’at dan apa hukumnya?

Jawaban:

Mandi jum’at seperti mandi jenabah yaitu dengan meratakan atau mengenakan air ke seluruh tubuh, dan tata cara mandi jenabah telah dipraktekan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana telah disebutkan haditsnya dalam “Ah-Shohihain” juga disebutkan oleh Al-Imam Al-Maqdisy dalam “Umdatul Ahkam” tentang dua tata cara yang penjelasannya ada pada hadits Aisyah dan hadits Maimunah bintu Al-Harits Rodhiyallahu ‘Anhum.
Mandi Jum’at hukumnya adalah wajib, Al-Imam Al-Bukhory Rohimahulloh berkata dalam “Shohihnya”: “Telah menceritakan kepada kami Abdulloh bin Yusuf, beliau berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Shofwan bin Sulaim, dari ‘Atho’ bin Yasar dari Abu Sa’id Al-Khudry Rodhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.

“Mandi pada hari Jum‘at adalah wajib atas setiap yang sudah remaja (sudah mimpi basah)”. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, beliau berkata: “Aku telah bacakan kepada Malik dari Shofwan…..(sama seperti yang disebutkan Al-Bukhory).

PERTANYAAN:

Apa pendapat yang paling rojih, tentang ma’mum membaca atau tidak membaca Al-Fatihah dalam sholat yang dijahrkan?

Jawaban:

Yang paling rojih (kuat) adalah membaca Al-Fatihah, dari Muhammad bin Abi ‘Aisyah dari seorang yang termasuk shahabatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata: Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لعلكم تقرؤون خلف الإمام والإمام يقرأ

“Barangkali kalian membaca (ketika shalat) di belakang imam dan imam membaca” mereka (para shahabat) berkata:

إنا لنفعل ذلك

“Sesungguhnya kami melakukan yang demikian itu” Nabi berkata:

فلا تفعلوا إلا أن يقرأ أحدكم بأم الكتاب أو قال فاتحة الكتاب.

“Janganlah kalian lakukan kecuali salah seorang kalian membaca ummul kitab –atau berkata- Fathihatil Kitab”. (HR. Al-Imam Ahmad, dan hadits ini ada di dalam “Ash-Shohihul Musnad Mimma Laisa Fish Shohihain”, dan Al-Imam Al-Wadi’y berkata: Ini adalah hadits shohih).

PERTANYAAN:

Berapa rokaat sholat sunah ba’da jum’at, bagaimana pelaksanaannya. Jazaakumullaahukhairan.

Jawaban:

Empat rokaat, Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا».

“Jika salah seorang dari kalian sudah sholat Jum’at maka hendaknya dia sholat setelahnya empat”. (HR. Al-Imam Ahmad, Muslim dan An-Nasay dari Abu Huroiroh) Di dalam riwayat Ahmad dengan lafadz:

أربع ركعات

“Empat rokaat”.

Pelaksanaannya: Setelah dua rokaat langsung salam kemudian berdiri melaksanaan dua rokaat berikutnya atau sekaligus berdiri sholat empat rokaat dengan sekali tahiyat lalu salam sebagaimana telah kami jelaskan pada jawaban kami terhadap pertanyaan dari Lombok.
Boleh pula sholat dua rokaat di masjid kemudian dua rokaat lagi di rumah, sebagaimana penjelasannya dalam “Ash-Shohihain” dari hadits Aisyah tentang sholat sunnahnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Wallohu A’lam.

Dijawab oleh Abu Ahmad Muhammad Al-Limbory Hafizhulloh

Pada malam Senin 8 Jumadits Tsaniyyah 1433 Hijriyyah.

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: