“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

MENIKAH KARENA BERZINA 

Pertanyaan:

Dua orang berzina sampai wanitanya hamil, kemudian dinikahkan, kenapa waktu hamil tersebut tidak boleh dinikahkan?


Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين، أما بعد

Dalam syari’at Islam telah ditetapkan bahwa orang yang berzina bila masih bujang maka dihukum dengan dicambuk seratus kali cambukan kemudian diasingkan (dipisahkan dengan lawan zinanya) selama setahun, adapun kalau yang berzina tersebut sudah menikah maka hukumannya dicambuk kemudian dirajam sampai mati, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْىُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ ».

“Bujang (berniza) dengan bujang maka dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun, orang yang sudah menikah berzina dengan (orang lain) yang sudah menikah maka dicambuk seratus kali dan dirajam”. (HR. Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘Anhu).

Dua orang bujang yang berzina tersebut tidak boleh langsung dinikahkan akan tetapi dihukum terlebih dahulu dengan dicambuk seratus kali kemudian diasingkan selama setahun, kalau ternyata wanita tersebut sudah hamil maka tetap tidak boleh untuk dinikahi kecuali wanita tersebut sudah membebaskan (melahirkan) bayi yang ada di dalam kandungannya, dan ini umum larangannya baik itu menikahi wanita hamil karena berzina atau hamil karena pernikahan namun kemudian suaminya meninggal, dari Ruwaifi’ bin

Tsabit Al-Anshary Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«لاَ يَحِلُّ لاِمْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ يَسْقِىَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ ». يَعْنِى إِتْيَانَ الْحَبَالَى « وَلاَ يَحِلُّ لاِمْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ يَقَعَ عَلَى امْرَأَةٍ مِنَ السَّبْىِ حَتَّى يَسْتَبْرِئَهَا وَلاَ يَحِلُّ لاِمْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ يَبِيعَ مَغْنَمًا حَتَّى يُقْسَمَ».

“Tidak halal bagi seorang pria yang beriman kepada Allah dan hari akhir menuangkan air maninya di kebun (rohim) –yakni menggauli (menikahi) wanita yang hamil-, dan tidak halal bagi seorang pria yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menggauli wanita sebaya (yang hamil) sampai dia membebaskan (melahirkan) bayinya”. (HR. Al- Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Jika sudah melahirkan maka boleh untuk dinikahkan dengan yang menzinainya tersebut. Namun bila wanita tersebut setelah melahirkan bayinya kemudian tidak mau menikah dengan yang menzinainya maka boleh baginya untuk tidak menikah dengan yang menzinahinya, dan kalau dia ingin menikah dengan yang lain (bukan yang berzina dengannya) maka syaratnya dia harus benar-benar bertaubat dari perbuatanya (berzina), Allah Ta’ala berkata:

﴿الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾ [النور/3]

“Laki-laki yang berzina tidak dinikahi melainkan wanita yang berzina, atau wanita yang musyrik; dan wanita yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang beriman”. (An-Nuur: 3).

Pertanyaan:

Bagaimana dengan orang yang berzina di negara kita (Indonesia) tidak diterapkan hukum Islam, apakah boleh langsung dinikahkan ataukah diberi pelajaran (dipukul-pukul) dulu sebagaimana yang dilakukan oleh LJ (laskar jihad) dulu, atau yang mereka istilahkan dengan disekolahkan?

Jawaban: 

Perkara perzinaan di negara kita adalah urusannya penguasa, mereka yang berhak menghukum siapa saja yang berzina, namun wali atau orang tua yang berzina memiliki peran, dia berhak untuk mengambil bagian baik dengan cara menta’dib atau yang semisalnya, dan ini khusus anaknya adapun lawan (orang yang berzina dengan anaknya) maka dia tidak berhak memberi hukum atau menta’dib akan tetapi dari pihak orang yang berzina dengan anaknya itulah yang lebih berhak menta’dib, jika kedua bela pihak bersepakat untuk menghukum dengan cambuk seratus kali kemudian diasingkan selama setahun maka ini bagus dalam artian boleh ditegakan hukum atas kedua anak mereka, dan hal seperti ini perlu untuk melihat keadaan apakah tidak menimbulkan madharat, misalnya mereka bersepakat menegakan hukum cambuk kepada kedua anak mereka yang berzina namun ternyata masyarakat atau ada yang masih memiliki hubungan dengan laki-laki yang berzina tersebut tidak meridhai hukum tersebut, yang pada akhirnya mereka membujuk laki-laki yang dihukum tersebut untuk dendam atau menanam kebencian yang pada akhirnya terjadi keributan dan berujung pada kekacauan serta pertikaian (pertumpahan darah) maka seperti ini hendaklah tidak ditegakan hukum atas keduanya, dan permasalahan seperti ini diserahkan sepenuhnya kepada penguasa karena mereka yang memiliki kekuasaan dan kekuatan, siapa yang dendam atau menanam kebencian maka dia berhadapan dengan penguasa.

Cukuplah sebagai pelajaran yang pernah dilakukan oleh para gerombolan LJ (laskar jihad), karena mereka sudah merasa memiliki negara di dalam negara, merasa berkuasa di dalam kekuasaan, mereka pun dengan serampangan menerapkan hukum buatan mereka yang dinisbatkan kepada hukum Islam –dan Islam berlepas diri dari penisbatan mereka-, mereka merajam dan yang dirajam pun tidak jelas statusnya berzina atau tidak? Yang berzina dijungkir balikkan, disuruh tiarap dan berguling-guling di jalan atau di terik-terik panasnya matahari dan kejahatan lainnya, yang jelas bertolak belakang dengan hukum Islam yang suci. Maka tidak heran dengan sebab kejahatan mereka tersebut setelah itu mereka dibenci dan dimusuhi oleh masyarakat.

Dari penjelasan singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengendalian hukum bersama penguasa atau dipegang penuh oleh pemerintah negara, maka hendaknya seseorang bila mendapati saudaranya berzina dengan orang lain maka dia menahan (memisahkan) saudaranya dengan yang berzina tersebut selama setahun, setelah itu baru kemudian mereka bermusyawarah apakah mau dinikahkan atau tidak?.

Pertanyaan:

Jika wanita yang berzina hamil kemudian ditahan (dipisahkan) selama setahun, setelah itu melahirkan maka bagaimana status anak yang dia lahirkan? Dan kepada siapa dinisbatkan anak tersebut?.

Jawaban:

Status anak tersebut adalah sebagai anak yang diperoleh dengan caraperzinaan maka dia dinamakan sebagai anak zina, dan dia tidak teranggap sebagai anak dari laki-laki yang menzinai wanita tersebut, walaupun secara biologisnya bahwa ketika proses zina hanya laki-laki tersebut yang menzinai namun secara syari’at anak yang dilahirkan tersebut tidak teranggap sebagai anak dari laki-laki tersebut, walaupun ketika lahir mukanya sama dengan muka laki-laki tersebut tetap dia tidak boleh dikatakan sebagai anak laki-laki tersebut, akan  tetapi anak tersebut dinisbatkan kepada ibunya, misalnya namanya Yusa’maka dinisbatkan kepada ibunya (misalnya ibunya bernama Mariah) maka namanya Yusa’ bin Mariyah, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary Rahimahullah di dalam “Shahihnya”, beliau berkata: “Telah menceritakan kepada kami Adam, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad, beliau berkata: Aku mendengar Abu Huroirah: Berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

«الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ».

“Anak yang lahir untuk pemilik kasur (wanita yang melahirkannya) dan orang yang berzina tidak berhak pada anak hasil pezinahannya”. Wallahu A’lam wa Ahkam.

Dijawab oleh Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory di Darul Hadits
As-Salafiyyah Dammaj pada hari Jum’at 15 Rabiul Tsany 1433 Hijriyyah.

Iklan

Comments on: "Hukum Menikah Karena Telah Berzina" (1)

  1. Abu abdillah said:

    Telah terjadi wanita hamil 2bulan, karena kondisi waktu itu menuntut adanya penyelematan masing2 dua keluarga besar dan untuk menutup aib jadi buru2 dinikahkan. qodarullah. Berdasarkan artikel diatas berarti pernikahan ini tidak sah. lantas apa yang harus dilakukan bercerai? menikah ulang ? pernikahan saya dan istri sudah berjalan lama dan dikaruniai seorang putri dan putra. apa saya dan istri harus dirajam karena masa lalu? atau masalah ini saya bawa sampai kubur berdua. dan alhamdulillah sy dan istri sudah sedikit sekali mengenal manhaj salafy, dan kami berdua bertobat pada Allah, mengakui kesalahan kami dan semoga Allah mengampuni dosa kami berdua,amin. oya klo sedang diskusi berdua lantas pada rajam kami berdua pasti sedih dan takut sekali. ya begitulah yang harus diketahui. semoga bisa membersikan.
    _seorang yang mengharapkan ampunan robb nya_

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: