“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

TERAPI DAN OBAT PENYAKIT DUSTA/BOHONG

وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

 “Barang siapa yang mengucapkan pada seorang mukmin suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, Allah ta’ala akan menetapkannya di kerak penduduk neraka sampai dia keluar apa-apa yang dia ucapkan (terhadap saudaranya).” (HR. Abu Dawud 3592 dishohihkan oleh Syaikh Muqbil di Shohih Al-Musnad no. 755).

Ditulis Oleh: Muhammad Ja’far  Piliong

Pada Judul:

BUKTI BUKTI PENYELISIHAN DZUL AKMAL HADAHULLAH  TERHADAP SYARIAT ISLAM

Dusta/Bohong

Definisi dusta/bohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan atau memberitakan sesuatu yang berbeda dengan keadaan sebenarnya.

Seseorang yang menceritakan seluruh apa yang ia dengar adalah termasuk kebohongan, sebagaimana disebutkan dalam hadist (Muqoddimah Shohih Muslim) :

باب النهي عن الحديث بكل ما سمع

وحدثنا عبيدالله بن معاذ العنبري. حدثنا أبي. ح وحدثنا محمد بن المثنى. حدثنا عبدالرحمن بن مهدي. قالا: حدثنا شعبة، عن خبيب بن عبدالرحمن، عن حفص بن عاصم، عن أبي هريرة؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع”.

وحدثنا بن أبي بكر بن أبي شيبة. حدثنا علي بن حفص. حدثنا شعبة، عن خبيب بن عبدالرحمن، عن حفص بن عاصم. عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم بمثل ذلك.

وحدثنا يحيى بن يحيى. أخبرنا هشيم، عن سليمان التيمي، عن أبي عثمان النهدي؛ قال: قال عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه: بحسب المرء من الكذب أن يحدث بكل ما سمع.

وحدثني أبو الطاهر أحمد بن عمرو بن عبدالله بن عمرو بن سرح قال: أخبرنا ابن وهب؛ قال: قال لي مالك: اعلم أنه ليس يسلم رجل حدث بكل ما سمع. ولا يكون إماما أبدا، وهو يحدث بكل ما سمع

حدثنا محمد بن المثنى. قال: حدثنا عبدالرحمن. قال: حدثنا سفيان، عن أبي إسحاق، عن أبي الأحوص، عن عبدالله؛ قال: بحسب المرء من الكذب أن يحدث بكل ما سمع.

وحدثنا محمد بن المثنى. قال: سمعت عبدالرحمن بن مهدي يقول: لا يكون الرجل إماما يقتدى به حتى يمسك عن بعض ما سمع.

Bab : Larangan Untuk Memberitakan/Menceritakan Segala [Berita] Yang Didengar

Telah bercerita kepada kami Ubaid bin Mu’adz Al Anbariy, telah bercerita kepada kami bapakku (perpindahan sanad), telah bercerita kepada kami Muhammad bin Mutsnna, telah bercerita kepada kami Abdurrohman bin Mahdi : keduanya (Mu’adz dan Abdurrohman bin Mahdi) berkata : telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Khubaib bin Abdirrohman dari Hafsh bin Ashim dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata : Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Cukup seseorang [dikatakan sebagai] pendusta [jika] ia menceritakan segala [berita] yang ia dengar.”

Telah bercerita kepada kami Ibnu Abi Bakr bin Abi Syaibah, telah bercerita kepada kami Ali bin Hafsh, telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Khubaib bin Abdurrohman dari Hafsh bin Ashim dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan semisal di atas.

Telah bercerita kepada kami Yahya bin Yahya, telah memberitakan kepada kami Husyaim dari Sulaiman At Taimi dari Abu Utsman An Nahdi, beliau berkata : telah berkata Umar bin Khotthob rodhiyallohu ‘anhu : cukup seseorang [dikatakan] berdusta [jika] ia menceritakan segala [berita] yang ia dengar.

Dan telah bercerita kepada kami Abu Thohir Ahmad bin Amr bin Abdillah bin Amr bin sarh, beliau berkata : telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb, beliau berkata : telah berkata kepadaku Malik : ketahuilah! Bahwasanya tidaklah diterima seorang yang menceritakan segala berita yang ia dengar, [orang seperti ini] tidak akan bisa menjadi imam (panutan) selamanya selama ia menceritakan segala [berita] yang ia dengar.

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Mutsanna, dia berkata : telah bercerita kepada kami Abdurrohman, dia berkata : telah bercerita kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abul Akhwash dari Abdulloh, dia berkata : cukuplah seseorang [dikatakan] berdusta [jika] ia menceritakan segala [berita] yang ia dengar.

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Mutsanna, dia berkata : saya pernah mendengar Abdurrohman bin Mahdi berkata : tidaklah seseorang akan menjadi imam (panutan) yang dicontoh kecuali ia menahan [untuk tidak menceritakan] sebagian [berita] yang ia dengar. –Shohih Muslim Syarh An-Nawawi halaman 68-70–

Berkata Al Imam An Nawawy pada halaman 71 :

قَوْله : ( بِحَسْبِ الْمَرْء مِنْ الْكَذِب ) هُوَ بِإِسْكَانِ السِّين وَمَعْنَاهُ يَكْفِيه ذَلِكَ مِنْ الْكَذِب ، فَإِنَّهُ قَدْ اُسْتُكْثِرَ مِنْهُ ، وَأَمَّا مَعْنَى الْحَدِيث وَالْآثَار الَّتِي فِي الْبَاب فَفِيهَا الزَّجْر عَنْ التَّحْدِيث بِكُلِّ مَا سَمِعَ الْإِنْسَان فَإِنَّهُ يَسْمَع فِي الْعَادَة الصِّدْق وَالْكَذِب ، فَإِذَا حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ فَقَدْ كَذَبَ لِإِخْبَارِهِ بِمَا لَمْ يَكُنْ . وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّ مَذْهَب أَهْل الْحَقّ أَنَّ الْكَذِب : الْإِخْبَار عَنْ الشَّيْء بِخِلَافِ مَا هُوَ ، وَلَا يُشْتَرَط فِيهِ التَّعَمُّد لَكِنَّ التَّعَمُّد شَرْط فِي كَوْنه إِثْمًا وَاَللَّه أَعْلَمُ

Perkataan : “cukup seseorang [dikatakan] berdusta”, yaitu dengan cara mensukun sin (حسْب), maknanya adalah cukup hal itu [dikatakan] berdusta, karena terlalu seringnya [melakukan hal itu]. Adapun makna hadist dan atsar yang tersebut dalam bab, maka maknanya adalah larangan keras untuk menceritakan segala berita yang didengar seseorang karena tentunya secara umum ia mendengar berita benar dan juga mendengar berita yang dusta, sehingga apabila ia menceritakan semua berita yang ia dengar maka ia telah berdusta karena telah mengkhabarkan perkara yang tidak ada [kenyataannya]. Sedangkan telah terdahulu [penjelasannya] bahwa pendapat ahlul haq adalah bahwa dusta merupakan pemberitaan tentang suatu perkara yang bertolak belakang dengan kenyataan, dan tidak disyaratkan adanya unsur kesengajaan, karena unsur kesengajaan merupakan syarat seseorang itu berdosa [atau tidaknya]. Wallohu a’lam.

Dari hadist di atas di ambil beberapa hukum di antaranya :

Seseorang yang menceritakan segala berita yang dia dengar adalah kedustaan.

Orang yang suka menceritakan segala berita yang ia dengar, maka ia tidak bisa menjadi imam (pemimpin atau panutan).

Keutamaan tidak menceritakan sebagian berita apa yang ia dengar.

Berkata Al Imam Al Bukhory :

باب: إثم من كذب على النبي صلى الله عليه وسلم.

حدثنا علي بن الجعد: أخبرنا شعبة قال: أخبرني منصور قال: سمعت ربعي بن حراش يقول: سمعت عليا يقول:

قال النبي صلى الله عليه وسلم: (لا تكذبوا علي، فإنه من كذب علي فليلج النار).

حدثنا أبو الوليد قال: حدثنا شعبة، عن جامع بن شداد، عن عامر بن عبد الله بن الزبير، عن أبيه قال: قلت للزبير: إني لا أسمعك تحدث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم كما يحدث فلان وفلان؟ قال: أما إني لم أفارقه، ولكن سمعته يقول: (من كذب علي فليتبوأ مقعده من النار).

حدثنا أبو معمر قال: حدثنا عبد الوراث، عن عبد العزيز: قال أنس: إنه ليمنعني أن أحدثكم حديثا كثيرا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (من تعمد علي كذبا فليتبوأ مقعده من النار).

حدثنا مكي بن إبراهيم قال: حدثنا يزيد بن أبي عبيد، عن سلمة قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: (من يقل علي ما لم أقل فليتبوأ مقعده من النار).

Bab : Berdosa Orang Yang Berdusta Atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Telah bercerita kepada kami Ali bin Ja’d : telah memberitakan kepada kami Syu’bah, dia berkata : telah memberitakan kepadaku Mashur, beliau berkata : saya telah mendengar Rib’i bin Harrosy berkata : saya mendengar Ali berkata : Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jangan kalian berdusta atasku karena barangsiapa berdusta atasku maka ia masuk api neraka.”

Telah bercerita kepada kami Abul Walid, dia berkata : telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Jami’ bin Syaddad dari Amir bin Abdulloh bin Zubair dari bapaknya (Abduloh bin Zubair), dia berkata : saya berkata kepada Zubair : Sesungguhnya saya tidak pernah mendengarmu menceritakan hadist dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana fulan dan fulan bercerita hadist?, dia menjawab : Adapun saya, bukan berarti saya menyempal [dari]nya, akan tetapi saya mendengar beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang berdusta atasku maka siapkanlah tempat duduknya dari api neraka”.

Telah bercerita kepada kami Abu Mu’mar, dia berkata : telah bercerita kepada kami Abdul Warits dari Abdul Aziz : berkata Anas : sesungguhnya yang menghalangiku untuk bercerita hadist terlalu banyak adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa bersengaja berdusta atasku maka siapkanlah tempat duduknya dari api neraka”.

Telah bercerita kepada kami Makki bin Ibrohim, dia berkata : telah bercerita kepadaku Yazid bin Abi Ubaid, dari Salamah, dia berkata : saya pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa berkata [disandarkan] kepadaku perkara yang aku tidak mengatakannya, maka siapkanlah tempat duduknya dari api neraka”.

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar :

وفي تمسك الزبير بهذا الحديث على ما ذهب إليه من اختيار قلة التحديث دليل للأصح في أن الكذب هو الإخبار بالشيء على خلاف ما هو عليه سواء كان عمدا أم خطئا والمخطيء وإن كان غير مأثوم بالإجماع لكن الزبير خشي من الإكثار أن يقع في الخطإ وهو لا يشعر

Dalam sikap konsistennya Az Zubair terhadap hadist ini berdasarkan pendapat beliau untuk memilih sedikit bercerita hadist, merupakan dalil (bukti) [bahwa] yang paling benar dalam masalah dusta adalah memberitakan sesuatu secara bertolak belakang dengan kenyataannya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sedangkan yang tidak sengaja walaupun menurut kesepakatan tidak berdosa, akan tetapi Zubair takut untuk memperbanyak terjatuh dalam kesalahan sedangkan ia tidak sadar (sengaja).

Berkata Al Imam An Nawawy:

وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّ مَذْهَب أَهْل الْحَقّ أَنَّ الْكَذِب : الْإِخْبَار عَنْ الشَّيْء بِخِلَافِ مَا هُوَ

Telah terdahulu [penjelasannya] bahwa pendapat ahlul haq adalah bahwa dusta merupakan pemberitaaan tentang sesuatu berbeda dengan kenyataan.

Berkata Al Imam Muslim:

باب أمر أهل المدينة بالإحرام من عند مسجد ذي الحليفة

حدّثنا يَحْيَىَ بْنُ يَحْيَىَ. قَالَ: قَرَأْتُ عَلَىَ مَالِكٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ أَنّهُ سَمِعَ أَبَاهُ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ يَقُولُ: بَيْدَاؤُكُمْ هَذِه الّتِي تَكْذِبُونَ عَلَىَ رَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم فِيهَا. مَا أَهَلّ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم إِلاّ مِنْ عِنْدِ الْمَسْجِدِ. يَعْنِي ذَا الْحُلَيْفَةِ.

Bab : Perintah Kepada Penduduk Madinah Untuk Ihrom Dari Sisi Masjid Dzul Hulaifah

Telah bercerita kepada kami Yahya bin Yahya, dia berkata : saya telah membacakan kepada Malik dari Musa bin Uqbah dari Salim bin Abdillah sesungguhnya dia mendengar bapaknya (‘Abdullah) rodhiyallohu ‘anhu berkata : Tampak yang kalian dustakan atas Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak pernah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bertahlil kecuali dari sisi masjid, yaitu dzul Hulaifah.

Berkata Al Imam An Nawawy :

وسماهم ابن عمر كاذبين لأنهم أخبروا بالشيء على خلاف ما هو. وقد سبق في أول هذا الشرح في مقدمة صحيح مسلم أن الكذب عند أهل السنة هو الإخبار عن الشيء بخلاف ما هو، سواء تعمده أم غلط فيه أو سها.

Mereka dinamakan orang-orang berdusta oleh Ibnu Umar, karena mereka memberitakan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan. Telah berlalu di awal kitab penjelasan ini dalam muqodimah Shohih Muslim, bahwa dusta menurut ahlussunnah adalah mengkhabarkan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan, baik disengaja maupun tidak disengaja, atau lupa.

Salaf Terkadang Menamai Sebatas Kesalahan Dengan Nama Dusta

Berkata Syaikh Robi’ hafidzohulloh dalam kitab beliau Al Mahajjatul Baidho’ halaman 52 :

وقد كان بعض السلف إذا بلغه قول ينكره على قائله يقول: كذب فلان. ومن هذا قول النبي –صلى الله عليه وسلم

(( كذب أبو السنابل)) لما بلغه أنه أفتى أن المتوفى عنها زوجها إذا كانت حاملا لا تحل بوضع الحمل حتى تأتي عليها أربعة أشهر وعشرا.

Dahulu sebagian salaf apabila datang suatu pernyataan maka diingkari kepada yang mengatakannya, seraya berkata : fulan telah berdusta. Juga seperti ini perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Abus Sanabil telah berdusta”, tatkala datang kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia berfatwa : seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya apabila dalam keadaan hamil tidaklah halal (belum selesai masa iddahnya) dengan melahirkan kecuali sampai empat bulan sepuluh hari.

Berkata Al Imam Muslim dalam Bab Min Fadho’ili Khodhir alaihis salam :

حدّثني مُحَمّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى الْقَيْسِيّ. حَدّثَنَا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ التّيْمِيّ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَقَبَةَ، عَنِ أَبِي إِسْحَقَ، عَنْ سَعِيدِ بْنُ جُبَيْرٍ قَالَ: قِيلَ لاِبْنِ عَبّاسٍ: إِنّ نَوْفاً يَزْعُمُ أَنّ مُوسَىَ الّذِي ذَهَبَ يَلْتَمِسُ الْعِلْمَ لَيْسَ بِمُوسَىَ بَنِي إِسْرَائِيلَ. قَالَ: أَسَمِعْتَهُ؟ يَا سَعِيدُ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: كَذَبَ نَوْفٌ.

Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Abdul A’laa Al Qoisiy, telah bercerita kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman At Taimi dari bapaknya dari Roqobah dari Abu Ishaq dari Said bin Jubair, dia berkata : ada yang berkata kepada Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu : sesungguhnya Naufan menyangka bahwa Musa yang pergi menuntut ilmu [kepada Khidir] bukan Musa bani Isroil. Ibnu Abbas pun berkata : apakah kamu benar-benar mendengarnya? Wahai Sa’id!, Aku pun menjawab : benar. Lantas beliau berkata : Nauf telah berdusta.

Berkata Al Imam An Nawawy:

قوله: “كذب نوف” هو جار على مذهب أصحابنا أن الكذب هو الإخبار عن الشيء خلاف ما هو عمداً كان أو سهواً خلافاً للمعتزلة

Perkataan beliau (Ibnu Abbas) “Nauf telah berdusta”, hal itu selaras dengan pendapat teman-teman kami (satu madzhab), yaitu bahwa dusta adalah mengkhabarkan tentang sesuatu berbeda dengan kenyataan baik secara sengaja ataupun lupa (tidak sengaja). Hal ini berbeda dengan pendapat kolompok mu’tazilah.

Dan termasuk dalam bab ini, apa yang dinukil oleh Syaikh Robi’ dalam kitab Al Mahajjatul Baidho’ halaman 78, menukilkan dari Al Imam Ibnu Adiyy:

موقف ابن عدي :

قال ابن عدي رحمه الله : ((ذكر من استجاز تكذيب من تبين كذبه, من الصاحبة والتابعين ومن بعدهم إلى يومنا هذا, رجلا رجلا)). ثم قال : ((فمن الصحابة : عمر بن الخطاب, علي بن أبي طالب, عبد الله بن عباس)).

ثم روى بإسناده إلى سعيد بن جبير, قال : قلت لابن عباس : إن نوفا البكالي يزعم أن موسى صاحب بني إسرائيل ليس صاحب الخضر, فقال : كذب عدو الله.

وذكر قوله لبشير بن كعب : ((كنا نحفظ الحديث, والحديث يحفظ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى إذا ركبتم الصعب والذلول فهيهات))

ثم قال : ((عبد الله بن سلام)).

وساق بإسناده إلى أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال : أتيت الطور, فوجدت بها كعب الأحبار –فذكره بطوله- فلقيت عبد الله بن سلام, فذكرت له أني قلت لكعب : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((إن في الجمعة ساعة لا يصادفها مؤمن وهو في الصلاة يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه)). فقال : ذاك يوما في كل سنة؟ فقال عبد الله بن سلام : كذب كعب)). ثم ذكره إلى آخره.

ثم قال : ((كذب أبو محمد)).

ثم روى بإسناده عن ابن محيريز : ((أن رجلا من بني كنانة لقي رجلا من الأنصار يقال له أبو محمد, فسأله عن الوتر, فقال : إنه واجب. فقال الكناني : فلقيت عبادة بن الصامت فذكرت ذلك له, فقال : كذب أبو محمد)).

ثم قال : ((أنس بن مالك)).

ثم روى بإسناده إلى عاصم, قال : سألت أنس بن مالك عن القنوت, قلت : قبل الركوع أو بعده؟ قال : قبله. قال فإن فلانا أخبرني عنك أنك قلت : بعد الركوع. قال : كذب, إنما قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد الركوع شهرا. فذكره.

ثم قال : ((ومن التابعين ممن تكلم فيهم : سعيد بن المسيب)). اهـ المحجة البيضاء في حماية السنة الغراء (ص 78-79).

Sikap Ibnu Adi :

Berkata Ibnu Adi rohimahulloh : “Penyebutan orang yang membolehkan memvonis pendusta kepada seorang yang jelas-jelas berdusta, dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka sampai hari kita ini, secara satu persatu.” Kemudian beliau berkata : “Dari kalangan para sahabat yaitu : Umar bin Khotthob, Ali bin Abi Tholib, Abdulloh bin Abbas.”

Kemudian dia meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Sa’id bin Jubair, beliau berkata : aku berkata kepada Ibnu Abbas : sesungguhnya Nauf Al Bakali menyangka bahwa Musa yang bersama bani Isroil itu bukan [Musa] yang bersama Khidir. Lantas beliau berkata : telah berdusta musuh Alloh.

Dan beliau menyebutkan perkataan Basyir bin Ka’ab : “Kami dahulu menghafal hadist, sedangkan hadist itu dihafal dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sampai apabila kalian menempuh kesulitan dan letih maka sangat jauh sekali (sulit menghafal).”

Kemudian beliau berkata : Abdulloh bin Salam.

Dan beliau memaparkan sebuah sanad sampai kepada Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, bahwa dia berkata : aku mendatangi gunung Thur, kemudian aku mendapati Ka’ab Al Ahbar……. -lalu disebutkan kisah panjang-…… kemudian aku berjumpa dengan Abdulloh bin Salam, lalu aku paparkan kepadanya bahwa aku berkata kepada Ka’ab : bersabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam : “sesungguhnya di dalam hari Jum’at terdapat waktu yang tidaklah seorang mukmin menempuhnya sedangkan ia dalam keadaan sholat seraya meminta sesuatu kepada Alloh kecuali Dia akan memberinya”, kemudian dia (Ka’ab) berkata : itu merupakan hari dalam setiap tahun. Lantas Abdulloh bin Salam berkata : telah berdusta Ka’ab….(lalu beliau menyebutkan sampai akhir kisah).

Kemudian beliau berkata : ‘Abu Muhammad telah berdusta’.

Kemudian dia meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Muhairiiz : bahwa seorang laki-laki dari bani Kinanah berjumpa dengan seorang laki-laki dari Anshor yang biasa dipanggil Abu Muhammad, lantas bertanya tentang witir, lalu dia (Abu Muhammad) menjawab : [sholat] witir itu wajib. Lalu berkata seorang dari bani Kananah tersebut : lalu aku berjumpa Ubadah bin Shomit, lalu aku menyebutkan hal itu kepada beliau, lantas beliau berkata : Abu Muhammad telah berdusta.

Kemudian beliau berkata : Anas bin Malik

Kemudian beliau meriwayatkan dengan sanadnya kepada ‘Ashim, dia berkata : aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang qunut : sebelum rukuk atau setelah rukuk?, dia menjawab : sebelum rukuk. Dia [melanjutkan perkataannya] : karena ada fulan yang memberitankan kepadaku tentang engkau bahwa engkau pernah berkata : setelah rukuk. Lalu dia berkata : dia telah berdusta, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah qunut setelah rukuk selama satu bulan saja. Lalu dia menyebutkannya.

Kemudian dia berkata : dan dari kalangan para tabi’in yang termasuk berbicara tentang mereka adalah Sa’id bin Musayyib. –Selesai diambil dari kitab Al Mahajjah Al Baidho’ fii Himayatis Sunnah Al Gharo’ halaman 78-79–

Oleh karena itu prasangka yang tidak berdasarkan bukti dinamakan dusta, karena tidak sesuai dengan kenyataan

Berkata Al Imam Al Bukhory :

5717 – حدثنا بشر بن محمد: أخبرنا عبد الله: أخبرنا معمر، عن همَّام بن منبه، عن أبي هريرة،

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إياكم والظن، فإن الظن أكذب الحديث، ولا تحسسوا، ولا تجسسوا، ولا تحاسدوا، ولا تدابروا، ولا تباغضوا، وكونوا عباد الله إخواناً).

Telah bercerita kepada kami Basyr bin Muhammad : telah memberitakan kepada kami Abdulloh : telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Hati-hatilah kalian dari prasangka, karena prasangka merupakan pernyataan yang paling dusta, dan janganlah kalian saling menyelidiki, janganlah kalian saling memata-matai, janganlah saling dengki mendengki, janganlah saling bermusuhan dan janganlah kalian saling membenci, jadilah kalian hamba Alloh saling bersaudara.”

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar :

قوله فإن الظن أكذب الحديث قد استشكلت تسمية الظن حديثا وأجيب بأن المراد عدم مطابقة الواقع سواء كان قولا أو فعلا

Perkataan “karena prasangka merupakan pernyataan yang paling dusta”, dianggap janggal prasangka dinamakan pernyataan, namun bisa dijawab [dengan jawaban] bahwa yang dimaksudkan adalah ketidaksesuaian dengan kenyataan baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Dan Alloh berfirman :

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا [٤:٨٧]

Artinya : Tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Dia (Alloh), sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kalian di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah? (QS. An Nisa’ : 87)

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا [٤:١٢٢]

Artinya : Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah? (QS. An NIsa’ : 122)

Berkata Al Imam Ibnu Katsir :

أي: لا أحد أصدق منه قولا وخبرًا، لا إله إلا هو، ولا رب سواه. وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول في خطبته: “إن أصدق الحديث كلام الله، وخير الهَدْي هَدْي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور مُحْدَثاتها، وكل مُحْدَثة بدعة وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار”.

Maksudnya : tidak ada seorangpun yang lebih jujur secara perkataan maupun pemberitaan dari padaNya, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali hanya dia saja, dan tidak ada Robb (pencipta, pengatur, pemberi rizki) selain Dia. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berkata dalam khutbahnya : “Sesungguhnya paling jujurnya pernyataan adalah perkataan Alloh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sejelek-jelek perkara adalah perkara baru yang diada-adakan, setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka”.

Ada Dua Jenis Dusta Yakni Dusta Dalam Perkataan Dan Dusta Dalam Perbuatan

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ [١٦:١٠٥]

Artinya : “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.”(QS. An Nahl : 105)

Allah ta’ala berfirman :

وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ [٢٢:٣٠]

Artinya : “Dan jauhilah oleh kalian ucapan dusta.” (QS. Al-Hajj : 30)

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ [٣٩:٣]

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar : 3)

Allah ta’ala berfirman :

سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَّنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ [٥٤:٢٦]

Artinya : “Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.” (QS. Al Qomar : 26)

Allah ta’ala berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [١٧:٣٦]

Artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungghuhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. Al-Isro’ : 36)

Allah ta’ala berfirman :

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ [٥٠:١٨]

Artinya : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf : 18)

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ [٤٩:٦]

Artinya : “Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujarat : 6)

Kedustaan itu akan menggiring pelakunya kepada kefajiran, sebagaimana di dalam Ash-Shahihain dari hadits Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Artinya : “Berlaku jujurlah kalian, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing menuju surga. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka dia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Waspadalah kalian dari kedustaan, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke dalam neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka dia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 89 dan Muslim no. 58)

عن بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ (الترمذي وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ(

Artinya : Dari Bahz bin Hakim, bahwa bapaknya telah bercerita kepadanya dari kakeknya, ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara dengan satu pembicaraan agar menjadikan tertawanya kaum, maka ia berdusta, celakalah baginya, celakalah baginya.” (HR At-Tirmidzi, hadits hasan).

عن أبي محمد الحسن بن علي بن أبي طالب سبط رسول الله صلى الله عليه وسلم وريحانته رضي الله عنهما قال حفظت من رسول الله صلى الله عليه وسلم ” دع ما يريبك إلى ما لا يريبك ” )رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib sibthi (cucu laki-laki dari anak perempuan) dan kesayangan beliau rahdiyallahu ‘anhuma, berkata : “Aku hafal dari Rasulullah : Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu”. (HR. At-Tirmidzi dan berkata Tirmidzi : hadits hasan shohih) Hadits ini juga ada di Arbain Nawawi no. 11.

Abdullah bin Umar berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda :

وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

Artinya : “Barang siapa yang mengucapkan pada seorang mukmin suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, Allah ta’ala akan menetapkannya di kerak penduduk neraka sampai dia keluar apa-apa yang dia ucapkan (terhadap saudaranya).” (HR. Abu Dawud 3592 dishohihkan oleh Syaikh Muqbil di Shohih Al-Musnad no. 755).

Abdullah bin ‘Amr berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah datang ke rumah kami, waktu itu aku masih kecil, akupun keluar untuk bermain. Ibuku kemudian memanggil “Wahai Abdullah, kemarilah, nanti akan ibu beri sesuatu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa yang akan kamu berikan?” Dia menjawab, “Saya akan memberikan korma.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Seandainya engkau tidak melakukan (apa yang engkau katakan) berarti telah dicatat atasmu satu kedustaan.”” (HR. Abu Dawud : 4991)

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa berbohong/berdusta merupakan dosa besar yang akan diminta pertanggungjawaban.

Bahkan dusta merupakan ‘aib pada masa jahiliyah, bahkan sampai Abu Sufyan berbicara jujur tentang perkara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di depan penguasa Ruum (Heraklius), tatkala ditanya tentang berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam Shahih Al Bukhori (Bab 6 no. 7): “Kemudian berkata penguasa Ruum kepada penterjemahnya, “Katakan pada mereka sesungguhnya aku bertanya kepada orang ini ( Abu Sufyan) jika dia berdusta kepadaku kalian dustakanlah dia.” (Berkata Abu Sufyan), “Maka demi Allah kalau seandainya tidak karena malu mereka mendustakanku sungguh aku berdusta kepada dia (penguasa Ruum).””

Berkata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari jilid I Hal. 48, “Dan bahwasanya mereka (orang jahiliyah) dulu menganggap buruk kebohongan baik perkara tersebut diambil dari syari’at yang lalu ataupun dari kebiasaan. Dan ucapan (يأثروا) bukan (يكذبوا) dalil sesungguhnya Abu Sufyan tsiqoh (terpercaya) dikalangan mereka (jahiliyah), tidak mempunyai sifat bohong. Seandainya Abu Sufyan Shokhor bin Harb berbohong, tentulah dia sudah berbuat karena memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi dia meninggalkan bohong tersebut karena malu nanti akan diperbincangkan manusia sebagai pembohong.”

Berkata Imam Nawawi di dalam Syarah Muslim, “Ini penjelasan bahwasanya kebohongan adalah keburukan pada masa jahiliyah dan sebagaimana keburukan di dalam Islam.”

Berkata Ibrohim At Taimy rohimahulloh : “Tidaklah aku dihadapkan perkataanku pada perbuatanku kecuali aku takut akan didustakan (dianggap sebagai pendusta).”

Berkata Imam Dzahabi di Mizanil I’tidal dalam Miqdari ar- Rijaal 1/113, “Demikian juga saya tidak menyebutkan dalam kitabku ini, dari kalangan imam-imam seorangpun yang dipanuti dalam masalah-masalah cabang karena kemuliaam mereka dalam islam, dan besarnya mereka di hati-hati, seperti Abu Hanifah, Asy Syafi’i, dan Al Bukhori. Kalaulah saya menyebutkan salah seorang dari mereka, maka saya akan menyebutkannya dengan adil, dan itu tidak akan membahayakannya di sisi ALLAH dan tidak juga di sisi manusia. Yang akan membahayakan seseorang hanyalah kedustaan dan terus-menerus dalam banyak kesalahan, melakukan pengkaburan, dan kebatilan karena itu merupakan sebuah pengkhianatan dan kriminalitas. Seorang muslim cocok terhadap segala sesuatu kecuali khianat dan dusta.”

Faktor-Faktor Pendorong Berbuat Bohong/Dusta

Motif yang mendorong orang-orang yang memiliki jiwa nista ini untuk suka melakukan kebohongan cukup banyak, diantaranya :

  1. Sedikitnya rasa takut kepada Allah ta’ala dan tidak adanya perasaan bahwa Allah ta’ala selalu mengawasi setiap gerak-geriknya, besar maupun kecil,
  2. Upaya mengkaburkan fakta baik untuk mendatangkan keuntungan duniawi, menyombongkan diri dan merendahkan orang lain,
  3. Mencari perhatian manusia dengan membawa cerita-cerita palsu,
  4. Tidak ada rasa tanggungjawab dan berusaha lari dari kenyataan baik dalam kondisi sulit ataupun kondisi lainnya,
  5. Terbiasa bohong sejak kecil,
  6. Merasa bangga dengan berbohong, dia beranggapan bahwa kebohongan itu menunjukkan kefasihan dan tingginya daya nalar.

Terapi Dan Obat Penyakit Bohong/Dusta

  • 1. Pemahaman si pelaku tentang keharoman perbuatan bohong dan begitu dahsyatnya siksa yang akan diperoleh. Dan itu selalu diingat ketika berbicara ataupun berkumpul dengan orang lain,
  • 2. Intropeksi diri dan berhati-hati terhadap apa yang dibicarakan,
  • 3. Menyadari bahwa berbohong adalah salah satu tanda-tanda kemunafikan,
  • 4. Menjaga mulut agar jujur dalam perkataan baik kecil maupun besar bahkan dalam masalah sepele sekalipun,
  • 5. Mendidik anak untuk terbiasa jujur sejak kecil,
  • 6. Bersuri tauladan dengan akhlak salaf yang senantiasa jujur,
  • 7. hendaknya orang yang gemar berbohong menyadari bahwa kepercayaan orang lain padanya akan hilang karena menyaksikan atau mengetahui kebohongannya,
  • 8. Menyadari bahwa kebohongan adalah jalan yang mengantarkan kepada kejahatan, sementara kejujuran mengantarkan pelakunya ke surga.

Orang – Orang Yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya

Abdurrahman bin Mahdi rohimahulloh berkata, “Ada tiga golongan yang tidak boleh diambil ilmunya yakni :

  • 1. Seseorang yang tertuduh dengan kedustaan/kebohongan,
  • 2. Ahlul bid’ah yang mengajak manusia kepada kebid’ahannya,
  • 3. Seseorang yang dirinya didominasi oleh keragu-raguan dan kesalahan-kesalahan.”

Al-Imam Malik rohimahulloh berkata, “Tidak boleh seseorang mengambil ilmu dari 4 jenis manusia dan boleh mengambil dari selain mereka yaitu :

  • 1. Ilmu tidak diambil dari orang-orang bodoh,
  • 2. Tidak diambil dari pengekor hawa nafsu yang menyeru manusia kepada hawa nafsunya,
  • 3. Tidak pula dari seorang pendusta/pembohong yang biasa berdusta/berbohong dalam pembicaraan-pembicaraan manusia meskipun tidak tertuduh berdusta pada hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • 4. Tidak pula dari seorang Syaikh yang memiliki keutamaan, kesholehan serta ahli ibadah tetapi dia tidak lagi mengetahui apa yang tengah dibicarakan (An-Nubaz fi adabi tholabil ‘ilmy).”
  • آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
  • “Tanda-tanda munafiq ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat”. (HR. Al Bukhori : 33 dan Muslim : 106).
  • Dalam suatu riwayat :
  • أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
  • “Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika bertengkar dia berbuat fajir”. (HR. Al Bukhori : 34)

 

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: