“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Posts tagged ‘zakat’

Zakat Tidak Boleh Untuk Bangun Masjid

ZAKAT TIDAK BOLEH UNTUK BANGUN MASJID

Pertanyaan

Tentang surat At-Taubah ayat 60:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Alloh dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Alloh, dan Alloh adalah Al-’Alim (Maha Mengetahui) lagi Al-Hakim (Maha Bijaksana)”. (more…)

Gallery

“Bayi Di Perut Ummi Tidak Wajib Zakat Fithri”

“Bayi Di Perut Ummi

Tidak Wajib Zakat Fithri”

  

Telah Diperiksa Oleh:

Asy Syaikh Al Fadhil Abu Abdirrohman Abdurroqib bin Ali

Al Kaukabaniy –semoga Alloh menjaganya-

 

Disusun dan Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

‘afallohu ‘anhu

di Yaman


 

Judul Asli:

“Zakatul Fithr ‘Alal Janin”

 

Terjemah bebas:

“Bayi Di Perut Ummi Tidak Wajib Zakat Fithri”

  

Telah Diperiksa Oleh:

Asy Syaikh Al Fadhil Abu Abdirrohman Abdurroqib bin Ali

Al Kaukabaniy –semoga Alloh menjaganya-

 

Disusun dan Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

‘afallohu ‘anhu


 

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم، أما بعد:

Telah datang pertanyaan dari salah seorang ikhwah di tanah air yang menanyakan: “Istri ana belum melahirkan, apakah janin yang dikandungnya yang sudah berumur 9 bulan termasuk dikeluarkan zakatnya?”

 

Sebelum ana menjawab, perlu ana sampaikan bahwasanya ada salah seorang ikhwah yang mengirimkan nasihat untuk jangan cepat-cepat berfatwa.

            Saya bersyukur dan menyampaikan jazakumullohukhoiron atas nasihat yang disampaikan, dan saya insya Alloh tak akan cepat-cepat berfatwa, dan memang saya merasa sangat belum pantas untuk berfatwa.

Adapun jika saya telanjur ditanya tentang perkara yang telah Alloh berikan ilmunya, maka pada asalnya menyembunyikan ilmu yang bermanfaat adalah harom. Maka saya harus menjawabnya sesuai dengan apa yang telah diajarkan, bukan dengan akal semata, tapi dengan dalil dan bimbingan ulama.

Alloh ta’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ الله مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ [آل عمران/187]

“Dan ingatlah ketika Alloh mengambil perjanjian teguh dari orang-orang yang diberi Al Kitab: “Hendaknya kalian benar-benar menerangkannya pada manusia dan kalian tidak menyembunyikannya,” maka mereka melemparkannya ke belakang punggung-punggung mereka dan membeli dengannya harga yang murah. Maka alangkah jeleknya apa yang mereka beli.”

Al Imam Abu Sulaiman Al Khoththobiy رحمه الله berkata:

 فأوجب على من يسأل عن علم أن يجيب عنه وأن يبين ولا يكتم

“Maka Alloh mewajibkan bagi orang yang ditanya tentang suatu ilmu untuk menjawabnya dan menjelaskannya dan tidak menyembunyikannya.” (“Ma’alimus Sunan”/3/hal. 263).

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

من سئل عن علم فكتمه ألجم بلجام من نار يوم القيامة  

“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu dia menyembunyikannya, maka dirinya akan diberi tali kekang dari neraka pada hari Kiamat.”

(HR. Ahmad (7561)/shohih dari Abu Huroiroh رضي الله عنه).

Al Imam Abu Sulaiman Al Khoththobiy رحمه الله berkata:

والمعنى أن الملجم لسانه عن قول الحق والاخبار عن العلم والاظهار له يعاقب في الآخرة بلجام من نار.

“Maknanya adalah: bahwasanya orang yang mengekang lidahnya dari mengucapkan kebenaran dan dari mengabarkan dan menampakkan ilmu, dia akan dihukum di akhirat dengan tali kekang dari neraka.” (“Ma’alimus Sunan”/4/hal. 185).

Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata:

وقال بعض أهل العلم: إن الصغير المذكور في حديث عمر وما كان مثله من الأحاديث: إنما يراد به الذي يستفتى ولا علم عنده، وإن الكبير هو العالم في أي سن كان، وقالوا: الجاهل صغير وإن كان شيخًا، والعالم كبير وإن كان حدثًا. (“جامع بيان العلم” /1/ص 499-500/دار ابن الجوزي).

 “Sebagian ulama berkata: sesungguhnya orang kecil yang tersebut dalam atsar Umar dan atsar-atsar yang semisalnya, yang dimaksudkan hanyalah: orang yang dimintai fatwa padahal dia tak punya ilmu, karena sesungguhnya orang yang besar itu adalah orang alim, dalam usia berapapun dia. Mereka berkata: orang bodoh itu kecil, sekalipun sudah tua umurnya. Dan orang alim itu besar sekalipun masih muda usia.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/1/hal. 499-500/Dar Ibnil Jauziy).

Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله juga berkata:

ومما يدل على أن الأصاغر ما لا علم عنده: ما ذكره عبد الرزاق وغيره، عن معمر، عن الزهري، قال: كان مجلس عمر مغتصًّا من القراء شبابًا وكهولًا، فربما استشارهم ويقول: لا يمنع أحدكم حداثة سنه أن يشير برأيه، فإن العلم ليس على حداثة السن وقدمه، ولكن الله يضعه حيث يشاء. (“جامع بيان العلم” /1/ص 501/دار ابن الجوزي).

“Dan termasuk yang menunjukkan bahwasanya ashoghir (orang-orang kecil) itu adalah orang yang tak punya ilmu: apa yang disebutkan oleh Abdurrozzaq dan yang lainnya, dari Ma’mar, dari Az Zuhriy yang berkata: “Dulu majelis Umar penuh dengan para ahli Qur’an, yang muda dan yang tua. Terkadang beliau mengajak mereka bermusyawarah dan berkata: janganlah menghalangi satu orang kalian kemudaan usianya untuk menyampaikan pendapatnya, karena sesungguhnya ilmu itu bukan berdasarkan kemudaan usia atau ketuaannya, akan tetapi Alloh meletakkan ilmu di manapun yang diinginkan-Nya.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/1/hal. 501/Dar Ibnil Jauziy).

            Yang penting: orang yang hendak menjawab pertanyaan tadi benar-benar selalu menghadirkan perasaan diawasi oleh Alloh, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas ucapannya itu, dan kesalahannya itu bisa menyebabkan tersesatnya sekian banyak orang yang mengikuti kesalahannya tadi, sehingga dia harus benar-benar mencari kejelasan sebelum menjawab.

Alloh ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى الله الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى الله الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ  [النحل/116، 117]

“Dan janganlah kalian berkata dusta dengan apa yang disifatkan oleh lidah-lidah kalian: ini halal, dan ini harom, untuk membikin kedustaan atas nama Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang membikin kedustaan atas nama Alloh itu tidak beruntung. Itu adalah kesenangan sedikit, dan mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih.”

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

من قال علي ما لم أقل فليتبوأ مقعده من النار ومن استشاره أخوه المسلم فأشار عليه بغير رشد فقد خانه ومن أفتى فتيا بغير تثبت فإن إثمها على من أفتاه

“Barangsiapa berkata atas namaku dengan perkara yang tidak aku ucapkan, maka hendaknya dia tinggal menetap di tempat duduknya di dalam neraka. Barangsiapa diajak musyawarah oleh saudaranya yang muslim, lalu dia memberikan saran yang tidak lurus, maka sungguh dia itu telah mengkhianatinya. Dan barangsiapa berfatwa dengan suatu fatwa tanpa mencari kejelasan lebih dulu, maka dosanya akan menimpa orang yang memberikan fatwa.” (HR. Ishaq bin Ruhawaih (334), dari Abu Huroiroh رضي الله عنه , dan dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain” no. (40)).

 

            Sekarang kita akan masuk kepada jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan: apakah janin (bayi yang masih dalam perut ibu) itu harus dizakati saat mengeluarkan zakat fithri?

            Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما yang berkata:

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر صاعا من تمر ، أو صاعا من شعير على العبد والحر والذكر والأنثى والصغير والكبير من المسلمين وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة.

Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم mewajibkan zakat fithri satu sho’ dari korma, atau satu sho’ dari gandum, terhadap budak, orang yang merdeka, lelaki, perempuan, anak kecil, orang besar dari muslimin. Dan beliau memerintahkan agar zakat itu ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk sholat id.” (HR. Al Bukhoriy (1503) dan Muslim (2326) dari Ibnu Umar رضي الله عنهما. Ini lafazh Al Bukhoriy).

            Hadits ini menunjukkan bahwasanya setiap muslim yang masih hidup di dunia itu wajib membayar zakat, baik secara langsung ataupun dibayarkan oleh orang lain. Kecuali orang miskin.

            Sekarang bagaimana dengan janin?

Al Imam Ibnul Mundzir رحمه الله berkata:

وأجمعوا على أن لا زكاة على الجنين في بطن أمه، وانفرد ابن حنبل: فكان يحبه ولا يوجبه

“Dan mereka bersepakat bahwasanya tidak ada kewajiban zakat atas janin di perut ibunya. Ibnu Hanbal menyendiri, beliau menyukai untuk si janin dizakati, tapi tidak mewajibkan hal itu.” (“Al Ijma”/karya Ibnul Mundzir/1/hal. 47).

            Memang yang benar adalah: tidak wajib. Akan tetapi hal itu tidak sampai menjadi ijma’, karena ada sebagian kecil ulama yang berpendapat bahwa itu wajib.

Ibnu Hazm رحمه الله berkata:

وأما الحمل فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم أوجبها على كل صغير أو كبير. والجنين يقع عليه اسم: صغير، فإذا أكمل مائة وعشرين يوما في بطن أمه قبل انصداع الفجر من ليلة الفطر وجب أن تؤدى عنه صدقة الفطر.

“Adapun bayi yang masih di dalam perut, maka sesungguhnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم mewajibkan zakat atas setiap orang: kecil, atau besar. Dan janin itu terkena istilah “kecil”. Maka jika sang janin telah sempurna berumur seratus duapuluh hari di perut ibunya sebelum terbit fajar pada malam idul fithri, wajib untuk dibayarkan atas namanya shodaqoh fithri.” (“Al Muhalla”/6/hal. 132).

Mayoritas ulama berpendapat bahwasanya hal itu tidak wajib.             Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata:

 المذهب أن الفطرة غير واجبة على الجنين . وهو قول أكثر أهل العلم .

“Madzhab kami: bahwasanya zakat fithri itu tidak wajib atas janin. Dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama.” (“Al Mughni”/6/hal. 20).

            Maka pendapat yang benar adalah: tidak wajib, tapi sekedar shodaqoh mustahabbah. Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata:

قال ابن المنذر : كل من نحفظ عنه من علماء الأمصار لا يوجبون على الرجل زكاة الفطر عن الجنين في بطن أمه . وعن أحمد ، رواية أخرى أنها تجب عليه ؛ لأنه آدمي ، تصح الوصية له ، وبه ويرث فيدخل في عموم الأخبار ، ويقاس على المولود . ولنا أنه جنين فلم تتعلق الزكاة به ، كأجنة البهائم ولأنه لم تثبت له أحكام الدنيا إلا في الإرث والوصية ، بشرط أن يخرج حيا .

“Ibnul Mundzir berkata: “Seluruh ulama negri-negri yang kami hapal dari mereka, mereka tidak mewajibkan pada seseorang untuk mengeluarkan zakat fitri atas nama janin di perut ibunya.”

Dan dari Ahmad ada riwayat lain bahwasanya zakat tadi wajib atasnya, karena janin tadi adalah manusia, wasiat untuknya itu sah, wasiat dengannya juga sah, dia juga bisa mewarisi, maka jika masuk kepada keumuman hadits. Dia diqiyaskan kepada bayi yang telah dilahirkan.

Adapun pendapat kami (Ibnu Qudamah): dia itu masih janin (masih dalam perut), tidak terkait dengan zakat, seperti janin-janin binatang (tidak wajb dizakati, beda dengan yang sudah dilahirkan dan mencapai batas jumlah minimal). Dan juga dia tidak wajib zakat karena belum tetap untuknya hukum-hukum dunia, kecuali dalam pewarisan dan wasiat, dengan syarat dia itu keluar dalam keadaan hidup.” (“Al Mughni”/6/hal. 20).

 

Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله ketika ditanya:

هل تشرع صدقة الفطر على الحمل؟

“Apakah disyariatkan zakat fitri terhadap janin?”

Beliau menjawab:

أما على الحمل فقد قال بهذا جماعة من أهل العلم، لكن الذي يعضده الدليل أن صدقة الفطر إنما تكون على المولود، لحديث ابن عمر: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر صاعا من تمر ، أو صاعا من شعير على الذكر والأنثى والصغير والكبير والحر والعبد من المسلمين.

وحديث أبي سعيد الذي في “الصحيحين” قال: (كنا نخرج الزكاة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم صاعا من تمر، أو صاعا من شعير، أو صاعا من حنطة، أو قال: صاعا من زبيب أو صاعا من أقط …). الحديث.

شاهدنا : أن أصح ما في الباب من الأحاديث ليس فيه الزكاة على الحمل، وبهذا نقول: على أنه إنما الزكاة على من خرج من بطن أنه واستهل، وبه قال جماعة من أهل العلم.

“Adapun kewajiban terhadap janin, memang sekelompok ulama telah mengucapkan itu. Akan tetapi pendapat yang didukung oleh dalil adalah: bahwasanya shodaqoh fithri itu hanyalah diwajibkan pada anak yang telah dilahirkan, berdasarkan hadits Ibnu Umar: Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم mewajibkan zakat fithri satu sho’ dari korma, atau satu sho’ dari gandum, terhadap lelaki, perempuan, anak kecil, orang besar budak, orang yang merdeka, dari muslimin.”

Dan hadits Abu Sa’id yang di “Shohihain” yang berkata: “Dulu kami mengeluarkan zakat pada zaman Rosululloh صلى الله عليه وسلم satu sho’ dari korma, atau satu sho’ dari gandum atau berkata: satu sho’ dari zabib, atau satu sho’ dari aqith …” al hadits.

Sisi pendalilannya adalah: bahwasanya hadits yang paling shohih dalam bab ini tidak ada di situ kewajiban zakat terhadap janin dalam kandungan. Dan dengan ini kami berpendapat: bahwasanya zakat itu hanyalah diwajibkan terhadap anak yang telah keluar dari perut ibunya dan menangis. Dengan dengan inilah sekelompok ulama berpendapat.” (“Al Kanzuts Tsamin”/3/hal. 260).

            Memang dikabarkan bahwasanya ada sebagian shohabat yang membayarkan zakat atas nama janin, tapi tidak menunjukkan hukum wajib.

            Al Imam Bakr bin Abdillah Al Muzaniy رحمه الله berkata:

أن عثمان كان يعطي صدقة الفطر ، عن الحبل.

“Bahwasanya Utsman dulu memberikan shodaqoh fithri atas nama janin.” (“Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah”/no. (10840)/sanad ke Bakr shohih, tapi Bakr tidak mendengar hadits dari Utsman).

Al Imam Abu Qilabah رحمه الله berkata:

صدقة الفطر عن الصغير ، والكبير ، والحر ، والمملوك ، والذكر ، والأنثى ، قال : إن كانوا يعطون حتى يعطون عن الحبل.

“Shodaqoh fithri itu ditunaikan atas nama anak kecil, orang besar, orang merdeka, budak, lelaki, dan perempuan. Mereka juga dulu membayarkannya atas nama janin yang masih dalam kandungan.” (“Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah”/no. (10463)/shohih).

 

Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata:

إذا ثبت هذا فإنه يستحب إخراجها عنه ؛ لأن عثمان كان يخرجها عنه ، ولأنها صدقة عمن لا تجب عليه ، فكانت مستحبة كسائر صدقات التطوع. (“المغني”/6/ص20).

“Jika (argumentasi) ini telah tetap, maka hukumnya adalah mustahab (tidak sampai wajib), karena Utsman dulu juga mengeluarkan zakat atas nama janin, dan karena hal itu merupakan shodaqoh atas nama orang yang tidak wajib baginya untuk mengeluarkan zakat, maka hukumnya adalah mustahab sebagaimana seluruh shodaqoh-shodaqoh tathowwu (sunnah, tidak wajib).” (“Al Mughni”/6/hal. 20).

Al Lajnah Ad Daimah ditanya:

هل تجوز الزكاة على الجنين في بطن أمه؟

“Apakah boleh zakat terhadap janin yang masih di dalam perut ibunya?”

Dijawab:

يستحب أن يخرج عن الجنين لفعل عثمان رضي الله عنه ولا تجب عليه؛ لأنها لو تعلقت به قبل ظهوره لتعلقت الزكاة بأجنة السوائم. وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. (الفتوى رقم (3382)).

“Disukai mengeluarkan zakat atas nama janin, berdasarkan perbuatan Utsman رضي الله عنه , dan itu tidak wajib, karena seandainya zakat tadi terkait dengan janin tadi sebelum kemunculannya (di alam dunia), tentulah zakat juga akan terkait dengan janin-janin binatang-binatang gembalaan. Semoga Alloh memberikan taufiq-Nya. Dan semoga sholawat dan salam Alloh tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta sahabatnya.” (“Fatawal Lajnah Ad Daimah” no. (3382)).

 

            Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله ditanya:

هل تدفع زكاة الفطر عن الجنين؟

“Apakah zakat fithri boleh diserahkan atas nama janin”

Maka beliau menjawab:

زكاة الفطر لا تدفع عن الحمل في البطن على سبيل الوجوب، وإنما تدفع على سبيل الاستحباب.

“Zakat fithri tidak diserahkan atas nama janin dalam perut dalam bentuk kewajiban. Hanya saja zakat tadi diserahkan dalam bentuk istihbab (disukai).” (“Majmu’ Fatawa Wa Rosail Al ‘Utsaimin”/18/hal. 263).

            Syaikh kami Abu Abdillah Zayid bin Hasan Al Wushobiy حفظه الله : “Yang benar adalah pendapat yang pertama, dan tidak wajib mengeluarkan zakat fithri terhadap janin. Jika orang tersebut mengeluarkannya maka bukan karena wajib akan tetapi karena mustahab, maka tidak apa-apa. Wallohua’lam. Akan tetapi sang janin dizakati apabila telah ditiupkan padanya ruh. Dan ruh itu ditiupkan pada janin setelah saang janin berusia seratus dua puluh hari, berdasarkan hadits Abdulloh bin Mas’ud –dan beliau menyebutkan hadits- maka hadits ini diambil oleh para ulama bahwasanya bayi yang gugur sebelum berusia seratus dua puluh hari itu tidak dimandikan, tidak dikafani dan tidak disholati. Tapi jika meninggalnya setelah berumur seratus dua puluh hari, maka bayinya dimandikan, dikafani dan disholati serta dimakamkan di kuburan Muslimin. Demikian pula di sini, zakat fithri jika dikeluarkan atas nama janin, bukan karena wajib tapi karena mustahab, maka tidak apa-apa, Wallohua’lam. Adapun wajib seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hazm, maka tidak benar, karena janinnya itu belum pasti (belum pasti hidup selamat). Dan juga janin itu tidak dikatakan sebagai anak kecil secara bahasa ataupun secara kebiasaan.” (“Ahkam Zakatil Fithri”/karya Syaikh Zayid Al Wushobiy/hal. 26/cet. Kunuz Dammaj).

            Kesimpulannya adalah: bahwasanya zakat fithri atas nama janin itu tidak wajib. Adapun yang berpendapat bahwasanya hal itu mustahab (untuk bayi yang telah berusia 120 hari) karena mengamalkan apa yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka hal itu tidak diingkari.

Inilah yang bisa saya sampaikan semoga Alloh memberkahi. Dan semoga Alloh mempermudah kelahiran bayi-bayi muslimin dengan selamat dan penuh rohmat dan berkah, dan dipelihara Alloh sepanjang hidup mereka, sehingga menjadi kebaikan bagi orang tua mereka.

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

« إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له ». (أخرجه مسلم (4310)).

“Jika manusia mati, amalannya terputus kecuali tiga. Kecuali shodaqoh jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak sholih yang mendoakannya.”

(HR. Muslim (4310) dari Abu Huroiroh رضي الله عنه).

            Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن الله عز وجل ليرفع الدرجة للعبد الصالح في الجنة فيقول: يا رب أنى لي هذه؟ فيقول: باستغفار ولدك لك».

“Sesungguhnya Alloh عز وجل mengangkat derajat untuk hamba yang sholih di Jannah, maka dia bertanya: Wahai Robbku, dari mana saya mendapatkan derajat ini? Maka Alloh menjawab: Dengan permohonan ampunan anakmu untukmu.” (HR. Al Imam Ahmad (10710) dan yang lainnya, dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” no. (1389)).

Wallohu ta’ala a’lam.

والحمد لله رب العالمين

Dammaj, 26 Romadhon 1433 H

Gallery

ZAKAT FITHRI

ZAKAT FITHRI 

Ditulis oleh: 

Abu Ja’far Al-Harits Al-Minangkabawy Saddadahulloh

Darul Hadits Dammaj, Kamis 14 Romadhon 1433


بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد ألا إلهٰ إلاّ الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمّدًا عبده ورسوله

Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَات

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fithri sebagai penyucian bagi yang berpuasa dari kesia-siaan dan kekejian, serta makanan bagi orang-orang miskin Barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat (‘ied) maka ity adalah zakat yang diterima, barang siapa yang menunaikannya setelah sholat maka itu adalah termasuk shodaqoh.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah, dihasankan Syaikh Al-Albany Rahimahulloh)

Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَة

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu sho’ kurma (kering) atau satu sho’ sya’ir (salah satu jenis gandum) bagi budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang besar dari kalangan muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum orang-orang keluar melakukan sholat” (HR Bukhory-Muslim)

BAGI SIAPA ZAKAT FITHRI DIWAJIBKAN?

Hadits Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu di atas menjelaskan bahwa kewajiban tersebut berlaku umum bagi setiap muslimin. Tentunya ini berlaku pada orang-orang yang hidup, adapun orang yang telah meninggal atau belum dipastikan hidupnya di dunia (yaitu janin dalam kandungan)[1] tidak terkena kewajiban ini.

SIAPAKAH YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITHRI?

Berdasarkan sebabnya, maka sedekah dan zakat di dalam syari’at Islam, ada yang terkait dengan amalan badan dan ada yang terkait dengan harta yang dimiliki seorang hamba. Adapun zakat fithri maka ia termasuk kepada golongan pertama berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu di atas, dimana Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tidak merinci hukum berdasarkan harta. Perbedaan ini perlu diketahui karena bolehnya pemberian kepada ashnaf (kelompok-kelompok) yang delapan -sebagaimana Alloh sebutkan dalam surat At-Taubah ayat 60[2]- adalah hukum yang berlaku bagi zakat harta. Ijma’(sepakat) para ulama muslimin bahwa yang dimaksud dengan shodaqoh di ayat tersebut adalah zakat harta.

Syaikhul Islam Rahimahulloh mengatakan: “Hal ini apabila (terkait dengan) shodaqoh-shodaqoh harta bukan badan, dengan kesepakatan kaum muslimin” [Majmu’ul Fatawa 25/76]

Adapun zakat fithri, maka zakat ini dikhususkan bagi fakir miskin berdasarkan hadits Ibnu ‘AbbasRodhiyallohu ‘Anhu di atas. Dengan demikian maka ‘amil (pengurus zakat) tidak boleh mengambilnya kecuali jika dia tergolong fakir miskin maka dia boleh mengambil, bukan karena dia ‘amil akan tetapi karena dia miskin. Hal ini sebagaimana kewajiban-kewajiban lain dalam syari’at yang mesti dikeluarkan seorang hamba, terkait amalan badan.

Syaikhul Islam Rahimahulloh mengatakan: “Sesungguhkan shodaqoh fithri sejalan (hukumnya) dengankaffarroh sumpah, zhihar, pembunuhan serta berhubungan intim di bulan romadhon. Demikian juga  sejalan (hukumnya) dengan kaffarroh haji, karena penyebab semua itu adalah badan bukan harta”[Majmu’ul Fatawa 25/73]

Di atas kondisi inilah amalan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, para shohabat Rodhiyallohu ‘anhum, serta orang-orang setelah mereka.

Ibnul Qoyyim Rahimahulloh mengatakan: “Dahulu diantara petunjuk beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallamadalah pengkhususan orang-orang miskin dengan shodaqoh (fithri) ini. Beliau tidak pernah membaginya kepada ashnaf yang delapan segenggam pun, dan beliau juga tidak pernah memerintahkan untuk itu. Tak seorang pun dari para shohabatnya yang melakukan hal demikian, tidak juga orang-orang yang setelah mereka” [Zaadul Ma’aad 2/12]

APAKAH ORANG MISKIN JUGA WAJIB MEMBAYAR ZAKAT FITHRI?

Berdasarkan hadits-hadits di atas dan penjelasan yang telah disebutkan, maka zakat ini tidak ada hubungannya dengan kaya atau miskinnya seseorang. Keumuman hadits menuntut setiap jiwa terkena kewajiban untuk mengeluarkannya.

Akan tetapi dalam agama yang hanif tidak ada pembebanan syari’at di luar kemampuan hamba.Karena itu para ulama sepakat bahwa seseorang yang tidak memiliki apa-apa, tidak ada kewajiban baginya untuk mengeluarkan zakat fithri, sebagaimana dinukilkan Imam Ibnul Mundzir Rahimahulloh[Lihat Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 6/113]

Para ulama juga memasukkan ke hukum tersebut, orang-orang yang tidak memiliki kelebihan dari makanan pokok pada malam dan siang ‘ied untuk diri dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya. [Lihat Fathul ‘Allam 495 dan Ahkamu Zakatil Fithri 80]. Karena orang yang kelaparan di hari ‘ied akibat membayar zakat kondisinya seperti orang yang tidak memiliki apa-apa.

JENIS APA YANG DIKELUARKAN DENGAN ZAKAT FITHRI?

Terdapat hadits kunci dalam masalah ini:

كُنَّا نُخْرِجُ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ، عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ، وَكَبِيرٍ، حُرٍّ أَوْ مَمْلُوكٍ، صَاعًا مِنْ طَعَامٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

“Dahulu kami mengeluarkan zakat fithri –ketika itu Rosululloh Shollallou ‘Alaihi wa Sallam diantara kami- dari setiap anak kecil dan orang besar, merdeka ataupun budak, satu sho’ makanan, atau satu sho’ susu yang dikeringkan, atau satu sho’ sya’ir atau satu sho’ korma kering, atau satu sho’ kismis” (HR Bukhory-Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudry Rodhiyallohu ‘Anhu)

Pada hadits tersebut Abu Sa’id menyebutkan kata makanan secara umum, kemudian beliau menyebut perincian sebagai contoh yang mereka keluarkan, sehingga tidak ada pembatasan pada jenis tertentu. Hukum asal yang pengeluaran shodaqoh wajib adalah pada apa-apa yang biasa dikonsumsi oleh pemberi shodaqoh. Hal ini sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam masalah kaffaroh:

مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُم

“Dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu” (QS Al-Ma’idah 89)

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa zakat fithri termasuk ke dalam jenis ini karena keterkaitan pengeluarannya dengan amalan badan. Karena itulah Rosululloh tidak memberatkan shohabat untuk mengeluarkan zakat fithri dengan sesuatu yang tidak biasa mereka konsumsi di negeri tersebut. [Lihat Majmu’ul Fatawa 25/69] Dan ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Karena itulah zakat fithri boleh dikeluarkan dari jenis makanan pokok suatu negeri, wallohu a’lam.

BOLEHKAH DIGANTI DENGAN UANG?

Di zaman Rosululloh dan para shohabat mereka juga memiliki mata uang yaitu dinar (dari emas) dan dirham (dari perak), akan tetapi mereka tidak mengeluarkannya dengan kedua mata uang tersebut dalam berbagai keadaan. Hal ini menunjukkan bahwa hal tersebut tidaklah disyari’atkan.

Oleh sebab itulah para ulama menegaskan tidak sahnya penunaian zakat fithri dengan uang. Mulai dari Imam Ahmad (Al-Mughny 4/43), Asy-Syafi’i (Al-Umm 2/72), Al-Khoththoby (Ma’alimus Sunan 2/44), Ibnu Hazm (Al-Muhalla 6/91), Al-Baihaqy (Sunan Kubro 4/189), An-Nawawy (Syarh Shohih Muslim 7/63), Malik dan Ibnul Mundzir (Al-Majmu’ 7/245) serta para ulama terdahulu yang lain, juga yang belakangan seperti Ibnu Baz (Majmu’ul Fatawa Ibnu Baz 14/208-211), Al-‘Utsaimin  (Majalis Syahri Romadhon 327), Al-Wadi’iy (Ijabatus Sa’il 125) Rahimahumullohu Ajma’in [Lihat  Al-Ghonimah 46-54]

Al-‘Allamah Sholih bin Fauzan Hafizhohulloh mengatakan: “Tidak boleh berpaling dari apa yang diwajibkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, serta mengatakan bolehnya zakat fithri dengan nilainya karena ini adalah penyelisihan terhadap dalil-dalil. Lagi pula shodaqoh fitri termasuk shodaqoh yang ditampakkan, ditimbang dan dikeluarkan di depan orang, dan juga merupakan syi’ar dari syi’ar Islam. Seandainya yang dikeluarkan adalah uang maka sedekahnya tidak tampak, bahkan shodaqoh yang tersembunyi (karena tidak ada kesibukan-kesibukan yang muncul dari model ini, juga shodaqoh uang tak ada bedanya dengan shodaqoh biasa –pen), dengannya tidak tampak danya syi’ar –sampai perkataan beliau-

Maka berpaling kepada uang meluputkan hukum-hukum ini, bersamaan dengan itu semua, ini adalah ijtihad yang menyelisihi dalil. Sebagaimana dimaklumi apabila ijtihad menyelisihi dalil maka jangan menyimpang kepadanya” [Tashilul Ilmam 3/145-14]

Syaikhuna Yahya bin Al-Hajury Hafizhohulloh mengatakan: “Dirham-dirham pada zakat fithri tidak sah. Orang-orang tersbut telah membuat-buat perkara yang tidak merupakan bagian dari agama ini dan bukan perkara yang disyari’atkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Dirham dulu ada di zaman mereka dan mereka sangat butuh dengannya untuk memberi pakaian dan perkara-perkara yang mereka butuhkan. Bersamaan dengan itu mereka tidak pernah menunaikan zakat fithri dengan mata uang baik dari emas ataupun perak”. [Ittihaful Kirom 63]

BAHKAN KALAU PEMERINTAH MEWAJIBKANNYA DENGAN UANG? (Atau dengan sistem potong gaji)

Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahulloh ditanya dengan pertanyaan seperti ini maka beliau menjawab: “Yang jelas bagiku, apabila seseorang dipaksa untuk mengeluarkan zakat fithri dengan dirham, maka dia mentaati mereka dan jangan memperlihatkan pembangkangan terhadap pemerintah. Adapun urusan antara dia dengan Alloh, maka dia keluarkan apa yang diperintahkan oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berupa satu sho’ makanan. Karena pengharusan mereka (pemerintah) kepada masyarakat untuk mengeluarkan dirham (uang) adalah pengharusan dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Alloh dan rosul-Nya” [Majmu’ Fatawa Syaikh Al-‘Utsaimin 18/281]

SATU SHO’ SETARA DENGAN BERAPA?

Sebagaimana disebutkan bahwa banyak zakat yang diwajibkan adalah satu sho’[3], sementara Sho’sendiri terdiri dari empat mudd. Keduanya merupakan takaran penduduk Madinah -yang turun temurun dari zaman nabi-[4]Mudd sendiri pada asalnya adalah takaran dengan ukuran genggaman dua tangan orang dewasa yang berukuran sedang. Keduanya (Sho’ dan Mudd Nabawy) telah disebutkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, ketika beliau mendo’akan keberkahan pada makanan[5]penduduk Madinah:

أَنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لَهَا، وَحَرَّمْتُ المَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ، وَدَعَوْتُ لَهَا فِي مُدِّهَا وَصَاعِهَا مِثْلَ مَا دَعَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ لِمَكَّة

“Sesungguhnya Ibrohim mengharamkan[6] Makkah dan berdo’a baginya. Sementara aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrohim mengharamkan Makkah. Serta aku mendo’akannya (Madinah) pada mudd dan sho’nya, sebagaimana Ibrohim mendo’akan Makkah” (Muttafaqun ‘Alaih dari ‘Abdulloh bin Zaid Rodhiyallohu ‘Anhu)

Sering terjadi perbedaan dalam menentukan kadarnya, diantara penyebabnya adalah penghitungannya dengan satuan berat. Perlu diketahui bahwa sho’ dan mudd adalah satuan ukuran volume (seperti gantang dsb), bukan satuan berat. Jadi penyetaraannya ke dalam bentuk liter lebih tepat dari pada penyetaraannya ke satuan kilogram. Satu sho’ air dengan satu sho’ madu tidak sama beratnya, karena perbedaan massa jenisnya.

Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahulloh mengatakan: “Ukuran zakat fithri adalah dengan takaran. Sementara takaran berpatokan kepada volume bukan berat. Terkadang sesuatu seberat benda yang volumenya besar sementara ukurannya kecil, apabila benda tersebut bobotnya berat misalnya besi, sementara yang satunya bobotnya ringan. Karena itulah berat kurma kering tidak sama dengan berat gandum (dengan volume yang sama misalnya sama-sama satu liter –pent). Berat gandum tidak akan sama dengan berat beras. Demikian juga berat beras, satu sama lainnya (dengan jenis yang berbeda –pent) tidak mungkin akan sama” [Majmu’ Fatawa Syaikh Al-’Utsaimin 18/289]

Karena itulah ketika Syaikh ‘Utsaimin Rahimahulloh menetapkan beras 2,1 kg yang dikirimkan kepada beliau untuk ditakar, beliau mengatakan: Kami telah menakar beras yang dimasukkan ke dalam karung plastik yang beratnya mencapai 2100 gr, kami mendapatkannya dengan kadar satu sho’ nabawi … dipakai beratnya (yaitu 2,1 kg) sebagai ukuran apabila yang ada di dalam karung (untuk zakat fithri –pent) sama dengan beras tersebut dari sisi berat dan ringannya bobot (massa jenis –pent). Hal tersebut, karena sebagaimana dimaklumi bahwa beratnya bobot mengurangi volume suatu benda, demikian sebaliknya. Jika engkau mengambil satu kilo besi maka volumenya tidak seperti volume kayu, sementara takaran berpatokan kepada volume. Atas dasar ini maka apabila beras (yang mau dikeluarkan) bobot (massa jenisnya)nya lebih berat dari beras yang di karung ini maka wajib untuk menambah kadar beratnya sesuai pertambahan bobot” [Majmu’ Fatawa Syaikh Al-’Utsaimin 18/275]

Makanya berat beras (misalnya) yang ditetapkan ulama untuk pembayaran zakat fithri adalah sekedar pendekatan. “Kadar yang wajib pada zakat fithri bagi setiap pribadi adalah satu sho’ dengan sho’ nabiShollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Ukurannya dengan kilo lebih kurang tiga kilo (gram)”. [Fatwa Lajnah Da’imah 1 (9/371)]

Karena itulah, bagi siapa yang mendapatkan sho’ nabawiy atau mengetahui volumenya untuk menggunakannya sebagai acuan. Bagi yang tidak diberi kemudahan maka tidak mengapa memakai acuan yang ditetapkan Lajnah Ad-Da’imah, dan kelebihannya diniatkan sebagai shodaqoh wallohu a’lam.

Faidah: Alhamdulillah saya (penulis) telah menghitung takaran salah satu mudd (dengan memakai muddmilik Akh ‘Imaad Ar-Roimy Hafizhohulloh yang sanadnya sampai ke Zaid bin Tsabit Rodhiyallohu ‘Anhu) didapatkan ukurannya + 830 ml. Jadi satu sho’nya + 3320 ml. Wallohu a’lam

KAPAN WAKTU DIKELUARKANNYA ZAKAT FITHRI?

Hadits Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhum di awal pembahasan menunjukkan bahwa waktu berakhirnya sebelum ditunaikannya sholat ‘ied.

Ibnul Qoyyim Rahimahulloh mengatakan: “Tuntutan dari kedua hadits tersebut, bahwasanya keterlambatannya dari sholat ‘ied tidak dibolehkan, dan            kesempatan pembayaran hilang dengan selesainya sholat. Inilah pendapat yang benar karena tidak terdapat (dalil lain) yang menyelisihi kedua hadits ini, tidak juga ada dalil yang menghapus hukumnya, tidak ada juga terdapat ijma’ yang menolak pendapat dengannya” [Zaadul Ma’ad 2/21-22]

Adapun waktu pengeluarannya boleh 1-2 hari sebelum ‘ied berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu bahwasanya bahwasanya Rosululloh mewajibkan untuk membayar zakat untuk fithr(berbuka/selesai) dari romadhon. Sementara Ibnu ‘Umar menyerahkannya ke para pengumpul zakat. Di akhir hadits disebutkan:

وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْن

“Dahulu mereka (para pengumpul zakat tersebut) memberikannya (kepada penerima) sehari atau dua hari sebelum ‘iedul fithri” (HR Al-Bukhory)

Ibnu Qudamah Rahimahulloh mengatakan: “(Hadits) ini mengisyaratkan kepada perbuatan mereka semua, maka hal itu menjadi ijma’. Karena mendahulukannya (zakat fithri –pen) dengan kadar tersebut tidak membuat luputnya maksud. Sebab zakat tersebut atau sebagiannya bakal tersisa sampai hari ‘ied. Maka hal ini cukup untuk tidak berkeliling dan mencari-cari orang miskin pada hari tersebut. Juga karena shodaqoh fithri tersebut adalah zakat, maka boleh didahulukan (pembayarannya) sebelum adanya (syarat) wajib sebagaimana zakat harta, wallohu a’lam” [Al-Mughny 3/90]

Perlu sedikit catatan untuk perkataan Ibnu Qudamah Rahimahulloh yang terakhir dimana beliau mengatakan: “Juga karena shodaqoh fithri tersebut adalah zakat, maka boleh didahulukan (pembayarannya) sebelum adanya (syarat) wajib sebagaimana zakat harta, wallohu a’lam”

Boleh disini maksudnya: apabila telah terlebih dahulu ditemukan adanya sebab zakat, maka zakat boleh ditunaikan sebelum datang syarat yang mewajibkannya. Sebab adanya zakat harta adalah tercapainyanishob. Dikatakan sebab, karena jika seseorang hartanya sudah sampai senishob, tidak bisa langsung dihukumi terkena zakat. Bisa jadi kena bisa jadi tidak, tergantung kepada ada tidaknya syarat wajibnya. Adapun syarat wajib dikeluarkannya zakat harta adalah: jika harta yang mencapai nishob tersebut telah mencapai setahun ditangan pemiliknya.

Nah, apabila seseorang telah memiliki harta yang sampai senishob namun dia ingin membayar zakat sebelum sampai setahun, maka dibolehkan baginya untuk mengeluarkan zakat. Sebagaimana seseorang yang bersumpah untuk tidak masuk ke sebuah rumah namun dia akhirnya menyesal, maka boleh baginya membayar kaffaroh sumpah sebelum dia masuk ke rumah tersebut. Sebab kaffaroh adalah sumpahnya orang tersebut, sementara syarat wajibnya adalah apabila dia melanggar sumpah (yaitu masuk ke rumah). Dalam kondisi ini dia belum masuk ke rumah sementara boleh baginya untuk membayar kaffaroh.

Adapun jika sebabnya belum ada maka orang tersebut tidak bisa untuk membayar zakat atau kaffaroh, seperti orang yang hartanya belum sampai senishob tapi mau mengeluarkan zakat, atau seperti orang yang belum bersumpah tapi mau membayar kaffaroh?!!

Inilah penerapan kaidah yang masyhur di kalangan ulama:

إن تقديم الشيء على سببه ملغى، وتقديم الشيء على شرطه جائز

“Sesungguhnya pendahuluan sesuatu terhadap sebabnya maka perkara tersebut gugur, sementara pendahuluan sesuatu terhadap syarat wajibnya, maka perkara tersebut hukumnya boleh” [Lihat Asy-Syarhul Mumti’ 6/169, Al-Qowa’id wa Ushulul Jami’ah 82]

Karena itu pendahuluan pembayaran zakat fithri bulan romadhon tidak diperbolehkan karena sebab pengeluarannya belum ada yaitu tenggelamnya matahari akhir romadhon –sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar yang baru lewat-, sementara syarat wajibnya adalah memiliki kelebihan makanan pokok dari kebutuhan malam dan siang ‘ied –sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Adapun dibolehkannya penunaian sehari atau dua hari sebelum ‘ied, maka hal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahulloh: “Pembolehan ini merupakan rukhsoh (keringanan syari’at) karena para shohabat Rodhiyallohu ‘Anhum melakukan hal tersebut”. [Asy-Syarhul Mumti’ 6/169] Amalan shohabat yang masyhur dan tidak diketahui ada diantara mereka yang menyelisihi maka hal tersebut adalah hujjah.

Dari kisah pengumpul zakat di hadits Ibnu ‘Umar tersebut diambil juga faidah bahwa boleh bagi seseorang untuk menyerahkan atau mewakilkan zakat fithri sebelum waktunya kepada orang yang akan membagikan kepada fakir miskin dengan syarat diketahui bahwa mereka akan membagikannya pada waktunya. [Ahkamu Zakatil Fithri 79]

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلاّ أنت أستغفرك وأتوب إليك

Kitab-kitab terkait dengan pembahasan:

Al-Mughny karya Ibnu Qudamah Rahimahulloh, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab karya Imam An-NawawyRahimahulloh, Majmu’ul Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh, Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah RahimahullohMajmu’ul Fatawa Syaikh Al-‘Utsaimin RahimahullohAsy-Syarhul Mumti’ karya Syaikh Al-‘Utsaimin RahimahullohAl-Qowa’id wa Ushulul Jami’ah karya Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As-Sa’dy Rahimahulloh, Fathul ‘Allam karya Syaikhuna Muhammad bin ‘Ali bin Hizam Hafizhohulloh, Ahkamu Zakatil Fithri karya Syaikhuna Zayid Al-Wushoby Hafizhohulloh, Al-Ghonimah karya Mu’adz Za’im Hafizhohulloh, Maa Ikhtalafa fihi Al-Hukmu bil Qillah wal Katsroh wal ‘Ibaaroh karya DR Bu Bakr Bah Waffaqohulloh


[1] Ibnu Hazm Rahimahulloh berpendapat akan wajibnya demikian juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, apabila usia kandungan lebih dari 120 hari. Namun hukum-hukum dunia baru terkait dengan janin ketika dia keluar dalam kondisi hidup kecuali wasiat dan warisan. Secara bahasa dan adat, janin juga tidak dinamakan anak-anak.

[2] Yaitu firman Alloh Ta’ala:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيم [التوبة: 60]

[3] Kecuali burr (salah satu jenis gandum) Terdapat hadits-hadits dalam masalah ini yang tak lepas dari cacat namun secara keseluruhan terangkat ke derajat shohih. Pendapat ini sah dari Kholifah yang empat (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali) juga Ibnu Mas’ud, Jabir, Abu Hurairoh, Ibnu Az-Zubair, Mu’awiyah, Asma’ Rodhiyallohu ‘Anhum. Ini juga yang dirojihkan Saikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Syaikh Al-Albany, dan Syaikhuna Muhammad Hizam (lihat Fathul ‘Allam 2/499-501)

[4] Dijaga dengan sistem pemberian ijazah terhadap takaran tiruan yang sudah distandarkan dengan takaran yang ada.

[5] Lihat: Subulus Salam, Syarh Shohih Al-Bukhory – Ibnu Baththol, ‘Umdatul Qori’ dll

[6] Tidak boleh memburu buruannya, tidak boleh memotong pohonnya dll

 

 

Gallery

HUKUM PENUNAIAN ZAKAT FITHRI BAGI YANG TIDAK BISA MELAKUKANNYA PADA WAKTUNYA

HUKUM PENUNAIAN ZAKAT FITHRI

BAGI YANG TIDAK BISA
MELAKUKANNYA PADA WAKTUNYA

Alih bahasa:

Abu ‘Ubaidillah ‘Amir bin Munir bin Hasan Al-Atsihiy

بسم الله الرحمن الرحيم

وبه نستعين الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد خاتم النبيين وعلى آله وأصحابه أجمعين.

Fadhilah Asy-Syaikh Al-Utsaimin -Rahimahulloh- ditanya tentang seseorang yang mengakhirkan pengeluaran zakat fithri sampai setelah mengerjakan sholat ‘ied.

Beliau menjawab: “Apabila dia mengakhirkannya sampai selesai mengerjakan sholat ‘ied maka zakatnya tidak diterima. Karena zakat tersebut merupakan ibadah yang telah ditentukan waktunya. Jika dia mengakhirkannya tanpa ada udzur maka zakatnya tidaklah diterima. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallohu ‘anhuma bahwasanya beliau Shallallohu ‘alahi wa sallam memerintahkan agar zakat dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk sholat ‘ied. Juga pada hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallohu ‘anhuma:

من أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة، ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات.

“Barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat ‘ied maka itu adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya sesudah sholat ‘ied maka ia hanyalah sebatas shodaqah dari shodaqah-shodaqah yang ada”.

Apabila dia terlambat dikarenakan suatu udzur seperti lupa atau tidak adanya orang-orang fakir pada malam ‘ied tersebut, maka zakatnya diterima. Baik dia telah mengembalikan zakat tersebut ke dalam (bentuk) hartanya atau membiarkannya sebagaimana adanya sampai datang orang fakir”. [Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Syaikh Al-‘Utsaimin 18/ 270-271]

Beliau -Rahimahulloh- juga  juga ditanya: “Seseorang yang tidak memungkinkan baginya untuk mengeluarkan zakat fithri sebelum sholat ‘ied. Apakah boleh baginya untuk mengeluarkannya setelah sholat?”

Beliau menjawab: “Apabila tidak memungkinkan baginya untuk mengeluarkan zakat fithri sebelum sholat ‘ied lalu dia mengeluarkannya setelah sholat maka tidaklah mengapa baginya, karena inilah sebatas yang dia mampu. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَاتَّقُواْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنْفِقُواْ خَيْراً لأَِنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَائِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.

“Maka bertaqwalah kalian kepada Alloh semampu kalian, mendengar dan ta’atlah serta berinfaqlahlah dengan suatu kebaikan untuk diri-diri kalian sendiri. Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Diantara contoh masalah ini, apabila telah pasti masuknya bulan syawal sementara seseorang berada di suatu daratan (gurun) dan tidak ada seorangpun di sekeliling tempat tersebut. Maka dalam keadaan seperti ini jika dia telah tiba di suatu negeri yang di dalamnya ada orang-orang fakir maka dia memberikan zakat tersebut kepada mereka. Adapun jika dia memiliki kelapangan maka tidak boleh bagi seseorang untuk mengakhirkannya sampai setelah sholat ied. Apabila dia mengakhirkannya dari sholat ied maka dia berdosa dan zakatnya tidak diterima. Sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallohu ‘anhu, dia berkata:

فرض رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث، وطعمة للمساكين، فمن أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة، ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات.

“Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pensuci jiwa seorang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin, maka barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat ‘ied maka itu zakat yang diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah sholat maka itu hanyalah sebatas shodaqah dari shodaqah-shodaqah yang ada”. [Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Syaikh Al-‘Utsaimin 18/ 272-273]

Fadhilah Asy-Syaikh Al-’Allamah Ibnu Baaz -Rahimahulloh- ditanya: “Aku telah mempersiapkan zakat fitrah sebelum sholat ‘ied untuk diberikan kepada seorang fakir yang aku kenal, akan tetapi aku lupa untuk mengeluarkannya, aku tidaklah teringat kecuali ketika aku berada di dalam sholat’ied, dan aku telah mengeluarkannya setelah selesai sholat. Maka hukumnya? “

Beliau menjawab: “Tidak ada keraguan bahwasanya yang wajib adalah mengeluarkan zakat sebelum sholat ‘ied sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi tidaklah mengapa bagimu dari apa-apa yang telah kamu lakukan. Mengeluarkan zakat setelah sholat ‘ied telah mencukupi (sah) walhamdulillah, walaupun telah datang dalam suatu hadits bahwasannya ia hanyalah sebatas shodaqah dari shodaqah-shodaqah yang ada, akan tetapi itu tidaklah menghalang dari sahnya, dan telah dikeluarkan kepada tempatnya. Kita berharap mudah-mudahan diterima dan menjadi zakat yang sempurna, karena engkau tidak mengakhirkannya dengan sengaja, akan tetapi dikarenakan lupa. Alloh subhanahu ‘azza wa jalla berfirman di dalam kitab-Nya yang agung:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا.

“Wahai Rabb kami janganlah engkau menghukumi kami apabila kami lupa dan salah”. (QS Al-Baqorah: 286).

Dan telah shohih dari Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata:

يقول الله عز وجل: قد فعلت

“Alloh ‘Azza wa Jalla berkata: “Telah aku penuhi” (HR Muslim)

Alloh memenuhi do’a-do’a hambanya yang beriman untuk tidak menghukumi (mereka) yang disebabkan karena lupa dan salah. [Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Syaikh Ibnu Baaz 14/ 217]

Wajib bagi seorang muslim untuk menjaga ibadah yang mulia ini, dan memperkirakannya jauh-jauh hari, agar jangan sampai pada waktunya dia tidak menemukan orang miskin di daerahnya yang bakal menerima zakatnya.

Fadhilah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Yahya bin Ali Hafidhohullah ditanya: “Apabila seseorang tidak menemukan seorang miskin untuk diberikan baginya zakat fithri sebelum sholat ‘ied. Apakah dia mengeluarkannya untuk rumah tetangganya?”

Beliau -Hafidhohulloh- menjawab: “Orang-orang miskin jumlah mereka sangatlah banyak, oleh karena itu wajib atasmu untuk mengeluarkan zakat fithri sebelum datang waktu sholat ‘ied baik di dalam negerimu atau selain dalam negerimu. Bukanlah suatu keharusan dia mengeluarkannya di dalam kampungnya. Sebagian kampung penduduknya adalah orang-orang kaya tidak ada dari mereka yang berhak menerima zakat. Beranjak dari hal ini maka mungkin bagimu untuk mengirim zakat tersebut serta mengurusnya sebelum datangnya waktu ‘ied. Karena dia merupakan zakat fithri dari romadhon. Kecuali jika dia mengirimnya kepada seseorang (di kota lain –pent) agar orang tersebut memberikannya kepada seorang fakir atau orang-orang fakir, ternyata zakat itu masih berada di tangan orang tersebut sampai selesai sholat ‘ied maka kewajibannya telah lepas dan itu telah mencukupinya”[Al-Kanzuts Tsamiin 3/ 263]

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلاّ أنت أستغفرك وأتوب إليك

sumber http://www.ahlussunnah.web.id