“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

MINHAJUT TABI’IN

DALAM MENYELISIHI ORANG-ORANG YANG TAQLID

Inilah yang digembar-gemborkan oleh para hizbiyyin, hingga mereka namai dengan wasilah berberkah, tidak heran kalau kemudian Asykari menamainya dengan:

الجـمعـيّـات المؤسسات السلفية بركات لا حركة بلا بركة

Yang dia tulis dengan judul Indonesianya: “Mendulang Berkah dengan Membuat Yayasan Salafiyah yang Berlandaskan Tashfiyyah wat Tarbiyyah tanpa Dilumuri Fikrah Hizbiyyah dan Meninggalkan Gerakas Sirriyah“. Dan patut untuk disyukuri ucapan orang rendahan ini telah dibantah oleh Al-Imam Al-Wadi’iy, beliau rahimahullah berkata: 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا  قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا) [الكهف : 2]

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya sebuah kitab tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik”. (Al-Kahfi: 1-2).  

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutusnya dengan agama yang tetap[1] dan agama yang lurus serta Allah telah menjadikan syari’at pada suatu perkara yang Allah ta’ala memerintahkannya untuk mengikuti syari’at tersebut[2] dan Allah memerintahkan kepada rasul-Nya untuk mengatakan:

(هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي) [يوسف :108]

Ini adalah jalanku dan aku menyeru kepada Allah di atas ilmu, saya dan orang-orang yang mengikutiku” (Yusuf: 108) shalawat dan salam dan sebenar-benar keselamatan atasnya.

Kemudian dari pada itu:

Sungguh telah kokoh di dalam “Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim)” dari hadits Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

« مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِى فَقَدْ أَطَاعَنِى ، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِى فَقَدْ عَصَانِى).

“Barang siapa yang mentaatiku maka sungguh dia telah mentaati Allah dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah dan barang siapa yang mentaati pemimpinku maka sungguh dia telah mentaatiku, barang siapa yang mema’siati pemimpinku maka sungguh dia telah mema’siatiku”.

            Dan sungguh kitab Allah (Al-Qur’an) telah menunjukkan atas hadits ini sebagaimana perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ) [النساء :59] .

Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan ta’atilah Rasul serta ulil amri (umara’ dan ulama’) diantara kalian”. (An-Nisa: 59).

            Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan untuk mentaati-Nya dan mentaati rasul-Nya serta memerintahkan untuk mentaati ulil amri (yaitu ulama’ dan umara’)[3] akan tetapi ketaatan kepada ulil amri dengan syarat jika mereka tidak memerintahkan untuk berma’siat kepada Allah, jika mereka memerintahkan yang demikian itu maka tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam mema’siati Al-Khaliq (Yang Maha Pencipta). Dan sungguh Al-Musthafa (Rasulullah) ‘alaihis shalatu was sallam telah menjelaskan bahwa menta’ati ulil amri (yaitu ulama’ dan umara’) termasuk dari menta’ati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menta’ati beliau termasuk dari menta’ati Allah.

            Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan bahwa menta’ati beliau termasuk sebab seseorang masuk Jannah, dan bahwasanya memaksiati beliau termasuk sebab seseorang masuk neraka, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

(كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى) رواه البخاري.

Semua umatku akan masuk jannah (surga), kecuali orang-orang yang enggan”. Para shahabat bertanya: Ya Rasulullah siapa orang enggan itu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Barang siapa yang mentaatiku maka dia kan masuk jannah, dan barang siapa yang memaksiatiku maka sungguh dia telah enggan“. (HR. Bukhariy).

PASAL:

PENYELISIHAN RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM TERHADAP MUNCULNYA BID’AH DI DALAM ISLAM, DAN KENGERIAN BID’AH TERHADAP KAUM MUSLIMIN ITU SANGATLAH DAHSYAT MAKA DITEKANKAN SEKALI BAGI KAUM MUSLIMIN DAN BAHKAN HARUS BAGI MEREKA UNTUK MENGETAHUINYA DAN MEMPERINGATKAN DARINYA.

 

            Seperti apa yang telah diada-adakan oleh sebagian kaum muslimin dalam da’wah, mulai dari jam’iyah, muassasah (yayasan-yayasan)[4], dan ma’had-ma’had TN (Tarbiyatun Nisa’)[5] dan yang selainnya yang masuk pada perkara baru yang tidak disyari’atkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sungguh telah ada riwayat di dalam “Shahihain (Shahih Bukhariy-Muslim)” dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka dia tertolak”.

PASAL:

PERINTAH UNTUK MENYELISIHI ORANG-ORANG YANG TAQLID

 

          Allah ta’ala berkata:

 (فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ)  [النحل: 43].

Bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui“. (An-Nahl: 43).

            Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah[6] di dalam “Al-Ushul Min Ilmil Ushul“: Ahli dzikir mereka adalah ahli ilmu, dan orang-orang yang taqlid bukanlah termasuk dari ahli ilmi yang diikuti (dijadikan teladan) namun dia hanya mengikuti selainnya.

Taqlid adalah termasuk salah satu penyakit umat-umat terdahulu, Allah ta’ala berkata:

 (اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ)  [التوبة:31].

Mereka menjadikan ulama-ulama dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah, dan (begitu pula) Al-Masih Ibnu MaryamDan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya mereka beribadah kepada sesembahan yang satu saja (yakni Allah) yang tidak ada sesembahan kecuali Dia, Maha Suci Allah terhadap apa-apa yang mereka persekutukan“. (At-Taubah: 31). Allah ta’ala juga berkata:

 (وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ) [المائدة:104].

Jika dikatakan kepada mereka: Kemarilah kepada apa-apa yang telah Allah turunkan (Al-Qur’an) dan kepada Rasul-Nya (As-Sunnah)! Mereka menjawab: Cukuplah bagi kami apa-apa yang kami dapatkan dari bapak-bapak kami. Walaupun bapak-bapak mereka itu tidak memiliki ilmu sedikipun dan tidak pula bapak-bapak mereka mendapat petunjuk“. (Al-Maidah: 104).

            Dan sungguh Islam telah mencela taqlid ini begitu pula orang-orang yang taqlid, Allah ta’ala berkata:

(يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا) [الأحزاب:66، 67].

Pada suatu hari nanti (hari kiamat) akan dibulak-balik wajah-wajah mereka di dalam neraka. Maka mereka mengatakan (dengan penuh penyesalan): Seandainya dahulu (ketika di dunia) kami mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka berkata: Wahai Robb kami! Sesungguhnya kami telah membebek kepada pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, maka merekalah yang menyesatkan kami dari jalan (Mu)“. (Al-Ahzab: 66-67).

PASAL

PERINTAH UNTUK MENYELISIHI FANATISME

            Dan termasuk dari perkara yang tercela adalah ‘ashobiyyah (fanatik) terhadap teman atau mazhab walaupun di atas kebatilan[7], Allah ta’ala berkata:

 (وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ) [المائدة: 2].

Dan tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan taqwa dan janganlah tolong menolong di atas dosa dan permusuhan. dan bertaqwalah kalian kepada Allah. sesungguhnya Allah sangatlah pedih siksaan-(Nya)“. (Al-Maidah: 2).

            Allah ta’ala juga berkata:

 (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا [النساء: 135] .

Wahai orang-orang yang beriman jadilah kalian orang-orang yang benar-benar sebagai penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan para kerabatmu, meskipun ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. (An-Nisa’: 135).

            Dan telah tsabit di dalam Shahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata:  

(( مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِى يَضْربُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِى لِذِى عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَلَسْتُ مِنْه)) .

Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jama’ah maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyyah. dan barang siapa yang berperang di bawah bendera fanatime, dia marah karena fanatik atau menyeru kepada fanatik atau menolong karena fanatik kemudian dia terbunuh maka dia mati jahiliyyah, dan barang siapa yang keluar (memisahkan diri) dari umatku, dia memukul orang yang baik dan yang fajir (jahat)dan dia tidak membantu dari kemukminannya dan tidak pula memenuhi terhadap yang membuat perjanjian dengannya maka sungguh dia tidak termasuk dari kami dan kami bukan dari mereka”.

PASAL:

PERINTAH UNTUK MENYELISIHI PENGIKUT HAWA NAFSU

Allah subhana berkata:

 (وَلَقَدْ آَتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (16) وَآَتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْأَمْرِ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (17) ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ) [الجاثية:16-18].

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada bani Israil Al-Kitab, kekuasaan dan kenabiaan dan kami berikan rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan atas bangsa-bangsa (pada masanya) dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka ilmu karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. sesungguhnya Robbmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. kemudian kami jadikan kamu di atas syari’at, maka ikutlah syari’at tersebut dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang tidak berilmu“. (Al-Jaatsiyah: 15-18).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam “Al-Iqtidho’ (hal. 30): Allah subhanahu  mengkhabarkan bahwasanya Dia telah memberikan ni’mat kepada bani Isroil dengan ni’mat dien (agama) dan ni’mat dunia. dan bahwasanya mereka berselisih setelah datang kepada mereka ilmu, diantara mereka saling membenci antara satu dengan yang lainnya, kemudian setelah diutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan suatu syari’at yang Dia menyari’atkannya  dan memerintahkan untuk mengikutinya dan melarang dari mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mereka tidak memiliki ilmu. dan sungguh telah masuk pada orang-orang yang mereka tidak memiliki ilmu; setiap orang yang menyelisihi syari’atnya[8].

Dan Allah ta’ala berkata:

 (وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ) [الرعد: 37]

Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arob dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang ilmu kepadamu maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa Allah)”. (Ar-Ra’du: 37).

Dan Allah ta’ala berkata:

 (وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ) [البقرة: 120]

Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu ilmu maka Allah tidak akan menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (Al-Baqarah: 120).

            Dan Allah ta’ala berkata:

 (وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ) [البقرة :145].

Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka (Yahudi dan Nasroni) setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kalau begitu kamu termasuk golongan orang-orang yang zhalim”. (Al-Baqarah: 145)[9].

Di tulis oleh: Abu Ahmad Muhammad Khadhir Al-Mulkiy Al-Indunisiy  

di Darul Hadits Dammaj (17/12/1429 H).

بسم الله الرحمن الرحيم

منهاج التابعين في مخالفة المقلدين 

(الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا  قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا) [الكهف : 2]

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أرسله بالدين القيم والملة الحنيفية وجعله على شريعة من الأمر أمره باتباعها وأمره بأن يقول (هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي) [يوسف :108] صلى الله عليه وسلم تسليما.

وبعد, فقد ثبت في الصحيحين من حديث أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِى فَقَدْ أَطَاعَنِى ، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِى فَقَدْ عَصَانِى).

فقد دل كتاب الله على هذا الحديث قال الله سبحانه (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ) [النساء :59] .

أمر الله سبحانه بطاعته وطاعة رسوله وأمر بطاعة أولي الأمر وهم العلماء والأمراء ولكن طاعة أولي الأمر بشرط أن لا يأمروا بمعصية الله فإن أمروا بذلك فلا طاعة لمخلوق في معصية الخالق. وقد بين المصطفى عليه الصلاة والسلام أن طاعة أولي الأمر من طاعته وأن طاعته من طاعة الله.

وأخبر رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم أن طاعته سبب لدخول الجنة وأن معصيته سبب لدخول النار. فعن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم قال: (كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى) رواه البخاري.

فصل:

مخالفة الرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم بظهور البدع في الإسلام

وخطر البدع على المسلمين عظيم يتأكد عليهم وجوب معرفتها والتحذير منها.

مثل ما أحدث بعض المسلمين في الدعوة من الجمعيات والمؤسسات ومعاهد تربية النساء وغيرها من الأمور المحدثة التي لم يشرعها الله سبحانه وتعالى.

فقد جاء في الصحيحين من حديث عائشة رضي الله عنها، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد) .

فصل:

الأمر بمخالفة المقلدين

قال تعالى: (فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ)  [النحل: 43].

قال الشيخ العلامة العثيمين رحمه الله في الأصول من علم الأصول: أهل الذكر هم أهل العلم والمقلد ليس من أهل العلم المتبوعين فإنما هو تابع لغيره,  اهـ

          والتقليد هو داء الأمم السابقة قال تعالى: (اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ)  [التوبة:31].

وقال تعالى: (وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ) [المائدة:104].

وقد ذم الإسلام التقليد وأهله قال تعالى: (يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا) [الأحزاب:66، 67].

فصل:

الأمر بمخالفة العصبية

ومن الأمور المذمومة التعصب للصاحب (أوالمذهب) و إِن كان مبطلا وقال تعالى (وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ) [المائدة: 2]

وقال تعالى  (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا [النساء: 135] .

وقد ثبت في صحيح مسلم عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ (( مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِى يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِى لِذِى عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَلَسْتُ مِنْه)) .

فصل:

الأمر بمخالفة أصحاب الهوى

قال الله سبحانه: (وَلَقَدْ آَتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (16) وَآَتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْأَمْرِ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (17) ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ) [الجاثية:16-18]

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية في الاقتضاء (ص: 30):  أخبر سبحانه أنه أنعم على بني إسرائيل بنعم الدين والدنيا ، وأنهم اختلفوا بعد مجيء العلم بغيا من بعضهم على بعض ثم جعل محمدا صلى الله عليه وسلم على شريعة شرعها له، وأمره باتباعها ، ونهاه عن اتباع أهواء الذين لا يعلمون، وقد دخل في الذين لا يعلمون: كل من خالف شريعته .اهـ

وقال تعالى: (وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ) [الرعد: 37]

وقال تعالى: (وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ) [البقرة: 120] وقال تعالى: (وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ) [البقرة :145].

 

كتبه:

أبو العباس خضر الملكي الإندونيسي

بدار الحديث بدماج (17/12 / 1429هـ)


[1]  Allah ta'ala berkata:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُون [التوبة/33]
"Dialah yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar dalam rangka untuk memenangkan atas agama seluruhnya, walaupun orang-orang musyrik membenci". (At-Taubah: 33 dan Ash-Shaff: 9), dan perkataan-Nya:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا [الفتح/28]
"Dialah yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar dalam rangka untuk memenangkan atas agama seluruhnya, cukuplah Allah sebagai saksi". (Al-Fath: 28).
[2]  Allah ta'ala berkata:
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ [الجاثية/18]
"Kemudian Kami menjadikan untukmu sebuah syari'at berupa perintah, maka ikutilah syari'at tersebut dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak berilmu". (Al-Jaatsiyah: 18).
[3] ٍSebagaimana telah tsabit (shahih) dalam "Sunan At-Tirmidzi" dari hadits Irbadh bin Sariyah dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata dalam wasiatnya:
أوصيكم بتقوى الله عز وجل والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد فإنه من يعش منكم فسيري اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة, (رواه أبو داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح) <<الأربعون النووية - (ج 1 / ص 28)>>
"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah 'azza wa jalla supaya mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak, dan barang siapa yang hidup diantara kalian maka dia akan melihat perselisihan yang banyak maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyiidin yang terbimbing, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian dengan kuat dan hati-hatilah kalian dari perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap bid'ah adalah sesat". (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidziy, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih) [lihat "Syarah Al-Arba'un An-Nawawiy"; Juz 1, hal. 28].
[4]  Perkara baru yang satu ini adalah salah satu wasilah
جمعيات هذه يا إخوان هي وسيلة, وكذا الصندوق أي نعم, الطريق إلى حزبية والوسيلة إلى الحزبية
"Yayasan ini, ya ikhwan adalah wasilah (sarana), demikian pula kotak infaq, iya, ini jalan menuju hizbiyyah dan sarana menuju hizbiyyah". (Kaset pertanyaan Bani Bakr tahun 1421H, setahun sebelum beliau meninggal).
                Berkata Asy-Syaikh Kamal bin Tsabit Al-'Adaniy Al-Hamudiy hafidzahullah:
ما حصل في فتنة الجمعيات في زمن الشيخ مقبل رحمه الله, والشيخ يقول: هذه حزبية, هذه حزبية, حزبية مغللقة.
Apa yang muncul dari fitnah yayasan-yayasan pada zaman syaikh Muqbil rahimahullah, dan syaikh Muqbil mengatakan: (Yayasan) ini adalah hizbiyyah, ini adalah hizbiyyah, hizbiyyah yang terselubung".

 

[5]  Begitu pula perkara baru yang satu ini ikut mewarnai da'wah yang dikenal dengan tempat mengkader dan mendidik generasi mudi, hingga para pendiri dan pengurusnya mempertahankannya setengah mati, ketika muncul fatwa Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin yang menjelaskan bid'ah dan sesatnya metode tarbiyyah seperti itu mereka marah dan emosi, ini salah satu sebab dari sekian sebab membuat mereka marah terhadap Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin dan para murid-muridnya, Yayasan, minta-minta, kotak infaq, proposal, majalah, buletin, dan yang semisalnya difatwakan tidak boleh, berda'wah dengan jihad dianggap haraki atau lebih dari itu, dengan sempitnya bergerak mereka pun marah dan emosi, hingga kebencian terhadap Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin semakin menjadi-jadi, begitu pula kebencian dan permusuhan terhadap murid-murid Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin mereka tebarkan, seperti: Rifa'i (pengasuh TN Ngawi), Asykari (pengasuh TN Ibnu Qayyim Balik Papan) dan orang-orang yang setipe dengan mereka.
Dan perlu diketahui fatwa tentang tidak bolehnya TN ini bukan hanya fatwa dari Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin namun juga fatwa dari Al-Imam Al-Albani, hal ini sebagaimana dikumpulkan oleh putrinya yang bernama Sukainah bin Muhammad Nashirudin dengan judul: "Hukmu khuruj Al-Mar'ah lit-ta'lim" (Hukum keluarnya wanita mengajar, Dikumpulkan dari fatwa-fatwa As-Syekh Al-Imam Muhammad bin Nashiruddin Al-Albani).
[6]  Beliau juga berkata: Taqlid adalah: "Mengikuti ucapan seseorang dengan tanpa hujjah" (Syarhu Lum'atil I'tiqad, hal. 166).
[7] Berkata Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin Yahya Al-Hajuriy hafidzahullah:
من تعصب  للباطل رأسه  منكس.[ 27 ربيع الأول 1429 هـ]
"Barang siapa yang fanatik kepada kebatilan maka kepalanya terbalik". [Perkataan ini diucapkan pada tanggal 27 Rabiul Awwal 1429 H].
                Salah satu bentuk fanatik yang paling kentara adalah fanatik yang dilakukan oleh para pengekor Abdurroman Al-Adniy, dengan kental dan pekatnya fanatik tertanam dalam hati mereka sehingga tidak tanggung-tanggung dan tidak berfikir panjang langsung mereka melontarkan pelecehan, penghinaan dan caci makian terhadap kholifah Al-Imam Al-Wadi'iy, berkata Asy-Syaikh Al-Faqih Muhammad bin Hizam hafidzahullah: Wahai saudara-saudaraku -waffaqokumullôh- sesungguhnya apa yang dilakukan ‘Abdurrahmân Al-'Adanî dan orang-orang yang ta'ashub kepadanya di Dammâj adalah suatu perkara yang kami saksikan sendiri dan kami lihat dengan sebenar-benarnya, kami ketahui dengan seyakin-yakinnya, sungguh mereka telah membuat keonaran (pengacauan) dan peremehan terhadap Syaikh kami “An-Nâshihul Amîn” yang diingkari oleh setiap yang istiqômah (di atas al-haq) dan disenangi oleh orang yang sesat dan yang telah ditinggalkan.
[8]  Mengikuti hawa nafsu merupakan salah satu pemicu seseorang mudah mengeluarkan lisan kotor terhadap para ulama, baik celaan, caci makian, penghinaan dan perbuatan yang semisal itu, tidak heran pada zaman sekarang ini muncul kemudian para perusak dan penjahat yang mereka termasuk salah satu alumnus Darul Hadits Dammaj semisal Luqman Ba'abduh, Afifudin, Abu Bakar, Saifullah, dan kawan-kawannya serta para pengekornya. Syaikh Muhammad Al Imam -hafidhahulloh- berkata sebagaimana dalam "Madza Yanqimuna Min Yahya?" (hal. 6):
لايطعن في الشيخ العلا مة يحيى الحجوري إلا جاهل أوصاحب هوى. أو بمعناه..
"Tidaklah mencela Asy Syaikh Al Allamah Yahya Al Hajuri kecuali orang bodoh atau pengekor hawa nafsu".
                Dan tokoh-tokoh semisal penjahat da'wah Luqman Ba'abduh dan kawan-kawannya serta para pengekornya juga ikut andil menghalau-halau dan melarang manusia untuk tidak ke Darul Hadits Dammaj dengan berbagai alasan dan bentuk ucapan serta ikut mentahdzir darinya, maka sikap mereka telah disebutkan oleh Asy-Syaikh Robi' bin Hadiy Al-Madkholiy, berkata Abu Fidâ' As-Sudanî bahwasanya mereka bertemu dengan Syaikh Al-Muhaddits Al-'Allâmah Robi' Al-Madkholî hafidhohullohu ta'âla pada hari pertama hari raya ‘Idul Fitri yang diberkahi tahun 1429 H mereka bertanya tentang orang-orang yang mentahdzir Dammâj,
maka beliau (Asy-Syaikh Robî') berkata,
 “INI ADALAH PENGIKUT HAWA NAFSU”.
[9]  Adalah suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk meninggalkan dan menjauhi dengan sejauh-jauhnya para pengekor hawa nafsu, sampai jelas mereka bertuabat dengan sebenar-benar taubat. Allah ta'ala berkata:
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ  [الأنعام : 68]
"Dan apabila kamu melihat orang-orang yang mengolok-olok (melecehkan) ayat-ayat Kami, maka berpalinglah kamu dari mereka, sampai mereka berkata dengan perkataan yang lain". (QS. Al-An'âm: 68).

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: