“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

       Walaupun seseorang sah menikahi wanita dengan perwalian hakim namun hendaknya dia tidak melakukan hal tersebut, karena bila dia lakukan maka dia akan terjatuh ke dalam madhorat yang besar dan melahirkan kerusakan lebih mendominasi dari perbaikan. Wallahu Ta’ala A’lam.

Hukum Hukum Seputar Pernikahan

Pertanyaan:

بسم الله الرحمن الرحيم

Apakah di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada sistem pernikahan dengan perwalian dari pihak hakim?

Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين، وبعد:

Di dalam “Shohih Al-Bukhary” dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Kami duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka datanglah kepadanya seorang wanita memasrahkan (menyerahkan) dirinya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menyukainya, maka berkata seorang dari shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam:

زَوِّجْنِيهَا يَا رَسُولَ اللهِ

“Nikahkan aku dengannya wahai Rasululloh”. Rasululloh Shallallah ‘Alaihi wa Sallam berkata:

أَعِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ

“Apakah kamu memiliki sesuatu?” Dia berkata:

مَا عِنْدِي مِنْ شَيْءٍ

“Aku tidak memiliki apa-apa”. Rosulullah berkata:

وَلاَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ

“Tidak ada walaupun cincin dari besi?”. Dia berkata:

وَلاَ خَاتَمًا مِنَ حَدِيدٍ وَلَكِنْ أَشُقُّ بُرْدَتِي هَذِهِ فَأُعْطِيهَا النِّصْفَ وَآخُذُ النِّصْفَ

“Tidak ada walaupun cincin dari besi, akan tetapi aku akan membela kain (sarungku) ini, lalu aku berikan untuknya setengahnya dan aku mengambil setengahnya”. Rasululloh berkata:

هَلْ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ شَيْءٌ

“Apakah ada padamu sesuatu dari (hafalan) Al-Qur’an?”. Dia berkata: “Iya”, Rosululloh berkata:

اذْهَبْ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ.

“Pergilah sungguh saya telah menikahkan kamu dengannya dengan (mahar) dari (hafalan) Al-Qur’anmu”. (HR. Al-Bukhory).

            Juga ada dalam suatu hadits ketika kaum muhjirin yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Tholib –Radhiyallohu ‘Anhum- hijroh ke negri Habasyah maka Raja Najasyi –Radhiyallahu ‘Anhu- menikahkan seorang Muhajiroh dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

            Maka merupakan suatu keganjilan kalau kemudian ada yang mengatakan MUNGKIN atau KEMUNGKINAN tidak ada walinya! Atau MUNGKIN orang-orang yang teranggap sebagai walinya masih kafir atau MUNGKIN….!!!!.

Adapun perwalian maka kebanyakan ulama mengkiaskannya sama dengan permasalahan perwalian pada warisan, dan urutan perwalian terhadap wanita yang mau menikah adalah: Bapak, kakek dan yang diatasnya, kemudian anak, kemudian anaknya anak (cucu) dan yang di bawahnya, kemudian saudara-saudaranya, kemudian anak-anak mereka, kemudian paman-paman kemudian anak-anak mereka. Dan urutan ini disebutkan oleh kebanyakan oleh ulama.

Jumhur ulama’ berpendapat: Bahwasanya wanita jika tidak ada padanya kerabat, baik tidak adanya dari sisi nasab atau pun dari sisi wala’ maka walinya adalah hakim (pemerintah) dan ini adalah pendapatnya Al-Imam Ahmad, Malik, Asy-Syafi’y dan dalam satu riwayat dari Abu Hanifah. 

            Maka dari pemaparan tersebut sangat jauh atau mustahil kalau kemudian dibuatkan KEMUNGKINAN bahwa wanita tersebut tidak memiliki wali sama sekali baik dari sisi nasabnya atau wala’nya sehingga boleh dinikahkan oleh sulthon (hakim) dan yang ada dalam hadits Aisyah –Radhiyallahu ‘Anha- urutan untuk jadi perwalian hakim (sulthon) bila tidak ada wali, sedangkan dalam kejadian dalam hadits tersebut sulthon (Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa sallam dan Raja Najasy –Radhiyallahu ‘Anhu- langsung menikahkan).

            Walaupun seseorang sah menikahi wanita dengan perwalian hakim namun hendaknya dia tidak melakukan hal tersebut, karena bila dia lakukan maka dia akan terjatuh ke dalam madhorat yang besar dan melahirkan kerusakan lebih mendominasi dari perbaikan. Wallahu Ta’ala A’lam.

            Dijawab oleh Abu Ahmad bin Salim Al-Limbory –Waffaqahulloh-.

Comments on: "Pernikahan Dengan Wali Hakim DiZaman Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam" (3)

  1. mem

    Suka

  2. “Walaupun seseorang sah menikahi wanita dengan perwalian hakim namun hendaknya dia tidak melakukan hal tersebut, karena bila dia lakukan maka dia akan terjatuh ke dalam madhorat yang besar dan melahirkan kerusakan lebih mendominasi dari perbaikan.”……..kalimat ini membingungkan di satu sisi dianggap sah tp disissi lain mendatangkan mudhorat……..tlong di jelaskan…karna kalimat ini mengandung kontra diksi dan tdk berssumber dari dalil untuk mengatakan dgn wali hakim mendatang mudhorat? jazakallahu khairan

    Suka

  3. bagaimana jika ayah sang perempuan menyerahkan hak walinya ke hakim (disaksikan banyak orang), karena kebiasaan di tempat itu (di desa ). namun ayah perempuan tetap berada di sebelah anak perempuanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: