“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

بسم الله الرحمن الرحيم-

Tanggapan Terhadap Kisah Shohabiyyah Yang Tinggal Di Masjid

Ditulis Oleh: Abu Abdillah Adib Al Jakartiy Di Darul Hadits Dammaj

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
أما بعد

Telah terjadi ikhtilaf di antara ikhwah tentang masalah markiz nisai
yang dikenal di kalangan kita sebagai TN (Tarbiyyatun Nisa). Di mana
Abu Fulan dan kawan-kawannya sebagai pembela TN -sebagaimana kabar
yang sampai kepada kami- berdalil tentang bolehnya TN dengan fatwa
Syaikh Ibnu Bazz dan Syaikh Muqbil serta adanya sohabiyah yang tinggal
di masjid menjadi ahlus suffah. Dalam ikhtilaf ini hendaklah kita
ingat kepada firman Alloh:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ
إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ
وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah
kepada Alloh (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar
beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama
(bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” ([1]) (an-Nisaa:59)

Adapun fatwa Syaikh Ibnu Bazz kita tidak akan bahas dahulu karena Abu
Fulan tidak menyebutkan bagaimana konteks fatwanya dan sumbernya dari
mana, sehingga kita bisa tahu apakah fatwa tersebut mencocoki dalil
atau tidak. Karena kita sebagai ahlussunah -walhamdulillah- dididik
untuk tidak bertaklid ([2]). Dan banyak di Al Quran ayat-ayat yang
menjelaskan tentang tercelanya taklid, di antaranya:

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai
sesembahan selain Allah.”

Adapun hadits-hadits yang mencela taklid diantaranya apa yang
diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Huroiroh:

….وَيُجْلَسُ الرَّجُلُ السُّوءُ فِي قَبْرِهِ، فَزِعًا مَشْعُوفًا،
فَيُقَالُ لَهُ: فِيمَ كُنْتَ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، فَيُقَالُ لَهُ:
مَا هَذَا الرَّجُلُ؟ فَيَقُولُ: سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ قَوْلًا،
فَقُلْتُهُ…. (صححه الشيخ مقبل في الجامع الصحيح(1/65) باب ذم التقليد)

“….dan didudukkan orang yang jelek dalam kuburnya dalam kondisi
ketakutan dan gundah gulana, maka dikatakan kepadanya: dalam kondisi
apa kamu dahulu? Dia berkata: Saya tidak tahu. Kemudian dikatakan
kepadanya: Siapa orang ini? Dia berkata: Saya dengar orang-orang
mengatakan suatu perkataan maka saya ikut mengatakannya pula….

Berkata syaikh Muqbil -rahimahulloh-:

وأقول: يجب على المستفتي ألا يكون حاطب ليل؛ تقول: قد قال الشيخ فلان كذا
…..

“Dan aku katakan: Wajib bagi orang yang meminta fatwa untuk tidak
menjadi orang seperti pemungut kayu bakar di kegelapan malam
(sembarangan mengambil dan tidak tahu apa yang diambil) engkau
katakan : syaikh fulan telah berfatwa demikian…..” (“Tuhfatul Mujib”/
hal. 246).

Kemudian juga kalau kita cuma berdalil “Syaikh fulan telah
membolehkan” , “Syaikh fulan telah berfatwa boleh” dan yang
semisalnya, tentu masalah yayasan lebih utama untuk diterima  karena
masyayikh yang membolehkan (sebagaimana yang dinukil oleh hizbiyyun)
lebih banyak. Sementara Abu Hazim ashlahahullah dan teman-teman
sendiri menyatakan haromnya yayasan.

Di sini kita akan membahas yang mungkin telah dijadikan sebagai dalil
bagi orang yang membolehkan TN. Abu Hazim ashlahahullah –sebatas yang
sampai pada kami- tidak menyebutkan di kitab mana terdapat riwayat
adanya shohabiyah yang tinggal di masjid menjadi ahlus suffah. Tetapi
mungkin (sebatas pengetahuan kami), apa yang terdapat dalam Shohih
Bukhori (439) dari Aisyah dan lafadz yang bisa dijadikan pendalilan
adalah:

قَالَتْ عَائِشَةُ: «فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ – أَوْ حِفْشٌ

Berkata ‘Aisyah -radhiyaAllohu ‘anha-: “Dahulu perempuan tersebut
punya kemah atau rumah kecil yang pendek di masjid.”

Sisi pendalilannya adalah perempuan tersebut punya kemah di masjid dan
tentunya dia tinggal di dalamnya. Bagi orang yang tidak paham, tentu
ini adalah syubhat. Dengan ijin Alloh, akan kita kupas sedikit hadits
ini.

   Dalam hadits tersebut terdapat lafadz (أن وليدة) diartikan oleh Al-
Hafidz dalam Fathul Bari dengan أمة yaitu budak perempuan. Kemudian
lafadz berikutnya: (كانت سوداء) artinya perempuan hitam. Jadi
perempuan tersebut adalah seorang budak hitam.
   Dari hadits tersebut, Al-Hafidz memberikan beberapa faidah di
antaranya adalah: bolehnya tinggal di masjid bagi orang yang tidak
punya tempat tinggal dari kaum muslimin, baik itu laki-laki atau
perempuan, jika aman dari fitnah.

Dalam hadits tersebut dikatakan bahwasanya dia adalah budak perempuan
hitam, tinggal di kemah yang ada di masjid dan ini tentunya –pada
zaman itu- relatif lebih aman dari fitnah. Apakah Abu Hazim
ashlahahullah akan menyamakan para akhwat di TN-nya dengan budak
perempuan hitam?

   Perempuan tersebut adalah muhajiroh. Hal yang menunjukkan bahwa
dia muhajiroh adalah pendalilan Al-Hafidz dalam faedah-faedah yang
terkandung dalam hadits dimana dia menyebutkan faedah di antaranya
yaitu keutamaan hijroh dari negeri kafir. Pendalilan ini diambil –
wallohu a’lam- dari syair yang selalu diucapkan perempuan tersebut
ketika berkunjung ke ‘Aisyah:

أَلاَ إِنَّهُ مِنْ بَلْدَةِ الكُفْرِ أَنْجَانِي

“Sungguh Robb-ku telah menyelamatkanku dari negeri kafir.”

Dan sudah dimaklumi bersama, bahwa muhajiroh mempunyai beberapa hukum
yang tidak sama dengan perempuan yang lainnya. Di antaranya
sebagaimana yang telah kami dengar dari Syaikh kami Syaikh Yahya Al-
Hajuri bahwa Ibnu Mulaqqin menukilkan kesepakatan bolehnya seorang
muhajiroh safar tanpa mahrom. Apakah para akhwat di TN-nya Abu Hazim
ashlahahullah itu mereka itu muhajiroh?

   Sebatas pengetahuan kami, hanya perempuan tersebut yang tinggal di
masjid. Tidak ada perempuan yang lain di Madinah dan sekitarnya yang
mereka berkumpul tinggal di masjid sebagaimana laki-laki dari shohabat
yang tidak punya tempat tinggal tinggal di masjid. Wallohu a’lam.
   Sesungguhnya pemahaman yang teranggap di dalam syari’ah yang suci
ini adalah pemahaman yang berasal dari para Salaf. Tidaklah kita
dapati para Shohabiyyat ataupun Tabi’iyyat yang memahami hadits tadi
sebagaimana yang dimaukan oleh sebagian orang sekarang tentang
bolehnya para wanita bertempat tinggal tinggal di masjid demi
mendapatkan ilmu yang lebih banyak. Kenapa dulu para Shohabiyyah tidak
berduyun-duyun tinggal di masjid agar bisa mendapatkan ilmu suci dari
Nabi صلى الله عليه وسلم lebih rutin dan lebih banyak?

Cukuplah sampai di sini pembahasan kita dan kita tutup dengan
perkataan Imam Malik -rahimahulloh-:

لا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح أولها

والحمد لله

([1])Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahullohu- berkata: “Jika sikap
mengembalikan perselisihan itu kepada Alloh dan Rosul-Nya tidak
dilakukan, maka pasti hilanglah keimanan”. (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/
hal. 50).

([2]) Al Imam Asy Syaukaniy -rohimahullohu- berkata tentang definisi
taqlid:

هو قبول رأي من لا تقوم به الحجة بلا حجة. (“إرشاد الفحول”/2 /124).

“Taqlid adalah: menerima pendapat orang yang tidak tegak dengannya
hujjah, tanpa adanya hujjah”. (“Irsyadul Fuhul”/2/hal. 124).

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: