“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

TahTARBIYATUN NISA’METODETANPA BERKAH Tah
Oleh:
Abu Hafsh
Muhammad Amin Al-Jawi
ghofarollohu lahu wa liwalidaihi walil muslimin
Muroja’ah:
Abu Turob dan Abu Fairuz hafidzohumalloh
Darul Hadits Dammaj
Sesungguhnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menunjukkan pada
umatnya kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan kepada setiap kejelekan diantara
fitnah dan sumber bahaya yang diperingatkan beliau kepada kita adalah wanita. Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak aku tinggalkan pada umat setelahku yang lebih berbahaya atas seorang laki-laki
kecuali dari fitnah wanita.” (Muttafaqun ‘alaih)
Semua perasaan condong kepadanya dan perbuatan harom pun terjadi karenanya.
Mengundang terjadinya pembunuhan, permusuhan pun disebabkan karenanya. Sekurangkurangnya ia sebagai insan yang disukai di dunia. Kerusakan mana yang lebih besar daripada
ini? Demikianlah Al-Imam Mubarokfuri rohimahulloh dalam menjelaskan tentang bentuk
bahaya fitnah wanita dalam At-Tuhaftu Al-Ahwadzi: 8/53). Dan begitu pula Alloh Subhanahu
wa Ta’ala telah menjelaskan hukum-hukum tentang hamba-Nya khususnya para wanita. Dan
Alloh berfirman:
“Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin,
apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Jauh sebelumnya pun Alloh Ta’ala telah mengatakan bahwa fitnah yang paling besar adalah
wanita. Bahkan ia sebagai sumber syahwat. Alloh berfirman: 
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatangbinatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah
tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imron: 14)
Tidak luput pula bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan
dari fitnahnya sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shohih Muslim dari Abu Sa’id AlKhudri, beliau bers
“Takutlah kalian akan dunia dan takutlah kalian akan wanita. Sesungguhnya awal fitnah
Bani Isroil dikarenakan oleh wanita.”
Demikianlah agama Alloh Ta’ala yang telah mengatur semua urusan manusia, membimbing
para pemeluknya kepada yang membuat mashlahat dan menjaga kepada apa yang akan
menjerumuskannya kepada kemudhorotannya. Sehingga kita tidak tertipu oleh syaithon sang
pembikin tipu daya seperti bapak dan ibu kita yang telah tertipu olehnya. Alloh berfirman:
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah
mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya
untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikutpengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.
Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orangorang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’rof: 27)TUJUAN DAN LATAR BELAKANG PENULISAN
Ketika kami masih di Indonesia, dahulunya kami berkecimpung di dalam kepengurusan
Ma’had Tarbiyatun Nisa’ yang di sana kami melihat banyaknya kebaikan. Akan tetapi bersama
waktu dan bertambahnya ilmu yang kami dapat serta pengalaman-pengalaman yang kita
temukan di lapangan, banyak kita temukan berbagai ketimpangan, maka kami menyadari
ternyata banyak terjadi penyelisihan dan adanya fitnah yang besar di dalamnya. Dan ketika
kami berada di Yaman untuk memperdalam ilmu kami, maka semakin jelaslah kerusakankerusakan yang terjadi di ma’had TN itu. Maka tulisan yang singkat ini sebagai bentuk taubat
serta realisasi amar ma’ruf nahi mungkar kami. Alloh Ta’ala berfirman:
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang
beruntung.” (QS. Ali Imron: 104)
Firman Alloh Ta’ala:
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan
(kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)
Di samping sebagai amar ma’ruf nahi mungkar, maka tulisan ini juga sebagai bentuk taubat
kami, karena taubat itu wajib dari setiap dosa dan wajib bagi yang mengetahui kejelekan
ketika ia bertaubat dan mengetahui ilmu untuk menjelaskan kejelekan tersebut.
Hadits Rosululloh shollallahu alaihi wa sallam:
“Barangsiapa dari kalian yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya.
Apabila tidak mampu, maka rubahlan dengan lisannya. Apabila tidak mampu, maka dengan
hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri)
Alloh Ta’ala berfirman: 
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa
(taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)
Alloh Ta’ala berfirman
”Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu
beruntung.” (QS. An-Nuur: 31)
Hadits Nabi:
“Sesungguhnya Alloh menerima taubatnya seorang hamba selama nyawanya belum sampai
kerongkongannya.” (HR. Tirmidzi dari Abdulloh bin Umar)
Semoga dengan tulisan ini Alloh Ta’ala mengampuni dosa-dosa kami di masa lampau dan
menjadikan amal sholih bagi kami serta memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kami dan
menjadikan kami istiqomah di atas sunnah sampai lepasnya ruh ini.
FITROH SEORANG WANITA
Dan ketahuilah bahwa Islam telah datang dengan menjelaskan kedudukan para wanita dan
begitu pula hukum-hukumnya. Begitu pula tentang hukum keluarnya wanita yang hal ini
perlu dijelaskan agar para wanita tidak bermudah-mudahan dalam hal ini dan mengetahui
serta kembali ke dalam fitrohnya. Alloh berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(An-Nisa’: 59)Dan marilah kita melihat ke masa lampau, yaitu pada tiga zaman yang mana Rosululloh telah
memberikan rekomendasi atasnya, yaitu salaful ummah. Adakah contoh dari mereka?
Sehingga tidak ada yang mengotak-atik bagi siapa yang menisbahkan dirinya sebagai seorang
salafi. Demi Alloh! Tidak diragukan dan tidak bisa dipungkiri bahwasanya sholat ataupun
segala sesuatu yang dikerjakan oleh wanita paling afdhol adalah di rumahnya. Dan ini
merupakan hukum asal bagi mereka. Adapun apabila mereka sering keluar dari rumahnya
tanpa alasan syar’i, berarti mereka tidak memperdulikan lagi hukum asalnya dan melanggar
syariat yang telah ditetapkan oleh Alloh Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti
orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah
Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari
kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Karena dengan sering keluarnya wanita tanpa adanya keperluan atau tanpa adanya tujuan
yang syariat membolehkannya, akan terjadi fitnah di kalangan mereka terlebih-lebih bagi
kaum laki-laki. Karena dengan sering keluarnya seorang wanita, syaithon akan
menungganginya dan menghiasinya seperti dalam hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu,
Nabi bersabda :
“Wanita itu adalah aurot, jika dia keluar syaithon akan menghias-hiasinya.” (HR. Tirmidzi)
Maka dari itu, perlu diketahui tentang keberadaan mereka. Kapan mereka boleh keluar dan
kapan syariat tidak membolehkan mereka keluar? Ini merupakan tarbiyah bagi mereka dan
tarbiyah pula bagi wali-wali yang bertanggung jawab atas diri mereka. Alloh berfirman:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (lakilaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa’: 34)
Dan perkataan Nabi:)ـؾؽSetiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung-jawaban atas
kepemimpinan kalian.”
Maka konsep pembeda yang universal antara hak dan batil, hidayah dan kesesatan, penunjuk
dan penjerumus, jalan kebahagiaan dan kehancuran adalah menjadikan apa-apa yang Alloh
telah mengutus dengannya para rosul dan diturunkan dengannya Al-Kitab sebagai kebenaran
yang wajib diikuti. Karena dengannya akan didapatkan furqon dan hidayah ilmu dan iman.
Adapun perkataan manusia, semuanya wajib diukur dengan dalil. Jika sesuai dengannya,
wajib diterima. Jika tidak, maka wajib ditolak dan tidak boleh berbicara kecuali dengan ilmu.
Padahal ilmu itu adalah apa-apa yang berdiri di atasnya dalil. Marilah kita mengkaji dan
meneliti perjalanan para salaful ummah yang mana mereka adalah generasi terbaik yang
diberi tazkiyah oleh Alloh dalam firman-Nya:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha
kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di
dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Adakah tuntunan dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam di dalam mentarbiyah para
wanita dan istri-istrinya? Adalah Rosululloh pernah didatangi para wanita dan mereka
berkata: “Para lelaki telah mendapat keunggulan dan berjihad di jalan Alloh. Maka apakah
ada bagi kami (kaum wanita) sebuah amalan yang dengannya kita bisa mencapai keutamaan
jihad di jalan Alloh?” Beliau menjawab:
“Barangsiapa di antara kalian yang tetap berada di rumahnya, maka dia mencapai amalan
orang-orang yang berjihad di jalan Alloh.” (Shohih, dikeluarkan oleh Imam Al-Bazzar dari
Anas)
Dari hadits di atas bisa diambil kesimpulan bahwa tetapnya mereka (kaum wanita) di
rumahnya lebih afdhol. Bukan berarti pula dengan itu mereka tidak boleh keluar karena
hukum keluarnya mereka dari rumahnya adalah mubah. Dan dari keadaan yang mubah ini
bisa menjadi ke dalam keadaan harom apabila keluarnya mereka kepada sesuatu yang tidak
disyariatkan. Contohnya adalah perginya mereka untuk menziarahi kubur apabila
mudhorotnya besar. Mubah di sini pun bukan berarti mereka bebas untuk keluar, akan tetapi
keluar dengan keperluan syar’i atau karena memang darurat.KAPANKAH BOLEHNYA MEREKA KELUAR?
Berkata Al-Alusi rohimahulloh pada kitabnya ”Ruhul Ma’ani”: “Adapun keluarnya para
wanita yang dibolehkan selain keluarnya di masjid adalah keluarnya untuk menunaikan
ibadah haji, atau menziarahi kedua orang tua dan menjenguk orang sakit atau melayat jenazah
dari para kerabat dan seterusnya. Hanya saja boleh dengan syarat-syarat yang dipaparkan pada
pembahasan ini.” Selesai.
1. BOLEHNYA MEREKA KELUAR KE MASJID
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagai pengemban risalah saja tidak mentarbiyah
kepada istrinya untuk keluar tanpa ada alasan syar’i. Adapun alasan syar’i yang membolehkan
mereka keluar adalah sholat jama’ah di masjid sebagaimana ditunjukkan oleh hadits nabi
“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian pergi ke masjid.” (HR. Bukhori dan Muslim dari
Ibnu Umar)
Akan tetapi ada pula hadits yang menunjukkan bahwa sholat di rumah mereka itu lebih afdhol
dari sholat jama’ah di masjid, yaitu hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu:
“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada sholatnya di kamarnya dan
sholatnya di pingitannya lebih utama daripada sholatnya di rumahnya.” (HR. Abu Dawud)
Bukan berarti dua hadits ini saling bertentangan. Akan tetapi di sini menunjukkan kekhususan
bagi para wanita bahwa di rumahnya adalah lebih utama. Dan di antara hikmah yang lain
adalah karena dengan di rumahnya, godaan dari setan lebih teratasi dengan seizin Alloh
subhanahu wa ta’ala. Namun apabila dia keluar, maka syaithon pun berhasrat untuk menggoda
orang lain dengannya, karena wanita apabila keluar, syaithon menghiasinya dan wanita adalah
aurot di setiap pandangan. Makna aurot adalah: kemaluan manusia dan sesuatu yang manusia
merasa malu untuk dilihat oleh orang lain. Ini adalah sesuatu yang wajib untuk ditutup. (lihat
Al-Munawi dalam Al-Faidhul Qodir)
Maka perhatikanlah, wahai wanita! Karena ini adalah hikmah yang telah Alloh Azza wa jalla
anugerahkan kepada umatnya khususnya bagi para wanita muslimah. Karena dengan kalian
taat dengan apa-apa yang telah disyariatkan. Alloh Ta’ala hendak menjauhkan umat dari
kejelekan dan ketergelinciran karena sebab kalian. Maka ketahuilah! Bahwasanya hancurnya
kejayaan Bani Isroil dikarenakan wanita. Padahal mereka dahulu (Bani Isroil) memiliki
keistiqomahan dan kekokohan dalam agama. Akan tetapi hancur karena bermudah-mudahan
dalam masalah wanita. Akhirnya menipislah agama mereka dan runtuhlah kejayaan yang
mereka miliki. Maka demi Alloh! Keluarnya wanita tanpa syariat membolehkan adalah fitnah terbesar yang ini merupakan pintu dari pintu-pintu kejelekan yang tidak tampak. Apalagi di
jaman kita ini yang semakin sedikit ulama pembimbing ke dalam ajaran yang shohih sebagai
pewaris para nabi yang mengajarkan kemurnian aqidah dan syariat. Dan kenyataan yang
terjadi pada zaman kita adalah banyaknya wanita keluar tanpa mahrom dan yang paling
menyedihkan adalah mereka berpakaian tetapi telanjang. Bahkan ada sebagian dari mereka
berpakaian dengan sangat minim.
Wahai wanita, kami kabarkan kepada kalian sebuah hadits dari Abu Huroiroh yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Ada dua golongan dari ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya. Pertama, suatu
kaum yang memiliki cambuk seperti ekor-ekor sapi yang dipakai untuk memukul manusia.
Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, lenggak-lenggok, di kepalanya ada
sanggul seperti punuk onta. Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mendapat
baunya. Sesungguhnya bau syurga itu akan didapatkan dari jarak ini dan itu.”
Maka ucapan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam: ( عاريات: “telanjang”) adalah bahwa
mereka memakai pakaian, tetapi tidak menutupi yang semestinya tertutup baik itu karena
pendeknya atau tipisnya atau karena ketatnya. Karena yang demikian itu menyelisihi perintah
Alloh:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa)
nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31)
Dan mereka pun para wanita tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi tontonan dan
mereka tidak menyadari pula bahwa mereka telah diperbudak dan diperjualbelikan yaitu
dengan dipajangnya mereka di toko-toko. Dan iklan-iklan yang memperlihatkan tubuh atau
aurot mereka dan kita pun banyak mendengar suara-suara wanita di mikrofon ataupun HP dan
lain sebagainya. Ini semua merupakan musibah dan fitnah bagi kaum laki-laki. Yang lebih
mengerikan adalah sebagian wanita malah berbangga dengan semua itu. Dan mereka telah
keluar dari fitroh yang semestinya. Firman Alloh Ta’ala:
“Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang
yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah itu Sami’
(Maha mendengar) lagi ‘Alim (Maha mengetahui).” (QS. Al-Anfal: 42)
Maka barangsiapa yang melakukan atau rela dengannya atau bermudah-mudahan dengannya
dalam keadaan dia mengerti ilmu dan sunnah, maka semoga Alloh tidak membalasnya dengan
kebaikan. Dan ini adalah diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat dan semua yang terjadi di
atas adalah fenomena yang terjadi di zaman kita yang nyata terjadi karena sebab keluarnya
wanita dan itu adalah sebagian kecil dari mudhorot yang kita sebutkan. Maka keluarnya
wanita adalah musibah terbesar bagi kaum muslimin yang bisa menghancurkan aqidah dan
manhaj yang benar ini serta melalaikan kita dari agama seperti lalainya Bani Isroil terhadap
keistiqomahan dan hancurnya kejayaan mereka dikarenakan wanita. Apalagi pada zaman
yang mana telah meluas media masa yang berdampak negatif seperti alat gambar dan alat
rekam. Maka tidaklah beruntung akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang membuat
beruntung generasi awalnya (salaful ummah). Terdapat sebuah hadits yang dianggap bahwa
hadits ini membolehkan atau menganggap sahnya keluarnya seorang wanita, yaitu hadits
Abdulloh bin Umar dan Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim dalam Shohihnya (865):
“Hendaknya berhenti orang-orang dari perbuatan mereka meninggalkan sholat Jum’at atau
Alloh akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka akan menjadi orang-orang yang
lalai.”
Hadits di atas di dalamnya terkandung ancaman keras yang mengharuskan seseorang untuk
sholat Jum’at laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi hadits di atas adalah ancaman bagi
laki-laki saja. Sudah ada dalil lain yang menunjukkan tidak wajibnya seorang wanita untuk
sholat Jum’at yaitu hadits Thoriq bin Syibab rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Nabi shollallohu
‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sholat Jum’at wajib atas setiap muslim secara berjama’ah kecuali empat: budak, wanita,
anak kecil dan orang sakit.”
Ini menunjukkan hikmah yang besar dan sebagai penghormatan bagi wanita bahwasanya di
rumah mereka adalah lebih utama dikarenakan dengan beradanya di rumah mereka akan
terjauhkan dari sesuatu atau gangguan dari luar, belum berupa kejahilan kaum lelaki yang hatinya berpenyakit ditambah lagi dengan lemahnya wanita karena pada dasarnya wanita
butuh seorang pelindung juga karena lemahnya akal dan fisik serta emosional mereka.
Sesungguhnya ini adalah rohmat Alloh untuk mereka. Alloh Ta’ala menjaga mereka dengan
syariat-Nya dan mensucikan mereka dari kotoran-kotoran jahiliyah. Maka wajib atas kaum
wanita menjaga kehormatannya dan janganlah membalas nikmat Alloh dengan 
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam
Keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik
dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Dan tidak ada pilihan bagi mereka untuk memilih, apalagi mereka yang mengatakan dirinya
salafiyah karena sesungguhnya Islam tidak akan tegak pada diri seseorang kecuali dengan
tunduk dan patuh.
“Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin,
apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Sama sekali ini bukan dholim terhadap mereka atau penjara ataupun mengurangi
kebebasannya, karena Alloh Ta’ala lebih mengetahui kemashlahatan hamba-Nya.
Sesungguhnya dengan tinggalnya para wanita di rumah-rumahnya, maka dia dapat mengurusi
rumahnya dan menunaikan hak-hak suaminya, mendidik anaknya dan memperbanyak
melakukan hal-hal yang baik lainnya seperti ibadah-ibadah kepada Alloh.
“Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan
senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang
yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan
adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Demi Alloh, ini juga peringatan bagi wali-wali yang bertanggung jawab atas mereka untuk
melarang mereka keluar tanpa ada tuntunan syar’i.
Dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa walaupun ada dalil yang
menunjukkan bolehnya mereka (para wanita) untuk keluar sholat jamaah akan tetapi tinggal
di rumah mereka itu lebih utama, apalagi di negeri kita (Indonesia) yang banyak sekali
kejanggalan-kejanggalan karena jauhnya mereka dari ulama dan jauhnya dari thullabul ilmi.
Sehingga membuat jahilnya mereka dalam perkara agama mereka sendiri yaitu Islam.
Ditambah lagi masuknya budaya barat yang diimpor dari orang-orang yang mengatas
namakan dirinya birokrat yang mereka mengatakan: ‘DEMI KEMAJUAN’ atau ‘DEMI
KEMODERENAN’
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”,
tetapi Katakanlah: “Unzhurna” dan dengarkanlah. Dan bagi orang-orang yang kafir itu
siksaan yang pedih.” (QS. Al-Baqoroh: 104)
Raa ‘ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. di kala para sahabat
menghadapkan kata ini kepada Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, orang Yahudi pun
memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut raa’ina, padahal yang mereka
katakan ialah ru’uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada
Rasululloh. Itulah sebabnya Alloh menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar Perkataan
raa’ina dengan unzhurna yang juga sama artinya dengan raa’ina.
Sisi pendalilan:
Dengan keadaan seperti itu, bisakah para wanita aman dari fitnah !!! Yang kita tahu bahwa
masjid di Indonesia tidak ada hijabnya. Kalaupun ada hijabnya, tetapi tidak memenuhi syarat.
Bahkan musibah yang menyedihkan adalah sebagian dari mereka (para wanita) meneriakkan
slogan: ‘INI JAMANNYA EMANSIPASI’.
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Alloh, Dialah (sesembahan)
yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Alloh, Itulah yang batil,
dan Sesungguhnya Alloh. Dialah yang Al’Aliy (Maha Tinggi) lagi Al-Kabir (Maha besar).”
Memang, dalam syari‟at ini (Islam) ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan; yaitu:
1. Persamaan dalam hal penciptaan dengan laki-laki; firman Alloh Ta’ala:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
2. Persamaan dalam hal mendapatkan pahala atas amal sholih. Firman Alloh
“Maka Robb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya
aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki
atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka
orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada
jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan
mereka dan pastilah aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di
bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”
Firman Alloh Ta’ala :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia
orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya
walau sedikitpun.”Firman Alloh Ta’ala:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam
Keadaan beriman. Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik
dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.”
3. Persamaan hak dalam hal hak mendapatkan warisan, sekalipun hak laki-laki lebih
darinya. Firman Alloh:
“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu:
bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika
anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang
ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan
untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak
dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang
meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam.
(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan)
sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak
mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah
ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah itu ‘Alim (maha mengetahui) lagi Hakim (maha
bijaksana).”
4. Hak untuk mendapatkan perlakuan dan pergaulan yang baik. Firman Alloh:
“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, Maka
rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang
ma’ruf (pula). janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan
demikian kamu Menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, Maka sungguh ia telah
berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah
permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu Yaitu Al kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu
dengan apa yang diturunkan-Nya itu. dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah
bahwasanya Allah itu ‘Alim (maha mengetahui) segala sesuatu.”
Firman Alloh Ta’ala:
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan
paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali
sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan
pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu
tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,
Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
Masih banyak keterangan-keterangan tentang kedudukan wanita yang bersangkutan dengan
hak-hak nya dan kewajibannya. Yang ini merupakan perhatian besar Islam kepada mereka
(para wanita), akan tetapi apakah persamaan atau dalil di atas menjadikan hujjah bagi mereka
untuk meneriakkan kata: ’emansipasi’ karena dalil tadi telah terbantah dengan firman Alloh:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (lakilaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
Pada dasarnya emanisipasi adalah ide yang muncul dari orang-orang kuffar dan masalah ini
sangat banyak mudhorotnya, akan tetapi kita cukupkan sampai disini saja. Dan kenyataan
yang terjadi adalah dengan keluarnya wanita banyak terjadi kerusakan-kerusakan, berupa:
pacaran, prostisusi, lokalisasi dan lain-lain dari kerusakan syahwat yang lain. Firman Alloh:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat
Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat
itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orangorang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya
dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya
yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya
lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada
mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan
Barangsiapa yang disesatkan Allah. Maka merekalah orang-orang yang merugi.”
Sisi pendalilan: Maka kembalilah kalian ke rumah kalian…wahai wanita! Karena hanya
dengan inilah akan terjaga kehormatan kalian dan akan terjaga pula fitroh kalian sebagai
wanita. Firman Alloh Ta’ala:
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada
ingin kawin (lagi), Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian luar mereka dengan
tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan dan menjaga kehormatan (dengan tetap memakai pakaian lengkap) adalah lebih baik bagi mereka. dan Allah itu Sami’ (maha mendengar) lagi
‘Alim (maha mengetahui).”
Sisi pendalilan: Maka kita katakan, di negeri kita (Indonesia) tidak baik wanita untuk keluar
sholat jama‟ah kalaupun boleh untuk sholat jamaa‟ah, kecuali apabila terpenuhi syarat-syarat
berikut:
(1) Aman dari fitnah.
(2) Adanya hijab di masjid yang memenuhi syarat.
(3) Tidak tercampur laki-laki dan perempuan.
(4) Tidak terlalu jauhnya masjid dari rumahnya.
(5) Menutup semua aurot atau memakai hijab Syar‟i.
(6) Adab sebagai wanita.
Adapun masjid khusus wanita yang di dalamnya didirikan sholat berjama‟ah lima waktu,
dengan imam dan ma‟mum wanita ataupun rumah atau musholla ataupun di manapun tempat
mereka mengerjakannya terus-menerus, maka ini tidak boleh, bahkan tidak ada asalnya sama
sekali.
Syaikh Muhammad bin Hizam berkata ketika kita bertanya tentang masalah ini:
“Adapun masjid khusus untuk wanita, maka ini adalah bid‟ah. Dan adapun sholat mereka
dengan imam dan ma‟mum wanita yang dilakukan setiap waktu, maka itu tidak
sepatutnya.”
Syaikh Abu Bilal juga berkata tentang sholat mereka yang dikerjakan setiap waktu dengan
imam dan ma‟mum wanita. Beliau menjawab: “Tidak sepatutnya.”
Seandainya hal ini ada, maka tidak menutup kemungkinan „Aisyah akan dijadikan imam,
karena beliau adalah wanita paling faqih di jamannya. Mungkin dengan hadits ini bisa
mengingatkan kita, yang diriwayatkan Imam Bukhori di kitab beliau “Adabul Mufrod” hadits
„Ali bin Abi Tholib:
“Semoga laknat Alloh atas siapa saja yag membela (menaungi) pelaku bid’ah (dosa atau
maksiat).”
Sisi pendalilan: Perkara ini banyak terjadi atau kita temui di pondok-pondok putri (TN) dan
adapun perkara ini (sholat jama‟ah) tidak wajib bagi wanita karena tidak ada hukum atau dalil
dari kitab dan sunnah yang shohih dalam masalah ini secara mutlak dan ini merupakan ijma‟
para „ulama yang mereka tidak berselisih padanya, yaitu dibangunnya masjid khusus wanita
dan ini merupakan semurni-murninya bid‟ah yang diada-adakan. Dan pada asalnya para
wanita di jaman Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mereka sholat di belakang kaum
muslimin dan itu pun tidak terus menerus.
Adapun masjid di Indonesia yang kita ketahui bersama atau kita temukan tidak ada yang
menunjukkan amannya dari fitnah apalagi manhaj kebanyakan dari masyarakat kita adalah
shufiyah dan banyak pula sebagian dari mereka Islam tapi awam yang mereka menganggap
ikthilath adalah hal yang biasa (tidak apa-apa) dan tidaklah kita mengetahui masjid yang relatif aman dari fitnah kecuali di Darul Hadits Dammaj. Yang masjid ini dikatakan mulhaq,
yaitu masjid yang bangunannya mengikuti masjid utama dan bisa dikatakan dibangun di atas
bangunan utama atau tingkat yang perkara ini terjadi perselisihan di antara kita karena ada
sebagian yang mengatakan bukan masjid tapi musholla. Akan tetapi perselisihan ini tidak bisa
dijadikan sesuatu yang menjadikan kita saling bermusuhan, karena semuanya mempunyai
dalil dan hujjah yang menjadi asas dalam perkara ini, adapun kita mengatakan itu adalah
masjid, yang perkataan kita ini didukung oleh para masyayikh yang mereka kita tanya
langsung seperti Syaikh Muhammad Hizam, Syaikh Abu Bilal, Syaikh Jamil As-Sulwi.
Karena di dalamnya didirikan jama‟ah yang mengikuti imam masjid utama. Dan yang
menguatkan kita bahwa itu adalah masjid adalah di adakan pula i’tikaf (ibadah yang harus
dilakukan di masjid) dan tidak sah di selainnya.
Dalam pembahasan ini tidak kita perinci karena perlu pembahasan yang panjang. Intinya,
tidak ada fitnah di dalamnya dikarenakan: tidak bercampur baur antara laki-laki dan
perempuan dan tidak terdengar suara mereka karena bangunan tertutup dengan tembok. Jalan
dan pintu yang berbeda dari masjid utama. Aman dari fitnah dan tertutupnya aurot dan banyak
dari mereka berangkat dengan mahromnya dan sudah menjadi adat di sini walaupun orang
awam, memakai abaya, ihtirom yang tinggi terhadap wanita.
2. Bolehnya mereka keluar untuk menunaikan ibadah haji
Di dalam masalah ini ada sebuah kisah yang sangat menakjubkan dari salaf kita yang bisa kita
ambil ibroh darinya. Al-Jashshosh, Al-Qurthubi dan selain keduanya telah menyebutkan
dalam tafsir ayat (33) dari
“Tetaplah tinggal di rumah-rumah kalian.”
Bahwasanya Ummul Mukminin Saudah binti Zam’ah rodhiyallohu ‘anha telah dikatakan
kepadanya: “Mengapa kamu tidak menunaikan ibadah haji atau umroh sebagaimana kawankawanmu menunaikannya?” Maka beliau pun menjawab: “Aku telah menunaikan haji dan
umroh.” Maka demi Alloh, dia pun tidak keluar dari pintu rumahnya sampai jenazahlah yang
dikeluarkan.
Imam Al-Mundziri rohimahulloh telah membuat sebuah bab dalam pembahasan haji dalam
kitabnya At-Targhib wat Tarhib (2/162). Dia berkata: “Tarhib (ancaman) kepada orang yang
mampu untuk berhaji sedangkan dia tidak menunaikannya dan apa-apa yang telah datang
tentang (perintah) bagi kaum wanita untuk tetap di rumahnya seusai menunaikan ibadah haji.”
Dan dia pun menyebutkan satu hadits dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Nabi
shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepada istri-istri beliau pada haji wada (“Inilah waktu terakhirnya, kemudian kembali kepada pingitan.” (HR. Abu Dawud)
Dalam hadits Ummu Salamah rodhiyallohu ‘anha:
“Kemudian tetap di pingitan…” (HR. Abu Ya’la, At-Thobari dan Al-Mundziri)
Dia berkata: “Masing-masing dari mereka (pada waktu berhaji) berhijab kecuali Zainab dan
Saudah binti Zam’ah rodhiyallohu ‘anhuma. Dahulu mereka berdua (tidak keluar haji) berkata:
“Demi Alloh! Kami tidak menggerakkan kendaraan kami sedikit pun, setelah apa yang kami
dengar dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Adapun hadits ini adalah hadits hasan, telah
datang dari beberapa shohabat rodhiyallohu ‘anhum sebagaimana yang tertera dalam kitab
Ash-Shohihah karya Syaikh Al-Albani rohimahulloh (no. 2401). Begitu pula hadits dari
Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang beliau berkata
“Ya Rosululloh, kami melihat jihad adalah amalan yang paling utama. Tidakkah kita
berjihad?” Nabi berkata: “Tidak, tetapi seutama-utama jihad bagi kalian adalah haji
mabrur.” (HR. Al-Bukhori)
Haji adalah termasuk rukun Islam yang wajib dikerjakan apabila dia mampu dan ini
termaktub dalam firman :
“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa
memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban
manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke
Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya
(tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imron: 97)
Dan keluarnya mereka (para wanita) dalam menunaikan ibadah haji harus disertai dengan
mahromnya yang syarat ini merupakan mutlak dan merupakan syariat yang telah dianjurkan
dan tidak bisa ditawar. Dalil dari as-sunnah sangatlah banyak.
(“Tidak ada safar bagi wanita kecuali dengan mahromnya.” (HR. Muslim)
3. Bolehnya mereka keluar untuk menjenguk orang tua
Perkara ini adalah termasuk perkara kebaikan, karena terdapat banyaknya manfaat yaitu birrul
walidain, silaturrahmi dan termasuk adab seorang muslim. Akan tetapi keluarnya mereka
dalam perkara ini juga ada syarat yang tidak bisa mereka tinggalkan yaitu adanya keridhoan
sang suami bagi yang sudah berkeluarga atau adanya ijin walinya
“Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:
“Wahai Rob-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku
waktu kecil.” (QS. Al-Isra)
“Seorang anak tidak bisa membalas jasa orang tua kecuali jika dia menemukannya dalam
keadaan menjadi budak, kemudian ia beli dan ia memerdekakannya.” (HR. Muslim dari Abu
Huroiroh)
4. Bolehnya mereka keluar untuk melayat jenazah kerabat dan menjenguk orang
sakit
Seperti hadits Abu Huroiroh yang di bukhari dan muslim
“Hak seorang muslim atas muslim itu ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit,
mengikuti jenazah, menghadiri undangan dan menjawab orang bersin.”
5. Bolehnya mereka keluar untuk menuntut ilmu
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS.
Az-Zumar: 9))من شؾك ضريؼا يطؾب ؾقه ظؾا شفل اهلل فه ضريؼا إػ اجـة(
“Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu (agama), maka Alloh akan memudahkan
jalan untuk menuju surga.” (HR. Bukhori-Muslim)
Dalam masalah ini bukan berarti para wanita datang ke suatu tempat (belajar) atau pondok,
lalu ditinggalkan oleh mahromnya. Akan tetapi bolehnya mereka keluar untuk menuntut ilmu
jika mereka kembali pada mahromnya atau kembali ke rumahnya dan dekatnya jarak antara
tempat menuntut ilmu dengan rumahnya, seperti yang dipraktekkan para shohabiyah dan salaf
dan yang ada di Dammaj.
BAGAIMANAKAH BELAJAR MEREKA (PARA WANITA)?
Merupakan dan keharusan aqidah Ahlus Sunnah bahwa segala sesuatu tindakan atau
perbuatan dalam perkara agama, maka kita harus mencontoh salaf kita. Begitu pun masalah
tarbiyah kepada wanita, maka kita kembalikan kepada mereka yang mereka adalah generasi
terbaik yang telah mengalami proses keimanan dengan ujian dan cobaan yang membuat ridho
sang Kholik atasnya.
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha
kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di
dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Dan telah ridho pula sang pengemban risalah Muhammad Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam kepada mereka yang beliau telah mengatakannya:
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian setelahnya dan kemudian setelahnya.”
(HR. Bukhori)
Begitu pula Imam Malik mengatakan: “Tidak baik akhir umat ini kecuali dengan sesuatu
yang membuat baik generasi awalnya.” (dinukil oleh Syaikhul Islam dalam Majmu’
Fatawa)Maka agama ini telah terang penjelasannya dan telah sempurna hukum-hukum syariatnya.
Maka kita sebagai hamba yang menisbahkan diri kepada salaf tidak sepantasnya mencari-cari
sesuatu yang bukan semestinya dari agama ini. Begitu pula masalah tarbiyah kepada wanita.
Maka sepatutnya kita melihat orang yang paling mulia di muka bumi ini, bagaimanakah cara
beliau mendidik para wanita sehingga melahirkan wanita-wanita yang kuat keimanannya
bahkan membuat heran para penduduk surga atasnya yang merupakan penyejuk hati bagi para
suaminya. Bisa dikatakan wanita sholehah adalah yang mereka hanya mengharapkan ridho
Robbnya dan tidak mengikuti hawa nafsu atau tipu mushlihat syaithon dari kalangan jin dan
manusia. Dan telah berfirman Alloh:
“Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya
tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisa’: 34)
Tidak seperti orang mutaakhirin (generasi belakangan) yang mereka terkecoh dengan
langkah-langkah syaithon, sehingga mereka terjerembab ke dalamnya. Bahkan mereka
bermudah-mudahan dalam perkara agama. Khususnya masalah tarbiyah kepada wanita seperti
yang terjadi di Indonesia. Mereka menisbahkan diri terhadap salaf, akan tetapi melakukan
suatu tindakan yang tidak ada salafnya sama sekali. Bahkan ketika para ulama telah
memfatwakan masalah ini, khususnya ulama Darul Hadits Dammaj telah mengatakan: “Tidak
sepatutnya masalah ini ada dalam ma’had yang menisbahkan dirinya salafi.” Bahkan mereka
mengatakan bahwa pondok TN adalah muhdats. Pada zaman Rosululloh, para wanita
menjadikan satu hari untuk belajar mereka (HR. Bukhori dan Muslim dalam kitab Adab dari
Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu’:
“Telah datang kepada Rosululloh para wanita untuk meminta kepada beliau: “Jadikanlah
untuk kami satu hari dari hari-harimu (untuk mengajari kami). Kemudian beliau mengajari
mereka.”
Dan dahulu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kaum laki-laki dan
kemudian memberi nasehat kepada kaum wanita. Bahkan pada masa terbaik hingga masa
ulama, tidak ada dari mereka yang mempunyai ma’had khusus untuk wanita.
APAKAH PONDOK TARBIYATUN NISA’ (TN) ITU DAN DARIMANA ASAL
MUNCULNYA?
Dia adalah suatu bentuk tatanan kependidikan yang bertujuan untuk mendidik para
wanita untuk menjadi wanita muslimah yang berilmu dan berpemahaman salaf. Bisa
dikatakan berkumpulnya para wanita dari berbagai macam daerah di suatu tempat
(pondok) untuk menuntut ilmu syar’i.
Tujuan ini sangat bagus dan indah, akan tetapi caranya tidak benar dan menyelisihi syariat.
Bahkan tidak ada contoh dari ulama salaf. Karena pondok tabiyatun nisa’ (TN) tidak ada asalnya sama sekali. Maka para ulama ketika mengetahui tentang masalah ini (TN) yang di
dalamnya banyak mudhorot dan banyaknya penyelisihan, mereka mengatakan tidak bolehnya
pondok TN tersebut. Bahkan mengatakan bahwa ini adalah perkara muhdats.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menyebutkan secara mutlak bahwa orang paling faqih
dan berilmu dari kalangan wanita adalah Aisyah rodhiyallohu ‘anha. Begitu juga Fathimah
rodhiyallohu ‘anha adalah sebaik-sebaik wanita semesta alam. Bersamaan dengan keutamaan
mereka berdua, maka merekalah yang paling pantas untuk mendirikan pondok TN dalam
keadaan waktu itu banyak sekali wanita yang memerlukan pendidikan. Banyaknya muhajiroh
dan juga janda-janda karena suami mereka yang syahid fi sabilillah. Banyak juga dari
golongan anak-anak dan juga adanya lahan dan adanya pengajar yang berkompeten di dalam
keilmuan. Maka hal ini tidak menutup kemungkinan dibukanya pondok TN. Akan tetapi ini
tidak dibuat oleh Aisyah ataupun Fatimah untuk mendirikannya, karena beliau sangat tahu
yang membuat Alloh dan Rosul-Nya ridho yaitu dengan tetapnya ia di rumahnya serta
merendahkan suaranya. Dahulunya dia (Aisyah) apabila diperlukan untuk berfatwa atau untuk
mengajarkan sunnah-sunnah Nabinya itu semua tidak ia lakukan melainkan dari balik tabir
dan sesuai kebutuhan saja.
Sebenarnya pokok permasalahan bukan hanya berkisar fatwa ulama tentang boleh atau
tidaknya pondok TN ini, atau masalah ada atau tidaknya contoh dari salaf –ini juga pokok
permasalahan- sebagaimana yang banyak diperselisihkan bahkan jadi permusuhan karenanya
atau sebagaimana yang disorak-soraikan oleh orang-orang yang tertipu. Akan tetapi
masalahnya adalah keluarnya mereka (para wanita) serta fitnah yang terjadi karena keluarnya
mereka akan menghancurkan sendi-sendi syariat agama ini seperti hancurnya Bani Isroil
karenanya. Tidaklah ini semua diadakan oleh musuh-musuh atau orang-orang yang
menginginkan ketergelinciran kita dengan ketergelinciran yang sejauh-jauhnya atau bisa
dikatakan mereka orang-orang yang mengikuti syahwat saja. Atau orang yang niatnya baik,
tetapi tidak tahu penyelisihan syariat yang terjadi dengan sebab didirikannya pondok TN
tersebut.
Masalah darimana munculnya pondok TN tersebut, maka kami berprasangka bahwa ini
adalah ide-ide ahlul ahwa’ yang mereka pelintir dan putar-balikkan sehingga bisa sesuai
dengan dalil dan kemajuan jaman dengan tujuan supaya wanita tidak terbelakang. Akan tetapi
bodohnya mereka adalah tidak memikirkan dampak negatif yang terjadi dengan sebab
mukholafah tersebut. Herannya! Dalam masalah ini mereka (orang-orang yang mengatakan
dirinya salafi) yang menjadi kiblat bukannya kaum salaf, tetapi firqoh-firqoh semisal:
Sururiyyin, Ikhwanul muslimin atau Shufiyah yang mereka mempunyai pendidikan semisal
pondok TN dengan bangunan yang tinggi dan bertingkat. Ini disebabkan karena jauhnya
mereka dari ulama dan ada sebagian dari mereka (asatidzah) kenal dengan ulama tetapi tidak
mau berhubungan dengan mereka (ulama). Akhirnya mereka berlaku sewenang-wenang
dengan memfatwakan bahwa: “INI ADALAH DHORURIII”, DAN TIDAK APA-APA!”
Akhirnya keluarlah para wanita dari rumahnya dengan alasan menuntut ilmu syar’i. dan ini
adalah merupakan pintu kejelekan yang samar (tak tampak). 
“Siapa yang menghidupkan tuntunan yang jelek dalam Islam, maka dia menanggung dosanya
dan dosa orang-orang yang mengamalkan setelahnya tanpa mengurangi sedikit pun dari
dosa-dosa mereka.” (HR. Ahmad)
Sungguh, diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat yaitu banyaknya kekejian dan kerusakan.
Kami takut ini (pondok TN) adalah pintu-pintu yang mengantarkan kepadanya dan kami takut
mereka (ahlul ahwa) berhasil membuat sesuatu yang menyelisihi agama dengan kedok
dakwah, firman Alloh:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi,
supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Yang mengerikan dalam hal ini (pondok TN) adalah mereka diantar oleh walinya atau
mahromnya menuju tempat yang mereka kehendaki lalu walinya kembali ke daerah asalnya
dan si akhwat ditinggalkan di ma‟had tersebut padahal akhwat ini mempunyai kebutuhankebutuhan yang harus dipenuhi, belum kalau dia sakit. Adapula yang mereka ditinggal dengan
mahromnya (saudaranya). Akan tetapi mahromnya masih kecil atau belum dewasa, maka
kebutuhan mereka (akhwat) dipenuhi oleh pengurus ma‟had yang notabene mereka adalah
bukan mahrom alias ajnabi yang dari sinilah banyak muncul fitnah. Berkata Syaikh Yahya di
majlis ta’lim antara maghrib dan „Isya ketika membaca Shohih Muslim dalam bab haji tentang
safarnya para wanita, beliau mengatakan: “Namanya mahrom adalah yang bisa
melindungi, mengayomi dan memenuhi kebutuhan wanita itu.”
Yang juga mengherankan adalah wali-wali itu lebih senang anaknya di pondok TN dengan
alasan biar mengetahui „ilmu syar‟i. Seandainya mereka tahu bahwa hakikat „ibadah adalah
mengharapkan ridho Alloh dan Rosulnya. Seperti yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rohimahulloh: “Ibadah adalah nama yang mencakup apa saja yang Alloh cintai
dan ridhoi baik berupa perkataan dan perbuatan yang tampak atau yang tersembunyi.”
Syaikh Yahya hafidzohulloh berkata: “Kalian cerdas atau tidak, yang penting tsabat di
atas sunnah itu adalah kebaikan.”
Syaikhul Islam rohimahulloh berkata: “Merupakan karomah di jaman ini adalah
istiqomah di atas sunnah.” (lihat At-Tuhfatul ‘Iroqiyyah)Dari perkataan di atas dapat di ambil pelajaran walau kalian (para wanita) tinggal dirumah
kalian dan tetap diatas sunnah serta istiqomah itu lebih baik karena Alloh yang akan
memelihara kalian. Firman Alloh Ta’ala:
“Maka wanita yang solehah ialah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Alloh telah memelihara (mereka).”
Bukan keluar dengan alasan menuntut „ilmu syar‟i, akan tetapi dengan cara yang tidak ada
contoh, dengan cara yang mereka buat sendiri diplintir dengan (atau mengatakan) bahwa
Syaikh Muqbil membolehkan, kata Syaikh Bin Baz: “Nggak apa-apa,” Lajnah Daimah
membolehkan. Fatwa bukanlah termasuk dari dalil, akan tetapi dalil adalah Al-Qur‟an dan
As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Fatwa dipakai apabila tidak menyelisihi AlQur‟an dan Sunnah. Sedangkan pondok TN ini adalah merupakan dari langkah-langkah
syaiton dan firman Alloh:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan.
Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu
menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena
kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu
bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah
membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha
mengetahui.” (QS. An-Nur:21)
Apabila ada dalil dari Al-Qur‟an dan Sunnah yang menguatkan fatwa mereka, maka kami
katakan: “Kami tunduk dan patuh.” Namun kalau hanya fatwa yang tidak dibangun di atas
keduanya, maka kami tolak dengan sebab:
(1) „Ulama tidak luput dari salah (tidak ma‟shum).
(2) Jawaban terkadang sesuai dengan pertanyaan.
(3) Terkadang „ulama tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, dikarenakan jauhnya
atau terkadang disembunyikan oleh penanya dikarenakan ada niatan yang buruk.
(4) Penanya tidak merincikan hal yang ditanyakan pada „ulama.
(5) Terbatasnya waktu „ulama karena sibuknya mereka atau belum ditelitinya sesuatu hal
itu secara mendetail.Afwan wahai para Asatidzah, ini bukan suu’dzon kepada mereka (ULAMA), tidak sama
sekali !! Hal ini karena mereka di atas puncak kehatian-hatian dan ijtihad yang tinggi yang
apabila mereka benar akan mendapat dua pahala dan jika salah, mendapat satu pahala.
Sepengetahuan kita bahwa fatwa itu hanyalah untuk menguatkan dalil dari Al-Qur‟an dan
As-Sunnah atau sebagai penjelasan dari dalil itu dan harus ada kecocokan atau kesamaan
antara dalil dan fatwa. Apabila keduanya tidak mencocoki atau tidak pas, maka fatwa
tersebut ditolak. Apabila kita sebagai ahlus sunnah menjadikan fatwa sebagai dalil, maka
hancurlah agama ini. Misal saja:
(1) Fatwa Syaikh Albani tentang bolehnya tidak menutup wajah bagi perempuan.
(2) Fatwa Ibnu Hazm tentang bolehnya musik.
(3) Fatwa awal Syaikh Ibnu „Utsaimin tentang bolehnya gambar makhluk bernyawa.
(4) Fatwa Asy-Syaukani tentang bolehnya onani dan sebagainya.
Apakah fatwa di atas kita pakai begitu saja, mencukupkan fatwa mereka itu („ulama)??
Padahal sangat tidak cocok dengan dalil yang ada. Kalau kita enak-enakan begitu, maka
sesatlah kita. Na‟udzu billah min dzalik.
BAHAYA-BAHAYA YANG TIMBUL KARENA SEBAB PONDOK TN
1. Perkataan Alloh Ta’ala:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu!” (QS. Al-Ahzab:33)
Tidak bisa terealisasi bahkan bisa jadi kebanyakan kegiatan mudiroh dan para santriwati di
pondok TN di tempat pengajaran.
2. Perkataan Alloh Ta’ala:
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka
mintalah dari belakang tabir, cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati
mereka.” (QS. Al-Ahzab: 53)
Ayat ini terlantarkan, karena ustadzah seringnya di luar hijab ketika membutuhkan keperluankeperluan pondok TN.
3. Perkataan Alloh Ta’ala:
“Maka janganlah kamu melembut-lembutkan suara dalam berbicara sehingga
berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang
baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)
Ayat ini terlanggar, karena hal ini sering terjadi ketika menelpon kepada pengurus pondok TN
yang mereka itu para laki-laki ajnabi ketika membutuhkan sesuatu.
4. Perkataan Alloh Ta’ala:
“Ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (sunnah
nabimu).” (QS. Al-Ahzab: 34)
Tidak bisa dipraktekkan dengan sempurna, bahkan mungkin ditinggalkan sama sekali. Karena
sering terjadi yang diajarkan dan diterapkan adalah ilmu ustadzah yang didapatkan sewaktu
kuliah. Bukan tafsir Al-Quran atau Shohih Bukhori dan yang sejenis dari ilmu dien yang
shohih.
5. Larangan Alloh dalam perkataan-Nya:
“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang
dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Ayat ini terlanggar, karena paling tidak ustadzah harus bercermin atau lebih dari itu sebelum
berangkat mengajar dan memakai paling ringannya sesuatu (bahasa kerennya: pemerah bibir,
bedak atau parfum). Walaupun tidak mencolok baunya untuk menghilangkan bau badannya.
Adapun santriwati tidak tahu sampai sejauh mana mereka.
6. Perkataan Alloh Ta’ala:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’:34)
Prakteknya telah banyak berubah, pada keluarga mudiroh dan suaminya, karena selama
ustadzah dan mudiroh menjalankan tugas dan aktifitasnya, sang suami yang harus
menyiapkan kebutuhan keluarganya, mengasuh anak-anaknya yang seharusnya sang mudiroh
sebagai penanggung jawab mereka. Akan tetapi dilimpahkan kepada suaminya, karena sang
mudiroh terlalu sibuk mengurusi anak-anak orang lain. Tidak jauh kemungkinan nafaqoh
keluarga ditanggung oleh mudiroh karena pendapatan dan gajinya barangkali lebih besar dan
mencukupi keluarganya daripada hasil suaminya. Akhirnya mau tidak mau, sang suami harus
siap ditandzim (diatur) oleh mudiroh.7. Perkataan Nabi:
“Rumah-rumah mereka (kaum wanita) lebih baik bagi mereka.” (Al-Hadits)
Diremehkan oleh mudiroh, ustadzah dan santriwati, karena mereka menganggap bahwa
dengan tetap tinggal di rumah, tidak bisa mendapatkan kebaikan. Mereka menyangka bahwa
pekerjaan di rumah tidak bernilai, karena tidak memberi faedah orang banyak. Adapun di
pondok TN, kebaikannya berkembang dan menular ke mana-mana. Oleh karena itu mereka
beraktifitas di luar rumah mereka, karena di sana lebih baik bagi mereka daripada rumah
mereka. Barangkali akan ada yang menjawab:
“Jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali
yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.” (QS. Al-Kahfi: 36)
8. Perkataan Nabi:
“Janganlah kalian melarang hamba-hamba wanita Alloh (istri-istri) untuk pergi ke masjidmasjid-Nya.”
Menunjukkan bahwa seorang suami diperbolehkan untuk melarang istrinya untuk keluar
selain ke masjid. Akan tetapi kami kira, mereka ingin menambah pengecualian yaitu pondok
TN. Karena suami mudiroh tidak akan berkutik untuk melarangnya ke pondok TN karena
tugas yang diemban oleh mudiroh dan ustadzah terlalu mulia lagipula kan menghasilkan uang
beras?! Bagaimana kalau dicegah? Hilang dong, mata pencariannya…!
9. Perkataan Nabi:
)وادرأة راظقة ي بقت زوجفا ومسموفة ظن رظقتفا(
“Wanita itu adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”
Barangkali si mudiroh akan protes bahwa hadits ini kurang sempurna, karena aku mampu
mengurusi di dalam juga luar rumah. Barangkali hadits itu hanya untuk para wanita yang
tidak memiliki ketrampilan dan kelebihan. Adapun aku, lain dari mereka. Begitu pula
suaminya yang mengijinkan istrinya menjadi mudiroh. Seolah-olah dia berkata: “Istriku itu
tidak termasuk dalam hadits ini, karena dia sangat mampu mengatur, baik di dalam maupun di
luar rumah. Bahkan aku pun diatur olehnya!”10. Perkataan Nabi:
)ادرأة ظورة ؾنذا خرجت اشتؼؾفا افشقطان(
“Wanita itu aurot. Maka jika dia keluar, syaithon akan menghias-hiasinya.” (HR. Tirmidzi
dari Ibnu Mas’ud)
Lihat: Tuhfatul Ahwadzi. Barangkali inilah hadits yang paling cocok untuk para mudiroh,
ustadzah dan santriwati.
Kami kira cukup ini dahulu, karena kalau ditelusuri lebih lanjut, mungkin akan membutuhkan
berlembar-lembar halaman.
Wahai para Asatidzah, kira-kira istimbath ini pas apa tidak? Kalau mungkin Antum memiliki
jalan keluar dari musykilah kami ini, tolong dibeberkan. Agar kami bisa menimbangnya
kembali. Kalau tidak, lantas siapa yang akan menanggung dosa ini semua? Barangkali mereka
berbuat demikian, karena bersandarkan kepada fatwa orang yang dianggap telah mengecek
perkara dari segala sisi. Bukankah lebih baik dan selamat, kalau kita mencukupkan dengan
apa yang ada pada masa salaf, sehingga kita tidak usah banting pikiran dan cari solusi serta
mengoles dan memelintir dalil agar bisa terhindar dari jeratan-jeratan ini. (Abu Turob)
11. Perkataan Alloh:
“Maka janganlah kamu melembut-lembutkan suara dalam berbicara sehingga
berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang
baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)
Ini pun terlanggar, karena walaupun mereka mempunyai mahrom, akan tetapi apabila mereka
butuh sesuatu, maka mereka para wanita meminta bantuan pengurus ma’had yang
kebanyakannya adalah laki-laki lewat telpon dan merupakan kenyataan yang terjadi, banyak
yang terfitnah dari sisi ini. Ada juga yang memakai tulisan. Akan tetapi ini juga fitnah, karena
kenyataan yang terjadi bahwa diantara keduanya (ikhwan dan akhwat) terkesan dengan katakatanya atau kagum karena tulisannya bagus. Sehingga syaithon menghias-hiasi dan akhirnya
terjadi ta’alluq, suka karena tulisan.
12. Perkataan Alloh:
“Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi
kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula)
dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang
kamu pakai) sampai waktu (tertentu).” (QS. An-Nahl: 80)
Ayat ini tidak dipraktekkan karena mereka tinggal tidak di rumah mereka dan tidak bersama
mahrom. Akan tetapi mereka tinggal bersama wanita yang lain di sebuah asrama yang tidak
ada perlindungan dan pengayoman sehingga apabila mereka membutuhkan sesuatu yang
darurat, tidak ada yang memberikannya, sehingga terkadang muncul was-was dari syaithon
yang akhirnya banyak dari mereka yang kerasukan jin. Belum lagi perselisihan antar teman,
karena wanita terkadang terbawa perasaan di samping lemahnya akal mereka. Bahkan
terkadang tidak bisa melindungi diri sendiri karena lemahnya mereka dan butuhnya mereka
kepada wali atau mahromnya, karena apabila di asrama tersebut ada gangguan semisal
masuknya ular atau gangguan-gangguan yang tak terduga yang mereka tidak bisa
mengatasinya dan ini menunjukkan sangat butuhnya mereka kepada wali atau mahromnya.
13. Perkataan Alloh:
                            
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 31)
Ini pun terabaikan. Banyak dari mereka terfitnah disebabkan hal ini dikarenakan sangat
dekatnya jarak antara asrama santriwan dan santriwati. Belum lagi mereka keluar ke pasar
atau untuk memenuhi kebutuhannya dan ada juga di sebagian pondok TN yang mempunyai
program jalan-jalan pada hari Jum’at.
14. Perkataan Alloh:
                      
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang
keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isro’: 32)
Ini adalah kecelakaan besar, karena mereka ingin mencari kebaikan, akan tetapi di pondok TN
mereka terlenakan dan terfitnah dan lupa dengan ayat ini. Sehingga mereka masuk ke dalam
fitnah (pacaran). Ini perkara yang sangat berbahaya dan melanggar syariat. Sedangkan
kenyataan yang terjadi, banyak sekali kita temukan di pondok-pondok yang ada TN-nya.
15. Perkataan Alloh:
“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia.” (QS. Asy-Syu’aro’: 165)Ini adalah perkara yang mengerikan yang telah terjadi pada zaman Nabi Luth. Sehingga Alloh
mengadzab mereka dengan sangat keras dan pada zaman kita ini juga terjadi bahkan yang
semisal ini terjadi antara perempuan dengan perempuan yang hubungan mereka seperti
hubungan suami istri (lesbian) yang kita ketahui banyak pula terjadi di pondok TN dan
masalah ini telah diketahui bersama. Ada di sebuah pondok TN yang kebanyakan
santriwatinya sudah mempunyai pasangan masing-masing. Hal ini dikarenakan salah satu dari
keduanya merasa dalam pandangannya bisa melindungi dan lainnya merasa dalam
pandangannya butuh untuk dilindungi kemudian timbul cinta di antara keduanya.
16. Sabda Nabi:
“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada sholatnya di kamarnya dan
sholatnya di pingitannya lebih utama daripada sholatnya di rumahnya.” (HR. Abu Dawud –
shohih)
Hadits ini terlanggar, karena mereka (para wanita) di pondok TN melakukan sholat jama’ah
dengan imam wanita dan makmum wanita setiap waktu (lima waktu sholat) yang tidak ada
contoh dari salaf, padahal pada zaman Rosululloh mereka sholat di belakang laki-laki.
17. Sabda Nabi:
“Nabi adalah orang yang sangat pemalu melebihi gadis pingitan yang berada dalam
pingitannya.” (HR. Bukhori Muslim)
Mereka para santriwati pondok TN kebanyakannya sudah tidak menjadi gadis pingitan lagi,
karena mereka sering bebas keluar ke pasar atau untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
mereka. Bahkan ada yang keluar untuk jalan-jalan (cuci mata) dengan alasan: SEKALI-KALI
AJA atau BIAR FRESH…!
18. Sabda Nabi:
“Janganlah seorang wanita bepergian kecuali disertai mahromnya.” (HR. Muslim)
Banyak dari mereka yang hafal hadits ini. Akan tetapi mereka tidak mengamalkan dan banyak
pula dari mereka paham bahwa safar tanpa mahrom itu tidak boleh. Akan tetapi dilanggar
dengan alasan: SUPAYA TIDAK JENUH DI PONDOK TERUS. Mereka pun membuat
program tamasya (rekreasi) bersama seperti ke kebun binatang, air terjun, telaga ataupun kolam renang. Bahkan ada sebagian mereka keluar untuk menghadiri undangan walimah atau
aqiqah dan anehnya, semua acara itu didampingi oleh ustadz-ustadznya sebagai wali bagi
mereka.
Firman Alloh:
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau
ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)
19. Sabda Nabi:
“Tidak boleh laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita tanpa ada mahromnya.” (HR.
Baihaqi dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma)
Hadits ini pun terabaikan, karena ketika ada salah satu dari wanita yang sakit, maka diantar
dan diurus oleh pengurus wanita, sedangkan pengurus wanita meminta bantuan ke pengurus
laki-laki untuk mengantar ke rumah sakit dengan memakai mobil dan di dalam mobil hanya
ada hijab dari kain gelap yang terkadang terjadi dialog di antara mereka (bukan mahrom)
secara langsung dan terkadang melalui HP dikarenakan si sakit membutuhkan sesuatu yang
tidak bisa di penuhi oleh pegurus wanita, padahal siapa yang menjamin amannya mereka dari
fitnah suara.
20. Sabda Nabi:
“Berikanlah kemudahan dan jangan memberat-beratkan.” (Muttafaqun ‘alaih dari Anas
rodhiyallohu ‘anhu)
Inipun tidak di pakai karena ketika ada santri yang mau mondok mereka di wajibkan untuk
membayar uang pendaftaran, SPP dan uang gedung (bangunan). Ini sangat memberatkan
karena bisa jadi yang tidak mampu (fuqoro) tidak bisa mondok di tempat tersebut dan hanya
orang-orang kaya saja yang bisa thullabul ilmi, padahal kebanyakan yang berhasil adalah dari
kalangan fuqoro akan tetapi bukan berarti yang kaya tidak berhasil.
21. Sabda Nabi:
(“Jika datang kepada kalian laki-laki yang kalian ridhoi agamanya dan akhlaqnya maka
nikahkanlah” (HR. Tirmidzi dan lainnya dari Abu Hatim Al-Muzani)
Hadist ini tak dihiraukan karena ada sebagian dari santriwati ketika mau dilamar oleh seorang
laki-laki yang ditanyakan bukan agamanya atau akhlaqnya ataupun kesholihannya akan tetapi
yang ditanyakan lebih dulu adalah berapa hafalannya? Atau apakah dia sudah hafal al-qur’an?
Waha para wanita, ittaqillah fii nafsik, apakah ada kewajiban untuk menghafal Al-Qur’an itu!
Kalau kalian mencari yang hafal Al-Qur’an para hizbiyyun banyak yang hafal! Apakah itu
sangat berarti bagi kalian! Ataukah kalian mau punya seorang suami hafal al-qur’an tapi tidak
punya akhlaq atau jelek agamanya! Pikirkanlah, wahai wanita…..! Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam saja dan para sahabatnya tidak mensyaratkan hal itu.
22. Sabda Nabi:
“Agama itu mudah. Tidaklah agama itu diberat-beratkan, kecuali akan mengalahkannya.”
(HR. Bukhori dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu)
Kasihan santriwati pondok TN karena ada dari mereka yang berasal daerah yang sangat jauh
pergi meninggalkan kampung halaman dan orang tuanya dan lain-lain untuk menuju tempat
semisal pondok TN. Padahal agama itu mudah. Bahkan bisa mereka belajar di rumah, apalagi
di zaman sekarang banyaknya kemudahan-kemudahan komunikasi. Dan tidak ada tuntutan
untuk wanita itu seperti laki-laki yaitu tuntutan untuk berdakwah.
Firman Alloh:
“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu
kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu
melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul) dan
Sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka
tidakkah kamu memikirkannya?” (QS. Yusuf: 109)
Dan berkata Syaikh Al-Albani: “Maka cukuplah wanita itu belajar tentang kewanitaan
seperti haidh, nifas dan bagaimana memenuhi hak-hak suaminya.”
Firman Alloh:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’: 34)
Bukan berarti mereka tidak boleh mendalami ilmu. Akan tetapi kalau memang memenuhi
syarat-syarat dan tidak melanggar syariat, maka tidak mengapa.
Wahai para Ustadz, apakah tidak cukup kebobrokan dan kerusakan yang terjadi di pondok TN
itu dengan hukuman muhdats.
“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mendatangkan mashlahat.”
Hadits:
“Barangsiapa yang menghidupkan tuntunan yang jelek dalam Islam, maka dia menanggung
dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun
dari dosa-dosa mereka.” (HR. Ahmad)
Ingatlah tentang perkataan Rosul dalam hadits Usamah bin Zaid. Rosul mengabarkan:
“Tidak aku tinggalkan pada umat setelahku yang lebih berbahaya atas seorang laki-laki
kecuali dari fitnah wanita.” (Muttafaqun ‘alaih)
SOLUSI-SOLUSI BELAJAR UNTUK WANITA
Pada zaman era globalisasi yang pada zaman ini banyak sekali syubhat-syubhat serta
kerusakan-kerusakan yang terjadi dikarenakan banyaknya pemikiran-pemikiran yang masuk
yang dibangun di atas hawa dikarenakan jauhnya mereka dari sunnah Nabi dan ulama. Maka
sepatutnya wanita di zaman ini paham dan mengerti dan segera kembali mengikuti salaf
mereka yaitu mengerti tentang sunnah Nabinya. Akan tetapi dengan tidak mengikuti cara
yang batil atau muhdats semisal pondok TN. Maka pada zaman Rosululloh, para wanita
mendatangi beliau, meminta waktu satu hari untuk mengajari mereka. Maka bagaimanakah
pada zaman kita?
Pada zaman tersebut sarana dan prasarana ta’lim dan komunikasi amatlah terbatas, tetapi tiada
ayat Quran ataupun sunnah Nabi ataupun pendapat shahabat untuk membentuk asrama khusus
wanita dan tidaklah Sang Pembuat Syariat tidaklah meninggalkannya karena lupa. Tidaklah
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam kurang jauh pandangannya. Tidaklah para shahabat lemah dalam ilmu dan ijtihad, maka sudah sewajibnya bagi kita untuk merasa cukup dengan
tuntunan mereka dan tidak melampaui agama mereka. Apalagi pada masa ini, sarana dan
prasarana ta’lim dn komunikasi amatlah mudah. Sehingga para wanita bisa tetap mendapatkan
ilmu tanpa melebihi jalan Alloh dan Rosul-Nya dan thoriqoh salaf.
Ketika para ulama mengetahui tentang masalah ini (pondok TN) dan banyaknya mukholafah
yang terjadi, maka kita meminta mereka untuk berfatwa tentang masalah ini. Bagaimana
solusi-solusi belajar untuk wanita pada zaman ini?
1. Berkata Syaikh Jamil, Abu Bilal dan Muhammad bin Hizam, ketika beliau kami tanya
yang ucapan mereka senada: “Maka selayaknya para wanita kembali ke rumahnya dan
mereka bisa belajar lewat kaset-kaset atau kitab-kitab para ulama hingga Alloh
memudahkannya.”
2. Mencari suami yang sholeh yang bisa membimbing dan mengarahkan atau
mengajarinya.
3. Belajar kepada wanita lain (yang berilmu) yang dekat dengan tempat tinggalnya.
Setelah itu dia kembali ke rumah mahromnya. Apabila di sekitarnya tidak ada orang
alim, maka ia bersabar di rumahnya dan berdoa supaya dimudahkan oleh Alloh.
4. Mencukupkan diri dengan apa yang dia bisa dan mampu, karena tidak ada tuntutan
atas mereka untuk berdakwah.
5. Belajar lewat HP, yaitu mendengar muhadhoroh Syaikh atau Ustadznya.
6. Lewat risalah, yaitu dia menulis pertanyaan yang dia ingin tanyakan, lalu dikirim ke
Syaikh atau Ustadz yang dia ketahui.
7. Belajar dengan mahromnya, atau menghadiri majelis-majelis dengan mahrom.
8. Hijroh bersama keluarga ke tempat atau ma’had yang diajarkan ilmu yang shohih.
9. Apabila punya rezeki, supaya mengadakan rihlah dengan suaminya untuk belajar di
Dammaj atau markiz-markiz ulama Ahlus sunnah lainnya.
(Lihat risalah Al-Akh Abu Turob Al-Jawi berjudul ‘DILEMA TARBIYATUN NISA’ DAN
SOLUSINYA’)
SYUBHAT-SYUBHAT YANG BERKENAAN DENGAN MASALAH PONDOK TN
Syubhat Pertama:
Ada sebagian asatidzah berkata: “Rosululloh saja mengajar wanita.” Berdalil dengan hadits:
“Wahai Rosululloh, adakan buat kami satu hari…” (telah lalu)
Tanggapan:
1. Hadits: “Rosululloh adalah bapak bagi umat ini.”
2. Kekhususan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bolehnya beliau masuk kepada
wanita yang bukan mahrom.
3. Rosululloh mengajar cuma satu hari, sedangkan mereka setiap hari.4. Rosululloh ma’shum, sedangkan mereka apa bisa terbebas dari fitnah suara?! Padahal
ada dari sebagian mereka mentalqin santriwati, memberi pertanyaan dan bahkan ada
yang mengabsen para santriwati.
5. Rosululloh tidak mengasramakan khusus wanita seperti mereka. Akan tetapi tinggal
bersama mahromnya.
6. Dengan penjelasan ini semua, jelaslah bahwa syubuhat tadi dibangun di atas qiyas
yang rusak dan kebanyakan kenyataan ahlul bida’ terutama ahlul kalam adalah karena
qiyas yang rusak sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa.
Syubhat Kedua:
Kalau pondok TN dibubarkan, bisa jadi mereka akan kembali awam!
Tanggapan:
Sudah berapa tahun Antum belajar, sehingga Antum tidak memahami arti manhaj
sebenarnya?! Dan berapa hafalan Antum. Syaikh Yahya berkata: “Berapa banyak orang yang
hafal, tetapi tidak paham dengan yang dihafalnya.” Ada sebuah kisah yang diceritakan oleh
teman-teman di Dammaj: Datang seorang laki-laki kepada Syaikh Yahya untuk meminta
nasehat dan petunjuk. Dia berkata: “Ya Syaikh, ana sudah hafal ini dan itu. Lalu apa yang
harus saya hafal lagi?” Syaikh Yahya menjawab: “Berdoalah untuk istiqomah!”
Wahai para Ustadz, Alloh lebih mengetahui tentang hamba-Nya. Firman Alloh Ta’ala:
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau
rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)
Dan ketahuilah bahwa taufiq itu dari Alloh. Firman Alloh:
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang
memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya dan apa saja harta yang
baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah). Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri dan
janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah dan apa
saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan
cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqoroh: 272)Rosululloh yang ma’shum saja tidak bisa memberikan hidayah taufiq kepada umatnya, apalagi
yang selain beliau. Padahal kalau kita pikir-pikir dan kita mau menelaah atau mengambil
pelajaran, maka betapa banyak santri-santri kita yang belajar bertahun-tahun, tetapi mereka
tidak paham dengan ilmu yang mereka pelajari dan bahkan ada yang ketika mengikuti
pelajaran dan duduk di depan guru atau syaikhnya. Akan tetapi tidak paham dengan apa yang
dimaksud guru atau syaikhnya. Itu semua karena apa?! Karena ilmu itu dari Alloh dan
mungkin atau bisa jadi Alloh belum menghendaki ilmu untuknya. Karena Alloh lebih
mengetahui tentang hambanya. Ada pula yang dikaruniai ilmu oleh Alloh, tetapi dia sesat.
Maka walaupun mereka (para wanita) tinggal dirumahnya dan istiqomah serta belajar
semampunya dan berdoa kepada Alloh supaya dimudahkan dalam mencari ilmu, maka insya
Alloh, akan Alloh bukakan untuknya pintu-pintu ilmu dan itu mudah bagi Alloh. Apalagi
mereka tetap tinggal di rumah bukan karena benci ilmu, tetapi karena bersabar dalam
memegang sunnah dan berusaha mendapatkan ilmu dengan cara-cara yang disyariatkan. Alloh
tidak akan menyia-nyiakannya, insya Alloh. Firman Alloh Ta’ala
“Jibril berkata: “Demikianlah Robb-mu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar
dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal
itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS. Maryam: 21)
Maka apabila Alloh menghendaki kebaikan, maka dia akan dimudahkan memahami ilmu
dikarenakan ketakwaan dan keimanannya. Firman Alloh:
“Bertakwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarmu; dan Allah itu ‘Alim (Maha
mengetahui) segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 282)
Dan juga di dalam hadits:
“Siapa yang dikehendaki Alloh kebaikan, maka Alloh akan memahamkan agama baginya.”
(HR. Bukhori)
Dan banyak pula ayat-ayat dari Al-Quran bahwa ilmu itu dari Alloh dan diperuntukkan untuk
orang-orang yang beriman. Firman Alloh: 
“Dengan kitab Itulah Alloh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Alloh mengeluarkan orang-orang itu dari gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke
jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 16)
Firman Alloh pula:
“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Quran) supaya Dia
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. dan Sesungguhnya Alloh benar-benar
Ro’uf (Maha Penyantun) lagi Rohim (Maha Penyayang) terhadapmu.” (QS. Al-Hadid: 9)
Firman Alloh pula:
“(Dan mengutus) seorang Rosul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Alloh yang
menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang
beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. dan Barangsiapa beriman kepada
Alloh dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Alloh akan memasukkannya ke dalam surgasurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selamalamanya. Sesungguhnya Alloh memberikan rezki yang baik kepadanya.” (QS. At-Tholaq: 11)
Syubhat Ketiga:
Kalau pondok TN dibubarkan murid kita tinggal sedikit.
Tanggapan:
Ittaqillah, wahai para Ustadz! Apa Antum tidak pernah mendengar Syaikh atau mudarris
Antum mengisahkan tentang seorang Nabi yang tidak punya pengikut. 
“Ditampakkan kepadaku sekumpulan umat. Kemudian aku melihat seorang nabi dan dua
orang Nabi yang bersama mereka beberapa orang (pengikut) dan seorang Nabi yang tidak
mempunyai pengikut sama sekali..” (Muttafaqun alaih)
Akan tetapi Alloh tetap melebihkan derajat mereka. Firman Alloh:
“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain).
dan pasti kehidupan akhirat lebih Tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. AlIsro’: 21)
Syaikh Yahya berkata dalam suatu khutbah Jum’at: “Maka banyaklah kalian mengingat Alloh.
Karena dengannya Alloh akan mengingat kalian walaupun kalian tidak dikenal oleh manusia.”
Kemudian beliau membaca hadits:
“Sesungguhnya Aku dalam persangkaan hamba-Ku dan sesungguhnya Aku bersamanya jika
dia mengingat-Ku.”
Dari Abu Qilabah: “Barangsiapa mengaku-aku dengan kebohongan untuk
mrmperbanyak diri dengannya, tidaklah Alloh akan menambahinya kecuali justru
makin sedikit.”
Syubhat Keempat:
Ketika tersebarnya fatwa Syaikh Yahya tentang TN, para akhwat banyak yang bertanya:
“Bagaimana ini, wahai Ustadz?” Sang Ustadz menjawab: “Tidak apa-apa, kalian tetap belajar.
Ini adalah perkara darurat.”
Tanggapan:
Astaghfirulloh…, ternyata fatwa ulama’ cuma nomor dua saja. Yang dipakai fatwa ustadznya.
Barangkali mereka lupa dengan ayat ini:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)Yang aneh lagi adalah ustadznya, kok bisa fatwa ulama dibuang begitu saja karena tidak
mencocoki keinginannya dan akhirnya pakai fatwa ulama lain yang cocok dengannya. Bahkan
berfatwa sendiri bahwa ini adalah perkara darurat. Afwan, ana ingin bertanya tentang batasan
darurat itu, sampai sejauh mana sesuatu itu dikatakan darurat?! Apalagi ini adalah masalah
agama yang kita harus merujuk dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Tolong janganlah bermudahmudahan dalam perkara ini. Kalau pondok TN itu dikatakan darurat, maka lebih darurat mana
dengan kisah istri Fir’aun (Asiyah rodhiyallohu ‘anha) yang di dalam genggaman tirani
bahkan sudah ma’ruf siapa Fir’aun ini. Akan tetapi beliau sabar tinggal di rumahnya tidak
keluar untuk mencari perlindungan. Akan tetapi meminta pertolongan kepada Alloh, sehingga
Alloh mengabadikan kisahnya dalam surat yang agung. Alloh ta’ala berfirman:
“Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia
berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan
selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang
zhalim.” (QS. AT-Tahrim: 11)
Syubhat Kelima:
Para masyaikh kibar seperti Syaikh Al-Albani, Ibn Bazz, Syaikh Muqbil dan Al-Lajnah AdDaimah membolehkan.
Tanggapan:
Apakah para masyaikh itu tahu secara rinci bahwa di pondok TN kalian banyak terjadi
penyelisihan? Seandainya mereka rohimahumulloh tahu, kita yakin bahwa merekalah orang
pertama yang mentahdzir kebobrokan pondok TN kalian. Kalau memang mereka mempunyai
dalil dan bayan yang sesuai dengan Quran dan Sunnah, maka tunjukkanlah kepada kami! Biar
kita bisa mengambil faedah darinya. Akan tetapi apabila kalian tidak bisa menunjukkannya,
maka akan semakin parahlah penyakit yang ada dalam hati kalian.
Syubhat Keenam:
Ada salah satu ustadz mengatakan bahwa Syaikh Yahya membolehkan pondok TN ini.
Tanggapan:
Kalam ini mujmal, mengapa? Ridwan Al-Amboni berkata: “Kami hanya menyebutkan apakah
boleh –ya Syaikh- belajar untuk wanita di sakan (asrama) sendiri, sedangkan mahromnya di
sakan (asrama) yang lain?”
Syaikh menjawab: “Boleh.” Akan tetapi pertanyaan tersebut tidak dirinci bahwa: mereka
tinggal bertahun-tahun di asrama itu dan apabila mereka butuh sesuatu yang menangani juga
bukan mahromnya, tetapi pengurus atau lainnya yang bukan mahrom. Parahnya lagi, ada sebagian mereka (santriwati) yang tidak punya mahrom sama sekali di situ. Dengan itu,
apakah kita membenturkan fatwa Syaikh satu dengan yang lainnya?! Tidak. Akan tetapi kita
adalah thullabul ilmi yang diajari untuk memilih sesuatu yang lebih selamat.
“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mendatangkan mashlahat.” (Bahrul
Muhith 7/51)
Dan kita sebagai Ahlus Sunnah tidak diajari untuk bertaklid kepada seseorang, tetapi kalau
ada permasalahan kita diajari untuk kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Firman Alloh:
“Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan
hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. AnNisa’: 59)
Maka kami katakan: mana burhan dan bukti kalian tentang perkara ini (pondok TN)?
Firman Alloh:
“Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (QS.
Al-Baqoroh: 111)
Firman Alloh pula:
“Katakanlah: “Unjukkanlah hujjahmu! (Al Quran) ini adalah peringatan bagi orang-orang
yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku. Sebenarnya kebanyakan
mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.” (QS. Al-Anbiya’: 24)
Firman Alloh:

“Lalu Kami berkata “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu.” Maka tahulah mereka bahwasanya
yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka adaadakan.” (QS. Al-Qoshosh: 75)
Syubhat Ketujuh:
Dengan adanya pondok TN, kita banyak menghasilkan para hafidzoh dan da’iyah.
Tanggapan:
Kalimat di atas adalah kalimat yang berat dan mantap di sisi orang yang tidak berilmu. Akan
tetapi ringan di sisi orang yang berilmu, mengapa? Karena kalimat tersebut tidak dibangun di
atas ilmu. Apakah itu hujjah untuk mencari kebaikan? Betapa banyak firqoh seperti NU,
Ikhwanul Muslimin, Sururiyin dan lain-lain yang ma’had mereka menghasilkan hafidzoh.
Akan tetapi apa semua itu bermanfaat bagi mereka? Tidak sama sekali! Saya ingatkan kalian
dengan kisah Khowarij pertama yaitu Dzul Khuwaishiroh. Orang ini berkata: “Berbuat
adillah!” Maka nabi berkata:
“Celaka engkau, siapa lagi yang berbuat adil kalau aku tidak berbuat adil?” (HR. Bukhori:
3610 dan Muslim: 1064)
Imam Ibnul Jauzi berkata: “Dia adalah Khowarij pertama dalam Islam. Penyebab
kebinasaannya adalah karena dia merasa puas dengan pendapatnya sendiri. Kalau dia
berilmu, tentu ia akan tahu bahwa tidak ada pendapat yang lebih tinggi dari Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam. Pengikut orang-orang ini termasuk orang-orang yang
memerangi Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu. Ketika Ibnu Abbas datang kepada mereka
dan menceritakan perihal mereka, beliau berkata: “Jidad mereka menghitam karena sujud.
Tangan mereka kasar seperti lutut onta. Mereka memakai gamis murahan. Wajah mereka
pucat karena banyak begadang di waktu malam. Akan tetapi di balik kezuhudan atau ibadah
mereka itu, tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan di riwayat lain Rosululloh mengatakan:
“Ibadah kalian tidak ada apa-apanya dibanding mereka.” Maka Nabi berkata:
“Sesungguhnya akan keluar dari orang-orang ini satu kaum yang membaca Al-Quran tetapi
tidak melebihi tenggorokannya. Mereka lepas dari agama seperti lepasnya anak panah dari
tubuh buruannya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Maka hati-hatilah, wahai Ustadz dengan pendapat kalian itu dan janganlah kalian
merasa puas dengan pendapat yang lemah apalagi menyelisihi dalil.Catatan: Ada beberapa ustadz yang jujur mengetahui bahwa tujuan mendirikan pondok TN
adalah untuk mempermudah para ustadz dan santri untuk mencari jodoh. Jika benar demikian,
berarti jelas bahwa niat dia yang asli bukanlah untuk menegakkan Al-Kitab dan As-Sunnah
dengan jalan salaf, tetapi niat asli pendirian pondok TN-nya adalah untuk perkara tadi. Lalu
dihiasilah pendirian pondok TN tadi dengan alasan-alasan yang indah untuk menutup
keasliannya. (Abu Fairuz)
FATWA-FATWA ULAMA
Fatwa Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri hafidhohulloh
Kami telah menanyakan hal ini kepada Syaikh Yahya Al-Hajuri hafidzohulloh, tepatnya pada
awal-awal Dzulhijjah 1429. Pertanyaannya adalah sebagai berikut: Penanya berkata:
Di bawah ini adalah beberapa pertanyaan yang menurut kami cukuplah penting, kami
persembahkan ke hadirat Syekh Yahya bin Ali Al Hajury dan kami berharap agar beliau
menjawabnya, adapun pertanyaannya sebagai berikut:
Di negara kami Indonesia terdapat Ma’had yang didirikan khusus bagi para wanita yang
dinamakan dengan (TN) “Tarbiyatun Nisa.” Padanya diajarkan Al Qur’an dan Sunnah. Kami
telah mengingkari ma’had ini dengan hati. Namun tidaklah kami melihat padanya kecuali
kebaikan, karena apa yang ada padanya dari problematika dan penyelisihan syari’at. Adapun
bentuk ma’had tersebut adalah sebagai berikut: [Perhatian: Sebagian perkara ini terkadang
hanya ada pada sebagian ma`had dan tidak ada pada sebagian lainnya];
Pertanyaan pertama: Para santriwati datang bersama wali mereka ke Ma’had tersebut dan
terkadang dari tempat sejauh perjalanan safar. Jika telah sampai di ma’had tersebut, walinya
meninggalkannya sendirian di ma’had tersebut untuk menuntut ilmu bersama teman-temannya
yang lain selama dua, tiga atau empat tahun. Telah diketahui bersama bahwasanya seorang
santriwati jika membutuhkan suatu kebutuhan, dia keluar ke pasar yang kadang terletak jauh
dari ma’had, yang keluarnya itu tanpa mahrom. Yang lebih memprihatinkan lagi dari hal ini,
jika santriwati itu sakit dan terpaksa untuk pergi ke rumah sakit, dia pergi ke sana tanpa
mahrom. Bagaimana pendapat Syekh tentang hal ini?
Jawaban: Ini adalah metode yang muhdats (dibuat-buat tanpa ada landasan syar’i, pent), tidak
pernah dijumpai pada zaman-zaman terbaik (Salafus Sholeh; zaman Nabi, shohabat, tabi`in
dan tabi`ut tabi`in) dan padanya terdapat hal-hal yang menyelisihi syari’at sebagaimana yang
disebutkan dalam pertanyaan, bahwasanya seorang wanita bersamaan dengan lemahnya dia,
jika dia sakit dia membutuhkan orang yang membantunya. Jika dia keluar sendirian dalam
keadaan sakit, mau tidak mau dia butuh bermu’amalah (berhubungan) yang bisa
menyebabkannya terjerumus pada campur baur dengan laki-laki (yang bukan mahrom) dalam
minta pertolongan kepada mereka dalam proses pengobatannya. Demikian pula jika butuh
untuk membeli keperluannya yang mengharuskan dia untuk keluar dan bercampur baur
(berhubungan) dengan laki-laki. Dalam keadaan ini keadaannya tidak terjaga. Sedangkan
Allah berfirman dalam kitab Nya:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang jahiliyah terdahulu”.
Dan Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Dan Nabi
bersabda:
Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya pertanggung jawabannya”. (HR. Bukhori
(2558) dan Muslim; Kitab Al Imâroh bab 5 No 20 dari Abdillah Bin Umar)
Dan hadits:
وافرجل راع ِ أهؾه وهو مسئول ظن رظقته وادرأة راظقة ِ بقت زوجفا وهى مسئوفة ظن رظقتفا
“Seorang lelaki adalah pemimpin dan akan ditanya dari apa yang dia pimpin (pertanggung
jawabannya), dan seorang wanita adalah pemimpin dan akan ditanya pertanggung
jawabannya”. (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Umar )
Maka dalam hal ini timbullah kebebasan seorang wanita dari kepemimpinan (penjagaan)
rumahnya jika dia telah berkeluarga (menikah). Jika belum menikah, maka dia telah lepas dari
penjagaan (tanggungan) walinya ketika itu. Padahal Nabi telah bersabda:
ما رأيت من كاؿصات ظؼل ودين أذهب فؾب افرجل احازم من إحداـن
“Aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya, yang mampu mempengaruhi
orang yang berakal dan teguh pendiriannya dari salah seorang dari kalian (para wanita)”.
(HR. Bukhori (304) dari Abu Sa’id Al Khudry dan Muslim Kitab Al Iman, bab 34, no. 135
dari Abû Huroiroh dan Ibnu Umar)
Dan bersabda :
صالة ادرأة ِ بقتفا خر من صالها ِ حجرها وصالها ِ حجرها خر من صالها ِ دارها
“Sholatnya seorang wanita di dalam kamarnya itu lebih utama dari sholatnya di dalam
rumahnya”. (HR. Abu Daud (570)).
Yaitu: semakin tertutupnya (tersembunyinya) tempat seorang wanita, maka semakin baik
baginya. Oleh karena itu, penjagaan adalah perkara yang dituntut dan harus dilakukan.
Adapun penjagaan -dalam keadaan yang seperti ini- adalah penjagaan yang lemah, yang tidak
diridhoi oleh Alloh. Berdasarkan hal ini, maka apa yang difatwakan oleh Syekh Al Albany
yang telah kami nukilkan dan apa yang disebarkan pada risalah yang ditulis oleh Putri Syekh
Al Albany dan menambahkan di dalamnya fatwa ‘Allamah Al Fauzan dan menyebutkan fatwa
kami juga, perkataan ayahnya dan perkataan penulis yang bernama Al Hajjy. Hal ini
menunjukkan bahwa perkara ini telah diremehkan oleh kebanyakan orang. Pada asalnya
menurut Salafus Sholeh, seorang wanita itu dijaga, diajari dan dilindungi oleh walinya. Dalam
“Ash-Shohihain” bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seorang
Shohabat :“Pergilah, aku telah menikahkanmu dengannya dengan Al Qur’an yang ada padamu.” (HR.
Bukhori (5029) dari Sahl Bin Sa’ad dan Muslim Kitab An Nikah, bab 13, no. 77)
Kemudian juga pada asalnya laki-laki yang mengurus serta menjaga perempuan dan
mengajari mereka dari balik tirai, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi
wa sallam tatkala mereka (para shohabiyyah) mengatakan kepada beliau:
“Wahai Rosulullah, kaum lelaki telah pergi kepadamu (engkau mengajari mereka), maka
luangkanlah untuk kami suatu hari untuk engkau mengajari kami…” (HR. Bukhori (101) dan
Muslim Kitab Al Adab bab 48 No. 152, dari Abi Sa’id Al Khudry)
Demikian juga yang terjadi pada orang-orang terdahulu (Salafus Sholeh). Adapun metode
yang telah disebutkan ini, tidak didukung atasnya.
Pertanyaan kedua: Mereka tinggal di tempat yang disebut asrama wanita. Hal ini merupakan
sebab timbulnya fitnah, seperti:
-laki masuk ke asrama tersebut dan kami tidak
mengetahui apa yang dia inginkan. Apakah akan mencuri atau untuk lainnya dan tak seorang
laki-laki pun dari (wali mereka) yang berada di asrama tersebut, yang ada hanyalah para
wanita saja.
keluarga mereka, yang merupakan sebab kami terkadang mendengar berita yang mengagetkan
dari mereka dari waktu ke waktu (seperti safar pulang-pergi tanpa mahrom, meskipun ustadz
mereka telah melarang hal ini, bahkan telah terjadi lesbian, wallahul musta`an-pent)
Pertanyaan ketiga: Menyebabkan mereka terfitnah dengan pengajar mereka, terutama jika
Ustadz (pengajar) masih membujang atau sebaliknya, karena proses keluar masuk yang sering
dilakukan oleh sang ustadz. Hal ini nampak jelas ketika jam pelajaran berlangsung, seperti
beberapa perkara yang terjadi di sela-sela proses belajar mengajar:
Syekh mengomentari: “Yaitu: di mana Fulanah? Ke mana perginya Fulanah?”
dengan mengangkat suara.
arkan bacaan Al Qur’an para santriwati (tasmi’).
Jawaban: Ini adalah fitnah. Allah berfirman:
“Apabila kamu meminta sesuatu (hajat) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari
balik tabir.”
Dan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Waspadalah! kalian untuk masuk kepada wanita” lalu bertanya salah seorang dari Anshor:
“Wahai Rosulullah, bagaimana dengan Ipar?” Beliau menjawab: ” Ipar adalah maut”. (HR.
Bukhori (5232) dan Muslim Kitab As Salam bab 8 No 20)
Ini adalah penyelisihan yang tidak sedikit yang merupakan pengantar kepada fitnah.
Hendaknya dia tinggal di rumahnya, mempelajari apa yang dimudahkan oleh Allah untuk dia
pelajari, lebih baik baginya daripada keadaan yang seperti ini. Dan wajib baginya menjauhi
hal tersebut. Karena sebuah hadits:
”Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging, apabila segumpal daging
itu baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila segumpal daging itu rusak maka rusaklah
seluruh jasad, dan ketahuilah bahwa gumpalan daging itu adalah hati”. (HR. Bukhori (2051)
dan Muslim Kitab Al Musaqoh bab …(No.108) dari Nu’man Bin Basyir)
Pertanyaan keempat: Juga telah terjadi, bahwasanya sebagian mereka kerasukan jin dan
yang meruqyahnya adalah seorang ustadz. Namun jika sang ustadz tidak menghafal Al
Qur’an, maka dipanggil selainnya dari santri yang hafal Al Qur’an dan hal ini sering terjadi.
Jawaban: Hasbunallah wa ni’mal wakil, telah lewat penyebutan dalil-dalil mengenai
bahayanya perbuatan itu. Maka seorang pengajar dalam hal ini menjerumuskan dirinya ke
dalam fitnah, demikian juga santriwati tersebut menghadapkan diri ke dalam fitnah dan lain
sebagainya yang terkandung di dalam kerusakan ini.
Pertanyaan kelima: Juga yang merupakan sebab fitnah, bahwasanya siapa yang hendak
melamar salah seorang santriwati, maka cukup baginya untuk mendatangi secara langsung
dan melihatnya (nadzor) tanpa mahrom dengan alasan, jika walinya datang dari tempat yang
jauh sedangkan salah seorang di antara keduanya menolak setelah nadzor (tidak ada
kesesuaian), hal ini memberatkan wali santriwati tersebut untuk kembali ke kampungnya yang
jauh dan dia merasa bahwa kedatangannya sia-sia tak berguna. Oleh karena itu, walinya tidak
datang kecuali setelah selesai nadzor dan adanya kesepakatan dari kedua belah pihak.
Pertanyaan keenam: Terkadang terjadi ikhtilat (campur baur) antara santri dan santriwati,
karena jalan keluar dan masuk hanya satu.
Pertanyaan ketujuh: Yang lebih jelek lagi dari hal ini, bahwasanya santriwati mencuci
pakaian ustadz, serta memasakkan makanan untuknya sekalipun ustadz itu telah berkeluarga.
Jawaban: Apabila Ustadz ini salafy, maka dengan perbuatannya ini menunjukkan dia adalah
orang yang jahil (bodoh). Ini bukanlah prilaku orang yang memahami da’wah salafiyyah dan
menyeru kepadanya dengan da’wah yang benar. Wallahul musta’an.
Pertanyaan kedelapan: Sebagai tambahan dari apa yang telah lewat, bahwasanya siapa yang
hendak menuntut ilmu di ma’had ini diharuskan membayar sejumlah uang.
Wahai Syekh! apakah engkau menasehatkan untuk tetap tinggal di tempat (ma’had) ini
bersamaan dengan fitnah yang ada di dalamnya? Bagaimana cara mengajari para wanita di
zaman dulu (Salafus Soleh)? -Barokallahu Fikum-.
Jawaban: Telah kami isyaratkan, bagaimana cara mengajari mereka di zaman Salafus Sholeh
dan kami tidak menasehatkan kepada para wanita untuk tinggal di ma’had-ma’had ini,
karena terdapat banyak fitnah beserta sebab-sebabnya. -WalhamdulliahFatwa Syaikh Jamil As-Sulwi hafidhohulloh.
Beliau ditanya: “Wahai Syaikh, di negara kami ada sebuah ma’had yang di sana para
wanitanya berada dalam asrama khusus yang bercampur dengan wanita yang lain, sedangkan
mahromnya di asrama yang lain bersama laki-laki yang lain?”
Jawaban: “Masalah seperti ini tidak sepatutnya bagi seorang salafi mempunyai ma’had
tersebut, karena hal ini tidak ada contohnya dari salafus sholih.” Kemudian beliau membaca
ayat: 
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33) …”
Fatwa Syaikh Muhammad bin Hizam Al-Ba’dani hafidhohulloh.
Pertanyaan: “Wahai Syaikh, di negara kami ada sebuah ma’had yang dikhususkan untuk
wanita. Mereka tinggal di asrama berkumpul dengan wanita lain sedangkan mahromnya di
asrama lain. Ada sebagian dari mereka yang tidak mempunyai mahrom. Mereka melakukan
sholat berjama’ah dengan imam dan makmum wanita setiap waktu sholat.”
Jawaban: “Tidak sepatutnya hal ini terjadi. Sepatutnya mereka kembali ke rumahnya bersama
mahromnya dan belajar dengan kaset-kaset atau kitab-kitab ulama. Adapun sholat jama’ah,
apabila mereka sudah terkumpul, tidak mengapa. Akan tetapi apabila ini dilakukan terusmenerus, maka ini tidak boleh.”
KESIMPULAN DAN SARAN
Maka kami menyimpulkan bahwa ma’had TN pada dhohirnya terlihat bermanfaat bagi para
wanita. Akan tetapi sebenarnya telah menjauhkan kaum muslimat dari murninya manhaj yang
shohih ini. Maka kami menghimbau kepada para wanita untuk segera kembali kepada fithroh
mereka yaitu kembali ke rumahnya, karena dengan keluarnya akan menimbulkan fitnah.
Rosululloh bersabda:
“Aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang mampu mempengaruhi
orang yang berakal dan teguh pendiriannya dari salah seorang kalian (para wanita).” (HR.
Bukhori)
Maka tujuan terpenting dari melakukan perintah dan menjauhi larangan adalah syurga Alloh
Ta’ala. Maka para wanita jika memang dia menginginkannya, cukuplah dia mengetahui
sebuah hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam
Shohih-nya dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh:

“Apabila seorang wanita menunaikan sholat lima waktu, berpuasa pada bulan Romadhon,
menjaga kemaluannya serta mentaati suaminya, niscaya dia akan masuk ke dalam syurga
dari pintu manapun yang dia kehendaki.” APAKAH ADA DARI SEORANG WANITA YANG MENGINGINKAN LEBIH DARI
ITU?!
Begitu pula bagi wali-wali seorang wanita untuk mengetahui akan hal ini bahwa mereka
adalah para pemimpin yang wajib untuk mengarahkan kepada sesuatu yang ma’ruf dan itu
merupakan tanggung jawab mereka. Alloh berfirman:“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang

bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras,
dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Rosululloh bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya pertanggung jawabannya kelak.” (HR.
Bukhori dari Abdulloh bin Umar)
Mudah-mudahan dengan itu semua bisa mengembalikan kita kepada jalan jalan yang lurus
dan benar yang pada hakekatnya semua manusia mengharapkan dan menginginkannya.
Selesai ditulis pada tanggal 25 Rojab 1431 di Darul Hadits Dammaj harosahalloh.

TahTahTah

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: