“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

NASEHAT UNTUK  MUTA’ASHIB DZULQORNAIN DARI SOROWAKO

pearl-divider

Oleh: Abu ‘Ubaid Fadhl bin Muhammad Al-Bugisy (Hafidzahullah)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين ولا عدوان إلا على الظالمين و الصلاة و السىلام على سيد المرسلين بعثه الله بشيرا ونذيرا و رحمة للعالمين ,أما بعد :

Sungguh saya telah melihat tanggapan Al-Akh yang mulia –semoga Alloh menjaganya dari segala keburukan- terhadap tulisan yang disampaikan kepada-nya (membantah alasan basi memakai dasi) yangmana tanggapan itu muncul dari hati nuraninya yang perhatian dan mengharap kebaikan. Semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan . akan tetapi tidak setiap niatan baik bisa membuahkan kebaikan juga !! ‘Abdulloh bin Mas’ud –rodhiyallohu ‘anhu- berkata :

كم من مريد للخير لا يبلغه

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidaklah mendapatkannya.”

Banyak orang yang ingin kebaikan akan tetapi karena cara yang salah atau tidak mengetahuinya maka iapun terjerumus dalam kekeliruan yang ia menyangka hal itu adalah kebaikan , -semoga Alloh memberikan kepada kita hidayahnya yaitu hidayah petunjuk dan juga pengamalan.-

Maka ketika saya membaca komentar itu saya mendapatkan beberapa hal yang perlu diluruskan[1] ,

diantaranya :

PERTAMA

Al-Akh berkata : Yang masalah adalah kita menganggap para ulama kita, asatidz kita adalah para malaikat. Mereka tidak bisa salah dan tidak boleh jatuh dalam kesalahan .

Ketika mereka buat salah – plak! – mereka bukan lagi ulama bukan lagi asatidz. Ketika mereka punya pendapat yang kita anggap ganjil – brak – mereka pantas dihina dan disematkan kata2 kotor di depan nama mereka. Sebegitu dangkalkah pemikiran seorang muslim?

Pada hakikatnya hal ini adalah suatu tuduhan yang dilemparkan , yaitu adanya taqdiis atau anggapan bahwa ulama atau asatidz seperti malaikat.

Sebagai bukti Al-Akh berkata : Sebegitu dangkalkah pemikiran seorang muslim?

Dan Alhamdulillah lemparan ini sepertinya salah sasaran , dalam tulisan itu disebutkan beberapa ulama’ bahkan para sahabat, sebagaimana yang dikatakan Al-Akh mereka bukanlah malaikat, tentu punya kesalahan[2] , akan tetapi kedudukan mereka tetap sebagai ulama’ dari dahulu sampai sekarang.

Sebegitu dangkalkah pemikiran seorang muslim?

KEDUA

Al-Akh berkata : Kita bahkan sulit sekali berlapang dada atas kesalahan yang diperbuat seorang muslim. Ketika saudara kita bersalah, kita langsung hajr.

Sudahkah kita pertimbangkan bahwa kesalahan itu bisa saja diperbaiki
dan bisa saja dimaafkan?

Dosa/kesalahan seseorang terbagi menjadi tiga :

  1. Dosa dalam Hak Alloh Azza wa Jalla
  2. Dosa kepada dirinya sendiri
  3. Dosa kepada hamba-hamba Alloh Azza wa Jalla

Adapun kalaulah dosa itu berkaitan dengan kita(orang lain) maka ungkapan Al-Akh memiliki suatu nilai , mengapa tidak Alloh berfirman dalam Al-Qur an :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ  الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(Ali ‘Imron 133-134)

Nabi bersabda :

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta sedikitpun , dan Alloh tidaklah menambahkan seorang hamba dengan memaafkan kecuali kemulian , dan tidaklah seseorang tawadhu’ karena Alloh kecuali Alloh mengangkat(derajat)nya(HR Muslim dari Abu Hurairoh –rodhiyallohu ‘anhu-)

Adapun berkaitan dengan agama Alloh maka tentu kita seorang yang dilapangkan hatinya dengan islam memiliki suatu mauqif yang sesuai dengan agama yang mulia ini.

Hajr meng hajr adalah suatu amalan yang dianggap keras lagi kasar dalam hal ini, padahal itu adalah suatu syariat yang dijalankan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan memerintahkan para sahabatnya untuk melakukannya.

Maka ucapan Al-Akh :

Ketika saudara kita bersalah, kita langsung hajr.

Begitu sempitkah dada seorang muslim? Bukankah dada itu sudah diringankan dan diluaskan dengan hidayah?

Bahkan ada orang yang tidak punya hubungan apa2, hanya karena temannya menghajr dia ikut menghajr.

Apakah kita merasa bahwa silaturrahmi dan ukhuwah yang sudah dibangun bertahun2 itu pantas diruntuhkan?

Sudah matangkah pertimbangan kita sehingga hadits2 tentang ukhuwah ini kita anggap kecil dan begitu mudah kita langgar? Kita pintar mencari2 alasan……..

Hendaknya dipertimbangkan kembali , mengapa ?! dalam hadits yang Muttafaqun ‘Alaihi kisah Ka’ab bin Malik –rodhiyallohu ‘anhu- adalah suatu jawaban yang matang untuk pertanyaan –pertanyaan yang dilumuri dengan perasaan diatas.

Dalam hadits tersebut Nabi dan para sahabatnya menghajr 3 dari kalangan sahabatnya yang mulia , disebabkan suatu kesalahan yaitu tidak melaksanakan kewajiban mereka berupa jihad bersama Nabi-shollallohu ‘alaihi wa sallam .

Dan tentu dada Rosululloh dan para sahabatnya lebih lapang dibandingkan sempitnya dada kita termasuk Al-Akh untuk menreima salah satu amalan syar’I ini !

3 orang yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah orang yang dihajr oleh seluruh kaum muslimin saat itu, bahkan isteri-isteri mereka nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam-perintahkan untuk menjauhi mereka , sampai-sampai Ka’ab –rodhiyallohu ‘anhu- berkata : bumi(kampung halamannya sendiri) terasa asing baginya , sebab tiada yang berdialog kepadanya

Ukhuwwah dan silahturahmi tersebut , Nabi dan para sahabatnya lah yang paling awal melaksanakannya dan bergegas dalam menjalankannya , bersamaan itu -Al-Akh bisa melihat- , Abu Qotadah sepupuh beliau sendiri dan orang yang paling beliau cintai bersamaan itu tidak menjawab salam dan tidak pula berbicara kepada beliau dan segenap kerabat beliau dari orang-orang Madinah juga begitu. Padahal ukhuwwah iman dan nasab telah bertahun-tahun dibangun.

Bukankah pertimbangan Nabi adalah suatu pertimbangan yang sangat matang , yang tidak pantas untuk kita mencari keputusan setelah ada keputusan beliau , demikian juga dalam hal ini , tentu Al-Akh tahu ayat berikiut ini ;

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.(Al-Ahzaab 36)

sanggupkah atau patutkah seorang yang beriman mengatakan ucapan diatas dan diarahkan kepada Nabi atau para sahbatnya ? melanggarkah mereka terhadap perintah Alloh tentang ukhuwwah dan silahturahmi ? saudaraku yang mulia-semoga Alloh mengkokohkanmu diatas kebenaran-

 berikut beberapa contoh dari kalangan sahabat -salaf kita yang Alloh meridhoi mereka-

Abdulloh bin ‘Umar –rodhiyallohu ‘anhuma- menhajr anaknya begitu anaknya mengatakan suatu ucapan yang bertentangan dengan sabda Nabi-shollallohu ‘alaihi wa sallam- beliau tidak berbicara sampai beliau pun meninggal dunia.

‘Abdulloh bin Mughoffal-rodhiyallohu ‘anhu- menghajr seorang dari kerabatnya  , setelah ia melarangnya untuk menembak/bermain dengan ketapel dan menyampaikan kepadanya sabda Nabi-sholallohu ‘alaihi wa sallam- kemudian ia kembali melakukannya.

Dan kedua hadits diatas Muttafaqun’alaihi.

Maka perkara hajr dalam agama Alloh adalah suatu yang syar’I , orang yang melakukan kesalahan pantas untuk mendapatkannya baik itu sahabat , saudara ataukah keluarga kita dan tentunya sesuai dengan tuntunan syariat .

KETIGA

Ucapan Al-Akh –semoga Alloh berikan petunjuknya kepadanya- : Padahal kita tahu . Mereka bukan malaikat.Mereka bisa benar bisa salah.Kita juga bukan malaikat
Penilaian kita bisa benar dan bisa salah. Dan mereka bukan Fir’aun. Yang pantas dikotori oleh tulisan2 buruk kita . Dipanggil dengan perbendaharaan kata jelek yang kita tidak mau
sematkan di samping nama kita.

Tentu ucapan ini benar bahwa kita adalah manusia biasa seperti mereka , akan tetapi kita juga paham dan tahu  bahwa Alloh telah menurunkan Al-Qur an dan As-sunnah yang menjelaskan yang benar dan yang salah, dan segala sesuatu tentunya harus kita cocokkan dengan Al-Qur an dan Sunnah , kapan hal itu tidak sesuai maka kita katakan bahwa hal itu adalah salah , tidak dikembalikan kepada pendapat kita atau perasaan kita ,

Bukankah Alloh berfirman;

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(An-Nisaa’ 59)

berkata Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm dalam Al-Ihkam :

dan perintah-Nya(Alloh) ta’ala untuk mengembalikan suatu perkara saat berlainan pendapat kepada Al-Qur an dan As-Sunnah adalah suatu penjelasan yang jelas bahwa ucapan/pendapat yang dipersaksikan oleh An-Nash itulah dari sisi Alloh ta’ala dan yang selainnya adalah kebathilan bukan dari-nya.

 Maka dari perkara yang wajib adalah menyebutkan serta menjelaskan kesalahan tersebut ,

Syaikhul-Islam berkata :

إذَا أَظْهَرَ الرَّجُلُ الْمُنْكَرَاتِ وَجَبَ الْإِنْكَارُ عَلَيْهِ عَلَانِيَةً وَلَمْ يَبْقَ لَهُ غَيْبَةٌ وَوَجَبَ أَنْ يُعَاقَبَ عَلَانِيَةً بِمَا يُرْدِعُهُ عَنْ ذَلِكَ مِنْ هَجْرٍ وَغَيْرِهِ

Apabila seseorang menampakkan kemungkaran , wajib mengingkarinya terang-terangan dan tiada ghibah baginya , dan wajib untuk diberikan ganjaran terang-terangan dengan ganjaran yang bisa menghentikannya dari perbuatan tersebut , baik berupa hajr atau semisalnya.

Adapun dalil-dalil ingkar mungkar , saya rasa Al-Akh yang mulia juga sudah tahu ,

Maka tulisan yang disampaikan kepada Al-Akh (bantahan alasan basi) adalah suatu pengamalan apa yang telah disebutkan , namun jangan sampai ketidak senangan kita kepada seseorang ataukah kesenangan kita kepada seseorang membuat kita tidak menerima kebenaran , ini bukanlah perbuatan yang bijak .

Alloh berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al-Maidah 8)

Maka siapa yang melakukan kesalahan adalah bersalah perlu untuk diingkari sesuai dengan keadaan masing-masing yang bersalah , dan tentu orang yang dianggap atau berpengaruh harus mendapatkan  porsi yang lebih dibandingkan dengan selain mereka , dan janganlah kita menjadi para pembela kesalahan atau para pelakunya , bagaimanapun juga kesalahan tidak akan mungkin berubah menjadi benar dengan kefasihan kita dalam berbicara dan berdialog walaupun kita bisa mengkelabuhi orang lain,

Alloh berfirman :

هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَنْ يُجَادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا

Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Alloh untuk (membela) mereka pada hari kiamat? atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Alloh)?(An-Nisaa’ 109)

Dan Alhamdulillah tidak ada yang menuduh mereka yang diingkari sebagai fir’aun sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Akh , dan juga dalam tulisan tersebut juga tidak disebutkan kata-kata kotor !!

Seandainya terdapat kata-kata yang dianggap keras atau tidak pantas dalam ingkar mungkar , maka perlu kita ketahui bahwa hal ini telah ada dasarnya dalam agama , agar orang yang diberikan nasihat atau teguran bisa bertaubat dan berubah .

Al-Akh tentu tahu kisah Mu’adz bin Jabal –rodhiyallohu ‘anhu- nabi katakan kepadanya ; Apakah kamu adalah tukang buat fitnah/ulah?

Al-Akh mungkin tahu bahwa Rosululloh –shollallohu ‘alahi wa sallam- berkata kepada Abu Dzarr –rodhiyallohu ‘anhu- : sesungguhnya kamu adalah seorang yang terdapat pada dirimu kejahiliyyahan.

Al-Akh juga mungkin tahu bahwa  para ulama dari kalangan sahabat dan setelah mereka telah memberikan ucapan-ucapan yang keras sangkaan kita dalam mengingkari suatu perkara  seperti ,

‘Ali bin Abi Thalib berkata kepada ‘Abdulloh bin ‘Abbas dalam perkara Mut’ah : sesungguhnya kamu adalah seorang yang sesat.-rodiyallohu ‘anhum ajma’in-

Al-Imam Malik berkata tentang Ibnu Ishaq  “Dajjal”

Al-Imam Muqbil bin Hadi Al-wadi’I berkata tentang Yusuf Al-Qordhowy “Anjing menggonggong” , dan selain mereka dan masih banyak lagi , tiada seorangpun yang menyatakan bahwa mereka yang disebut dengan ucapan-ucapan tersebut sebagai Fir’aun , yang pantas untuk disematkan kata-kata jelek kepada mereka.

Namun ini adalah suatu metode salafush-sholeh yang mereka terapkan yang wajib untuk kita mengikuti langkah dan jejak mereka , Alloh berfirman :

فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu (para sahabat) telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk ; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam pertentangan(dengan kamu). Maka Alloh akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(Al-Baqoroh 137)

Juga berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

dan Barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.(An-Nisaa’ 115)

KEEMPAT

Al-Akh berkata: Sebagaimana kita juga bukan Fir’aun, Yang mulutnya lancang tanpa kendali
Yang kesombongannya menutupi otaknya yang bodoh . sehingga tak mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk , lebih2 tak mampu membedakan mana yang terbaik di antara yang baik dan mana yang terburuk di antara yang buruk.

Semoga apa yang disampaikan disini bisa ditimbang-timbang kembali oleh Al-Akh bukan dengan kesombongan yangmana kesombongan itu dapat menutupi otak kita  dengan kebodohan ,

Dan semoga yang disampaikan disini bisa menjelaskan antara kebenaran yang ditempuh oleh salaf dengan perasaan dan niat baik Al-Akh yang mengantarkan Al-Akh sehingga terjatuh dalam ucapan-ucapan yang tidak berdasarkan tuntunan salaf.

Dan saya wasiatkan dan anjurkan kepada Al-Akh untuk bisa tegas dalam memegang kebenaran berupa Al-Qur an dan Sunnah dan agar Al-Akh tidaklah mengikutkannya dengan perasaan-perasaan. Karena sebaik-baik perkara(terbaik di antara yang baik) adalah apa-apa yang para salaf berada diatasnya dan seburuk-buruk perkara(terburuk di antara terburuk) adalah menyelisihi perkara mereka .bukanlah dinilai karena perasaan belaka , Alloh berfirman ;

فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. (Shood 26)

Juga berfirman ;

فَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Alloh menyesatkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?(Al-Jatsiyah 23)

Alloh berfirman dan mengabarkan bahwa penghuni surga Adalah yang menahan diri mereka dari hawa nafsu dan perasaan :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)(An-Naaziaat 40-41).

Demikian juga saya nasihatkan untuk mengambil dan menjalankan agama ini secara menyeluruh , dan tidak setengah-setengah ! karena Nampak dari tutur bahasa Al-Akh yang memproritaskan ukhuwwah tanpa melihat dalil dalil yang lainnya yang mengecualikan hal tersebut Allohul Musta’an , Alloh berfirman ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(Al-Baqoroh 208)

Juga berfirman :

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Alloh tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.(Al-Baqoroh 85)

Juga saya wasiatkan agar terus menuntut ilmu dengan giat dan tidaklah berbicara kecuali dengan dasar ilmu  .

Ini apa yang saya bisa sampaikan kepada Al-Akh yang mulia semoga bermanfaat bagi kita semua didunia dan akhirat , Aamiin yaa Qoodhiyal Haajaat Mujiibad da’awaat


[1] Bukan berarti apa yang dituliskan disini adalah suatu yang rinci , akan tetapi hanya sekedar perbandingan agar Al-Akh bisa kembali menimbang-nimbang ucapannya –semoga Alloh menberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua-

[2] Tulisan ini bukan mau membahas kesalahan-kesalahan tersebut.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: